
...----------------...
Pukul 3 Malam itu, saat Xio ingin menutup pintu balkon kamarnya, ia terdiam mematung melihat sesosok perempuan yang sangat ia kenal dan juga rindukan berdiri tepat di seberang matanya. Sudah bertahun-tahun sosok tersebut tidak dilihatnya, dan entah keajaiban atau hanya mimpi saat ini ia melihatnya persis di depan sana.
Wanita cantik berambut putih bermata kuning keemasan itu tersenyum ke arahnya. Kaki Xio berjalan dengan sendirinya menghampiri sosok tersebut yang sangat menyerupai ibunya, atau mungkin itu sungguh ibunya.
"Ibu…" Sepatah kata keluar dari mulut Xio yang kini sudah berdiri tepat di depannya. Reflek ia langsung memeluknya dengan setetes air mata haru yang lolos terjun dari matanya.
Meski angin malam yang dingin terasa menyusup ke sela-sela pakaian, tapi balasan pelukan dari sang ibu mampu mengalahkan rasa dingin tersebut dan menggantikannya dengan rasa hangat yang sudah lama ia tidak rasakan.
Setelah beberapa lama mereka berpelukan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Xio semakin mempererat pelukannya takut ini hanya mimpi dan takut kalau ibunya pergi meninggalkannya lagi.
Nadia yang menyadarinya pun tersenyum sambil mengusap-usap rambut Xio, "Ibu tidak akan kemana-mana sayang." Ucapnya.
Xio yang mendengar kembali suara yang sekian lama tidak terdengar olehnya, langsung menyadarinya kalau saat ini ia benar-benar dalam keadaan sadar dan bukan dalam mimpi. Apalagi belaian tangan yang lembut itu jelas dapat ia rasakan.
"Ibu janji?" Xio menatap wajahnya.
Nadia tersenyum sambil mengangguk lalu mengusap air mata dipipi Xio dengan tangannya yang lembut dan halus.
"Sekarang kamu sudah besar dan tinggi yah, ibu harus melihat ke atas untuk melihat wajahmu." Kata Nadia memang benar dulu terakhir kali tinggi Xio masih sampai pundaknya, tapi sekarang ibunya lah yang sepundak Xio.
"Lihatlah otot-otot yang keras ini." Nadia menekan-nekan belahan di perut Xio, karena Xio bertelanjang dada. "Sepertinya kamu tumbuh jadi pria yang kuat meski tidak ada ibu." Lanjut Nadia.
"Ya...aku mau tidak mau harus menjadi kuat, karena aku punya orang-orang berharga yang harus kulindungi."
"Bicaramu sudah seperti ayahmu saja…" Nadia terkekeh kecil.
"Ayo kita bicara di dalam Bu. aku belum menutup pintu, nanti anak-anak bangun." Ajak Xio.
"Oh benar! Ayo! Aku ingin melihat cucu-cucuku!" Seru Nadia.
.
.
.
.
.
Malam itupun Xio dan ibunya mengobrol di dalam kamar Xio duduk di sofa sambil menikmati teh panas. Xio bercerita semua tentang hidupnya setelah kepergian ibunya. Seperti anak kecil yang menceritakan harinya di sekolah pada orang tuanya dengan semangat.
Nadia juga sering terkekeh karena Xio sangat suka menceritakan istri dan anak-anaknya. Tapi dari situ juga ia tahu kalau Xio tidak kesepian lagi dan sangat menyayangi istri dan anaknya.
Setelah beberapa lama asik mengobrol dengan ibunya, Xio tiba-tiba terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.
Nadia yang menyadarinya langsung berdiri dan berjalan ke samping Xio lalu merangkul pundaknya.
"Ada apa Xio?" Tanya Nadia mengelus-elus pundak Xio.
"Ah tidak..." Xio langsung mengucek-kucek matanya dengan jari-jemarinya, "Aku hanya merasa sangat senang karena semua orang yang ku sayangi bisa berkumpul kembali dan akan hadir di pernikahanku." Ucapnya.
"Kemarilah!" Nadia menyandarkan kepala Xio di pundaknya lalu mengusap-usapnya, "Maafkan ibu saat itu pergi begitu saja, dan tidak bisa menemanimu. Tapi sekarang ibu berjanji akan ada di hari istimewamu." Lanjutnya.
