
...----------------...
Suara orang-orang beraktivitas di pagi hari dapat terdengar jelas di telingaku, silau sinar matahari menyorot mataku yang masih terlelap. Kurasakan tubuhku sedang berbaring di kasur yang empuk dengan selimut yang hangat.
Perlahan ku buka kedua kelopak mataku, dan tanganku meraih kasur yang kutiduri ini. Kasur yang sama namun sekarang terasa sedikit lebih besar. Apa itu mungkin kasurnya yang membesar, atau karena ada yang hilang di kasur ini?
Yang jelas saat ini aku Xio, bangun pagi sendiri di kamarku tanpa istriku lagi. Aku tidak sedih atau murung, tapi hari ini aku sangat gembira karena ini hanya sementara dan besok aku akan kembali ke bumi untuk bertemu kembali dengan istriku dan melepas rindu dengannya.
'hahaha bagaimana ya yang dirasakan istriku sekarang? Dia pasti gugup.' pikirku.
Aku bangkit dari kasurku lalu menoleh ke arah cermin di sudut ruangan yang memperlihatkan wajahku tengah tersenyum cerah. Hari ini aku merasa suasana hatiku sedang baik, tidak tahu bagaimana jika esok. Mungkin tidak akan ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan ku kala itu.
Tok! Tok! Tok!
Aku dengar suara ketukan pintu di kamarku. "Masuk!" Ku menyahutinya menatap kearah pintu melihat siapa yang masuk. Sebas datang bersama dengan 5 orang sekaligus.
'Yang Mulia nampak sedang dalam mood yang baik, aku tidak boleh mengacaukannya' batin Sebas yang dengan jelas dapat kudengar.
"Pagi Yang Mulia, hari ini anda harus memilih baju yang akan dipakai untuk besok." Kata sebas membungkukkan dadanya begitupun dengan maid dibelakangnya.
Yap sekarang aku harus memilih pakaian untuk pernikahan ku besok, meskipun aku tidak terlalu suka memilih pakaian, karena menurutku semua pakaian sama saja. Tapi saat ini aku harus mengikuti kata Sebas karena besok aku ingin tampil dan terlihat menawan Di Mata semua orang terutama di mata istriku.
"Semuanya cepat bergerak!" Seru sebas pada lima maid tersebut yang langsung berjalan ke arah kamar mandi. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan, tapi kita lihat saja nanti.
"Yang lainnya, bawa masuk barangnya!" Seru sebas lagi. Aku tidak tahu masih ada yang diluar. Lalu Beberapa maid masuk dari luar sambil mendorong troli seperti troli hotel yang sudah terdapat beberapa set pakaian disana semuanya dengan beberapa warna berbeda.
"Ini sudah ada 10 set pakaian yang bisa Yang Mulia pilih. Semua pakaian ini sudah disesuaikan dengan gaun yang ratu pilih juga."
"Apa, kenapa aku tidak tahu istriku sudah memilih gaun?"
"Saya mendapatkan pesan dari nenek anda untuk tidak memberitahu Yang Mulia, tapi nenek Yang Mulia juga bilang Ratu pasti akan terlihat sangat cantik dan menawan."
Aku hanya bisa mengusap wajah dan menghela nafas. Aku sudah tahu istriku akan tetap terlihat cantik dan menawan mau diapakan juga. Tak lama kemudian maid yang dari kamar mandi keluar, dan mereka berdiri di samping Lawang pintu.
"Silahkan masuk ke kamar mandi Yang Mulia!" Kata Sebas.
Akupun turun dari kasur hanya dengan mengenakan celana dal*m saja, karena aku memang selalu tidur telanjang dada dan hanya mengenakan celana dal*m saja. Meskipun mungkin para maid itu bisa melihat bentuk punyaku yang menonjol, tapi aku tidak masalah karena tahu mereka tidak punya perasaan atau seperti robot.
Saat aku masuk kekamar mandi, aku bisa mencium aroma bunga yang wangi sekali dan aku juga melihat kolam mandiku sudah terisi air serta busa dan bunga yang mengapung di atasnya.
Tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan para maid tadi yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamar mandi bersama Sebas. "Eh eh, kenapa kalian ikut masuk?"
"Mereka akan membantu menggosok dan memijat tubuh Anda Yang Mulia!" Sebas tersenyum ia kembali berkata, "tenang Yang Mulia, mereka tidak memiliki rasa."
