
...----------------...
Pantai adalah tempat terbaik untuk menghabiskan waktu. Pantai menyuguhkan pemandangan yang indah, nyiur hijau yang melambai menambah ketenangan. Pasir putih dan deburan ombak membuat mata mengabadikannya. Teriknya matahari terkalahkan oleh sejuknya angin pantai.
Terlihat di tepi pantai di atas hamparan pasir putih, Xio dan Ellisa sedang duduk bersandar di kursi santai saling berdampingan.
Karena tidak jauh dari pantai tempatnya sekarang ada Villa milik Jhonatan, jadinya mereka berdua sudah mengganti pakaiannya. Xio mengenakan celana pendek saja, sedangkan Ellisa mengenakan bikini. Walaupun bikini, tapi bikini yang dikenakannya masih dalam batas wajar tidak seperti yang terlalu terbuka, karena Xio tidak mau Dean melirik body Ellisa.
Sementara Xio dan Ellisa berjemur, Dean dan Larisa sedang berenang. Karena pantai tersebut termasuk pantai pribadi milik Jhonatan, jadinya hanya ada mereka berempat saja disana.
"Sayang tunggu dulu disini." Kata Xio beranjak dari kursinya.
"Mau kemana?" Tanya Ellisa.
"Sebentar aku mau ambil minuman dulu di mobil." Jawab Xio ingin mengambil wine yang sudah tersedia di bagasi mobilnya yang seperti freezer itu.
"Oh baiklah." Kata Ellisa. Xio pun langsung beranjak dari sana.
Setelah Xio pergi, Handphonenya Ellisa tiba-tiba saja berdering, dan ketika ia mengeceknya terdapat nama Rose di layar handphonenya melakukan panggilan video.
Ellisa pun segera mengangkat panggilan tersebut. Dan di layar handphonenya langsung terlihat wajah Leon dan Lena.
"Halo mamah!!" Kata Leon dan Lena.
"Oh anak-anak mamah!!" sahut Ellisa. "Kalian tidak nakal kan?" Lanjutnya.
"Tidak! kita tidak nakal kok!" Jawab Keduanya menggeleng-gelengkan kepala cepat. "Tadi kita cuma tidak sengaja saja memecahkan ban mobilnya kakek, dan menggores sedikit samping mobilnya saja." Tambah Leon diangguk-anggukkan Lena. Itu semua terjadi karena mereka berdua sedang beradu pedang, sedangkan tidak jauh dari sana ada mobil Jhonatan yang terparkir di halaman rumah.
"Hahaha..Benar anak-anak papah mana mungkin nakal." Ucap Xio yang baru saja kembali. Dia bisa membayangkan bagaimana wajah pasrah Jhonatan ketika melihat ban mobilnya pecah, dan body nya tergores. Jhonatan pasti tidak akan berani memarahi keduanya.
"Bagus tidak apa-apa, kakek kalian tidak akan marah kok." Tambahnya Xio mengacungkan jempolnya.
"Haha tapi lain kali kalian harus hati-hati yah.." Ujar Ellisa tertawa kecil, sementara tangannya mencubit pinggang Xio karena sudah mengajarkan yang tidak benar.
"Iya mam.." Jawab Leon dan Lena.
Sementara Xio saat ini sedang mengelus-elus pinggangnya yang sedikit sakit setelah dicubit Ellisa. Dengan senyuman liciknya, Xio pun langsung mengangkat Ellisa dan mendudukkannya di atas tubuh kemudian memeluknya dari belakang dengan lengan melingkar di perutnya. Tidak sampai disitu, Xio juga menciumi rambut serta tengkuk leher Ellisa dengan tangan yang asik mengelus-elus perutnya Ellisa yang halus seperti bayi.
Ellisa tidak menggubrisnya, karena dirinya juga sedang asik mengobrol dengan Leon dan Lena walaupun tangan Xio sedikit membuatnya geli. Ellisa menanyakan bagaimana mereka di sekolah, dan juga bagaimana dengan adik-adiknya, seperti apakah Nathan dan Tassa baik-baik saja dan sering merengek atau tidak.
Xio meminum sedikit wine yang tadi dibawanya, kemudian mengambil handphone Ellisa yang masih dipegangnya.
"Sudah dulu yah sayang! papah mau bersenang-senang dulu dengan mamah kalian!" Ucap Xio pada Leon dan Lena yang berada di seberang layar.
