Cross The World With System

Cross The World With System
Nona garang



****


Pagi buta sebelum Xio pergi ke dunia Flix.


Saat itu jam 5 dini hari, ketika matahari pun belum menampakkan diri dan embun baru membasahi rumput diluar rumah.


Sementara Xio dan Ellisa masih terjaga sepanjang malam sehabis pertempuran diatas ranjang yang sangat panas. Xio memeluk tubuh Ellisa dan membenamkan kepalanya diantara kedua buah surgawi yang sangat indah tersebut.


"Sayang, kalau tidak ada aku selama seminggu kamu pasti bosan kan?" Kata Xio lidahnya kembali menggerayangi puncak gunung tersebut.


"Sss...entahlah...mungkin aku akan lebih sering berkunjung ke panti asuhan bermain dengan anak-anak. Ahh!" Jawa Ellisa dengan tubuh yang menggelinj*ng dan suara Mendes*h karena tangan bermain di area sensitifnya dibawah pusar.


Xio menaikkan kepalanya hingga saling berhadapan dengan wajah Ellisa.


Mwah! Mwah!


Dia mencium bibir Ellisa dua kali menarik tangannya di bawah perut Ellisa sana dan turun dari ranjang. Dengan badan yang lengket tanpa busana dan benda miliknya yang masih berdiri tegak, dia berjalan ke dekat rak kayu di seberang kiri ranjang.


Ellisa juga ikut bangkit dari berbaring nya dan duduk diatas ranjang dengan menyelonjorkan kakinya.


Xio kembali berjalan ke arah ranjangnya setelah mengambil sebuah kartu berwarna hitam diatas rak tersebut di dalam dompetnya. Dia naik ke atas ranjang dan duduk di hadapan Ellisa.


"Simpan ini." Kata Xio menyerahkan kartu seukuran kartu kredit tapi berwarna hitam.


Ellisa menerima kartu tersebut. "Untuk apa ini?" Tanyanya, walaupun dia tahu kartu hitam tersebut merupakan kartu kredit eksklusif yang tidak ada limitnya.


"Aku sengaja membuatkannya untukmu. Terserah mau kamu pakai untuk membawa anak-anak panti bermain, mentraktir temanmu atau belanja apapun itu sesukamu. Asal tidak dipakai untuk membeli pria baru saja." Jawab Xio sambil bergurau.


"Hmm baiklah nanti aku akan mengajak Larisa ikut ke panti." Kata Ellisa tersenyum. "Tapi memangnya pria bisa dibeli dengan uang yah?" Heran Ellisa.


"Sekarang ini jaman dimana segalanya bisa dibeli dengan uang. Tidak sedikit diluar sana pria dan wanita yang mau menjadi simpanan orang-orang kaya hanya karena uangnya." Jelas Xio.


"Darimana kamu tau? Memangnya kamu juga pernah membeli orang dengan uang?" Tanya Ellisa.


"Tentu saja aku tau. Seperti wanita yang pernah merebut ayah dari ibuku dulu, dia hanya menginginkan uang ayah saja." Jawab Xio.


"Kalau begitu aku juga mau membeli seseorang." Kata Ellisa.


"Benarkah siapa itu? Aku akan menghancurkannya terlebih dahulu!" Seru Xio.


"Dia tinggi, wajahnya tampan dan emm…."


Baru juga berkata sedikit Xio sudah mengepalkan tangannya. 


Ellisa menyisipkan rambutnya di telinga. Dia memajukan tubuhnya hingga berjarak beberapa inci saja dengan Xio.


"Badannya sempurna dengan dadanya yang bidang…" Dia menyentuh dada Xio dengan jari-jarinya, kemudian turun perlahan ke perut Xio yang memiliki tonjolan kotak. "Perutnya yang seperti roti sobek."


Jari telunjuk Ellisa semakin turun dari perut ke bawah pusar sampai nyaris tiba di sebuah tiang kokoh dan tinggi. Tapi dia kemudian menatap wajah Xio yang tepat di hadapannya bahkan hidungnya saja hampir bersentuhan. Ellisa memperdalam tatapannya pada mata Biru Jade Xio.


"Tatapannya mata birunya yang tajam selalu membuat didalam hatiku seperti ada kembang api yang meletup-letup." Kata Ellisa menggenggam tangan Xio yang tadinya sedang mengepal, hingga kini jari-jari mereka saling bertemu seperti puzzle yang disatukan.


Xio memajukan wajahnya dan mengatupkan matanya  perlahan. Bibirnya sudah diarahkan hingga mendarat di bibir lembut dan manisnya Ellisa yang sama-sama memejamkan mata sudah siap dengan sentuhan bibir Xio.


Bibir mereka saling bergelut selama beberapa menit.


Xio membuka matanya dan melepaskan ciumannya sehingga terlihat juntaian air yang menjadi jembatan antara bibirnya dengan bibir Ellisa. Sekali lagi mata mereka saling bertemu ditambah dengan wajah Ellisa yang cantik dan seksi membuat tegangan Xio tidak dapat dibendung lagi.


"Apa kamu mau membeliku?" Ucap Xio dengan nada lembutnya.


Ellisa mengangguk sambil tersenyum. "Em!"


Xio menggenggam kedua tangan Ellisa. "Kalau begitu aku juga mau membelimu dengan seluruh hatiku." Ucapnya meletakkan tangan Ellisa di dadanya yang sedang seperti ada pesta kembang api itu


Ellisa Tersenyum lagi. "Aku juga akan membayarnya dengan seluruh hatiku."


Mereka pun kembali saling berciuman dengan sedikit nakal. Dan tidak lama setelah ciuman itu dimulai, Xio segera menggendong Ellisa ala bridal style dan membawanya lari kedalam kamar mandi untuk menyatukan hati dan tubuh mereka di dalam sana.


***


Bumi, Jam 2 siang di kursi depan rumah.


Ellisa terlihat sedang melakukan panggilan dengan telepon selulernya. Sedangkan bayi-bayinya yang sudah terbangun ia barinkangkan di keranjang bayi di depannya.


Ellisa saat ini sedang berkomunikasi dengan Larisa istrinya Dean di handphone. Mereka berbicara menggunakan bahasa Inggris karena Larisa tidak terlalu lancar dengan bahasa Indonesia.


"Iya 15 menit lagi." Kata Ellisa sambil tangan satunya lagi memegang mainan bersuara gemericik untuk bayi-bayinya.


"Baiklah kalau begitu aku akan segera berangkat kesitu." Jawab Larisa di seberang telepon.


"Oke sampai jumpa!" Seru Ellisa kemudian memutuskan telepon, dan menyimpan handphonenya di atas meja yang ada disampingnya.


Tidak lama kemudian Rose baru keluar dari dalam rumah. Sambil membawa secangkir teh dia berjalan ke arah Ellisa lalu duduk di kursi satunya lagi dan menaruh cangkir berisikan teh yang masih beruap tersebut di atas meja.


"Nek, aku mau pergi keluar dengan teman yang waktu itu aku ceritakan." Kata Ellisa.


"Oh Larisa yang waktu itu kamu ceritakan... Apa Nathan dan Tassa mau ikut juga? Kalau tidak biar nenek saja yang menjaganya." Ujar Rose.


"Nathan dan Tassa mau aku bawa. Apa nenek mau ikut saja?"


"Tidak…nenek sudah terlalu tua untuk jalan dengan gadis seperti kalian." Jawab Rose tersenyum.


"Tidak juga kok. Menurutku nenek masih sangat cantik dan seksi. Aku yakin para lelaki diluar sana juga pasti akan kalap." Kata Ellisa memuji. Tapi memang benar walaupun di umurnya yang sudah berkepala 4, penampilan rose masih seperti umur 30-an. Tubuhnya yang tinggi dan langsing, wajahnya yang mulus tanpa kerutan, serta rambutnya yang selalu disanggul ke belakang tidak memperlihatkan umur aslinya. Itu sebab Rose giat dan tahu bagaimana cara merawat tubuhnya sendiri.


