Cross The World With System

Cross The World With System
Hutan berdarah



Di Tengah hutan yang sudah menjadi lautan darah. Ellisa menodongkan ujung pedangnya di dagu salah seorang pria yang terpojok dan tidak bisa lari kemana-mana lagi karena batu besar di belakangnya yang menghalangi.


"Katakan siapa kalian?!" Kata Ellisa mengancam dengan mendorong ujung pedangnya ke leher pria tersebut hingga lehernya terlihat sedikit tergores dan mengeluarkan darah.


"Hm!" Angkuh pria tersebut dengan senyuman mengejek. Ia seperti tidak takut dengan pedang tajam yang sudah berada di lehernya. Padahal pedang tersebut sudah membunuh semua rekannya dan kini hanya tinggal menyisakan dirinya seorang saja.


Jleb!


Ellisa terkejut karena tiba-tiba saja ada yang menusuknya dari belakang dengan pisau. Tapi dengan refleknya yang super cepat, pisau tersebut berhasil ditahan dengan tangannya meski kini telapak tangannya lah yang tertancap pisau tersebut.


"Zara?" Ellisa tambah terkejut karena Zara lah yang menusuknya. Tapi anehnya Zara sama sekali tidak berekspresi.


Tiba-tiba Ellisa merasakan aura yang sangat besar sedang bergerak cepat ke arah dirinya.


Trangg!!


Ellisa menahan ayunan pedang yang datang kearah Zara dengan pedangnya sehingga pedang mereka beradu. Ellisa merasakan ayunan pedang yang mengarah ke Zara itu sangatlah kuat. Dan karena Ellisa menahannya dengan satu tangan saja sehingga pedangnya miliknya tertekan tapi untungnya tidak sampai terkena Zara.


"Apa yang kamu lakukan!?" Ucap Ellisa pada orang yang beradu pedang dengannya itu.


"Apa yang kulakukan?...APA YANG KAMU LAKUKAN!!? KENAPA KAMU MENAHANNYA!?" Sahutnya berteriak dengan mata penuh amarah dan ekspresi yang menyeramkan. "DIA BARU SAJA MAU MEM-"


"Tenanglah sayang…" Dengan nada lembut Ellisa tidak mau membiarkan pria tersebut termakan amarahnya. 


Mata Xio langsung tertuju pada tangan Ellisa yang terdapat sebuah pisau menancap di telapak tangannya tersebut. Ia menjatuhkan pedangnya dan langsung ke dekat Ellisa memegang tangannya yang terluka tersebut dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Sayang maaf aku berteriak barusan. Apa kamu tidak apa-apa?" Ucap Xio kini dengan nada lemah lembutnya merasa bersalah berteriak keras pada istrinya barusan


"Jangan khawatir aku baik-baik saja." Dengan sekali hembusan nafas Ellisa menarik pisau di tangannya tersebut seperti tidak merasakan sakit sama sekali. Tangannya yang terluka barusan pun seketika langsung pulih kembali. "Sepertinya Zara dikendalikan seseorang. Sebaiknya kamu ikuti saja orang yang lari barusan." Lanjutnya karena satu pria yang tersisa tadi kabur sesaat setelah Zara mengarahkan pisaunya ke arah Ellisa.


Xio melihat kesekitarnya baru sadar hutan tersebut sudah dipenuhi dengan mayat dan darah dimana-mana mewarnai rumput dan pepohonan dengan warna merahnya. Ia juga melihat kalau Zara tidak bergerak sama sekali dari tadi dan hanya berdiri dengan tatapan kosong disana.


"Aku senang kalau kamu baik-baik saja." Xio memegang pipi Ellisa dan mengecup keningnya. "Aku akan menghabisi orang yang sudah berani merencanakan ini pada istriku." Tambahnya.


Ellisa tersenyum dan mengangguk. Lalu Xio pun menghilang seketika dari tempatnya barusan berdiri.


Ellisa segera memegang kening Zara dan Zara pun seketika pingsan ditahan oleh Ellisa agar tidak jatuh.


Ellisa menyandarkan Zara di dekat pohon. Ia lalu mengarahkan tangannya di depan dada Zara untuk memeriksa apa yang terjadi padanya.


Ellisa cukup terkejut setelah menemukan benih kotor berada dalam tubuh Zara.


"Sepertinya benih ini yang telah mengendalikannya." Gumam Ellisa, "Tapi memangnya di bumi adakah yang punya benda seperti ini?" Herannya.


