
...----------------...
Di kantor dalam kantor Xio, terlihat saat ini dirinya sedang duduk di kursi tanpa mengenakan sehelai pakaian pun, sambil memperhatikan layar monitor yang memutar sebuah rekaman cctv. Dia tidak merasa terganggu walau saat ini Ellisa sedang duduk diatas pangkuannya tanpa busana dan sedang mencium serta menghisap dada dan Leher Xio, hingga terlihat tanda-tanda berwarna merah di dada dan juga lehernya.
Sepertinya mereka berdua barusaja selesai melakukan hubungan suami istri, terlihat dari keringat keduanya yang masih membasahi tubu, serta cairan berwarna putih yang masih keluar berderai dari ************ Ellisa.
Tiba-tiba saja Xio membelalakkan matanya terkejut dengan apa yang dia lihat dari rakaman cctv tersebut. Ellisa yang menyadari reaksi Xio pun sontak menanyakannya.
"Kenapa kamu terlihat sangat terkejut seperti itu?" Tanya Ellisa.
"Ah bukan apa-apa, kamu lanjutkan saja membuat tanda di tubuhku." Elak Xio tidak mau memberitahukan Ellisa.
"Apakah kamu tahu?!, kamu ini selalu menyimpan masalah seorang diri, dan aku kadang merasa sedih dengan sifatmu yang seperti itu, karena kamu seperti tidak mau jujur dan percaya padaku." Ucap Ellisa.
"Sesekali aku juga ingin bisa membantumu menyelesaikan masalah." Tambahnya menundukkan kepala.
Xio tersenyum, kemudian langsung memeluk Ellisa dan mencium bibirnya.
"Aku senang kamu mengkhawatirkan ku, tapi aku kan sudah pernah bilang, kalau kamu tidak perlu mengkhawatirkan permasalahanku, karena aku pasti bisa menyelesaikannya sendiri."
"Aku tidak mau kamu ambil pusing dalam permasalahan, Cukup dukung dan memberiku semangat saja itu sudah lebih dari cukup untuk membantuku." Ucapnya kembali memeluk erat Ellisa, dan membelai rambutnya.
"Bagaimana? apa kamu mengerti maksudku?" Tanyanya.
"Umm aku mengerti, tapi aku tidak ingin melihatmu memaksakan diri bekerja terlalu keras." Jawab Ellisa.
"Baiklah kalau begitu aku akan berusaha lebih keras untuk membuatmu semaki, semakin, dan semakin mencintai ku saja, sampai kamu tidak pernah mau jauh-jauh dariku, dan akan terus berada di sampingku." Ucap Xio mencium rambut Ellisa.
"Sesekali aku juga ingin melihatmu seperti perempuan lain yang menghabiskan uang suaminya untuk bersenang-senang atau berbelanja. Karena untuk apa aku bekerja menghasilkan uang, tapi uangnya tidak terpakai sama sekali. Uang yang aku hasilkan tentunya untuk kebutuhan dan kesenangan istri dan anakku, tapi sayangnya istri atau anak ku sepertinya tidak suka Uang dan kemewahan." Ujar Xio.
"Bukannya aku tidak mau menggunakan uangmu, tapi aku tidak suka berlebih lebihan dan lebih suka berhemat. Tidak baik juga mengajarkan anak-anak untuk berfoya-foya." Jawab Ellisa.
"Hahh... berhemat." Xio menghela nafas. "Asal kamu tahu saja, berhemat akan membuat uangku semakin menumpuk dan jadinya tidak terpakai. Saat ini saja aku tidak tahu berapa jumlah uangku di bank yang ada di seluruh negara. Jika di kumpulkan semua mungkin uangku tidak akan pernah habis."
"Sutt..." Ellisa menempelkan jari telunjuknya di bibir Xio. "Jangan besar kepala, Jika uangmu memang banyak kenapa tidak di sumbangkan saja ke orang yang lebih membutuhkan?" Ujarnya.
"Tapi aku bekerja, uangnya hanya untukmu, bukan untuk orang lain." Jawab Xio, walaupun setiap tahunnya dia memang selalu menyumbangkan sebagian hartanya ke orang-orang yang lebih membutuhkan, serta ke beberapa panti asuhan.
