
...----------------...
Hari kompetisi pemilihan pahlawan pun akhirnya telah tiba.
Selama 4 hari terakhir Xio hanya bermalas-malasan saja dengan menempel terus pada Ellisa, Xio juga sudah memperbesar pulau terbangnya dan sudah membuatkan sebuah Colloseum yang sangat besar dan megah disertai dengan kursi penonton berjumlah 200 ribu kursi lebih, dan tentu saja sudah dilengkapi dengan tempat duduk untuk Xio atau lebih tepatnya seperti kursi singgasananya bersama dengan Ellisa yang bertumou pada sebuah awan melayang. Untuk para tamu penting, Xio juga sudah menyiapkan bangku dan ruangan khusus untuk mereka.
Sehari sebelumnya juga Xio sudah menjemput Rose serta Jhonatan, sedang Arthur yang tidak ada selama 4 hari terakhir tiba-tiba saja ia pulang di saat malam sebelum kompetisi entah sudah dari mana dan kemana ia pergi tidak ada yang tahu.
Selama 4 hari belakangan ini juga Leon dan Lena jarang sekali berada di istana karena mereka akan pergi ketika pagi dan kembali lagi ketika sore hari. Ellisa menaruh rasa curiga pada mereka karena penasaran apa yang sedang mereka kerjakan belakang ini, Tapi Xio selalu saja dapat menutup-nutupi nya walaupun mearasa sedikit bersalah pada Ellisa.
Saat ini Xio sedang menunggu didepan pintu sebuah ruangan yang sedang dipakai oleh Ellisa untuk didandani oleh para pelayannya, Xio tidak di perbolehkan masuk kedalam oleh Ellisa karena Ellisa bilang agar menjadi kejutan.
Ketika Ellisa keluar dari ruangan tersebut, Xio langsung membelalakan matanya karena lagi-lagi ia di kejutkan oleh kecantikan Ellisa dan pipinya juga mulai memerah tapi ia langsung menutuoinua dengan salah satu telapak tangannya.
"Sayang kenapa kamu menutup wajahmu?" Tanya Ellisa.
"Ehmm tidak, tidak apa-apa." Jawab Xio kembali menurunkan tangannya tapi masih terlihat pipi Xio sedikit merona membuat Ellisa tersenyum.
"Lalu kenapa aku melihat ada sesuatu yang bangun?" Ucap Ellisa melirik ke bawah tubuh Xio.
Xio mengikuti pergerakan mata Ellisa dan mendapatkan kalau ternyata naga Xio sudah berdiri tegak dibalik celananya.
"Ah ini.. " Xio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah sudah lah ayo kita berangkat." Kata Xio langsung menggandeng tangan Ellisa dengan wajah yang masih memerah karena malu.
"Tunggu dulu!, dimana Leon dan Lena?" Tanya Ellisa.
"Oh anak-anak sudah duluan bersama ayah." Jawab Xio dan diangguki oleh Ellisa karena ia percaya percaya saja pada Xio.
Orang-orang yang datang Koloseum dapat terlihat dan terdengar Ramainya yang datang ke acara kompetisi tersebut untuk menonton sehingga sudah semua kursi penonton sudah di penuhi oleh mereka yang datang sendiri ataupun bersama dengan rekan serta keluarganya. sedangkan untuk yang tidak kebagian tempat duduk, mereka masih dapat menonton diluar karena sudah ada layar besar yang akan menyiarkan acara didalam Koloseum
3 Raja yang menjadi bawahan Xio pun sudah hadir dan duduk di bangku khusus bersama dengan keluarga mereka, begitu juga dengan Jhonatan, Arthur serta Rose yang memiliki kursi khusus mereka masing-masing tapi masih berdampingan.
Riuhnya Suara penonton seketika menjadi hening ketika mendengar suara terompet yang kemudian dilanjutkan dengan suara orang berbicara tapi dapat didengar jelas oleh semua orang baik yang berada di dalam Koloseum maupun yang berada diliar. "BERI HORMAT PADA YANG MULIA RAJA DAN RATU!!" dan langsung saja semua orang berdiri dari dari kursi mereka untuk memberikan salam penghormatan dengan mengepalkan satu tangan mereka di dada serta sedikit menundukan kepala mereka.
Di langit nampak sepasang pria dan wanita yang berjalan di udara dengan anggun dan elegan serta paras mereka berdua yang terlihat sangat tampan dan cantik bak seorang dewa dewi, siapa lagi kalau bukan Xio dengan Ellisa yang sedang berjalan menuju awan apung yang diatasnya sudah ada dua kursi khusus untuk mereka.
Sesampainya di awan tersebut Xio serta Ellisa tidak langsung duduk di kursi mereka karena Xio akan mengucapkan sesuatu terlebih dahulu.
"Baiklah aku Terima salam kalian." Ucap Xio santai namun dapat terdengar jelas oleh semua orang.
"Tidak banyak yang akan kuucapkan, Maka dengan ini acaranya dimulai!, Semoga beruntung!" Ucap Xio di balas oleh sorakan serta tepuk tangan bersemangat dari semua orang bersamaan dengan di bukanya gerbang Koloseum dan munculah banyak sekali orang yang kemungkinan besar mereka adalah para peserta yang ingin mengikuti kompetisi.