"Oke! selamat bersenang-senang! byee..!!" Jawab Leon dan Lena mengacungkan jempo lalu melambaikan tangannya.
"Byee!" Jawab Xio balas tersenyum kemudian memutuskan panggilannya. Dia pun langsung berdiri sambil menggendong Ellisa.
"E-eh!!" Terkejut Ellisa karena Xio menggendongnya secara tiba-tiba. "Hhh." Xio terkekeh sambil terus berjalan menuju air menyusul Dean dan juga Larisa dengan wajah berseri-seri senang akhirnya ada waktu refreshing bersama sang istri.
"TUAN!! KEMARI!!" Teriak Dean melambai-lambaikan tangan pada Xio.
Xio pun langsung berlari membawa Ellisa yang berada di gendongannya masuk ke dalam air. Dia juga dapat melihat ekspresi Ellisa yang menurutnya sangat lucu ketika sudah menyentuh air laut yang dingin.
...----------------...
Sementara itu di sisi Jhonatan.
Saat ini dia baru saja kembali kerumah setelah dari luar entah dari mana hanya dirinya dan Juli yang tahu.
Ketika sampai di halaman rumah dan turun dari mobil, Jhonatan langsung dapat melihat dua ban mobilnya yang terparkir di halaman sudah pecah, serta ada beberapa goresan di sisi sebelah kiri seperti tergores oleh benda tajam.
"Kakek!!" Seru Leon dan Lena yang baru saja turun dari rumah pohon mereka dan berlari ke arah Jhonatan.
"Cucu-cucu kakek... maaf yah tadi kakek tidak bisa menjemput kalian pulang." Kata Jhonatan mengelus kepala mereka berdua.
"Tidak apa-apa kek...paman Juli bilang tadi kakek kan ada urusan dulu." Jawab Lena.
"Haha kalian memang anak baik." Tertawa Jhonatan sembari mengacak-acak rambut mereka berdua. "Ngomong-ngomong apa kalian tahu kenapa mobil kakek jadi seperti ini?" Tanyanya.
"Emm..itu sebenarnya gara-gara aku dan Lena yang sedang berlatih pedang di dekat mobil kakek, jadi kita tidak sengaja menggores dan memecahkan ban nya." Jawab Leon menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menunduk.
"Apakah kakek tidak marah??" Kata mereka berdua menatap Jhonatan secara langsung dengan wajah polosnya.
"Hahaha tentu saja tidak!! Toh mobil kakek kan bukan itu saja." Jawab Jhonatan tertawa.
'Bagaimana aku bisa tega memarahi cucuku sendiri yang sangat imut dan tidak berdosa ini. kalau mereka menghancurkan mobilku pun aku tidak akan pernah berani memarahinya.' Batinnya terkalahkan oleh wajah imut serta polosnya Leon dan Lena.
Sementara itu di dalam rumah tepatnya di lantai dua, Rose melihat ke bawah dari jendela. Dia melihat di kerah kemejanya Jhonatan terdapat tanda bibir bekas lipstik, yang sepertinya Jhonatan juga tidak menyadari hal tersebut.
"Hehhh aku heran kenapa dia belum belajar juga dari pengalaman sebelumnya." Rose mendengus. Dia curiga kalau Jhonatan kembali ke hobinya yang dulu yaitu bermain dengan wanita lagi. "Pantas saja sekarang dia sering keluar. sebaiknya aku cari tahu dulu siapa wanitanya kali ini." Gumamnya.
Rose sebenarnya bisa mewajarinya jika Jhonatan mencari pelampiasan nafsunya, mengingat sudah lama sejak dia tidak punya pasangan lagi sehingga tidak pernah merasakan lagi hal tersebut. Tapi Rose tidak ingin Jhonatan jatuh pada perangkap seperti Selly sebelumnya yang membuatnya menjadi terpedaya.
Jadi kali ini dia berencana untuk mencari tahu terlebih dahulu siapa wanita tersebut, dan tentunya tidak akan memberitahu Xio terlebih dahulu mengingat temperamennya yang buruk.
...----------------...
Kembali ke sisi Xio. Setelah puas berenang di air bersama Ellisa, serta Dean, dan Larisa. Mereka berempat berempat kembali ke tepi pantai untuk memulai acara barbekyu-nya, sambil menikmati pemandangan langit jingga serta matahari yang mulai terbenam.
"Sayang, sepertinya kita harus segera pulang. Aku sudah kangen dengan anak-anak." Kata Ellisa yang duduk sambil menyandarkan kepalanya di bahu Xio.