Ellisa menatap tajam Xio, sehingga membuatnya pasrah. Karena jika tidak Ellisa pasti tidak akan memberikannya jatah.
"Baiklah-baiklah, tapi kamu juga harus menggunakan uangku." Kata Xio.
"Baiklah kalau kamu memaksa." Jawab Ellisa. disisi lain dia juga sebenarnya bingung apa lagi yang bisa di belinya, karena semua kebutuhannya sudah terpenuhi. Perhiasan? sudah menumpuk, pakaian? Lemari besarnya saja sudah sangat penuh, belum lagi jika ditambah pakaian-pakaian yang ada di istana. Dan Semua itu Xio lah yang membelikannya.
Jika wanita lain mungkin akan terpikir untuk perawatan tubuh serta kecantikan. Tapi untuk Ellisa, tanpa perawatan pun kulit serta tubuhnya saja sangat sempurna walau tanpa make up sekalipun. karena kecantikannya merupakan kecantikan alami.
Sampai Ellisa pun terpikirkan hobinya yaitu Balapan mobil, dan dia belum mempunyai mobil yang bisa di pakai untuk balapan sama sekali, karena selama ini Ellisa hanya menggunakan mobil milik Jhonatan.
"Ah aku tahu apa yang harus kubeli!" Serunya langsung turun dari pangkuan Xio.
"Apa itu sayang?" Tanya Xio penasaran.
"Hehe kamu tunggu saja nanti." Jawab Ellisa berjalan ke sofa lalu tengkurap disana sambil memegang handphonenya, dan meng-scroll scroll layar handphonenya.
Xio menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, karena dia sebenarnya sudah tahu apa yang ada dalam pikiran Ellisa.
Xio pun kembali kelayar monitornya untuk memastikan apa yang tadi di lihatnya sungguhan.
Setelah beberapa kali memutar ulang rekaman tersebut, Xiopun yakin kalau tidak salah lagi orang yang ada di dalam video tersebut adalah Chris yang sedang bertemu dengan seseorang pria dan dia menyerah seberkas dokumen pada orang tersebut.
"Pantas saja aku tidak menemukan apapun tadi, rupanya orang yang paling dekat denganku lah pelakunya." Gumam Xio. "Tapi kenapa paman Chris melakukan itu? apa dia tidak suka bekerja denganku?" Herannya.
"Sebaiknya aku menjari tahu alasannya terlebih dahulu." Xio pun mengirimkan pesan seluler pada bawahan-nya untuk mencari tahu identitas orang yang bersama dengan Chris dalam rekaman tersebut.
Melirik ke sofa, Xio melihat Ellisa yang masih telanjang bulat tengkurap sedang asik memainkan handphonenya. Pemandangan tersebut tentu saja membuat adiknya kembali terbangun dan kembali tegak.
Xio berjalan kearah Ellisa dengan benda tegak miliknya yang terekspos karena dia juga belum mengenakan pakaiannya kembali.
"Sayang..." Ucap Xio.
Saat Ellisa menoleh, dihadapan wajahnya langsung di hadapkan dengan benda keras milik Xio yang menjulang. Sontak Ellisapun membelalakkan matanya, dan wajahnya langsung memerah.
"Kumohon satu kali lagi saja.." Kata Xio dengan wajahnya yang sudah memerah juga karena sudah sangat terangsang.
"Tidak sayang, kasihan anak-anak sudah menunggu." Tolak Ellisa.
"Ayolah sayang aku berjanji kali ini benar-benar sekali saja." Ucap Xio cemberut duduk di ujung sofa dan sambil mengelus pantat Ellisa, menatap belahan pahanya yang masih terdapat sisa miliknya.
"Hahhh baiklah." Ellisa menghela nafas pasrah, tidak tega melihat Xio serta adiknya yang sepertinya sudah tidak dapat ditahan.
"Hehe terimakasih sayang." Xio mencium pantat Ellisa dan kemudian naik ke atasnya.
"Persiapkan dirimu sayang." Ucap Xio.
"Iya ahh." Baru juga Ellisa menjawab, Dengan sekali hentakan milik Xio pun sudah masuk seutuhnya.
"Karena masih ada bekas aku tadi, jadi sangat licin didalammu." Kata Xio menciumi leher Ellisa.
"Emmh ahh." Ellisa menggigit bibir bawahnya sendiri lantaran Xio benar-benar membuatnya kenikmatan.
.
.
.
.
.
30 menit kemudian.
Terlihat Xio sedang terbaring di sofa dengan Ellisa yang menindihnya.
Xio mengabil kotak tisu diatas meja kamudian mengelap keringat diwajah Ellisa dengan tisu tersebut.
"Seperti biasa kamu terlalu agresif." kata Ellisa.
"Bagaimana lagi, habisnya melakukannya denganmu sangat terasa nikmat sekali. Tapi kamu juga menyukainya kan?" Tanya Xio.
"Mmh." Jawab Ellisa menganggukkan kepalanya.
Xio mengecup bibir Ellisa Sekilas dan langsung memeluknya.
"Ayo cepat bersih-bersih, Anak-anak pasti sudah menunggu." Ujar Ellisa mengambil beberapa lembar tisu, kemudian mengelap lendir putih yang menempel di bendanya Xio. Sementara Xio sendiri hanya memejamkan matanya menikmati gerakan tangan tangan Ellisa yang sedang membersihkan adiknya.
Xio menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Tidak, aku tidak boleh termakan ***** lagi.' Batinnya.
Dengan segera Xio pun memungut pakaian miliknya, dan pakaian milik Ellisa yang berserakan di lantai.
Mereka berdua pun akhirnya selesai menggunakan pakaian mereka kembali. Dan saat ini Ellisa sedang membantu Xio memakaikan dasi.
"Sudah, ayo sekarang kita susul anak-anak." Ujar Ellisa.
"Tunggu sebentar." Xio kembali ke meja kerjanya dan mengabil mengambil tasnya. "Ayo." Ucapnya menggandeng tangan Ellisa. dan berjalan keluar ruangan.
Keluarnya mereka dari ruangan tersebut, bertepatan dengan jam pulang para pegawai, sehingga tidak heran kalau menjadi sedikit riuh.
Xio dan Ellisa pun masuk kedalam elevator untuk segera turun menuju lobi. Setelah Elevator mencapai lobi, dan pintu Elevator terbuka, Pandangan semua orang langsung tertuju pada mereka berdua, tapi anehnya sebagian dari mereka wajahnya memerah.
"Apa ada yang aneh?" Ellisa melirik kearah Xio, dan wajahnya pun seketika menjadi memerah karena tersipu. lantaran Xio melonggarkan dasinya serta membuka satu kancing kemejanya sehingga tanda-tanda merah di leher serta dadanya terlihat sangat jelas.
Tapi dari Ekpresi Xio dia malah terlihat senang sambil membusungkan dadanya, seperti sedang memamerkan tanda-tanda merah tersebut pada semua orang. Yang membuat Ellisa kesal, adalah wajah Xio yang seperti tidak ada dosa sama sekali.
Dengan sigap Ellisapun langsung mengancingkan kemeja Xio dan membenarkan dasi Xio. "Sayang.. apa yang kamu lakukan..?" Kata Ellisa mencubit pinggang Xio.
"Apa? memangnya kenapa? aku hanya gerah saja." Jawab Xio mengelak.
"Yasudah kalau begitu lebih cepat jalannya." Ellisa menarik tangan Xio. Dia berpikir orang-orang pasti akan membicarakannya.
Dan itu benar terjadi, orang-orang yang ada disana langsung berbisik-bisik membicarakan pasangan Pria dan wanita berambut putih yang barusaja melewat di depan mereka. Para pria maupun wanita sangat terkesima dengan kecantikan serta ketampan Xio dan Ellisa. Terutama para perempuan yang sangat jatuh hati pada Xio dengan postur tubuh serta ketampanan yang melebihi seorang model dan aktor dunia.
Beberapa orang juga sudah ada yang tahu siapa Ellisa dan mengetahui kalau mereka berdua adalah suami istri, karena mereka mengikuti akun sosial media Ellisa yang pernah meng-upload foto kebersamaannya. Yang mereka tidak tahu adalah umur keduanya yang masih 18 tahun.
Kembali kesisi Xio dan Ellisa yang sudah berada di luar perusahaan.
"Sayang!! kenapa kamu melakukan itu!!?" Tanya Ellisa dengan tatapan tajam.