Nadia lalu mengatakan pada Xio kalau dirinya merupakan permaisuri surga dan neraka. Ia juga bilang kalau beberapa tahun yang lalu dia tidak bisa lama di bumi karena saat itu ia berada didalam tubuh fana dimana tidak bisa menampung kekuatan dirinya yang sebenarnya sampai akhirnya ia pun terpaksa meninggalkan tubuh tersebut.
Itulah kenapa dirinya tidak marah ketika Jhonatan memiliki wanita baru, bahkan dirinyalah yang mempersilahkan Jhonatan untuk menikah kembali. Sehingga sebaliknya membuat Jhonatan lah yang merasa perjuangannya tidak dihargai. Awalnya Jhonatan menikah lagi hanya untuk melihat apa Nadia mau menarik kata-katanya atau tidak, tapi ternyata tidak sesuai ekspektasinya. Nadia malah terlihat benar-benar mengikhlaskan Jhonatan.
Dimana saat itu Jhonatan benar-benar mengira Nadia sudah tidak mencintainya lagi. Tapi ternyata saat itu hatinya hanya termakan emosi dan dari keduanya tidak ada yang bisa didapatkan. Nadia salah karena tidak jujur pada Jhonatan. Dan Jhonatan juga salah karena tidak bisa menahan emosinya.
Terakhir Nadia bilang kalau dia hanya membenci Jhonatan ketika dia mengabaikan Xio dan pernah memberinya kekerasan.
"Awas saja kalau ketemu nanti, ibu pasti akan menghajar ayahmu!" Gertak Nadia sambil mengepalkan tangannya di depan.
"Hahaha tidak perlu Bu, ayah sudah mengakuinya kalau dia sangat menyesali perbuatannya. Aku juga sudah memaafkannya."
"Hufft baiklah kalau kamu bilang begitu." Nadia mendengus.
Xio kembali mengobrol dengan sesekali bermanja pada Nadia karena sepertinya dia benar-benar merindukan sensasi tersebut. Sampai tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi dimana Leon dan Lena terbangun secara bersamaan.
Saat bangun mereka dikejutkan dengan sosok yang sedang menjadi sandaran kepala papahnya. Mereka sudah mengetahui wajah Nadia karena sering melihat fotonya di rumah lama Jhonatan dan juga di dalam dompet Jhonatan.
Mereka berdua langsung berlari ke arah Nadia dan langsung memeluknya. Nadia juga membalas pelukan mereka sambil tersenyum dan mengelus kepala mereka berdua. Meskipun baru pertama bertemu, tapi entah kenapa Leon dan Lena langsung merasa akrab.
"Apakah nenek benar istrinya kakek?" Tanya Leon.
Nadia dan Jhonatan kebingungan kenapa Leon menanyakan itu, bukankah mereka ia sudah mengetahuinya?
"Tentu saja nenek adalah istrinya ayah dari ayah kalian," Jawab Nadia dengan ramah, "Memangnya kenapa menanyakan itu?"
"Tidak, hanya saja nenek lebih terlihat seperti masih berumur sama dengan mamah. Sedangkan kakek terlihat sudah tua, apalagi di rambutnya sudah tumbuh beberapa uban."
Nadia dan Xio tertawa mendengar apa yang dikatakan Leon.
"Haha kamu bisa saja sayang, nenek jadi malu."
"Nenek dan mamah seperti adik kakak." Sahut Lena.
"Oh ayolah kalian berdua benar-benar membuat nenek tersanjung." Nadia mengacak rambut mereka berdua, "kalian pasti terkejut kalau mendengar umur nenek yang asli. Umur nenek sebenarnya sudah ribuan tahun." Lanjutnya membuat mereka terkejut.
"Ribuan tahun? Lalu bagaimana nenek masih terlihat seperti masih muda?" Tanya Lena.
"Yah nenek punya kelebihan yaitu menjadi abadi jadi Nenek tidak akan bertambah tua."
"Woww…" Leon dan Lena membuka mulut bersamaan.
Karena Xio menyadari sudah saatnya bersiap-siap untuk kembali ke bumi. Lekukan di sudut pipinya kembali tercipta dengan perasaan yang sangat bersemangat.
Tidak lama kemudian Sebas datang bersama dengan Azril dan beberapa maid kekamar Xio. Sebas dan Azril tidak kalah terkejut melihat kehadiran Nadia di ruangan tersebut. Mereka langsung berlutut satu kaki di hadapannya seperti sedang bertemu dengan dewa. Tapi itu karena mereka mengetahui siapa wanita agung didepan mereka itu.