"Ah tanya saja itu pada Xio nanti. Sekarang aku harus segera mengeluarkan benihnya dulu sebelum sampai ke janinnya." Ellisa memegang perut Zara dengan telapak tangan yang memancarkan cahaya.


Tidak lama kemudian…


Uhukkk!!


Zara batuk dan sebuah benda kecil sebesar pil keluar dari mulutnya. Ellisa segera menangkap benih tersebut dan mengamankannya di dalam cincin penyimpanannya.


Zara membuka matanya dalam keadaan tubuh lemas dan kebingungan. Selain itu, ia juga mencium bau darah yang sangat menyengat dan membuatnya sangat mual.


"Zara kamu ba-" Belum selesai Ellisa mengucapkan kalimatnya, Zara sudah pingsan lagi karena bau darah yang benar-benar menusuk hidung. Berbeda dengan Ellisa yang sudah biasa mencium bau darah.


"Yahh dia pingsan lagi." Kata Ellisa menggelengkan kepalanya. Dia kemudian merasakan beberapa orang dengan aura yang berbeda sedang bergerak ke arahnya.


Ellisa segera berdiri dan memasang sikap waspada sambil memperhatikan sekitarnya, karena tidak tahu siapa yang datang. Tapi ia mengendurkan kewaspadaannya lagi setelah mengenali salah satu aura tersebut yang salah satunya aura milik Sebas.


Benar saja tidak lama setelah itu Sebas datang bersama dengan Heldir dan juga Nadia. Mereka bertiga cukup tercengang melihat gaun Ellisa yang sudah diwarnai darah, dan sekitarnya yang berserakan mayat.


"Yang mulia! Apa anda baik-baik saja?" Tanya Sebas dengan wajah Khawatir.


"Aku baik-baik saja." Jawab Ellisa tersenyum. Lalu Nadia tiba-tiba saja memeluknya dan berkata, "Syukurlah kamu baik-baik saja." 


Ellisa mengangguk pelan dan membalas pelukan Nadia.


"Oh iya, bagaimana tahu aku ada disini?" Bingung Ellisa mengerutkan sebelah alisnya.


"Xio mengeluarkan auranya di tengah pesta sampai membuat listrik padam." Jawab Nadia menggelengkan kepala dan memegang keningnya.


"Haha...Xio memang selalu seperti itu." Ellisa terkekeh kecil.


"Hm ibu terkejut kenapa Xio semarah itu barusan. Tapi ibu senang karena kemistri kalian sudah sejauh itu." Nadia tersenyum. "Lalu dimana anak itu sekarang?" Lanjutnya bertanya.


"Sepertinya ada penyusup ke pulau ini. Jadi Xio pergi membereskannya."


"Penyusup yah, Xio pasti tidak akan lama. Biar ibu marahi ayahnya nanti karena teledor membiarkan penyusup masuk. Sekarang ayo kembali."


"Em!" Ellisa mengangguk. "Sebas tolong bawa Zara. Dan hati-hati membawanya." Tambahnya pada Sebas dan berjalan duluan bersama Nadia.


Sebas memangku Zara dan berjalan menyusul di belakang bersama Heldir.


"Bukankah istrinya Yang Mulia cukup seram? Dia masih tersenyum meski darah penuh di gaunnya." Bisik Heldir pada Sebas.


"Teruslah berbicara jika kamu mau Yang Mulia memotong lidahmu." Balas Sebas.


"Hmf!" Heldir mendengus.


Sebas tidak mempedulikannya dan langsung menyusul Ellisa juga Nadia. Heldir yang merasa ditinggalkan pun bergegas ikut dengan Sebas.


Baru setengah perjalanan mereka berjalan kembali ke tempat pesta, tiba-tiba….


Booommm!!


Terdengar suara ledakan dan guncangan yang luar biasa di sisi lain pulau tersebut.


Ellisa dan Nadia menoleh kebelakang.


"Apa aku harus menghentikannya?" Kata Ellisa tahu asal suara tersebut pasti dari Xio.


Nadia merangkul bahu Ellisa, "Jangan, biarkan dia memuaskan kemarahannya." Jawab Nadia. "Para pria pasti memiliki sifat keras kepala untuk melindungi orang yang disayanginya. Dan jika berhasil, itu merupakan pencapaian dan kesenangan bagi dirinya sendiri."


Ellisa mengangguk paham, "Lalu bagaimana dengan para tamu pesta, bukankah itu berarti mereka akan mendengar dan merasakan getaran barusan?" Tanyanya.


"Para bawahan Xio sudah memasang Barrier di sekeliling bangunan jadi tidak akan terasa ke dalam bangunannya."


.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian.


Para tamu sudah ditenangkan dengan bilang kalau salah satu sisi pulau ada yang tertabrak paus. Tentu saja bohong itu hanya untuk membuat mereka tidak panik. Setelah semuanya tenang, seluruh tamu pun dipersilahkan untuk beristirahat ke kamar mereka masing-masing. Meskipun lebih banyak yang memilih ke Beach Club, karena siapa yang mau melewatkan malam dengan sia-sia di tempat semewah dan seindah pulau itu.


Sementara itu, saat ini disalah satu ruangan.


"Apa kamu mengenalnya Xio?" Tanya Azril.


"Aku lupa, tapi dia bilang kita pernah sekelas dulu." Jawab Xio.


"Alejandro…" Azril menoleh ke arah Jhonatan. 


"Merlin anaknya Smith. Dulu dia bersekolah di New Zealand sama dengan Xio." Kata Jhonatan.


"Ohh Merlin…. Aku ingat sekarang. Anak yang mirip anjing Chihuahua kalau marah itu." Spontan Xio. Jhonatan dan Rose hanya bisa menepuk kening.


Grrr!!


Merlin, pria yang di jinjingan Xio itu mengerang kesal disebut seperti anjing Chihuahua.


"Tuh lihat wajahnya, seperti Chihuahua kan!" Kata Xio lagi dengan entengnya. Jhonatan terkekeh karena memang benar wajahnya sedikit mirip Chihuahua.


Azril menaruh jarinya di dagu, "Smith jenderal tentara itu yah." Ia mengingatnya. "Katakan! Apa ayahmu dibalik semua ini?" Azril bertanya pada Merlin.


"TIDAK SIALA-"


Akhh!


Xio mematahkan lututnya sebelum Merlin mengumpat pada Azril. "Hidupmu ada di tanganku. Sopanlah pada kakekku."


Krakk!!


Sekali lagi Xio memutar pergelangan tangan Merlin 360 derajat dan membuatnya berteriak kesakitan. Sedangkan Azril hanya bisa mengusap wajahnya sendiri.


"Sepertinya dia kesulitan untuk bicara, biar aku memeriksanya langsung." Kata Xio memegang kening Merlin untuk membaca memorinya.


...*...


Dulu saat Xio masih tinggal di New Zealand mereka pernah bersekolah di sekolah dasar yang sama. Merlin memang dikenal anak yang pintar namun dari awal dia tidak pernah bisa mengalahkan prestasi Xio yang selalu berada di atasnya.


Merlin yang selalu mendapatkan tuntutan dari keluarganya terutama ayahnya jadi selalu mendapatkan kekangan serta hukuman secara mental maupun secara fisik hingga ia mengalami trauma besar. Sampai dititik dia tidak dianggap lagi oleh keluarganya, Merlin menaruh semua amarahnya pada seorang yang menjadi penyebabnya, yaitu Xio.


Merlin bertemu dengan seorang pria tua misterius yang memiliki organisasi besar dan yang mengulurkan tangannya membatu Merlin untuk membalas dendam.


...*...


Brukk!!


Xio menjatuhkan Merlin yang sudah pingsan ke lantai.


"Sudah?" Tanya Azril.


"Ehmm.." Xio mengangguk kemudian menceritakan semua yang barusan dilihatnya dari memori Merlin.


Azril hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar Xio yang menjelaskan alasan Merlin ingin membunuh Ellisa. Xio juga bilang tidak dapat melihat jelas sosok dibalik Merlin.


"Sepertinya otaknya sudah dicuci, kakek akan membantu mencari tahu siapa dalangnya." Kata Azril. "Sekarang mau kamu apakan dia?" Tanyanya merujuk pada Merlin.


"Kakek saja yang memutuskan. Aku sudah puas menghajarnya." Kata Xio melirik kearah Merlin lagi yang sudah dalam keadaan mengenaskan karenanya. 


"Hmm kamu kembalilah duluan." 


Xio mengangguk dan menghilang secara tiba-tiba di dalam ruangan tersebut.


"Alejandro kamu urus para tamu." Suruh Azril pada Jhonatan.


"Oke Pops!" Seru Jhonatan kemudian berjalan ke arah pintu keluar dan melangkah kaki nya keluar ruangan tersebut. Tapi sebelum menutup pintunya kembali dia tersenyum penuh makna mengacungkan ibu jarinya sambil melirik ke arah Rose dan Azril bergantian.


Dukk! 


Dukk!


Azril dan Rose masing-masing melemparkan sebuah buku yang hampir mengenai Jhonatan, namun malah mengenai pintu karena Jhonatan langsung merapatkan pintu tersebut sambil tertawa.


"Du Lauch!" Teriak Azril mengumpat dengan bahasa Jerman.


"Hahhh…" Rose hanya  bisa menghela nafas dengan kelakuan Jhonatan yang suka membuat mereka kesal.


*


Kembali ke posisi Xio, sekarang dia sudah berada didepan mansion yang ada di belakang pulau, karena sudah diberitahu kalau istri serta anak-anaknya sudah kembali.


Sebas berdiri diam di depan pintu masuk seperti sudah menunggu untuk menyambut kedatangan kembali tuannya.


"Selamat datang Yang Mulia!" Sebas membungkuk sopan.


"Apa anak-anak sudah tidur?"


"Pangeran dan tuan putri sudah tidur di kamarnya Yang Mulia," Jawab Sebas. "Dan didalam sepertinya para dosa dan kebajikan ingin menyampaikan sesuatu." Tambahnya.


Xio mengangguk. Lalu Sebas membukakan gagang pintu untuknya. Dibukanya pintu tersebut, para bawahan Xio sudah berdiri berbaris di lorong pintu masuk membelakangi tembok dan menundukkan kepala mereka curam. Raut wajah serta keringat di kening mereka menggambarkan rasa bersalah, karena mereka gagal melindungi sang ratu yang diamana merupakan tugas mereka untuk melindungi anggota keluarga kerajaan. Mereka takut Rajanya tidak dapat mentolerir atas kelengahan mereka.


Xio berjalan lurus kedepan tanpa menoleh pada mereka. Wajahnya yang tanpa ekspresi, dan langkahnya yang bersuara di tengah keheningan tersebut, membuat auranya terasa mencekam. Para bawahan Xio bahkan tidak sempat untuk bernafas saking menegangkannya langkah sang Raja.


Tanpa sepatah katapun sang Raja kemudian berlalu menaiki tangga…


Brakk!


Pintu depan rumah menutup sendiri dengan sangat kencang, dan bukan karena Sebas.


Mereka semua langsung berlutut lemas seraya mengatur nafasnya yang barusan tersendat. Rasanya seperti tenaga mereka baru saja terkuras hanya karena aura Rajanya yang merasa tidak puas dengan tugas mereka.


"Yang Mulia membawa kalian bukan hanya untuk bersenang-senang," Sebas memulai sambil berjalan melewati mereka. "Ketahuilah kedudukan kalian." Sebas ikut menghilang menaiki tangga setelah meninggalkan kalian yang menohok untuk mereka.


Keempat belas makhluk tersebut merenung, karena diam nya Raja tidak sesederhana itu. Bisa saja sang Raja mendiamkan mereka berbulan-bulan, jika mereka belum juga memuaskannya.


Lucifer berdiri, "Semuanya salah kita yang mengira dunia aman. Kejahatan tidak akan ada hentinya, dan kebaikan selalu membawa kejahatan. Jangan hanya diam saja, kita harus menunjukkan pada Yang Mulia, bahwa kita bisa berguna." 


"Bagaimana? Ini sudah terlambat." Sahut Uriel.


"Kita akan membawa kepala manusia sialan itu yang sudah menempatkan Yang Mulia Ratu dalam bahaya."


"Tapi, bukankah orangnya sudah di tangkap oleh Yang Mulia?" Kata Belphegor dengan nada suara yang mengantuk.


"Masih ingat benih yang tadi Ratu tunjukan?" Tanya Lucifer, dan mereka mengangguk. "Tidak mungkin manusia biasa punya benih seperti itu. Pasti di bumi ini ada makhluk yang berasal dari dunia seperti kita. Dengan kita menghadiahkan kepalanya, Yang Mulia pasti akan memaafkan kita."


"Lalu, memangnya kita boleh bertindak tanpa izin?" Tanya Rafael berdiri menepuk-nepuk lututnya.


"Satu hari. Dalam satu hari kita harus menangkapnya."


"Apa? Bukankah itu mustahil? Kita saja belum tahu betul tentang bumi ini."


"Jangan terus bertanya, waktu kita dimulai sekarang. Berpencarlah dan dapatkan informasi sebanyak mungkin. Besok sebelum matahari tenggelam kita harus sudah membuat Yang Mulia senang."


Meski perkataan Lucifer terdengar mustahil, tapi mereka segera bergerak. Demi mendapatkan permohonan maaf, dan pengampunan dari Xio.


...****************...