
...----------------...
Bagi Xio keamanan dan kenyamanan anak-anaknya merupakan hal yang sangat penting. Mengingat besok mungkin akan ada pertempuran besar di pertemuan para pemimpin 3 kerajaan, Jadi malam ini Xio berniat memulangkan Leon dan Lena ke istananya.
Saat ini masih didalam rumah Meryl. Leon dan Lena terlihat sangat melengket di pangkuan Xio memeluknya erat-erat dan membenamkan wajah mereka di dada bidangnya, tidak mau ditinggalkan oleh Xio.
Cup! Cup!
Xio mencium puncak kepala Leon dan Lena bergantian.
"Sayang...papa hanya sehari saja kok tidak akan lama-lama." Kata Xio. "Kalian kembali ke istana dulu yah dengan Sebas? Apa kalian tidak kangen dengan teman-teman disana?" Bujuknya lagi.
"Memangnya apa yang akan papa lakukan disini?" Tanya Leon belum juga mengangkat wajahnya di dada Xio.
Xio diam sejenak bingung harus memberitahu tujuannya besok atau tidak.
"Di kerajaan ini sedang ada penjahat, jadi papa harus harus mengalahkan penjahat itu." Jawab Xio.
Leon menengadah menatap mata Xio. "Kenapa harus papa? Kenapa tidak orang lain saja? Apa semua penjahat harus papa yang mengalahkannya? Kenapa harus ada orang jahat didunia ini? Apa mereka sengaja tidak membiarkan papa kita istirahat?"
Lena memeluk Xio semakin erat setelah mendengar perkataan Leon.
"Selalu saja papa yang mengalahkan penjahat! Mungkin karena papa peduli dengan keselamatan orang-orang yang bahkan tidak kenal. Tapi apa orang-orang itu peduli dengan papa? Aku tidak mau papa dalam bahaya cuma demi keselamatan orang-orang." Lanjut Leon.
Kedua anak tersebut sadar akan fakta bahwa mereka bukan anak kandung Xio. Tapi dengan kasih sayang yang Xio berikan pada mereka setiap saat, sudah membuat dirinya seperti ayah sejati dimata mereka berdua. Sosok ayah yang akan selalu ada ketika dalam bahaya maupun saat bahagia.
Mereka juga tahu kalau ayahnya itu selalu melalui pertempuran-pertempuran dengan jarak waktu yang tidak lama. Ketika hari ini harus melawan seseorang, satu Minggu kemudian atau bahkan keesokannya lagi akan selalu ada saja pertempuran yang harus dilawan olehnya lagi. Seperti tidak memberinya waktu istirahat untuk santai sejenak. Meski tahu ayahnya tidak akan mudah lelah secara fisik, tapi setiap orang pasti bisa mengalami lelah secara mental.
"Apa papa tidak bosan menyelamatkan orang lain tanpa arti apapun untuk papa?" Ucap Leon menekankan kalimat terakhirnya dengan tatapan sendu ke arah mata Xio.
Xio meraih kepala Leon di dadanya lalu mengelus-elus mereka berdua. Ia merasakan dadanya menjadi basah sesaat setelah mengelus-elus keduanya. ia tahu, Leon dan Lena tengah menitikkan air mata tidak mau dirinya terus bertempur tanpa arti.
"Dengarkan papa...semua pertempuran itu ada artinya. Jika sebuah pertempuran tanpa arti untuk papa, itu berarti papa lah penjahatnya."
"Papa tidak sedang bersandiwara menjadi super Hero atau pahlawan, papa juga sebenarnya tidak peduli dengan orang yang tidak papa kenal. Papa hanya sedang berusaha, berusaha menciptakan keamanan dan kenyamanan untuk orang-orang yang papa sayangi, seperti mamah, kalian, dan adik-adik kalian."
Sekali lagi Xio mengecup puncak kepala mereka.
"Meskipun sebentar-sebentar papa harus pergi melawan seseorang, dan kadang-kadang papah juga bisa merasa lelah, tapi rasa lelah papa selalu terbayarkan dengan adanya istri dan anak-anak papa yang sangat papa sayangi."
"Lihat papa!" Ucap Xio.
Leon dan Lena pun mengangkat kepala mereka lalu menatap wajah Xio meski air mata masih tetap berlinangan dan ingus yang membasahi bawah hidung mereka.
