
...----------------...
(Beberapa tahun lalu)
Pukul 2 siang hari. Sebuah mobil masuk melewati gerbang rumah Jhonatan dan berhenti di depan rumahnya.
Xio keluar dari kursi belakang mobil tersebut mengenakan seragam putih dibalut jake abu, celana pendek berwarna biru, dan menggendong tas hitam berisi biola di punggungnya. Dia baru saja pulang sekolah diantar oleh sopirnya lalu dia segera pergi masuk kedalam rumah.
"IBU AKU PULANG!" Teriaknya masih di lawang pintu. Membuat para asisten rumah tangga (art) yang ada di dalam rumah pun langsung menoleh ke arahnya.
"Jangan teriak-teriak sayang, ibu bisa mendengarmu dari atas sini." Sahut ibunya Nadia turun dari tangga. Meski hanya mengenakan dress tidur hitam dengan rambut yang hanya diikat kebelakang, ia tetap terlihat cantik dan elegan ketika satu-persatu kakinya menapak anak tangga.
"Hehe…" Xio menyeringai memperlihatkan barisan gigi putihnya lalu berjalan menghampiri dan memeluk ibunya yang sudah turun dari lantai dua.
Para art yang yang melihat tingkah tuan mudanya pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum karena mereka sudah sering melihat hal tersebut.
"Tidak ikut les lagi?" Terdengar suara Jhonatan di lantai atas juga hanya mengenakan ****** ***** dan rambut yang basah. Ia juga turun kebawah menghampiri Xio dan Nadia. Meski Jhonatan hanya mengenakan ****** ***** dan bertelanjang dada, para art sudah memakluminya, karena setiap dirumah Jhonatan selalu seperti itu kecuali jika ada tamu.
"Ayah sendiri kenapa jam segini sudah ada dirumah?"
"Anak ini, ditanya ayahnya malah bertanya balik." Jhonatan mengacak-acak rambut Xio. Sementara Nadia hanya terkekeh di samping mereka.
Jhonatan merangkul pinggang Nadia dan membawanya duduk di sofa disusul oleh Xio. Lalu seorang art menyajikan 1 cangkir kopi untuk Jhonatan dan 2 cangkir teh untuk Nadia dan Xio.
Setelah art tersebut pergi lagi, Xio tiba-tiba menidurkan kepalanya diatas paha sebelah kanan ibunya yang duduk berdampingan dengan ayahnya.
"Lihatlah bayi ku ini…" kata Jhonatan melihat kearah Xio yang tersenyum meledek kearahnya. Tidak mau kalah, Jhonatan pun ikut menidurkan kepalanya diatas paha sebelah kirinya Nadia. Sehingga sekarang Nadia bisa melihat 2 orang yang sedang berbaring di sofa dengan pahanya sebagai bantal kepala.
"Hm...rasanya seperti punya anak dua." Ucap Nadia sambil tersenyum dan kedua tangannya membelai rambut mereka berdua. Secara bersamaan mata Xio dan Jhonatan bertemu dengan Mata Nadia.
"Kamu punya mata yang sangat indah seperti ayahmu. Menatap nya seperti sedang menatap lautan luas."
"Mata ibu yang coklat keemasan juga sangat cantik. Benarkan yah?"
"Benar... sangat-sangat cantik." Sahut Jhonatan. Menatap mata Nadia sangat dalam.
Mereka bertiga bercengkrama layaknya keluarga yang harmonis dan seperti sudah menjadi keluarga yang sempurna. Sampai tiba-tiba saja Nadia terbatuk-batuk sambil mulutnya yang ditutupi dengan tangan. Batuknya tidak seperti batuk biasa, tapi seperti batuk orang sakit.
Jhonatan dan Xio tambah terkejut saat melihat bercak darah di tangan Nadia. Dengan sigap Jhonatan langsung memangku Nadia masuk kedalam mobil tanpa sempat memakai celana terlebih dahulu. Xio ikut masuk kedalam mobil dengan dengan terus memegangi ibunya. Dari wajahnya ia terlihat sangat khawatir takut ibunya kenapa-napa karena selama ini ibunya belum pernah sakit.
Jhonatan mengendarai mobilnya seperti orang yang sedang menantang maut. Setiap mobil yang menghalangi ia salip, tidak peduli teriakan orang-orang yang marah, dan tidak mempedulikan lampu lalu lintas. Karena saat ini ia lebih mengkhawatirkan istrinya yang masih tidak berhentinya batuk-batukan. Di Belakang mobilnya sudah terdengar sirine polisi karena Jhonatan melanggar lalu lintas, tapi Jhonatan tidak mempedulikannya jika ia belum sampai di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, ia belum bisa bernafas lega, karena harus segera berlari membawa Nadia masuk rumah sakit sampai dokter dan suster pun datang dan langsung membawa Nadia ke IGD.