Setelah semua nya hening kembali, munculah Mikhael yang terbang di atas tengah-tengah Koloseum dan memperkenalkan dirinya sebagai pembawa acara kemudian mulai membacakan ujian apa saja yang akan di laksanakan dan peraturan peraturannya.
Ujian pertama yaitu Pengetesan Level dengan cara menyentuh alat pengukur level yang kemudian hasilnya akan di tampilkan di layar besar yang sudah terpampang jelas nama-nama peserta dan jumlah pesertanya sekitar 15 ribu lebih dengan campuran dari berbagai ras dan juga berbagai golongan bhkan banyak juga para petualangan veteran yang ikut andil dalam acara tersebut.
Para peserta terlihat bersemangat sekali karena di beritahukan kalau yang memiliki level tertinggi akan mendapatkan hadiah.
pengetesan Level di lakukan di 5 tempat berbeda karana agar lebih cepat.hampir setengah dari peserta sudah selesai mengetes Level mereka dan rata-rata semuanya hanya berada di bawah level 2.500.
Poin tertinggi masih dipegang oleh kelompok yang beranggotakan 7 orang, diantaranya 4 orang pria dewasa bahkan ada yang sudah seperti agak tua tapi badannya sangat besar dan kekar, dan 3 orang wanita. Ketua mereka bernama Philip yang memiliki level 2.500.
"Huftt ini sangat membosankan." Keluh Ellisa menyandarkan kepalanya dibahu Xio.
Satu jam berlalu dan hanya tinggal beberapa kelompok saja lagi yang sedang menunggu giliran mereka untuk di test. Saat ini di salah satu tempat pengetesan, terlihat 4 orang yang mengenakan jubah berwarna putih. Dilihat dari tinggi badan mereka dapat di perkirakan kalau 3 orang diantara mereka masih berumur 13-14 tahun dan ada juga yang berdiri dibelakang lebih tinggi dari mereka seperti orang dewasa.
"Lena jangan melihat ke atas!, nanti mamah bisa mencurigai kita." Kata salah satu orang berjubah tersebut yang tidak lain adalah Leon.
Azco sudah memasangkan ilusi ditubuh Leon, Lena dan juga Zekiel agar terlihat seperti sudah berumur 14 tahun. Tapi illusi tidak akan Berpengaruh pada orang yang berada diatas levelnya, yang berarti hanya Xio saja yang dapat melihat mereka dengan wujud aslinya. Mereka juga sudah mendaftar menggunakan nama samaran mereka yaitu Azco sebagai Zico, Leon sebagai Liam, Lena sebama Mila, dan Zekiel sebagai Zekke.
(Leon, Lena, dan Zekiel katika berumur 14 tahun)
(Azco ketika menjadi manusia)
"Selanjutnya!" Seru orang yang bertugas menjadi pengecekan level yaitu Rafael.
Leon bersama yang lainnya pun langsung maju dan yang mendapatkan giliran pertama menyentuh batu pengukir ialah Zekiel, Zekiel ternyata sudah berada di level 1.602 dan mendapatkan peringkat ke 1,994 pada papan ranking.
Selanjutnya ialah giliran Lena, di papan ranking Lena mendapatkan Ranking Ke-94 dengan Level 1.960.
Giliran Leon pun Tiba, dan langsung terpampang dengan Jelas nama Liam menempati peringkat ke dua dengan level 2.489. Membuat semua orang terkejut karena dilihat dari tinggi badannya saja Leon belum menginjak dewasa sama sekali tapi sudah berada di level seperti itu, dan yang paling terkejut ialah Philip ketika tahu ternyata ia memiliki singan yang agak berat tapi ia masih percaya diri karena masih memiliki jumlah anggota lebih banyak.
Diatas sana Xio tersenyum melihat perkembangan level Leon yang meningkat pesat hanya dalam beberapa terakhir saja, sungguh tidak sia-sia Xio selalu mendukung dan memberikan nya sumber daya.
"Bagaimana bisa seorang remaja saja sudah memiliki level setinggi itu?, aku saja masih berada di level 3.000." Tanya Ellisa.
"Bisa saja asalkan punya perjuangan dan ketekunan yang tinggi pasti bisa." Jawab Xio.
"Hmm apakah kamu merasa tidak curiga dengan 4 orang yang mengenakan jubah putih itu?, mereka selalu saja menunduk dan seperti tidak mau memperlihatkan wajah mereka." Tanya Ellisa lagi.
"Mungkin mereka mengenakan jubah seperti untuk tanda pengenal kelompok mereka, dan mungkin sja mereka malu menunjukkan wajahnya." Jawab Xio.
Ellisa langsung menatap tajam Xio. "Kenapa kamu seperti sudah mengenal mereka, aku jadi lebih curiga padamu." Kata Ellisa.
"Tentu saja aku me-...." Hampir saja Xio keceplosan tapi untungnya ia langsung sadar.
"ehh!, mana mungkin aku mengenalnya. Orang nama mereka saja aku belum pernah mendengarnya." Ucap Xio tersenyum canggung.
Boommm!!
Tiba-tiba saja terdengar suara ledakam arena yang lumayan keras suaranya.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG