
...----------------...
"Tuan!" Frank langsung berlari ke arah ledakan tersebut.
morron dan juga Fellis serta beberapa prajurit lainnya yang melihat Frank berlari ke belakang langsung segera menembakinya dengan senapan mereka. Tapi semua peluru yang melesat ke arahnya tidak ada satupun yang mampu menggores badan Frank sedikitpun.
Frank terus berlari ke arah ledakan tidak mempedulikan orang-orang yang sedang menembakinya karena dia tidak merasakan kesakitan sama sekali.
"Cepat ikuti dia!" Seru Morron.
Fellis serta prajurit lain mengangguk lalu segera ikut berlari menyusul Frank agar tidak kehilangan jejaknya.
Yang tadinya anggota Frank menang telak, sekarang menjadi terbalik. Mereka juga memilih untuk ikut mundur.
Tidak membiarkan mereka mundur begitu saja dengan mudah, Morron menembaki mereka satu persatu sambil berlari di belakang Fellis.
'Ledakan apa itu barusan?' batin Fellis masih mempertanyakan ledakan dahsyat barusan, dan siapa yang melakukannya. Dia berpikir apa mungkin ada pihak lain yang ikut menyerang David juga.
Ketika sudah berada di tepat di depan pintu gerbang markas Frank berhenti berlari. Dari tempatnya berdiri dia dapat langsung melihat dan merasakan hawa panas dari kobaran api yang membungbung tinggi dan sudah menyelimuti markasnya.
"Tidak...ini tidak mungkin.." ucap Frank berpikir tidak mungkin ada yang bisa selamat di dalam sana. Frank segera menghampiri beberapa prajurit yang bertugas menjaga gerbang.
Frank mencengkram kerah prajurit tersebut dan mengangkat tubuh prajurit tersebut dengan enteng.
"Siapa yang meledakan markas?!...dimana tuan David?!" Gertak Frank.
"S-saya tidak tahu...tidak ada yang masuk kedalam atau keluar markas." Jawab penjaga itu dengan tubuh gemetar hebat.
"Cih!!" Frank melempar penjaga tersebut ke tembok baja yang ada di dekatnya hingga pria tersebut tidak sadarkan diri.
Frank dan juga Morron yang baru tiba juga ikut terkejut dengan melihat markas David yang sudah di selimuti api bergejolak.
Frank yang menyadari ada yang datang langsung segera melesat ke arah Fellis. Sama seperti sebelumnya, dia mencekik Fellis dan mengangkatnya.
"Ini pasti ulah kalian...memancingku keluar markas dan mengirim orang untuk mengebom yang ada di markas." Kata Frank semakin memperkuat cengkraman tangannya.
"Heuk!!" Fellis kesulitan untuk bernafas.
"Lepaskan dia baj*ngan!!" Gertak Morron.
Bugh!
Frank meninju perut Morron hingga membuatnya terpental ke belakang dan menabrak pohon. Sementara Fellis yang masih tercekik oleh Frank sudah meronta-ronta seperti akan kehabisan nafasnya.
Para pasukan Fellis dan Morron tidak ada yang berani menyerang. Karena sudah pasti tidak akan mempan dan malah lebih membahayakan Fellis.
Tapi tiba-tiba saja…
Sratt!
Lengan Frank tiba-tiba saja terpotong. Bersamaan dengan Xio yang muncul di sana untuk menangkap Fellis yang jatuh pingsan karena kehabisan nafas.
Semua orang disana tercengang melihat lengan Frank yang terkenal sekuat baja terpotong dengan rapi dan seperti hanya dengan sekali tebasan saja. Semua sudah dapat mengira kalau yang melakukannya yaitu pria berambut putih di hadapan Frank yang membawa sebilah pedang indah.
"B-bagaimana bisa…?" Gumam Frank yang terkejut juga.
"Tangkap ini!" Seru Xio melemparkan Fellis ke prajurit yang tidak jauh dari tempatnya berdiri dan menendang potongan tangannya Frank.
"Siapa k-kau? Bagaimana bisa kau melukaiku?" Frank bertanya dengan lutut bergetar.
"Oh aku? Aku orang yang sama ketika memotong tanganmu dan meledakkan markas mu dengan mudah." Jawab Xio dengan santainya.
Frank yang mendengar kalau Xio lah pelaku yang sudah meledakkan markasnya membuat emosinya semakin meluap. Dia langsung melesatkan sebuah pukulan kearah Xio menggunakan tangan kirinya.
Tapi…
Sratt!