"Emm baiklah ayo." Jawab Xio membelai Surai rambut Ellisa dan mencium keningnya.
"Jadi tuan dan Nona Ellisa sudah memiliki anak!!" Seru Larisa.
"Haha kamu pasti tidak menyangka yah? kita berdua sudah punya anak." Ucap Ellisa Bangun dari sandarannya.
"Benar saya kira anda berdua belum memiliki anak kecil, karena kelihatannya Tuan dan nona masih sangat muda." Kata Larisa.
"Sebenarnya kita berdua sudah mempunyai 4 orang anak."
"Spurrrtt!!" Dean yang tadinya sedang minum langsung menyemburkan minuman tersebut yang sudah berada di mulutnya. terkejut dengan pernyataan Ellisa barusan.
"Sabar kenapa!!" Kata Larisa sambil mengelap wajahnya yang barusan sedikit terkena semburannya Dean.
"Ah maafkan aku, habisnya aku juga ingin segera mendapatkan seorang anak. jadinya aku harus tau tipsnya agar lebih cepat." Kata Dean menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tipsnya yah..." Ellisa membelai dagunya sendiri sedang berpikir.
"Jangan pernah membuat istrimu kedinginan." Ucap Xio tiba-tiba membuat mereka bertiga kebingungan apa maksudnya.
Hingga wajahnya Ellisa dan Larisa tiba-tiba memerah karena baru menyadari maksud Xio. Sedangkan Dean masih berpikir keras tidak mendapatkan apa yang dimaksud oleh Xio.
"Aku masih belum mengerti, setiap hari aku selalu menyelimuti Larisa agar tidak kedinginan." Kata Dean.
"Berarti yang harus kamu lakukan yaitu selalu membuatnya kepanasan setiap saat seperti yang selalu aku lakukan." sahut Xio sambil melirik Ellisa genit, yang kemudian langsung di bungkam mulutnya oleh Tangan Ellisa.
‘Itu berarti Tuan Xio dan Nona Ellisa selalu melakukannya setiap saat? jika benar aku sangat salut dengan Nona Ellisa bisa sanggup melayani Tuan Xio.’ Batin Larisa kagum.
"Cukup! jangan lanjutkan perkataan vulgar!!" Serunya dengan pipi merah.
Xio menurunkan tangan Ellisa dari mulutnya. Dia Pun langsung berdiri sambil menggendong Ellisa. “Aku dan Ellisa pulang duluan yah. Kalau kalian mau menginap disini juga tidak apa-apa, pakai saja villanya. kalau pulang nanti tinggal berikan saja nanti kunci Villanya pada pos di depan tadi.” Ucap Xio.
“Baik Tuan terima kasih sudah mau meminjamkan Villanya pada kami.” Jawab Dean.
“Oh ya jangan lupa sebelum kalian berdua kembali ke prancis lagi, aku mau bertemu dengan kalian lagi. Jadi kalau ada waktu mampir saja ke rumah kami, nanti aku berikan alamatnya.” Ujar Ellisa.
“Siap Nona!” Jawab Dean dan Larisa.
Xio pun berjalan ke arah villanya meninggalkan Dean dan Larisa yang masih menikmati pemandangan pantai. Xio dan Ellisa Kembali ke villanya terlebih dahulu untuk membersihkan badan dan mengganti pakaian terlebih dahulu tentunya.
Setelah siap untuk pulang, mereka berdua berjalan keluar menuju halam depan villa dengan Xio yang setia menggandeng lengan Ellisa seperti takut kehilangannya dan sudah tak terpisahkan lagi.
Saat sampai di depan, terlihat disana sudah terparkir mobil Xio dengan tambahan mobil Ellisa disampingnya yang didapatkan dari pemberian Xio saat pelelangan tadi.
“Kenapa ini ada disini?” Tanya Ellisa.
“Aku sengaja mengirimkannya kesini.” Jawab Xio tersenyum.
Ellisa juga terlihat tersenyum, namun bedanya senyuman yang ia tunjukan adalah senyum penuh makna, seperti sudah merencanakan sesuatu.
“kamu sudah janjikan mau mendengarkan permintaanku?” Tanya Ellisa.
“Ha-ha iya.” Jawab Xio tertawa canggung seperti sudah tahu bahwa Ellisa merencanakan sesuatu. “Apakah kamu sudah memutuskan apa keinginanmu?” Tanyanya .