"Ah tolong jangan terlalu menyanjungku seperti itu." Nadia memegang pundak mereka berdua menyuruhnya untuk berdiri. "Anggap saja aku hanya sebagai ibunya Xio. Tidak perlu membawa nama kebesaran ku." Ucapnya, "Aku sangat berterimakasih pada pada kalian berdua karena mau merawat Xio. Terutama untukmu."
Nadia menatap Azril.
"Sudah dua kali Xio mendapatkan kakek yang sangat baik dan yang mau mengajarinya segala hal. Sekali lagi aku sangat-sangat berterimakasih Pops."
(Pops ini merupakan cara Jhonatan memanggil Azril yang berarti ayah.)
Azril nampak terkejut seorang yang sangat agung seperti Nadia memanggilnya ayah. Dia merasa sangat diberkati, tapi disisi lain juga merasa canggung.
"Panggil saja aku Nadia karena aku tetap saja merupakan menantumu."
"Ahah baiklah Na-nadia." Ucap Azril canggung.
.
.
.
.
.
Pagi itu semua orang di istana sibuk menyiapkan persiapan untuk Rajanya pergi. Tapi untungnya semua sudah direncanakan sedari kemarin sehingga semuanya berjalan lancar.
Para pria yang akan ikut mengenakan jas seperti di bumi, tapi masih terdapat unsur kerajaannya kunonya. Dan yang wanita pun sama mengenakan dress modern tapi masih memiliki gaya seperti era kerajaan Eropa.
Pukul 7 pagi semua orang yang ikut sudah berkumpul di halaman istana hanya tinggal menunggu Xio. Orang orang yang ikut diantaranya para dosa dan kebajikan, Aslan dengan Salma dan Zekiel, Azco dengan Chintya dan Falma, Heldir, Sebas sudah pasti, dan beberapa pelayan.
Tidak ketinggalan, para rakyatnya semua pun sudah menunggu tayangan langsung yang akan ditayangkan oleh layar dilangit. Mereka baru mengetahui kalau Rajanya ternyata bukan berasal dari dunia tersebut. Dan mereka mewajarinya karena semenjak Xio yang menjadi raja banyak sekali inovasi-inovasi baru yang sebelumnya belum pernah ada di dunia Flix.
***
Sementara itu di bumi, atau lebih tepatnya di pulau tempat pernikahan Xio dan Ellisa akan berlangsung sudah sangat ramai. Para media televisi dari berbagai negara sudah hadir, dan beberapa pemimpin negara pun ikut hadir juga.
Siapa yang tidak penasaran dengan pernikahan anak Jhonatan dan yang juga merupakan CEO muda yang sudah mampu memonopoli pasar ekonomi dan perdagangan saham dunia. Mereka penasaran bagaimana rupa orang tersebut, dan wanita mana yang beruntung menjadi pendampingnya. Tapi tentu saja sebagian orang pasti ada yang berniat untuk menambah relasi.
Jhonatan memiliki banyak teman dari berbagai kalangan. Ada yang merupakan aktris dan aktor, model, Selebriti, penyanyi, tokoh-tokoh besar negara, dan lebih banyak lagi relasinya. Dan hampir dari semuanya ia undang. Belum lagi ditambah dengan yang diundang oleh Rose yang sama relasinya sangat luas seperti Jhonatan.
Ada yang sudah tua, muda, dan bahkan para konglomerat yang membawa selingkuhan dan ada yang membawa anak-anaknya. mereka berantusias menghadiri pesta pernikahan tersebut dan sudah berpenampilan rapi dan semenawan mungkin karena siapa tahu bisa menemukan jodoh disana.
Saking banyaknya tokoh-tokoh besar yang hadir, tingkat keamanan yang diterapkan sudah seperti sistem keamanan militer negara.
Pesta pertama dilaksanakan di tepi pantai dengan pemandangan lautan biru dan pasir putih. Kursi-kursi dan juga meja sudah tertata rapi berbagai ornamen cantik dan menambah suasana hangat juga sudah di dekor sebaik mungkin.
Setiap tamu yang datang harus berjalan melewati red carpet, dan harus mendapatkan sorotan dari banyaknya kamera. Tapi mereka tampaknya sudah biasa mendapatkan sorotan dari media televisi seperti itu.