Di depan pintu nafas Jhonatan memburu seperti orang yang buru dikejar setan dengan dada yang berdegup sangat cepat. Sampai kemudian Xio datang berlari ke arah Jhonatan yang sama sedang terengah-engah karena harus berlari mengejar Jhonatan yang lebih cepat darinya.
"Yah ibu tidak kenapa-napa kan?"
Jhonatan menoleh ke arah Xio lalu memeluknya sambil mengusap-usap kepalanya. Saat berlari membawa masuk Nadia tadi, Jhonatan menyadari sebentar Nadia berhenti batuk, tapi juga kesadarannya tiba-tiba hilang.
Xio menangis di pelukan Jhonatan. Dari saat didalam mobil tadi, baru kali ini ia melihat ibunya nampak kesakitan seperti itu, dan saat itu hatinya seperti sedang ditusuk-tusuk jarum ketika melihat ibu yang sangat disayanginya mengeluarkan darah dari mulutnya.
Jhonatan terus menenangkan Xio. Ia tahu anaknya baru kali ini dihadapkan dengan situasi seperti ini, dan ia tahu pasti saat ini Xio sedang khawatir, karena dirinya pun sama.
Beberapa polisi yang tadi mengejar juga baru datang menghampiri Jhonatan. Tapi secara bersamaan Juli pun datang juga bersama beberapa orang di belakangnya.
"Tuan biar saya yang mengurus mereka.." Ucap Juli. Lalu Orang-orang yang bersama Juli pun membawa pergi para polisi tersebut. Juli juga meninggalkan kantong pakaian untuk Jhonatan karena melihatnya tadi keluar rumah hanya dengan ****** *****.
Sekarang tinggal mereka berdua lagi di depan ruang IGD tersebut. Jhonatan memakai celana dan juga kaos yang dibawa Juli tadi, lalu merangkul pundak Xio sambil mengelus-elusnya.
.
.
.
.
.
Setelah pemeriksaan oleh dokter, Jhonatan langsung menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan kondisi istrinya. Dokter tersebut terlihat ketakutan karena tahu siapa pria yang ada di hadapannya. Ditambah lagi dengan fakta yang baru saja didapatkan setelah memeriksa Nadia.
Dokter tersebut bilang kalau penyakit Nadia tidak diketahuinya.
Jhonatan meninju tembok cukup keras dan langsung mencengkram kerah dokter tersebut sampai membuatnya terlihat kesulitan bernafas.
"Bagaimana dokter tidak tahu apa-apa hah?!" Bentaknya membuat semua orang ketakutan begitupun dengan Xio, dia menggenggam pakaian Jhonatan kencang.
"Jhonatan…" suara yang lemah lembut dan nyaman didengar itu terdengar di dalam ruangan.
"Ibu/Nadia!" Seru Xio serta Jhonatan yang langsung melepaskan cengkeramannya dan berlari masuk kedalam ruangan. Ketika melihat Nadia, mereka berdua langsung memeluk Nadia yang masih terbaring di ranjang pasien.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?"
"Apa ada yang sakit Bu?"
Jhonatan dan Xio nampak masih khawatir.
Nadia meraba wajah mereka mencium pipi bergantian dan tersenyum. Jhonatan memegang tangan lembut itu yang rasanya seperti tidak bertenaga. Wajah cantiknya pun menjadi sedikit pucat.
Entah kenapa Jhonatan merasa jadi lemas melihat istrinya seperti tidak berdaya seperti itu, padahal baru tadi mereka mengobrol dan bercanda gurau. Yang dirasakan Jhonatan ternyata dirasakan juga oleh Xio dia menitipkan air matanya dan kembali memeluk Nadia.
.
.
.
.
.
Setelah diperiksa sekali lagi para dokter di rumah sakit tersebut memang tidak tahu penyakit apa yang menimpa Nadia. Jhonatan yang kesal pun menyangka mereka tidak becus dan membawa kembali Nadia di kediamannya.
Sesampainya dirumah, Jhonatan memanggil dokter Indonesia yang lebih profesional untuk memeriksa Nadia. Tapi tetap saja hasilnya Nihil.
Malam itu Jhonatan memanggil hampir 4 Dokter profesional dan mereka hanya menyarankan Nadia diberi suplemen. Jhonatan sedikit mengerti tentang perdokteran, jika diberi suplemen saja tidak akan membuat penyakitnya sembuh. Ia pun mengusir dokter-dokter tersebut dengan paksa. Meskipun tidak membuahkan hasil, tapi dokter-dokter tersebut tetap masih harus dibayar mahal karena mereka Dokter profesional. Jhonatan tidak peduli berapapun uang yang harus keluar, asalkan istrinya bisa disembuhkan ia akan membayarnya seberapapun.
