Cross The World With System

Cross The World With System
Kegelisahan



...----------------...


Pukul 12.30


Semua orang di perusahaan Xio sedang beristirahat, karena waktu memang sudah menunjukkan jam istirahat.


Didalam Ruangan Xio, terlihat dia sedang fokus menatap layar monitor di hadapannya dengan jari-jarinya yang terlihat sangat lihai menari di atas papan keyboard.


Tok! tok!


Terdengar suara ketukan di balik pintu.


"Masuk!" Sahut Xio melihat yang ada di balik pintu adalah Chris.


Hampir seluruh sisi di ruangan Xio terbuat dari kaca sehingga dia bisa melihat menembus segala arah, sedangkan yang di luar tidak akan bisa melihat kedalam.


"Tuan Muda sudah waktunya istirahat, apa tuan muda mau saya belikan makanan?" Tanya Chris.


"Tidak usah, paman duluan saja. Ellisa sudah membawakan makanan dari rumah." Jawab Xio dengan mata tidak berpaling dari layar monitornya.


"Baiklah, kalau begitu saya akan pergi keluar dahulu. Jika Tuan Muda butuh sesuatu hubungi saja saya." Ujar Chris di jawab anggukan oleh Xio, dan diapun langsung keluar dari ruangan tersebut.


Walaupun saat ini pandangan Xio sedang fokus pada layar, tapi disisi lain dia sangat tidak sabar menunggu Ellisa tiba bersama dengan anak-anaknya.


Di layar monitornya Xio terlihat sedang mencari berbagai macam data serta informasi dari semua orang yang memegang kedudukan penting di perusahaannya kecuali orang-orang terdekatnya, karena dia merasa ada yang berjalan tidak benar. Tapi setelah semuanya dia periksa, tidak ada yang mencurigakan sama sekali.


Xio mengambil handphonenya, dan kemudian memanggil salah satu bawahan-nya yang memiliki kemampuan di bidang digital.


"Periksa semua hal yang mencurigakan di perusahaanku." Kata Xio.


"Tapi saya baru memeriksanya kemarin Yang Mulia, dan saya tidak menemukan ada yang mencurigakan samasekali." Ucap bawahan Xio yang berbicara di sebrang telepon.


"Aku tidak peduli, pokoknya kamu periksa semuanya lagi dari hal terkecil sekalipun." Perintah Xio.


Tutt! tutt!


Dia langsung memutuskan panggilannya secara sepihak.


"Hahh..." Xio mengehela nafas kasar. Dia beranjak dari kursinya, lalu berdiri menghadap keluar gedung sambil melihat pemandangan sibuknya perkotaan dari balik kaca bening tersebut.


'Tadinya aku kembali ke bumi karena ingin menepati janjiku pada Ellisa dan anak-ana, tapi lagi-lagi rencananya harus di undur gara-gara kesibukanku.' Batin Xio, karena dia harus menyelidiki terlebih dahulu masalah yang ada di perusahaannya.


Xio juga berpikir untuk segera menumpaskan kelompoknya Jordan, agar kehidupannya bisa menjadi sedikit lebih damai.


Xio masih menatap keluar jendela tanpa sadar kalau Ellisa serta Leon dan Lena sudah masuk kedalam ruangannya. Ellisa juga dapat melihat dari wajah Xio kalau dia seperti sedang memiliki banyak pikiran.


"Sayang, apa ada masalah?" Ucap Ellisa, dan Xio pun langsung membalikkan badannya seketika ketika mendengar suara Ellisa.


"Oh sayang kamu sudah datang!, maaf barusan aku tidak menyadari kedatangan kalian." Sahut Xio berjalan kearah Ellisa dengan Ekspresi wajah yang langsung berubah menjadi lebih ceria tidak seperti sebelumnya.


Xio mencium bibir dan kening Ellisa sekilas, kemudian mencium kedua bayinya, dan lalu mencium kening Leon dan Lena bergantian.


"Sini biar aku saja yang menggendong Bayi-bayiku yang lucu ini." Kata Xio mengambil Nathan dan Tassa dari gendongan Ellisa.


Xio kemudian membawa Nathan dan Tassa duduk di sofa yang ada di ruangannya sambil mengais-ngais mereka, dengan tawa dan senyum yang tak luput dari wajahnya.


Ellisa sudah tahu kalau Xio merubah Ekspresinya seketika karena tidak mau membuat dirinya melihat Xio muram. Sebenarnya Ellisa sedikit kesal dengan sikap Xio yang tidak mau memberitahukan masalahnya, tapi dia juga sadar Xio seperti itu karena tidak mau membuat dirinya Khawatir.