Lagi-lagi tangan Frank seperti terpotong dengan sendirinya. Karena tidak ada Tidak ada yang melihat Xio bergerak sama sekali. Tapi kalau bukan Xio siapa lagi, karena hanya dialah yang berdiri di dekat nya sambil membawa pedang.
Frank berteriak kesakitan karena sekarang kedua tangannya sudah tidak ada lagi. Melihat para anggotanya yang membawa senapan tapi dari tadi diam saja, Frank pun menggertak mereka.
"Sial*n! Apa yang kalian lihat? Cepat tembak dia!" Perintah Frank.
"Ba-baik." Para pasukannya prank pun langsung menodongkan senapan mereka kearah Xio.
Dan ketika ada yang memulai menarik pelatuknya sehingga sebuah rumah panas melesat ke arah Xio.
Ketika peluru tersebut hampir mengenai Xio, peluru tersebut tiba-tiba melebur seperti pasir. Semakin banyak yang menembaki Xio, dan semakin banyak pula peluru yang melebur ketika hampir mengenainya.
'Dia pasti bukan manusia!' Batin semua orang disana tercengang melihat kejadian di depan mata mereka saat ini.
"Ckk! Ini membosankan." Kata Xio sambil menjentikkan jarinya dan…
Crashh!
Semua orang yang pasukan Frank mati seketika karena ada benda tajam berwarna hitam pekat yang menikam mereka secara bersamaan.
Sekarang semua pasukannya Frank sudah mati, dan hanya menyisakan dirinya seorang diri saja dengan wajah syok dan ketakutan sambil mundur kebelakang menyeret tubuhnya sendiri.
Xio mengambil sebuah peluru di saku celananya, dan kemudian menyentil peluru tersebut tepat ke arah kepalanya Frank. Peluru tersebut yang melesat hanya dengan sentuhan saja, dengan dahsyatnya melesat cepat hingga menghancurkan kepalanya.
"Fuhh…" Xio meniup jarinya yang sedikit berasap.
"Bagaimana bisa?" Heran sekaligus tercengang semua orang.
Xio berjalan ke arah Morron yang dari tadi berdiri disana menyaksikan dirinya.
"Terserah mau kamu apakan mayatnya aku tidak peduli...dan kalau dia sudah bangun katakan jangan mencariku." Kata Xio menunjuk Fellis yang masih tidak sadarkan diri. Dia kemudian berjalan seorang diri memasuki hutan. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti sambil menolehkan kepalanya ke belakang dia berkata.
"Lupakan apa yang kalian lihat barusan, kalau tidak kalian tahu sendiri bagaimana kalian akan mati." Kata Xio berbicara biasa saja, tapi dapat terdengar ke semua telinga orang yang ada disana sambil bergidik ngeri.
Xio melanjutkan langkahnya masuk kedalam hutan dan seketika menghilang dari balik pepohonan.
'kurasa dia memang pantas menggantikan nyonya rose.' Batin Morron menatap kepergian Xio sambil tersenyum.
"SEMUANYA…KITA SUDAH MENANG!!" Teriak morrron dan dijawab sahutan bersemangat para pasukannya juga.
"WOHOO!"
"MARI KITA BERPESTA!"
Mereka bersorak Sorai gembira karena musuh negaranya sudah terkalahkan. Walaupun mereka merasa hanya membantu sedikit saja. Karena kalau tanpa ada Xio, mungkin semuanya akan gagal.
***
Sementara itu di pegunungan bersalju, atau tapatnya di mansion Xio.
Ketika Xio kembali ke mansion nya, dia tidak langsung menemui Ellisa maupun anak-anaknya, tapi dia segera masuk kedalam kamar mandi yang ada di kamar tidurnya.
Selain untuk membersihkan diri dari bercak darah, Xio juga harus membersihkan bau wanita dari tubuhnya tadi yang sudah menangkap Fellis yang terjatuh. Walaupun mungkin tidak tercium sama sekali, dan dia juga mengenakan sarung tangan. Setidaknya Xio tidak mau Ellisa salah paham lagi.
Di Dalam kamar mandi, didalam rendaman air hangat, Xio iseng mengeluarkan shadow soldiernya untuk melihat apa yang sedang dilakukan Ellisa sekarang.
"Anak-anak bagaimana kalian bisa langsung mahir seperti itu?" Tanya Ellisa melihat Leon dan Lena yang sedang berseluncur di es dengan mudah. Padahal mereka berdua juga baru saja diajarkan oleh Jhonatan.
"Hehe...ini sangat mudah mah." Kata Lena.
"Mamah pegang tangan Leon. Biar Leon yang menuntun mamah." Ucap Leon menyodorkan tangannya.