“Bagaimana kalau kita balapan ke rumah!” Jawab Ellisa bersemangat.
“Baiklah, tapi apa kamu yakin hanya itu saja yang kamu inginkan?” Tanya Xio lagi memastikan.
“Tentu saja tidak. Kalau kamu menang, kamu boleh melakukan atau meminta apapun padaku. Tapi kalau aku yang menang, kamu tidak akan mendapatkan jatah malam ini hehe.” Kata Ellisa terkekeh.
“Apa! aku mohon apa saja asal jangan yang terakhir itu.” Bantah Xio. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya sehari saja tanpa berhubungan dengan Ellisa.
Ellisa menggelengkan kepalanya, melihat Xio yang sepertinya sangat tidak setuju dengan aturan mainnya. “Hahh...Baiklah. kalau begitu jika aku yang menang, maka malam ini aku yang akan memimpin jalannya permainan.” Kata Ellisa menghela nafas.
Seketika Xio pun langsung tersenyum cerah. “Kalau kamu menang aku akan menyerahkan tubuhku padamu. terserah mau kamu apakan.” Ucapnya mencium bibir Ellisa sekilas, kemudian masuk kedalam mobilnya.
...----------------...
“Untung saja Nathan dan Tassa baik, tidak sering merengek yah ma’am?” Ucap Jhonatan yang sedang menimang-nimang Nathan dan Tassa di pangkuannya.
“Hmm Xio dan Ellisa enak sekali punya anak-anak yang tidak cengeng.” Jawab Rose.
“Oh ya, ngomong-ngomong bisnis apa sebenarnya yang sedang kamu tangani itu?” Lanjutnya bertanya.
“Ah itu! aku sedang berencana untuk membangun galeri seni, dan biasalah pasti ada saja orang yang ingin menghalangi dan merebutnya.” Jawab Jhonatan panik dengan pertanyaan yang dilontarkan Rose barusan, tapi dengan segera dia pun mengubah ekspresinya guna menyembunyikan fakta sebenarnya.
“Oh kalau itu sih kamu pasti bisa menanganinya sendiri kan?” Tanya Rose lagi.
“Haha tentu saja ini sih mudah.” Jawab Jhonatan.
Saat mereka sedang mengobrol, Tiba-tiba saja ada Leon dan Lena yang berlarian turun dari tangga seperti sedang terburu-buru.
“Leon...Lena...Jangan lari-larian di tangga.” Kata Rose. “Memangnya kenapa kalian terburu-buru sih?” Tanyanya.
“Maaf omah, habisnya sebentar lagi papah dan mamah sampai di rumah.” Jawab Leon.
“KAMI PULANG!!” Baru saja dibicarakan, Xio dan Ellisa sudah muncul saja di depan pintu.
Leon dan Lena langsung berlari ke arah mereka berdua dan kemudian memeluknya. Xio dan Ellisa pun membalas pelukan mereka seperti sudah lama tidak bertemu saja.
“Papah kenapa tidak bilang kalau mau bermain di pantai.” Kata Lena.
Xio langsung memangku keduanya di sisi lengan kiri dan kanan. “Haha iya, nanti papah janji deh mengajak Leon dan Lena ketempat yang Lebih Seru dengan mamah dan adik-adik kalian.” Kata Xio mencium pipi mereka berdua secara bergantian.
“YEAYYY!!!” Seru Leon dan Lena bersorak gembira.
“Kakek tidak diajak nih?” Kata Jhonatan MUncul bersama Rose.
Ellisa yang melihat Nathan dan Tassa ada di pangkuan Jhonatan pun segera mengambilnya .
“Bukankah kakek bilang, kalau kakek sibuk yah?.” Jawab Leon.
“Ah ha..ha.ha.” Jhonatan tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Bagaimana Ellisa, apa kamu senang liburan dengan Xio? kalau tidak biar nenek yang memarahinya.” Tanya Rose serius.
“Aku senang kok nek. aku dan Xio juga sudah mendapatkan teman baru dari Prancis, mereka berdua suami istri.” Jawab Ellisa.
“Oh baguslah kalau begitu, tadi-nya kalau kamu kurang puas, maka nenek akan protes pada Xio langsung.” Kata Rose menegaskan. Sementara Xio yang mendengarnya hanya dapat mengkedutkan Alisnya saja, berpikir kenapa harus dia yang disalahkan lagi.
...----------------...
...BERSAMBUNG...