"Sini anak-anak duduk, Sayang kamu juga duduk di sampingku." Ujar Xio pada Ellisa serta Leon dan Lena, dan merekapun menuruti kata Xio.


"Semuanya belum makan siang kan?" Tanya Ellisa. Dijawab anggukan oleh Xio dan anak-anak.


Ellisa pun langsung mengeluarkan makanan yang tadi sudah disiapkannya saat dirumah keatas meja.


"Mamah sudah membuatkan makan siang untuk kalian, makanlah bersama papah kalian." Ujar Ellisa.


"Terimakasih mamah!" Sahut Leon dan Lena mengambil tempat makan mereka masing-masing.


"Sayang aku maunya disuapi." Kata Xio.


Ellisa menepuk keningnya sendiri, "Papahnya kalah oleh anaknya." Kata Ellisa.


Xio mencium pipi Ellisa, "Yah suapin yah..." Manjanya.


"Hahh baiklah." Ellisa menghela nafas pasrah.


"Mamah aku juga mau di suapi mamah!" Seru Leon.


"Aku juga, aku juga!" Tambah Lena.


"Eits tidak bisa, papah sudah duluan yang mau di suapi mamah." Kata Xio.


Mereka terus beradu mulut untuk berebut siapa yang akan di suapi Oleh Ellisa. Ellisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat 3 orang yang sedang berebut tersebut, termasuk Xio yang tidak mau kalah seperti anak kecil.


Karena kegaduhan mereka, Nathan dan Tassa pun menangis.


Pletak!


Ellisa menyentil kening Xio lalu mengambil Nathan dan Tassa di pangkuannya.


"Sudah, kalian makan sendiri saja." Lata Ellisa.


"Cup cup jangan nangis anak mamah." Ellisa mengais-ngais Nathan dan Tassa untuk menenangkan mereka.


Sementara itu Xio serta Leon dan Lena pun pasrah mengambil makanan mereka masing-masing.


"Leon, Lena sini duduk dekat papah." Ujar Xio, dan keduanya pun duduk di samping Xio.


"Karena mamah sedang menenangkan adik kalian, jadi papah saja yang menyuapi kalian ok?" Ucap Xio.


"Baiklah..." Jawab Leon dan Lena.


Akhirnya mereka pun memakan makan Siang mereka dengan Xio menyuapi Leon dan Lena bergantian, sedangkan Xio di suapi oleh mereka berdua sekaligus dengan di tambah canda tawa yang membuatnya semakin terlihat harmonis.


Ellisa Tersenyum melihat mereka bertiga yang akhirnya bisa akur kembali.


Selesai makan siang, Tibalah Chris dan Adam di ruangan Xio yang sepertinya mereka juga baru selesai beristirahat. Mereka berdua meminta izin pada Xio untuk mengajak Anak-anak bermain termasuk Nathan dan Tassa juga.


"Baiklah, tapi tetap di lingkungan perusahaan." Jawab Xio yang duduk di kursi kebesarannya.


"Baik! Tuan Muda!" Seru Adam dan Chris.


"Tolong jaga anak-anak, paman." Ellisa menyerahkan Nathan dan Tassa ke mereka berdua.


"Baik nona."


Chris dan Adam pun keluar dari ruangan Xio sambil membawa Nathan dan Tassa diikuti oleh Leon dan Lena berjalan di samping mereka.


Ellisa berbalik badan, dan melihat Xio menepuk-nepuk pahanya sendiri.


Ellisa berjalan mendekat, kemudian duduk diatas paha Xio. Dia sudah tahu kalau itu adalah kode bahwa Xio menyuruhnya untuk duduk diatas pahanya.


Xio merangkul pinggang Ellisa dan kemudian mencium lehernya, membuat Ellisa sedikit menggelinj*ng.


"Emmh aku juga senang kalau kamu se- ahh!" Ellisa memejamkan matanya merasakan tangan Xio meremas dadanya.


"Tidak sayang, jangan disini." Kata Ellisa menahan tangan Xio. "Bagaimana kalau nanti anak-anak kembali? di jam segiini juga masih banyak pekerja yang berkeliaran." Tambahnya dengan wajah memerah.


"Paman perintahkan semua orang tidak ada yang boleh berada di lantai 62, dan paman juga jangan dulu kembali kemari sampai aku menyuruhnya." Xio berbicara dengan Chris dari seberang telepon, dan langsung mematikan handphonenya lagi.