"Ahaha...kamu bisa saja membuat nenek senang." Rose tertawa kecil. "Tidak apa-apa kalian kalau mau jalan, jalan saja tidak usah khawatirkan nenek." 


"Oh ya karena kamu membawa anak-anak, sebaiknya kamu ditemani Fellis agar tidak kesulitan nantinya." Tambah Rose.


"Fellis yah…" Ellisa termenung sejenak.


"Kalau tidak mau Fellis biar yang lain saja." Ujar Rose lagi menyadari ekspresi Ellisa.


"Ahaha tidak, tidak apa-apa kok. Aku malah senang kalau Fellis yang ikut!" Seru Ellisa.


"Benarkah?" Rose memastikan dan dijawab anggukan serta senyuman oleh Ellisa. "Baiklah biar nenek telepon dulu Fellis nya." Lanjut Rose mengeluarkan Handphone dari saku kemeja putihnya dan langsung menghubungi Fellis.


Entah apa yang dipikirkan Ellisa mengenai Fellis, tapi dia tetap saja mewaspadainya.


.


.


.


.


.


Beberapa waktu kemudian. Sebuah mobil sport memasuki pekarangan rumah. Ellisa sudah tahu dan bisa menebaknya kalau orang dalam mobil tersebut yaitu Larisa.


Hingga keluarlah seorang wanita dari dalam mobil tersebut yaitu Larisa dengan kemeja berwarna biru muda, jeans lumayan ketat, serta tas kecil bermerek di tangannya dan kacamata hitam yang bertengger di  atas kepalanya sebab siang hari ini matahari lumayan terik.


"Larisa kemari!" Seru Ellisa yang masih duduk bersama rose di kursi depan rumah sambil melambai-lambai tangan ke arah Larisa.


"Oh hei!" Sahut Larisa membalas lambaian tangan Ellisa sambil tersenyum dan berjalan ke arah Ellisa juga Rose.


Ellisa berdiri menyambut temannya tersebut.


"Maaf lama yah…" Kata Larisa melakukan cipika-cipiki dengan Ellisa. Kali ini dia sudah tidak terlalu formal dengan Ellisa, karena mereka sering berkomunikasi melalui sosial media dan Ellisa sendirilah yang memintanya agar tidak terlalu formal jika bertemu.


"tidak kok." Jawab Ellisa. "Oh ya ini neneknya Xio. Nenekku juga." Tambahnya memperkenalkan Rose.


"Halo nyonya! Anda cantik sekali!" Larisa juga melakukan cipika-cipiki pada Rose sopan.


"Ahaha...kamu bisa saja." Kata rose.


"Astaga! Apa ini bayi-bayimu?" Seru Larisa tertuju pada Nathan dan Tassa. "Difoto saja sangat lucu, ternyata aslinya lebih lucu dan menggemaskan." Tambahnya gemas.


Larisa memang sering melihat foto Nathan dan Tassa yang Ellisa bagikan, tapi dia tidak pernah melihatnya secara langsung.


"Bayimu sangat menggemaskan. Aku juga jadi ingin segera punya bayi...Oh ya ngomong-ngomong dimana putri cantik dan pangeran tampannya Tuan Xio itu?" Tanya Larisa, yang dia maksud itu Leon dan Lena.


"Baiklah…" ucap Larisa pasrah dan kembali bermain dengan bayi-bayinya Ellisa.


Tak lama kemudian masuk lagi satu mobil kepekarangan depan rumah.


"Nah Fellis sudah sampai." Kata Rose.


Ellisa dan Larisa memangku bayinya masing-masing satu. "Baiklah nek, kalau begitu kita berangkat dulu yah." Kata Ellisa.


"Iya-iya. Bersenang-senanglah." Kata Rose. "Dan oh ya Larisa, kalau ada laki-laki yang menggoda Kalian langsung laporkan yah!" Tambahnya.


"Haha...iya pasti." Jawab Larisa.