"Apa kalian tidak mau papa kelelahan?"
Leon dan Lena menganggukkan kepala pelan.
Xio tersenyum.
"Kalau begitu tersenyumlah. Kalau papa melihat kalian tersenyum seperti tadi siang, papa selalu merasa tenaga papa terisi penuh kembali. Jadi tersenyumlah untuk papa mau kan?"
Tangisan keduanya pun mereda hingga tidak ada lagi air mata yang turun dari kelopak matanya. Lalu mereka segera mengelap pipi dan bagian bawah hidungnya yang basah dengan punggung tangan mereka sendiri.
Kemudian mereka menunjukkan senyuman kecil dan kembali memeluk Xio.
Dengan senyuman kecil yang mereka tunjukkan benar-benar membuat didalam dada Xio menjadi sejuk, dan dirinya pun ikut tersenyum.
Sementara Sebas dan Heldir yang dari tadi menyaksikan pun juga ikut tersenyum. Entah kenapa seperti ada rasa bangga saat melihat kehangatan Xio pada anak-anaknya.
Cukup lama Leon dan Lena berada dipelukan Xio, hingga tanpa sadar mereka pun tertidur di sana dengan rasa hangat yang terasa di seluruh tubuh berkat pelukan Xio.
"Apa perlu bantuan saya Yang Mulia?" Tanya Sebas menawarkan bantuan untuk memangku Leon dan Lena.
"Tidak usah, kita kembali saja sekarang." Jawab Xio menolak tawarannya Sebas.
"Apa kita mau ke istanamu itu?" Tanya Heldir terbang berputar-putar di depan Xio.
"Hm." Jawab Xio hanya berdehem, dan seketika mereka pun sudah berada ditempat yang berbeda.
Mereka sudah berada di depan kamar Leon yang ada di sebelah kamar Lena karena kamar keduanya saling bersebelahan.
Xio membuka pintu kamar tersebut dan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar yang bergaya kebangsawanan itu, sementara Sebas dan Heldir menunggu di luar depan pintu. Xio kemudian menidurkan Leon dan Lena bersampingan diatas ranjang berukuran king size dengan kasur dan bantal yang sangat empuk.
Ia menaikkan selimutnya menutup tubuh mereka hingga sebatas dada, lalu duduk di tepian ranjang dan mengecup kening mereka secara bergantian.
Seberat apapun beban yang berada di pundak Xio, jika itu demi anak dan istrinya, ia akan tetap berjalan dengan tegap seperti tanpa beban hingga semua beban tersebut menghilang berkat mereka yang masih setia menunggunya pulang dan bersedia membuka lengannya untuk memberi pelukan yang tulus.
Xio kemudian berjalan keluar kamar dengan mematikan lampu kamar terlebih dahulu. Didapatinya Sebas dan Heldir masih menunggu di depan pintu kamar.
"Sebas katakan pada anak-anak, aku pulang besok sore atau malam." Kata Xio setelah menutup pintu kamarnya.
"Baik Yang Mulia. Dan semoga rencana Yang Mulia dilancarkan." Jawab Sebas.
Xio mengangguk, dan kemudian ia pun menghilang seketika bersama Heldir.
***
Di Tengah hutan benua elf yang rindang dengan pepohonan tinggi dan besar ditambah dengan suara hewan-hewan liar yang mungkin bersarang di hutan tersebut. Keadaan hutan di malam hari memanglah gelap, tapi berkat cahaya dari bulan, serta tanaman dan serangga terbang yang bercahaya membuat hutan tersebut tidak terlalu gelap.
Disana terdapat Pohon besar yang berbeda dari pohon disekitarnya. Pohon itu memancarkan aura yang sangat besar dan mendominasi di sekitarnya, dan benar pohon tersebut merupakan pohon Travion.
Brugh!
Tidak jauh dari pohon tersebut tiba-tiba saja terdengar suara orang yang jatuh, dan suara tersebut tidak terjadi sekali saja. Jika kembali dilihat, terdapat beberapa Elf yang sepertinya penjaga pohon Travion sudah tidak sadarkan diri di sekitarnya tergeletak di tanah.