Tengah malam di dalam kamar, Jhonatan setia menemani Nadia yang berbaring tak berdaya diatas kasur, sedangkan dia duduk di kursi di samping kasur sambil menatap wajah istrinya yang pucat, dan menggenggam tangannya yang dingin.
"Apa Xio sudah tidur?" Tanya Nadia dengan suara yang lemah.
"Iya Xio sudah tidur, dia tidak berhenti mengkhawatirkanmu dari tadi."
"Aku tidak mau Xio khawatir...tolong kamu temani dia terus yah…"
Jhonatan mengangguk dan mencium tangan Nadia sekali lagi.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Dokter yang diundang dari Jerman tersebut pun tiba. Dan sebuah meja kayu harus hancur terbelah dua karena menjadi pelampiasan kekesalan Jhonatan yang mendengar hal sama seperti dokter-dokter sebelumnya katakan.
Semua orang di dalam rumah juga dapat merasakan suasana di rumah tersebut menjadi berubah. Wajah Jhonatan selalu muram, dan hilangnya kehangatan seperti biasanya.
Suasana tersebut terus berlangsung selama lebih dari 3 bulan. Jhonatan sudah memanggil puluhan dokter yang sangat profesional dari belahan dunia, tapi kondisi Nadia tetap tidak membaik, yang ada malah semakin hari semakin memburuk.
Jhonatan sudah jarang ke perusahaan nya hanya 3 kali saja dalam seminggu, karena ia sibuk mencari cara agar istrinya bisa membaik. Ia juga merasa kian hari Xio semakin muram tidak seceria dan secerah biasanya. Seorang anak yang biasa mendapat semangat dari ibunya, kini harus kehilangan rasa semangatnya melihat ibunya terbaring lemah diatas ranjang dengan segala macam alat bantu agar masih tetap bertahan.
Banyak teman Jhonatan dan teman Nadia yang menjenguknya, tapi yang lebih sering adalah Baswara, karena ia merupakan teman terdekat mereka berdua atau sudah bisa dibilang seperti sahabat.
Sampai akhirnya Baswara pun menjadi jarang menjenguk lagi, karena dua sibuk dengan urusan negara.
Malam hari itu Seorang dokter yang berasal dari Dubai datang atas undangan Jhonatan. Ia memeriksa Nadia di dalam kamarnya ditemani oleh Jhonatan, sementara Xio mengintip di depan pintu.
Di sela-sela pintu dengan pemandangan minim tersebut Xio tidak bisa melihat dengan jelas, tapi dapat mendengar apa yang mereka katakan.
"Saya sungguh minta maaf Tuan. Saya sudah puluhan tahun berada di bidang dokter ini, dan sudah berbagai macam jenis penyakit seperti kanker maupun HIV yang saya tangani. Meskipun gejala Nyonya Alexander sama seperti penyakit-penyakit tersebut, tapi saya yakin apa yang dialami oleh Nyonya Alexander berbeda dengan penyakit tersebut."
Jhonatan terlihat langsung mengurut dahinya sendiri, pusing kenapa semua dokter mengatakan hal yang sama.
"Dan saya memiliki kabar yang tidak menyenangkan…"
"Katakan!"
"Saya sekali lagi minta maaf, tapi kemungkinan besar Nyonya Alexander tidak akan lama lagi didunia ini."
Jantung Jhonatan terasa berhenti dalam sepersekian detik. Dia membelalakkan matanya terkejut dengan apa yang dikatakan dokter tersebut. Lututnya menjadi lemas tak berdaya, hingga dia jatuh kelantai dengan lutut mendarat duluan. Tidak berbeda Jauh dengan apa yang Xio rasakan didepan pintu yang mendengar ucapan dokter tersebut. Ia berlutut di depan pintu dengan air mata yang sudah membanjiri pipi dan bibirnya yang bergetar hebat tak mampu berteriak dan tak mampu mengeluarkan suara.
Di Dalam kamar Xio juga mendengar kegaduhan seperti benda-benda yang hancur dan suara pecahan kaca.
Juli datang bersama dengan 2 orang bodyguard dibelakangnya karena mendengar suara kegaduhan. Dia terkejut melihat tuan mudanya sedang berlutut sambil menangis di depan kamar Jhonatan.
"Tuan Muda! Apa yang tuan muda lakukan disini?!" Juli langsung menghampiri Xio dan memegang kedua pundak Xio. Sementara para bodyguard barusan segera masuk kedalam kamar. Yang satu membawa keluar sang dokter yang nampak ketakutan. Sementara bodyguard satu lagi berusaha menghentikan amukan Jhonatan yang sangat menjadi-jadi bak orang kesurupan tapi dengan air mata mengalir deras di pipinya.
