
...----------------...
Setelah berusaha selama beberapa menit lebih akhinya kubah Es tersebut pun hancur. Dengan segera Xio masuk kedalam kubah tersebut dan ia langsung di kejutkan dengan keadaan mereka bertiga.
Mereka bertiga terlihat tidak sadarkan diri dengan posisi Ellisa memeluk Leon dan Lena, mungkin untuk membuat mereka tidak kedinginan karena sudah beberapa lama di dalam ruangan yang sangat dingin tersebut, Seluruh tubuh mereka mereka menjadi pucat dari kepala sampai kaki dan lebih parahnya lagi Xio melihat betis Ellisa berdarah.
"Sayang!" Xio langsung memeluk mereka bertiga dan juga menyelimutinya dengan mantel, lalu Xio langsung membawa mereka bertiga kekamarnya dengan menggunakan skill teleportation nya. Sebelum berteleport, Xio berteriak keluar pada Uriel untuk mengikutinya sementara yang lainnya di suruh untuk memeriksa penyebab kejadian tersebut.
Setelah sampai di kamarnya Xio langsung menidurkan ketiganya di atas kasur dan membuka semua pakaian mereka karena basah, lalu ia menyelimuti mereka dengan beberapa lapis selimut tebal. Xio tahu bagaimana cara mengatasi orang yang terkena hipotermia karena ia pernah belajar di sekolahnya.
Tak lama kemudian, Uriel pun datang bersama dengan Jhonatan dan Rose. terpampang jelas di wajah Rose dan Jhonatan, kalau mereka sangat khawatir karena baru saja dikabarkan keadaan Ellisa dan juga anak-anak.
"Yang Mulia cepat berikan pil ini!" Uriel menyerahkan 3 buah pil berwarna kuning pada Xio.
Tanpa betanya terlebih dahulu soal pil tersebut karena Xio berpikir tidak mungkin Uriel membohonginy. Xio langsung saja meminumkan pil tersebut pada Ellisa serta Leon dan Lena.
Setelah meminumkan pil tersebut, Xio langsung mengobati betis Ellisa yang nampaknya habis tergores es yang tajam.
"Nenek tolong suruh pelayan buatkan minuman hangat untuk Ellisa dan anak-anak." Ujar Xio. Rose pun langsung keluar dari kamar menuruti perintah Xio.
"Uriel berapa lama pilnya akan bereaksi?" Tanya Xio.
"Tidak lama lagi pilnya akan bereaksi Yang Mulia." Jawab Uriel.
"Hmm." Xio kemudian menyalurkan elemen cahayanya di sekeliling kamar untuk membuat udara hangat. Ia kemudian duduk di kursi disamping kasur.
Jhonatan melihat Xio mengurut Keningnya sendiri mungkin saking khawatirnya dengan keadaan Istri dan anak-anaknya sehingga membuat ia pusing.
"Xio tenanglah." Kata Jhonatan mengelus pundak Xio.
"Bagaimana aku bisa tenang! jika istri dan anakku dalam kondisi seperti ini!" sentak Xio.
"Sudah berapa kali aku melihat Ellisa berada dalam keadaan hidup dan mati?"
"Sudah cukup sampai disini Ellisa Terus membuatku merasakan sakit dan khawatir ketika aku melihatnya terluka!"
Xio menatap sendu wajah Ellisa.
"Aku akan membuat Ellisa tidak keluar kamar agar ia tidak pernah terluka dan membuatku khawatir lagi.." Ucapnya menyentuh pipi Ellisa.
Plakk!!
"Sadarlah B*jingan!!" Jhonatan mencengkram kerah Xio lalu menampar Wajahnya luamayan keras. Urat-urat di keningnya terlihat menonjol karena saat ini Jhonatan sudah sangat Emosi, lantaran ia tahu kalau Xio akan melakukan tindakan tanpa dipikir terlebih dahulu jika dihadapkan dengan kejadian seperti ini.
"Apa kamu pikir Ellisa sendiri yang ingin dirinya terluka hah!?"
"Apa kamu juga pernah berpikir kalau Ellisa akan menderita jika kamu mengurungnya?! itu semua hanya akan menambah rasa sakit Ellisa saja!"
Xio hanya memberikan tatapan kosong pada Jhonatan yang sedang membentaknya.
"Berhentilah bersifat kekanak-kanakan!, Kamu sudah berkeluarga! punya istri dan anak-anak yang seharusnya kamu buat mereka bahagia!" Jhonatan sudah akan menampar Xio sekali lagi agar ia tersadar, tapi tangannya di tahan oleh Rose.
"Cukup Jhonatan!" Kata Rose. "Keluar!" tambahnya menunjuk pintu.
"Tapi Ma-"
"Keluar Sekarang juga!" Seru Rose. "Xio kamu juga Keluar, aku tidak akan membiarkan kalian melihat Ellisa dan anak-anak jika kalian masih belum memperbaiki sikap kalian." Lanjutnya.