"Baiklah…" Jawab Ellisa menerima tawaran Leon ragu. Karena berdiri di es saja sangat susah baginya, apalagi harus melaju.
Melaju sedikit demi sedikit dengan tuntunan Leon, hingga akhirnya Ellisa sudah bisa melancarkan langkahnya.
Sementara Jhonatan terlihat sedang berseluncur dengan cepat dan juga berputar-putar sambil mengangkat Lena seperti bermain pesawat-pesawatan.
Xio yang sedang berganti pakaian ikut tersenyum melihat mereka bersenang-senang dan tertawa gembira seperti itu seperti tidak ada beban sama sekali. Tapi Xio memang lebih senang melihatnya yang seperti itu.
Selesai memakai pakaian hangatnya, Xio keluar dari kamar, dan kemudian menuruni tangga melewati ruang perapian untuk sampai di luar mansion. Dia kemudian berjalan ke halaman di sisi mansion tempat mereka bermain seluncur es.
Yang pertama Xio hampiri yaitu Rose yang sedang duduk di bangku bersama dengan Nathan dan Tassa di pangkuannya, dan 2 maid berdiri di belakangnya.
"Oh kamu sudah selesai?" Tanya Rose.
"Sudah nek." Jawab Xio mengambil Nathan dan Tassa di pangkuan Rose kemudian ikut duduk di samping sambil memangku bayinya.
"Apa semuanya berjalan lancar?" Tanya Rose.
"Iya semuanya baik-baik saja, mungkin hanya ada beberapa saja yang terluka." Jawab Xio.
"Emm baguslah, biar Fellis dan anggotanya saja yang tinggal membersihkan sisanya." Kata Rose mengambil cangkir teh diatas meja bundar kecil disampingnya, dan kemudian menyeruputnya. Sisanya yang dimaksud Rose yaitu seperti bekas tempat kejadian dan juga isu nya agar tidak tersebar.
"Sayang dari kapan kamu kembali?" Tanya Ellisa datang menghampiri Xio.
"Aku dari tadi disini, kamunya saja yang terlalu asik bermain seluncuran dengan anak-anak." Jawab Xio.
"Haha...habisnya baru kali ini aku tahu bisa berseluncur di es." Kata Ellisa semakin dekat pada Xio dan kemudian mengecup bibirnya sambil memejamkan matanya. Xio tidak diam begitu saja, tapi dia menggigit sedikit bibir Ellisa terlebih dahulu, dan kemudian melepaskan ciumannya.
"Ckckck! Kalau mau bermesraan di dalam sana...tidak melihat apa disini ada orang?" Rose menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara dua maid perempuan yang berdiri di belakang saat ini wajah mereka sudah memerah melihat adegan barusan.
"Ahaha kalau begitu aku titip anak-anak dulu yah nek." Kata Xio menyerahkan Nathan dan Tassa pada Rose. Lalu dia menggendong Ellisa ala bridal style dan kemudian membawanya masuk kedalam mansion.
Rose menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Xio yang sungguhan membawa Ellisa kedalam. "Padahal aku niatnya memberikan sarkasme saja." Kata Rose.
***
Kembali ke sisi Xio. Sambil menggendong Ellisa kedalam Mansion menuju kamarnya, dia tidak melepaskan Ciumannya sama sekali hingga akhirnya mereka sampai di dalam kamar.
Ketika pintu kamarnya tertutup, Xio membawa Ellisa ke atas ranjang dengan bibir yang masih saja bergelut. Xio melucuti pakaiannya Ellisa satu persatu, sampai Akhirnya di tubuh Ellisa yang putih mulus dan seksi hanya tersisa pakaian dalamnya saja.
Mulut Xio yang tadinya berada di bibir Ellisa, sekarang sudah turun menggerayangi leher Ellisa, dan semakin lama semakin turun hingga sampai di buah dadanya Ellisa. Lidahnya yang liar bermain di antara kedua bukit tersebut, begitupun dengan tangan kanannya yang sedang mengelus-elus bagian sensitif Ellisa yang berada dibawah pusar sana.
"Ah…" Ellisa mengeluarkan suara ******* yang sangat seksi ketika Xio memasukan ujung jarinya kedalam lubang Ellisa.
Trang!
Kepala Sabuk yang dikenakan Xio yang terbuat dari logam patah, karena tekanan dari dalam celananya atau benda miliknya yang sudah tidak tertahan lagi karena saking keras dan kuatnya.
Ellisa bangun dan membukakan celananya Xio. Dan ketika membukakan ****** ********.
Tud!
Ouch!