"Hei! Jangan asal membunuh kaumku." Seru Heldir pada Xio yang sedang bertengger di salah satu pohon dengan mengenakan jubah sutra putihnya, dan di atas telapak tangannya terlihat jarum berwarna hitam yang melayang. Jarum tersebut sama seperti jarum yang terdapat pada leher para elf penjaga yang tak sadarkan diri.
"Tenanglah mereka hanya pingsan." Kata Xio turun dari pohon dan menapakkan kakinya di tanah.
Xio kemudian berjalan menuju pohon Travion dengan Heldir terbang di depannya sebagai pencahayaan seperti kunang-kunang. Sampai mereka berdua pun akhirnya sudah berhadapan dengan pohon tersebut hanya berjarak beberapa jengkal saja.
Xio menengadah ke atas melihat ketinggian pohon tersebut yang menjulang tinggi dan besar sekali. Lalu ia menoleh ke Heldir. "Sekarang apa yang harus kulakukan?" Tanyanya.
"Kamu harus mencari dulu letak memasukkan kuncinya."
'kunci?' Xio awalnya bingung apa yang dimaksud kunci. Tapi kemudian dia segera menyadarinya.
"Sentuh pohon itu dengan telapak tanganmu." Jawab Heldir. Xio kemudian maju selangkah dan melakukan apa yang Heldir katakan.
"Pejamkan matamu, lalu rasakan dimana letak menaruh kuncinya."
Xio segera memejamkan matanya dan memperdalam indranya untuk menelusuri pohon tersebut.
Tidak butuh waktu lama, pohon tersebut seperti langsung memberitahukan pada Xio dimana letak kuncinya harus dimasukkan.
Xio kembali membuka matanya dan berhenti menyentuh pohon tersebut. Ia kemudian menoleh ke samping kanan, matanya tertuju pada akar pohon Travion yang muncul ke permukaan.
Sedikit berjalan ke arah pohon tersebut, Xio tiba-tiba saja menggigit telunjuknya hingga berdarah, dan darah yang keluar dari telunjuknya tersebut ia teteskan pada akar yang keluar itu.
Krak! Krak!
Akar dari pohon Travion itu tiba-tiba saja bergerak dan kembali masuk ke dalam tanah. Keheningan pun terjadi sejenak sampai tiba-tiba pohon besar tersebut berguncang dengan sangat dahsyat, bahkan membuat area sekitarnya seperti gempa.
"Apa yang terjadi?!" Seru Xio berusaha menyeimbangkan kakinya.
Sementara saat ini Heldir tengah menatap pohon tersebut dengan mata berbinar dan bersemangat. Seperti sedang menunggu sesuatu yang luar biasa yang selama ini ditunggu-tunggu nya.
Pohon tinggi dan besar itu perlahan menyusut menjadi sebuah benih cahaya kecil yang kemudian bergerak ke arah Heldir dan masih kedalam tubuhnya.
Whooss!!
Hempasan aura keluar dari tubuh perinya yang sekarang bercahaya menerangi hampir sebagian hutan di malam hari yang gelap kala itu.
Tak lama kemudian cahaya itu pun perlahan mulai meredup. Dan muncullah sosok Elf pria dewasa yang tampan tepat dihadapan Xio, sementara peri kecil tadi entah menghilang kemana.
"Hahaha….aku hidup kembali! Aku berhasil hidup kembali!" Elf tersebut tertawa puas.
Xio menutup matanya dengan telapak tangan tidak mau melihat pria elf yang bugil di depannya tersebut.
"Cepat tutupi tubuhmu dulu!" Seru Xio melemparkan satu stel pakaian miliknya pada elf tersebut yang tidak lain adalah Heldir yang sudah berubah menjadi dirinya seperti dahulu.
"Ahahaha teman! Ayolah tidak perlu malu, kita sama-sama pria normal kok." Belum mengenakan pakaian yang diberikan Xio, Heldir merangkul pundaknya sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.
"Sial*n jangan sembarang menyentuhku!"
Duak!
Xio menendang Heldir dengan kesal. Dia kemudian berjalan ke belakang ke arah lubang besar bekas pohon tadi tertanam. "Cepat pakai pakaianmu, atau aku akan membuatmu jadi pohon selamanya." Ucapnya.
"Baik-baik, huhh dasar tidak asik!" Jawab Heldir.
Jebb!
Sebuah belati dengan aura hitam menancap di pohon tepat di samping leher Heldir. Heldir mengejapkan matanya dan menelan susah salivanya. "Sepertinya dia benar-benar tidak bisa diajak bergurau." Gumam Heldir.