"Aku tahu itu! Tapi aku tidak terbiasa telanjang dilihat oleh orang lain!"
"Semuanya, cepat bantu Yang Mulia membuka celananya!"
"Tidaaakk! Aku bisa melakukannya sendiri!"
Aku dengan terpaksa melepaskan celana dalamku dan menutupi kemaluanku dengan kedua tangan. Meskipun aku tahu para maid tersebut tidak bereaksi apapun dan tidak merasakan apapun, tapi tetap saja aku malu jika punyaku ditonton banyak orang. Aku berjalan masuk menginjakkan kakiku kedalam kolam yang sudah diberikan entah apalah itu, tapi airnya benar-benar terasa segar dan harum.
"Rilekskan saja tubuh anda Yang Mulia." Kata sebas berdiri di ujung kolam masih sambil tersenyum. Aku yakin Sebas pasti tersenyum karena menertawakan ku yang baru pertama kali dilayani seperti ini.
Aku pun menyandarkan tubuhku di tepian kolam dengan tangan terlentang ke setiap sisinya. Lalu kemudian para maid tersebut berjalan ke sisi dan juga kebelakang ku. Mereka pun secara bersamaan membantuku mengeramas rambutku, menggosok setiap bagian tubuhku, kecuali area pribadiku karena aku tidak ingin milikku disentuh oleh orang lain kecuali istri dan aku sendiri. Sebenarnya seorang raja memang setiap harinya harus dilayani seperti ini, tapi aku tidak menginginkannya. Lebih baik aku mandi dan berendam berdua saja dengan istriku agar bisa menikmati kenikmatan duniawi di pagi hari.
Semua maid tersebut benar-benar melakukan tugas mereka layaknya seorang robot, bahkan wajah mereka semua tidak jauh berbeda satu sama lain tanpa ekspresi maupun suara sekalipun. Jika wanita biasa, mungkin mereka sudah mimisan dan bergairah melihat tubuhku tanpa busana, apalagi menyentuhnya. Dan jika aku pria normal, mungkin sudah tegang disentuh dimana-mana oleh perempuan. Tapi sayangnya aku sudah tidak Normal, karena tubuhku akan terangsang jika hanya Ellisa yang menyentuhnya atau hanya Ellisa yang ada di kepalaku.
"Waahh! apa yang sedang papa lakukan?" Tiba-tiba saja aku melihat Lena dan Leon mengintip di Lawang pintu masih mengenakan baju tidur mereka.
"Ayo Lena!" Leon menarik tangan Lena dan membawanya berlari ke arahku dengan bersemangat.
"MERIAM AIR!!!"
teriak mereka berdua melompat masuk ke dalam kolam.
"Tunggu du-" sebas ingin menghentikan mereka karena kalau tidak baju mereka akan basah juga, tapi terlambat mereka sudah terjun kedalam air dan menumpahkan airnya segala sisi.
"Ya ampun pangeran, Tuan putri, anda harus melepas pakaian dulu kalau mau masuk ke dalam air." Kata sebas berjalan ke tepi kolam dan membantu Mereka melepas pakaiannya.
"Aku tadi mau buka pakaian dulu, tapi kakak menarikku!"
"Ehehe maaf, habisnya papah terlihat sangat nyaman didalam air jadi aku tidak sabar."
Aku pun hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anak-anakku yang lucu.
"Haha kenapa kalian bisa disini?" Ucapku sambil mengusap pelan rambut mereka.
"Tadi aku melihat banyak sekali orang berjalan ke arah kamar papa, jadi kita mengikutinya hehe…" Jawab Lena.
"Dasar kalian ini." Aku tersenyum dan memeluk mereka lalu mengecup keningnya bergantian.
Kami pun jadi mandi bersama, Anak-anakku juga dibantu menggosok tubuh mereka oleh para Maid dan di pijat seperti sedang spa. Selesai mandi, sekarang kita sedang duduk di tepi kasurku dengan mengenakan handuk dan anak-anakku sambil memakan roti.
"Bagaimana dengan yang ini yang ini Yang Mulia?" Sebas menunjukkan satu set jas serta celana berwarna hitam dan ********** kemeja putih.
"Tidak, memangnya aku mau ke pemakaman?" Tolakku.