"Hahaha kenapa kamu marah seperti itu? aku kan hanya ingin menunjukkan kalau aku mempunyai istri yang sangat cantik, dan tentunya sangat menyayangiku." Jawab Xio mencium pipi Ellisa sekilas.
"Humph gombal!" Sahut Ellisa cemberut sambil mengembangkan pipinya.
"Hehe, bagaimana kalau besok aku temani kamu ke acara pamerannya?" Ujar Xio.
"Hah bagaimana kamu bisa tahu besok aku akan pergi ke acara pameran?" Terkejut Ellisa.
"Tentu saja aku tahu, aku akan selalu tahu apa saja tentang istri tercintaku." Jawab Xio mendekatkan wajahnya pada wajah Ellisa.
"Cukup..!!" Ellisa menahan wajah Xio. "Sudah jangan menggodaku lagi." Ucapnya dengan wajah memerah.
"Baiklah-baiklah, kasihan istriku wajahnya sudah seperti udang rebus." Kata Xio.
"PAPAH!! MAMAH!! SINI!!" Teriak Lena dan Leon yang sedang duduk di kursi taman bersama Chris dan Adam.
Dengan wajah ceria, Xio pun berjalan kearah mereka sambil menggandeng tangan Ellisa.
"Papah dan mamah kenapa lama sekali?" Tanya Leon.
"Emm itu.." Ellisa ragu harus menjawab apa.
Xio pun membisikkan sesuatu di telinga Leon. yang seketika membuat wajah Leon terlihat sangat gembira.
"Benarkah?" Tanya Leon memastikan.
"Heem benar." Jawab Xio.
"Yeayyy!!" Seru Leon meloncat-loncat kegirangan. Dia pun membisikkan ke Lena apa yang barusan Xio katakan, dan merekapun langsung nampak gembira.
Xio tersenyum dan mengelus kepala mereka berdua.
"Barusan kamu bilang apa pada anak-anak?" Tanya Ellisa penasaran apa yang dikatakan Xio pada mereka berdua hingga bisa membuat mereka gembira seperti itu.
"Rahasia." Jawab Xio mencubit hidung Ellisa. dan membuatnya kesal
Saat Xiia akan mengambil Nathan dan Tassa dari Chris, Dia melirik wajah Chris sebentar, dan dapat terlihat kegelisahan dari wajahnya.
"Terimakasih paman sudah menjaga anak-anak." Ucap Xio tersenyum.
"Ah iya sama-sama Tuan Muda, saya juga senang bisa menjaga anak-anak tuan muda yang lucu." Jawab Chris tersenyum balik dan dibalas anggukan oleh Xio.
Saat sudah berada di gendongan Xio, Nathan dan Tassa langsung tertawa seperti senang di gendong oleh ayahnya.
"Hahaha anak-anak papah senang yah?" Ucap Xio ikut tertawa. "Sekarang ayo kita pulang!" Lanjutnya mencium pipi kedua bayinya.
"Oh ya paman, besok aku akan pergi ke grand launching mobil keluaran terbaru bersama dengan Ellisa, jadi aku tidak bisa datang ke perusahaan." Ucap Xio.
"Baik Tuan Muda, semoga hari anda menyenangkan." Jawab Chris.
"Leon, Lena ayo pulang." ucap Xio.
"Ayo!!" sahut mereka berdua, "Yang sampai duluan ke mobil papah dia yang menang." Kata Lena berlari mendahului Leon.
Xio dan Ellisa hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala saja melihat tingkah mereka berdua.
...----------------...
Sementara itu di sisi Jhonatan.
"S*alan perempuan itu benar-benar membuatku pusing." Gerutu Jhonatan didalam mobil.
"Yang sabar Tuan." Sahut Juli yang sedang menyetir mobil.
"Juli kita ke tempat peralatan bayi terlebih dahulu." Ujar Jhonatan.
"Untuk apa Tuan?" Tanya Juli.
"Aku baru mengingat cucu-cucu ku yang masih bayi belum mempunyai kereta bayi, mungkin Xio lupa membelinya." Jawab Jhonatan.
"Ohh baik Tuan." Kata Juli.
Jhonatan terlihat sedang memijat keningnya sendiri dan mengernyitkan alisnya.
'Bisa-bisa aku stress jika harus bertemu dengannya setiap hari.' Batin Jhonatan.
...----------------...
...BERSAMBUNG...