Beralih ke sisi Ellisa, sekarang dia sedang duduk di depan meja rias menatap bayang dirinya di seberang cermin besar tersebut.
Ellisa merasa sedikit gugup. Pikiran di kepalanya terus berputar-putar karena sebentar lagi dunia akan melihat dirinya.
Ia takut dengan pendapat orang-orang. Apa pendapat orang-orang tentang dirinya yang entah berasal darimana? Bagaimana jika orang-orang tidak menyukai kalau Xio menikahi dirinya?
Dia menggigit bibir bawahnya karena saking gugupnya. Di Ruangan tersebut ia tidak sendiri, ada Rose disana yang menemaninya. Rose yang melihat tingkah Ellisa dari tadi langsung merangkul pundaknya.
"Jangan murung dong sayang, katakan saja pada nenek apa yang sedang kamu pikirkan."
"Tidak tahu nek, aku hanya merasa tidak percaya diri. Aku takut orang-orang tidak suka kalau Xio menikah denganku."
Rose tersenyum dan memegang kedua pipi Ellisa sambil menatap matanya. "Ellisa cinta itu tidak harus mendengarkan apa kata orang lain. Kalau kamu dan Xio benar-benar saling mencintai dan sudah saling percaya, tidak akan ada yang bisa menghancurkan kepercayaan itu. Setiap hubungan pasti akan ada yang tidak menyukainya, tapi cinta itu datangnya dari hati mu bukan dari orang lain. Kalian sudah menjalin hubungan lebih dari setahun dan nenek sendiri belum pernah melihat kalian bertengkar malahan kalian sangat serasi. Justru pasangan seperti itulah yang orang-orang impikan." Nasihat Rose, "Ayo! Kamu sudah cantik begini, Nenek tidak sabar melihat reaksi semua orang melihat wanita secantik ini." Rose memegang tangan Ellisa.
"Nenek bisa saja." Ellisa tertawa kecil lalu berdiri. Ia mengenakan gaun yang sangat cantik dan juga terlihat mewah. Membuatnya sangat cantik dan menawan. Rose juga mengenakan dress yang cantik dan sedikit seksi.
Keluar dari ruangan tersebut sudah ada Jhonatan yang sudah berpenampilan rapi mengenakan jas abu dengan dasi di kerahnya. Ia sudah dari dini hari bersiap-siap untuk terlihat seperti sekarang ini. Rambut disisir ke belakang, kumis dan jenggot yang sudah dicukur bersih, parfum yang elegan dan maskulin memberinya suasana konglomerat sesungguhnya walau memang seperti itu kenyataannya.
Jhonatan langsung menghampiri Ellisa dan berjalan di samping kanannya karena di sisi satunya adalah Rose.
"Apa kamu sedang mencoba mendapatkan istri lagi? Atau hanya ingin menarik perhatian wanita?" Ucap Rose pada Jhonatan.
"Apa?! Tentu saja tidak, aku kan harus berpenampilan sebaik mungkin karena ini kan hari spesial pernikahan putra dan putriku." Sahut Jhonatan menyangkal, "Bagaimana Ellisa penampilan ayah?"
"Ayah sudah tampan kok." Jawab Ellisa.
"Tuh dengar itu Mam, Ellisa saja bilang aku tampan." Jhonatan tersenyum Lebar seperti sangat bangga dibilang tampan oleh Ellisa.
"Ya ya terserah kamu saja lah." Rose tidak mau memperpanjang kenarsisan Jhonatan. Sedangkan Ellisa hanya tertawa kecil saja dari tadi.
Di situ juga ada Fellis dan Adam yang memangku Nathan dan Tassa yang sudah di dandani juga mengenakan pakaian yang lucu tapi tetap membuat keduanya nyaman. Fellis dan Adam berjalan dibelakang Ellisa.
"Apa kamu sudah siap?" Tanya Jhonatan pada Ellisa.
Ellisa mengangguk, "Yah aku siap!" Kini tatapannya sudah penuh percaya diri dan senyumannya yang manis menunjukkan dia senang dan sudah tidak sabar dengan hari spesialnya ini ini.
Rose dan Jhonatan langsung menggandeng Ellisa dan mereka pun berjalan menuju Tempat para tamu sudah menunggu.
...****************...
...BERSAMBUNG...