"Sampai jumpa nenek!" Seru Ellisa berpamitan melambaikan tangannya sambil berjalan menjauh bersama Larisa.


Rose balas melambaikan tangan. "Hahh...aku jadi ingat masa mudaku." Gumamnya.


Sementara itu Ellisa dan Larisa berjalan di dekat mobilnya Fellis. Dan Fellis terlihat sudah menunggu di samping mobilnya. Ketika melihat Ellisa sudah dekat, dia membukakan pintu belakang mobilnya.


"Silahkan Nyonya!" Ucap Fellis.


"Fellis, sudah aku bilang jangan menggunakan bahasa formal." Kata Ellisa tidak langsung masuk ke dalam mobil.


"Tapi anda kan istri tuan saya, jadi saya harus menghormati anda nyonya." Jawab Fellis.


Ellisa menepuk keningnya sendiri. "Kamu diperbolehkan tidak formal kalau aku sedang tidak dengan Xio. Jadi tidak perlu memanggilku nyonya, umur kita tidak terlalu jauh."


"Kalau begitu bolehkah saya memanggil anda ka-kakak?" Tanya Fellis malu-malu.


"Hahaha...itu lebih baik." Ellisa tertawa kecil. "Oh ya Larisa perkenalkan ini Fellis sekretaris suamiku. Dan Fellis perkenalkan ini Larisa Temanku." Tambahnya memperkenalkan keduanya.


Larisa dan Fellis saling berjabat tangan dan tersenyum ramah.


Setelah itu mereka pun masuk kedalam mobil. Ellisa dan Larisa duduk di kursi penumpang, dan Fellis yang mengendarai mobilnya.


.


.


.


.


.


Ellisa mengajak Larisa ke pusat perbelanjaan besar atau yang biasa disebut mall. Dia sering melihat wanita-wanita bersama temannya berbelanja di mall atau hanya sekedar berjalan-jalan dan menikmati kulinernya saja. Jadi Ellisa juga ingin merasakan yang wanita-wanita biasa rasakan, apakah itu menyenangkan shopping bersama teman sebaya?


Lagi-lagi pusat perbelanjaan yang mereka kunjungi yaitu mall yang masih berada dibawah naungan perusahaannya Xio.


Ketiga wanita cantik itu masuk kedalam bangunan besar tersebut. Ellisa memangku Tassa sedangkan Nathan berada di pangkuan Larisa mereka berjalan berdampingan, dan Fellis berjalan mengikutinya dari belakang.


Diantara wanita tersebut, tentu saja Ellisa yang paling bersinar. Badannya yang tinggi, rambut panjang berwarna putih itu yang terlihat halus dan wangi, serta yang tak luput dari semua itu yaitu wajah cantiknya yang seperti manusia fiksi menjadi nyata.


Ellisa mengenakan shirt dress sebatas lutut dengan pola garis-garis berwarna biru putih dan bunga-bunga kecil di tepi kantong dadanya.


"Aku pikir harus membeli kereta bayi dulu. Setelah itu kita makan." Kata Ellisa masih berbicara bahasa Inggris. Dia lupa membawa kereta bayi untuk para bayi.


"Baiklah ayo!" Sahut Larisa.


Mereka Pun berjalan ke toko bayi, membeli kereta dorong untuk Nathan dan Tassa. Setelah itu mencari makanan di pusatnya kuliner. Dan semua itu dibayarkan oleh Larisa. Sebenarnya Ellisa ingin melarangnya karena dialah yang bicara ingin mentraktir Larisa. Tapi Larisa memaksa untuk membayar semuanya.


Setelah makan mereka rehat sejenak untuk mencerna semua makanan masuk ke pencernaan. Dan setelah puas rehat Larisa mengajak Ellisa ke toko brand Fashion favoritnya.


Ellisa sebenarnya agak enggan untuk berbelanja pakaian. Masalahnya di rumahnya saja sudah terlalu menumpuk pakaian-pakaian dari brand-brand ternama, dan setiap harinya pasti saja bertambah berkat Rose yang selalu membeli model pakaian terbaru untuk Ellisa dan anak-anak.