Kembali ke sisi Xio, sekarang di depannya sudah ada sebuah peti kayu yang terdapat ukiran-ukiran tulisan kuno di setiap sisinya.
"Kulit halus, Tulang kokoh, Akal sehat." Xio membaca ukiran tersebut. "Apa maksudnya?" Bingung Xio tidak mengerti maksud tulisan tersebut.
Tanpa menghiraukannya lagi, Xio pun segera membuka kotak tersebut. Dan seketika cahaya emas terpancar dari kotak tersebut, Xio dapat melihat 3 helai daun berwarna emas yang tidak diketahui olehnya.
"Daun apa ini System?" Tanya Xio.
「Golden Travion Leaf
Merupakan Daun langka yang dapat membuat siapa saja yang memakannya akan menjadi awet muda dan tanpa penuaan pada tubuh 」
"Apa jika aku memakan daun ini, maka penampilanku akan terus seperti ini meski sudah berumur?" Tanya Xio memastikan.
「Benar Tuan」
Xio berbalik kebelakang, "Hei Heldir! apa aku boleh mengambil ini?" Panggil Xio pada Heldir yang baru selesai mengenakan pakaiannya.
"Ambil saja semua!" Seru Heldir. Dia tidak membutuhkan daun emas tersebut karena elf memiliki umur yang lebih panjang dari pada manusia.
Xio mengambil 3 daun emas tersebut dan memasukkannya ke dalam inventory untuk diberikan pada Ellisa dan juga ayahnya, atau untuk dirinya juga.
"Apa tidak ada apa-apa lagi disini? Bukankah Meryl bilang ada harta yang sangat berharga pada pohon tadi?" Tanya Xio pada Heldir yang sudah berada di belakangnya.
"Apa yang kamu katakan? Bukankah kamu sudah melihat harta paling berharganya?"
"Daun emas tadi? Walaupun itu memang sangat berguna, tapi kalau hanya itu saja tidak terlalu wahh." Kata Xio.
"Tadaa!! Harta luar biasanya adalah aku sendiri. Karena sudah berhasil membangkitkanku, maka aku akan menjadi pengikutmu! Hahaha…" Heldir tertawa gembira.
"Hmm." Dengan datarnya Xio hanya berdehem saja dan meloncat dari pohon ke pohon menuju arah kerajaan Sylvaine meninggalkan Heldir.
"Hei tunggu! Kenapa kamu tidak senang? Aku ini moyang para elf loh!" Teriak Heldir merasa di cuek kan oleh Xio. "Kenapa dia tidak senang yah? Apa dia masih marah dengan gurauanku tadi?" Gumam Heldir bertanya-tanya sendiri seperti orang bodoh.
***
Sementara itu di salah satu sisi hutan benua elf, saat ini nampak segerombolan Elf menunggangi babi hutan besar yang bulunya berwarna putih, mereka juga mengenakan pakaian bulu yang sangat tebal dan terlihat hangat. Rombongan tersebut merupakan rombongan dari kerajaan Garren yaitu dari ras elf salju.
Pemimpin mereka bernama Duncan yaitu seorang pria ras elf salju yang memiliki senjata berupa tombak panjang dan ujungnya yang terlihat sangat tajam. Duncan menunggangi babi besar dengan bulu seputih salju, dan memiliki dua cula di dekat hidungnya.
"Carret, apa menurutmu apa yang Amir inginkan?" Duncan bertanya pada seorang dibelakangnya yang bernama Carret, tapi sebenarnya itu adalah Mammon. Sedangkan Carret yang asli ia sekap dan saat ini masih berada di kerajaan Garren terkurung.
"Saya kurang tahu apa tujuan Amir memanggil anda." Jawab Carret. Amir yang dimaksud adalah Amir raja dari kerajaan Sylvaine.
"Hahaha sepertinya dia sedang butuh sesuatu dariku." Duncan tertawa percaya diri.
Tapi tiba-tiba…
Trang!!
Sebuah pedang bermata ganda melesat ke arah Duncan, tapi untungnya dengan cepat Duncan menahan pedang tersebut dengan tombaknya.
"Hahaha... ekspresi terkejutmu menggambarkan jati dirimu."
...****************...
... BERSAMBUNG...