Kepunyaan Xio memantul mengenai dagu Ellisa.
"Apa sakit sayang?" Tanya Xio mengelus dagu Ellisa.
"Barusan itu memalukan…" kata Ellisa sambil menutup wajahnya yang merona menggunakan kedua tangan.
"Haha...tidak apa-apa sayang." Ucap Xio menurunkan tangan Ellisa dan kemudian ******* bibirnya lagi.
Walaupun bagian bawahnya Ellisa sudah sangat basah, Xio tidak langsung memasukkan miliknya kedalam, tapi menggesek-gesekkannya terlebih dahulu dibelahan surgawi tersebut yang membuat Ellisa tidak berhenti menggelinjang dan mendesah karena ngilu.
"Mhh...sayang ahh berhenti main-mainnya…Cepat masuka-" Tidak sampai menyelesaikan kalimatnya, Ellisa terkejut dengan Xio yang memasukkannya secara tiba-tiba.
"Ah-" Ellisa melingkarkan lengannya di leher Xio, dan menari kepala Xio agar menciumnya lagi sambil menaik turunkan pinggulnya.
Adegan nakal tersebut terus berlangsung selama 3 jam tanpa henti. Setiap Sisi kamar sudah mereka jelajahi dengan berbagai macam gaya dan gerakan. Dan sudah terhitung pula berapa kali Xio menyemburkan cairan putih miliknya di dalam maupun di luar Ellisa.
Saat ini Xio terlihat sedang berbaring di atas ranjangnya yang sudah berantakan. Sedangkan Ellisa berada diatas tubuhnya menaik turunkan bokongnya membawa keluar masuk dengan kenikmatan luar biasa.
"Sayang aku akan keluar lagi!" Seru Xio tangannya menekan tubuh Ellisa kebawah, sehingga miliknya benar-benar menusuk Ellisa hingga ke spotnya, dan mengeluarkan semua benih-benihnya di dalam sana.
Ellisa memejamkan matanya karena ketika Xio menusuknya hingga dalam, dan cairan kental nan panasnya keluar didalam sana, rasa dan sensasinya sangatlah luar biasa.
"Hah...hah…" Terdengar nafas mereka yang saling memburu.
"Sudah dulu yah…" Kata Ellisa yang tengkurap diatas tubuh Xio.
"Tapi punyaku masih belum puas." Kata Xio. Dan Ellisa pun merasakan benda Xio yang masih belum dicabut berdenyut-denyut di dalam dirinya.
"Baiklah sekali lagi saja…" Kata Ellisa sontak membuat Xio semangat kembali.
"Ayo sekalian mandi!" Tanpa mencabut terlebih dahulu miliknya, Xio langsung membawa Ellisa masuk kedalam kamar mandi dengan posisi Digendong di depan mengangkat Bokong Ellisa.
Sedangkan Ellia menuruti saja semua apa yang diinginkan Xio tanpa membantah.
***
Sementara itu di ruang berkumpul di depan perapian. Jhonatan sedang duduk di sofa begitupun dengan Rose. Sedangkan Leon dan Lena duduk di atas karpet bulu hangat seperti sedang merakit Lego. Karena para bayi sedang tidur, jadi mereka tidak diperbolehkan berisik oleh Rose.
"Papah kalian ini lama sekali... padahal kakek ingin mengajaknya bermain ski." Kata Jhonatan.
"Bermain Ski?" Kata Leon. "Aku ikut! Aku ikut!" Seru Leon dan Lena.
"Iya iya kakek sudah menyiapkan papan ski untuk kalian berdua." Jawab Jhonatan mengelus kepala mereka berdua.
"Mam kenapa Xio lama sekali?" Jhonatan bertanya pada Rose yang sedang menyeruput teh.
"Ya kamu pasti tahu lah...anak muda staminanya masih kuat." Jawab Rose.
"Huhh...kalau begitu ayo anak-anak kita pergi duluan. Mam katakan pada Xio untuk menyusul, kalau tidak akan menculik anaknya. Rarghh!" Kata Jhonatan.
"Ahh tidakk! Lari...Ada beruang kutub!" Teriak Leon dan Lena berlari keluar mendalami peran tapi sambil tertawa.
"Mau kemana kalian?! Beruang ini ingin makan!" Jhonatan mengejar Mereka berdua.
Rose menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan mereka. "Memangnya Xio akan percaya anaknya diculik oleh kakek mereka sendiri?" Ucap Rose. Dia menaruh cangkir tehnya di atas meja dan menatap perapian seperti mengingat sesuatu.
...****************...
...BERSAMBUNG...