Kembali ke Jhonatan dan Xio yang masih berdiri diluar kamar.
"Xio maafkan ayah." Jhonatan membuka suaranya. "Barusan ayah menampar dan membentakmu karena tidak bisa mengontrol Emosi. Tapi ayah juga bersikap seperti itu karena tidak kamu menjadi lelaki B*jingan seperti diri ayah sendiri yang pernah membuat orang kesayangannya menderita."
"Ayah tidak mau semua kejadian seperti ayah lakukan harus terjadi padamu dan Ellisa." Lanjutnya.
"Tidak perlu meminta maaf." Jawab Xio. "Ayah memang benar aku masih bersifat kekanak-kanakan. Terimakasih sudah menampar dan membuatku sadar kalau hal yang ku lakukan adalah salah." Xiomerenung sejenak memikirkan bagaimana jadinya kalau ia sungguhan mengurung Ellisa. Ellisa mungkin akan membenci dirinya dan itu tidak baik untuk kesehatan kandungannya.
"Mulai sekarang aku berjanji akan bersikap lebih dewasa dan mengambil segala keputusan dengan dipikirkan konsekuensinya dahulu." Ucap Xio ia berpikir kalau selama ini dirinya memang masih memiliki sifat kekanak-kanakan. Jhonatan menyeringai lalu memukul kepala Xio sambil tertawa.
"Haha nah itu baru ayah suka!" Kata Jhonatan. Dan Xio pun tersenyum. "Ngomong-ngomong apakah tamparan ayah tadi sakit?" Tanyanya.
"Tidak sama sekali." Jawab Xio dengan santainya, tapi ia melihat wajah Jhonatan yang menjadi cemberut. "Eh iya terasa sakit." Kata Xio karena ia tahu Jhonatan akan merasa dirinya Lemah. tapi memang tamparannya tadi tidak berpengaruh sama sekali pada Xio yang sudah berlevel tinggi.
"Nenek! apakah aku sudah boleh melihat Ellisa dan anak-anak?" Xio bertanya dengan suara lumayan keras agar rose yang berada didalam kamar mendengarnya.
"Apakah kalian sudah memperbaiki dan merenungkan sikap kalian?!" Sahut Rose balik bertanya.
"Sudah Ma'am! Xio berjanji akan memperbaiki sifat yang masih kekanak-kanakan nya, Aku juga berjanji tidak akan termakan emosi lagi." Jawab Jhonatan.
"Baiklah kalian boleh masuk." Kata Rose.
Xio membuka pintu kamarnya, dan ia bisa langsung melihat kalau Ellisa serta Leon dan Lena sudah terbangu. Saat ini Rose teelihat sedang menyuapi Ellisa sup hangat, sementara Leon dan Lena sedang meminum minuman panas.
Xio dengan segara langsung memeluk Ellisa erat , ia juga dapat merasakan kalau suhu tubuh Ellisa sudah kembali hangat, mungkin berkat pil yang Uriel berikan.
"Maafkan aku selama ini selalu membuatmu khawatir.." Kata Ellisa membalas pelukan Xio.
"Tidak apa-apa sayang, itu bukan kesalahanmu karena kamu juga sebenarnya tidak ingin terluka." Jawab Xio menatap mata Ellisa sebentar kemudian mencium kening dan memeluknya kembali.
Xio kemudian melirik kearah anak-anak yang sedang meminum susu panas, lalu ia mencium kening mereka berdua. "Apakah anak-anak papah baik-baik saja?" Ucapnya.
"Maaf papah tidak bisa melindungi kalian tadi.".
"Itu bukan salah papah, memang papah tidak akan bisa melindungi kita setiap saat." Jawab Leon.
"Papah berjanji akan membuat kalian aman setiap saat." ucap Xio mengelus kepala Leon dan Lena sambil tersenyum.
Xio kemudian meminta Rose menyerahkan sup ditangannya untuk menuapi Ellisa.
"Oh ya sayang, apakah kamu ingat apa yang terjadi tadi? dan penyebab terbentuknya es-es di taman?" Tanya Xio.
"Entahlah aku juga tidak tahu penyebabnya. Saat kita bertiga sedang bermain, dengan secepat kilat permukaan tanah berubah menjadi Es dan di sekitar kita bertiga langsung terbentuk bongkahan es yang mengelilingi." jelas Ellisa.
"Aku kira dengan levelku bertambah akan menjadi semakin kuat, tapi ternyata aku masihlah lemah." Lanjutnya.
"Tidak apa-apa sayang itu karena kamu belum bisa mengontrolnya saja, aku akan membantumu berlatih menguasai kekuatan barumu nanti." Kata Xio.
"Ehmm Terimakasih sayang!."
...----------------...
...BERSAMBUNG...
...JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA BIAR AUTHOR RAJIN UPDATE CHAPTER BARU...