Xio berdiri, dan kemudian mendudukan Ellisa diatas meja kerjanya. Dia memegangkan tangan Ellisa pada bendanya yang sudah berdiri tegak terlihat ketat dari balik celananya.


Xio mendekatkan bibirnya di telinga Ellisa, kemudian berbisik. "Sekarang sudah boleh kan?" Bisiknya dengan hembusan nafas yang terasa di telinga Ellisa membuat wajahnya semakin memerah, apalagi saat ini tangannya sedang menggesek-gesekkan benda milik Xio.


Saat Ellisa mengangguk, Xio langsung saja mencium bibir Ellisa dan melum*tnya. Ellisa tidak mau kalah, dia juga dengan cepat membuka sabuk serta resleting celana Xio, shingga saat ini Benda Xio semakin terlihat jelas walaupun masih tertutup celana dal*m.


Xio menyibakkan dress Ellisa keatas, kemudian membuka celana d*lam miliknya sendiri membuat Benda besar miliknya sudah terpampang dengan sangat jelas. Dia menggesek-gesekkan bendanya di belahan Ellisa yang masih berbalut celana d*lam, dan menepuk-nepukan miliknya tepat di area sensitifnya yang sudah basah.


Xio melepaskan ciumannya, "Nakal yah istriku, baru segini saja sudah basah." Ucapnya tersenyum miring menatap mata Ellisa yang merem melek meresapi kenikmatan dibawah sana.


Tanpa tunggu lama dan tanpa aba-aba, Xio dengan cepat melucuti pakaian Ellisa dan memasukkan benda miliknya secara perlahan, karena saat masuk ujungnya saja Ellisa sudah bereaksi luar biasa.


...----------------...


Sementara itu di sisi Chris dan Adam, Mereka saat ini sudah berada di lobi utama berniat untuk mengajak anak-anak bermain di taman perusahaan.


"Apa kata Tuan muda?" Tanya Adam setelah Xio menutup panggilannya tadi.


"Kemarikan Nathan, kamu cepat beritahukan semua orang yang ada di lantai 62 untuk meninggalkan lantai tersebut." Perintah Chris pada Adam.


Adam pun menuruti apa kata Chris, dan langsung menuju meja resepsionis untuk mengumumkan apa yang di perintahkan Xio. Resepsionis pun langsung memberikan pengumuman kesemua orang seperti yang dikatakan Adam.


Setelah selesai, Adam pun kembali ketempat Chris.


"Kira-kira kenapa tuan muda menyuruh mengosongkan lantai itu?" Tanya Adam.


"Tuan muda juga bilang jangan dulu kembali sampai dia menyuruhnya. Berarti disan hanya ada tuan mud dengan nona Ellisa saja berdua. sekarang kamu mengerti kan apa alasannya." Kata Chris tersenyum miring.


"Ohhh." Adam hanya ber oh ria saja.


Mereka berdua sudah tahu apa yang sedang Xio lakukan.


"Memangnya apa yang sedang papah dan mamah lakukan?" Tanya Leon.


"Ah emm ituu, mungkin mereka hanya ingin istirahat berdua saja." Jawab Adam ragu.


"Baiklah ayo kita berangkat!!" Seru Chris untuk mengalihkan pembicaraan.


Merekapun berjalan keluar menuju taman yang terletak tepat di depan Perusahaan. Banyak sekali orang yang memperhatikan Leon dan Lena, serta dua bayi kembar yang di bawa Chris.


"Lucunya..!"


"Bayi siapa yang di gendong tuan Chris itu?"


"Lihatlah rambut mereka juga sangat unik warnanya putih."


"Sepertinya dua anak kecil itu, kakaknya dari bayi-bayi yang dibawa tuan Chris."


"Aku ingin mengambil gambar mereka dan menguploadnya ke sosial media."


"Coba saja kalau kamu tidak takut."


"Aku sih tidak berani, karena sepertinya orang tua dari anak-anak itu adalah orang penting."


Begitulah pembicaraan orang-orang membicarakan Leon dan Lena serta Nathan dan Tassa. orang-orang tersebut berpikir jika meng-upload foto anak kecil yang bersama dengan Chris pasti akan langsung booming, melihat dari keunikan mata dan rambut, keimutan, serta ketampanan dan kecantikan anak-anak tersebut. Tapi mereka mengurungkan niatnya, karena melihat anak kecil tersebut bersama dengan Chris yang berarti orang tua anak tersebut pasti orang yang penting dan memiliki kedudukan.