"Bagaimana dengan yang ini?" Kali ini dia menunjukkan yang berwarna krem, tapi aku menolaknya lagi karena aku merasa warna kurang cocok untukku. Sebas terus menunjukkan semuanya satu persatu sampai tibalah di pakaian yang berwarna biru navy.
"Nah itu bagus!" Seru Leon dan Lena, padahal aku yang tadinya mau mengucapkan itu.
"Baiklah kalau begitu silahkan dicoba dulu. Lalu ini untuk pangeran dan Tuan putri." Sebas menyerahkannya satu set pakaian tersebut padaku, lalu menyerahkan pakaian untuk Leon yang warnanya sama dengan punyaku, sedangkan punya Lena gaun berwarna putih.
"Aku penasaran gaun yang dipakai istriku."
"Ehm aku juga tidak sabar menunggu besok." Leon mengangguk dan diangguki juga oleh Lena.
Aku mengelus puncak kepala mereka. "Siang nanti kita berkunjung ke kakek kalian dulu." Ucapku memberitahu mereka kalau siang nanti aku akan mengunjungi makam ayah Arthur untuk meminta restunya.
"Baik papa!" Jawab Keduanya.
Setelah sarapan kami mengunjungi makam ayah Arthur, kakek Azril juga ikut denganku karena ia baru ingat ayah Arthur merupakan salah satu muridnya.
Aku jadi penasaran bagaimana yang dirasakan istriku ketika sebentar lagi akan menikah, tapi semua keluarga kandungnya tidak ada satupun yang menyaksikan. Selama ini mungkin aku sering melihatnya baik-baik saja hidup seperti biasanya bersama dan juga ayah dan nenekku karena mereka sangat menyayangi Ellisa seperti anaknya sendiri.
Tapi aku tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan ia saat ini. Aku harap Ellisa bisa mengikhlaskan nya dan mau menerima keluarga barunya seperti keluarganya sendiri.
Aku juga sudah mendapatkan kabar dari ayah kalau semua tamu pagi tadi sudah naik kapal pesiar untuk diantar ke pulau ayahku. Mereka berangkat sekarang karena mau tidak mau semuanya harus menginap disana terlebih dahulu untuk acaranya besok. Aku yakin mereka mau-mau saja sebab di pulau tersebut sudah terdapat resort dengan beribu-ribu kamar dan fasilitas yang lengkap ditambah lagi siapa yang tidak mau melewatkan acara yang diadakan ayahku. Beberapa kamar juga ada yang lebih bagus dan megah berjaga-jaga jika orang yang datang merupakan orang-orang penting di dunia. Dan ayah mengeluarkan mengeluarkan uang senilai 5 miliar US dollar atau setara dengan 72.493.250.000.000,00 rupiah. Mungkin nilai segitu terdengar sangat fantastis, tapi di Mata ayahku, uang segitu mungkin hanya 3 persen dari kekayaannya.
Seingatku ayah membeli pulau besar tersebut hadiah untuk ibu, tapi ibu bilang ke ayah lebih baik menginvestasikannya. Karena pemandangan alam disana sangat indah. Jadi ayah pun membuat resort untuk pariwisata tapi dari lama, tapi belum pernah dibuka atau diresmikan sampai saat ini akhirnya resort tersebut pun diresmikan untuk acara pernikahanku.
Ayah, Ellisa, Nenek, semua pamanku, dan beberapa bawahanku juga ikut dalam kapal pesiar tersebut untuk berjaga kalau keamanan disana kurang kurang cukup.
Sial aku juga ingin ikut naik kapal pesiar itu bersama Ellisa agar bisa seperti Jack dan Rose di film Titanic, tapi tidak dengan nasibnya yang malang.
...*****...
Ditengah Lautan. Tepatnya di kapal pesiar yang Ellisa naiki.
Ellisa, Larissa dan Fellisa sedang bersantai duduk di kursi santai di depan bagian paling depan kapal yang luasnya seperti lapangan kecil itu. Mereka berjemur bersama dengan tamu-tamu lainnya, ada yang berenang, ada yang bermain golf mini, ada yang minum di bartender, karena terdapat beberapa bartender disana. Sementara Jhonatan dan Rose sibuk menyapa tamu-tamu penting mereka.
Chris datang menghampiri dengan celana pendek dan kemeja pantai bersama dengan seorang perempuan yaitu Zara yang mengenakan bikini.