Di Dalam toko pakaian Ellisa melirik kearah Fellis, dan sebuah lekukan terlihat dari ujung bibirnya.


"Selamat datang nona-nona! Apa ada yang bisa saya bantu" Sambut sopan seorang pelayan wanita di sana.


"Tolong pilihkan pakaian yang cocok untuknya!" Sahut Ellisa menunjuk Fellis.


Fellis tersentak. "Eh! Nyo- maksudku kakak, kenapa aku?" Serunya.


"Sudahlah cepat ikut sana!" Ellisa mendorong Fellis.


"Mari ikuti saya nona." Ujar pelayan tersebut.


Fellis menoleh ke belakang kearah Ellisa, dan Ellisa membalasnya dengan senyuman serta anggukan. Dengan pasrah Fellis pun ikut bersama pelayan tersebut mencari pakaian yang cocok untuknya.


"Haha... kenapa dia terlihat enggan?" Tanya Larisa tertawa.


"Fellis tidak biasa melakukan kegiatan seperti wanita. Dia lebih suka bekerja." Jawab Ellisa padahal dirinya juga sama.


"Ohh begitu...ayo ikuti aku! Aku akan bantu memilih buatmu!" Kata Larisa diikuti Ellisa.


.


.


.


.


.


Setelah beberapa lama memilah dan mencoba beberapa pakaian, akhirnya Ellisa pun sudah memutuskan untuk membeli yang mana saja. Begitu pula dengan Larisa dan Fellis.


"Dengan yang mereka berdua jadi berapa jumlahnya?" Tanya Ellisa pada pelayan barusan.


"Totalnya menjadi tujuh puluh enam juta rupiah." Jawab pelayanan tersebut.


Ellisa sudah akan membuka tasnya tapi tiba-tiba saja ada seorang pria yang berseru.


"Biar aku saja yang membayarkan nona-nona cantik ini." Kata pria setengah baya tersebut menyerahkan kartu kreditnya pada si pelayan.


Ellisa melihat wajah pria baya tersebut, dan merasa tidak kenal atau pernah bertemu dengannya.


"Tidak perlu, aku bisa membayarnya sendiri." Ellisa menolak.


"Ayolah manis biar om ini yang membayarkannya." Ucap pria tadi lagi dengan tatapan mesum dan tangannya yang sudah mau menyentuh rambut Ellisa. Tapi…


Takk! 


Ellisa melakukan karate chop pada siku lengan pria tersebut hingga terdengar suara gretakan tulang. Tidak sampai disitu, Ellisa juga menendang *********** dan melakukan gerakan kaki memutar menghantam wajah pria tersebut hingga terjatuh ke lantai dengan wajah mendarat terlebih dahulu.


Pria setengah baya itu meringis kesakitan di lantai sambil memegang *********** yang kesakitan akibat tendangan tadi.


Ellisa mengambil kartu kredit pria itu yang sudah diserahkan ke pelayan tadi. Dia berjongkok di depan kepala pria itu yang sedang mencium lantai. Menjambak rambutnya dan mengangkatnya menggunakan tangan kiri.


Plakk!


Tamparan yang sangat keras dengan kartu kredit di tangan kanannya itu berhasil membuat tanda berbentuk telapak tangan berwarna merah di wajahnya.


"Aku bilang tidak yah tidak! Apa kamu mengerti?!" Kata Ellisa dengan tatapan dan nada mengintimidasi.


Dengan wajah meringis ketakutan pria tersebut menganggukkan kepalanya.


"Bagus!" Kata Ellisa.


Duakk!


Terakhir Ellisa menjedotkan kepalanya ke lantai lumayan keras, dan mungkin membuatnya pingsan.


Sedangkan Larisa dan juga Fellis yang sedang memegang kereta bayi melongo melihat kebrutalan Ellisa menghajar pria mesum barusan. Adapun pelayan yang tidak jauh disana juga ikut ternganga melihat wanita cantik yang sangat brutal.


...********...


...BERSAMBUNG...