Chris dan Adam pun akhirnya sampai di taman Yang sangat luas dan hijau tersebut. Karena Taman tersebut terbuka untuk publik, jadinya banyak orang yang berkunjung ke taman itu juga. Seperti para mahasiswa, anak sekolahan, serta banyak juga anak kecil seumuran Leon dan Lena yang bermain dengan orang tua mereka.


Chris duduk di kursi taman yang ada disana.


"Leon dan Lena mau beli Es krim gak?" Tanya Chris karena di dekat sana terlihat ada truk penjual es krim.


"Mau mau!" Jawab Lena bersemangat.


"Lena mau yang rasa apa? biar kakak saja yang belikan." Tanya Leon.


"Rasa Cokelat stroberi." Jawab Lena.


"Baiklah tunggu disini." Ujar Leon mengambil ransel miliknya dan menarik tangan Adam untuk mengikutinya menuju penjualan es krim.


"Paman aku beli semua es krim yang paman punya." Ucap Leon pada si penjual.


"Haha Adik pasti bercanda." Si penjual mengira mana mungkin seorang anak kecil bisa membeli semua es krimnya.


"Aku tidak bercanda." Sanggah Leon membuka ransel kecilnya dan kemudian mengeluarkan 2 gepok uang dengan pecahan 100 ribu rupiah. Satu gepok uang tersebut senilai 10 juta rupiah, itu berarti Leon baru saja mengeluarkan 20 juta rupiah dari dalam ransel sekolah miliknya.


Tentu saja Si penjual es krim seketika membelalakkan matanya tidak percaya, begitupun dengan Adam. Tadinya Adam pikir dia yang akan membayar semua es krimnya, tapi ternyata Leon punya uang sendiri. Yang mereka tidak tahu didalam ranselnya masih ada sejumlah uang lagi yang lebih banyak.


Tapi Adam sudah tidak aneh lagi, mengingat memang ayah dan kakeknya Leon merupakan orang yang termasuk dalam jajaran orang terkaya sedunia.


"Tapi Leon es krim sebanyak ini mau di apakan?" Tanya Adam diangguk-angguki oleh si penjual es krim penasaran.


"Di tempat ini kan banyak orang, jadi bagikan saja eskrim nya ke orang-orang." Jawab Leon dengan santainya.


Si penjual eskrim melirik ke arah Adam untuk memastikan, Dan Adam pun menganggukkan kepalanya.


"Baiklah cepat kamu siapkan dulu eskrim rasa vanilla coklat satu, dan rasa cokelat stroberi satu." Ujar Adam menyuruh si penjual untuk membuatkan eskrim untuk Leon dan Lena terlebih dahulu.


Selesai 2 eskrim tersebut disiapkan, dan langsung di serahkan pada Leon.


"Sisa eskrim nya kamu bagikan secara gratis ke semua orang, awas saja jika ada kecurangan." Ancam Adam.


"Ba-baik Tuan, ta-tapi uang segini terlalu banyak." Jawab penjual Eskrim tersebut.


Adam melirik kearah Leon, dan di balas anggukan.


"Ambil saja sisanya, terserah mau kamu apakan." Kata Adam langsung berbalik badan dan pergi dari sana karena Leon sudah jalan duluan.


"TERIMAKASIH ADIK TAMPAN!!!" Seru penjual Eskrim merasa sangat bersyukur karena baru saja mendapatkan keberuntungan. Lantaran uang senilai 20 juta bukanlah uang yang mudah didapatkan dirinya dalam satu hari saja. Dalam hati dia juga sangat berterimakasih pada anak kecil yang baik hati barusan.


Saat kembali ke tempat Chris, Adam melihat Chris yang sedang termenung menatap Nathan dan Tassa.


"Kak kenapa bengong!" Adam menepuk pundak Chris.


"Ah tidak, tidak apa-apa." Jawab Chris terkejut. "Anaknya Tuan muda sangat lucu yah." Lanjutnya seperti segera mengalihkan pembicaraan.


Chris melirik kearah Leon dan Lena yang sedang memakan Eskrim, kemudian melirik Nathan dan Tassa bergantian. Sebuah senyuman pun terlukis diwajahnya, walaupun dari matanya nampak kegelisahan.


'Tidak, aku tidak boleh mengkhianati orang-orang yang sudah baik dan memberikanku dan adikku kehidupan.'


...----------------...


...BERSAMBUNG...