"Hai Nyonya!" Sapa Chris karena mereka ia baru bertemu lagi dengan Ellisa sebab saat naik ke kapal pesiar ini tadi tidak barengan dan sudah lama Chris tidak berkunjung ke rumah tuannya.
"Ah paman, bagaimana kabar paman?" Ellisa langsung bangkit dan cipika-cipiki dengan Chris.
"Paman baik, oh ya kenalkan ini kekasih paman!"
Ellisa menoleh kerah wanita disamping Chris yang perutnya sedikit besar.
"Zara."
"Ellisa."
Mereka bersalaman, tapi Ellisa bisa menyadari kalau nada suara Zara seperti tidak menyukai dirinya. Entah Ellisa salah apa, padahal baru pertama bertemu.
"Selamat yah paman, akhirnya paman dikaruniai penerus."
"Haha terima kasih nyonya, selamat juga akhirnya tuan mau memberitahu semua orang kalau nyonya adalah istrinya."
"Haha paman bisa saja."
"Ngomong-ngomong dimana Nathan dan Tassa kecil?" Tanya Chris.
"Mereka sedang bersama ayah dan nenek."
"Ohh pasti Tuan Jhonatan dan Nyonya besar sedang menyombongkan momongan mereka haha."
"Yah begitulah paman."
Ellisa sedikit berbincang-bincang dengan Chris sementara Zara dari tadi memperhatikan dari ujung kaki Ellisa sampai ujung kepalanya dengan tatapan tidak enak. Ellisa juga menyadarinya, tapi ia mengabaikannya karena bagaimanapun juga Zara wanitanya Chris.
"Baiklah kalau begitu kami kesini dulu!" Chris berpamitan dan dijawab anggukan oleh Ellisa. Setelah Chris pergi bersama Zara, Ellisa kembali duduk di kursi santainya ditengah antara Larisa dan Fellis.
"Nyonya anda harus lebih berhati-hati, sepertinya wanita bernama Zara barusan tidak senang dengan anda." Kata Fellis.
"Benar Ellisa, kalau aku jadi kamu sih sudah aku tegur orang yang menatapku seperti itu." Tambah Larisa.
"Tidak apa-apa, lagian aku tidak merasa punya salah apapun padanya."
"Hahhh... kamu ini terlalu baik Ellisa…" Larisa menghela nafas.
"Iya nyonya anda jangan terlalu baik, kalau begitu biar aku saja yang selidiki wanita itu!"
"Tidak usah sudah, biarkan saja....toh Kalau ada bangkai nanti pasti tercium juga."
"Baiklah…" Jawab Fellis pasrah.
"Ngomong-ngomong apa kamu tidak gerah mengenakan dress seperti itu?" Tanya Larisa sebab hanya Ellisa saja yang mengenakan dress pantai, sedangkan ia dan juga Fellis mengenakan bikini.
"Aku tidak gerah sama sekali. Aku juga tidak mau mengenakan pakaian seksi ditempat banyak orang seperti ini, karena kalau Xio tahu mungkin dia akan marah besar dan menghukumku."
"Oh begitu, kalau aku jadi tuan Xio juga sih aku pasti tidak akan membiarkan orang lain melihat tubuhmu. Tapi pasti dong kalau berdua kamu mengenakan pakaian seksi..." Goda Larisa.
Ellisa tidak menjawab dan langsung meminum lemonade di sampingnya dengan pipi memerah karena seperti apa yang dikatakan Larisa, kalau malam sedang berdua di kamar, dirinya selalu mengenakan pakaian yang sangat seksi dan yang dapat membuat suaminya tidak mau berhenti mendekapnya dan menjadi seperti predator yang buas.
Fellis hanya mendengarkan dan dia sudah lama membuang perasaan pada Xio. Karena ia pikir keluarga tuanya sudah sangat sempurna dan dia tidak mau menjadi duri di dalamnya, apalagi sebentar lagi dunia akan tahu kalau mereka Xio dan Ellisa merupakan pasangan paling serasi di dunia. Memang ia merasa berat untuk melepaskan orang yang disukainya, tapi lama kelamaan ia berhasil dan lebih memilih untuk fokus bekerja bersama tuannya, ataupun menemani Nyonya nya.
...****************...
...BERSAMBUNG...