Xio berlari kedalam kamar melepaskan pegangan Juli dan langsung menghampiri Nadia dikasurnya yang belum siuman. Ia memegang tangan ibunya yang terasa sangat ringan dan juga dingin lalu menangis sejadi-jadinya di tangan ibunya sampai tangan tersebut basah dengan air mata dan ingus Xio.
"Ibu Xio mohon...jangan tinggalkan Xio Bu…nanti siapa yang mau mendengarkan konser biola Xio Bu…ibu sudah berjanji mau datang ke pertunjukan Xio..." lirih Xio sambil terisak dan suara yang gemetar.
"Xio maafkan ayah...maaf ayah yang tidak becus ini...ayah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan…" Jhonatan memeluk Xio dibelakang dengan suara yang sama-sama gemetar dan air mata yang berjatuhan dari dagunya. Ia terus mendekap Xio yang tidak berhentinya menangis dan mendengar isakan anaknya seperti hatinya sedang di tusuk-tusuk.
Juli yang melihat pecahan-pecahan tajam dari barang yang dihancurkan Jhonatan, segera membersihkannya sampai tidak ada yang tersisa. Ia takut Jhonatan akan melukai dirinya sendiri lagi mengingat Jhonatan mengidap BPD (Borderline Personality Disorder).
Beberapa Minggu yang lalu juga Juli sudah memerintahkan semua orang rumah untuk memperhatikan Xio. Ia takut Xio juga mengidap BPD seperti ayahnya, karena BPD bisa diturunkan secara genetika.
Tapi untungnya Xio belum pernah menunjukkan memiliki gangguan mental tersebut. Hanya Jhonatan lah yang secara diam-diam masih melukai dirinya sendiri. Jika pakaiannya dilepas, mungkin akan terlihat bekas-bekas luka di sekujur tubuhnya.
Jhonatan takut ditinggalkan. Ia takut kehidupan yang selama ini diimpikannya akan berakhir begitu saja. Saat Xio lahir ia merasa sedang mimpi atau mimpinya memang menjadi kenyataan. Hari-hari yang dilaluinya menjadi lebih berwarna dengan kehadiran dua sosok penting dalam hidupnya.
Tapi ternyata kehidupan mimpinya tidak bisa bertahan selamanya.
Perlahan Nadia terlihat membukakan matanya. Dan ia dapat melihat Xio serta Jhonatan sedang berdiri di samping kasur dengan wajah sendu mereka.
"Kenapa kalian menangis?" Suaranya yang lemas tersebut keluar dari mulut Nadia.
Tidak ada yang menjawab.
"Xio sayang kenapa kamu nangis?" Tangannya berusaha menyentuh rambut Xio, tapi hanya jarinya saja yang bisa terangkat dan berhasil menyentuh rambut putihnya.
Mendengar suara ibunya Xio air mata di pipinya semakin deras dan membanjiri wajahnya ditambah dengan isakannya yang seperti orang kesakitan.
"Juli bawa Xio keluar dulu." Kata Jhonatan.
"Mari Tuan Muda…"
"Tidak!" Bantah Xio. "Aku tetap Ingin tetap bersama ibu!"
Juli melirik kearah Jhonatan dan dibalas anggukan oleh Jhonatan. Lalu Juli pun dengan paksa membawa Xio dengan mengangkatnya meski Xio tatap berontak dan sempat memukul Juli.
Dikamar tersebut pun tinggal tersisa Jhonatan serta Nadia berdua dengan pintu yang tertutup rapat.
Jhonatan mengelap air matanya dan menggenggam tangan Nadia dengan kedua tangannya. Sorot matanya menatap sendu mata Nadia seolah ada yang ingin dikatakan, tapi tertahan atau tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
"Jhonatan...katakan saja…"
"...."
Nadia mengusap tangan Jhonatan dengan jarinya dan menatapnya balik sambil tersenyum.
"Kamu tahu, senyuman mu adalah senyuman tercantik yang pernah aku temui. Dan aku sudah melihat semua senyuman yang ada dunia." Ucap Jhonatan. "Aku tidak mau menyerah dan ingin terus mempertahankan senyuman tersebut darimu...Tapi aku tidak tahu lagi bagaimana caranya."
"Semua sudah kulakukan dan semuanya bilang aku akan kehilangan senyuman terbaik itu. Apa yang harus kulakukan Nadia? Apa yang harus kulakukan?"
Setitik air mata mulai menetes lagi dari lautan biru tersebut. Dengan bibir yang tidak hentinya gemetar sambil menciumi tangan lemah itu.
...****************...
...BERSAMBUNG...