
...----------------...
Sudah 2 hari Xio dengan yang lainnya tinggal di dunia Flix dan selama 2 hari itu mereka habiskan dengan mencari hiburan untuk refresing. Selama 2 hari itu Xio juga selalu mengambil kesempatan untuk melakukan hubungan badan dengan Ellisa jika mereka sedang berdua baik itu di luar ruangan atau di manapun selama disana hanya berdua saja.
Hari ini Xio berniat menyiapkan untuk acara pemilihan pahlawan yang akan diadakan 5 hari lagi. Acara pemilihan pahlawan ini tidak hanya memilih satu orang saja tapi untuk memilih beberapa kelompok yang akan ditugaskan di area-area tertentu. Untuk yang memenangkan acara pemilihan akan di tugaskan menjadi pemimpin kelompok-kelompok lainnya.
Siang hari didalam ruangan Terlihat Ada sekitar 8 orang pria sedang duduk menhadao sebuah meja panjang dan di ujung meja tersebut terlihat seorang pria berambut putih yang mengenakan mahkota di kepalanya. Pria tersebut adalah Xio dengan beberapa bawahannya yang sedang membicarakan rencana untuk acara pemilihan pahlawan.
"Apakah ada yang ingin memberikan saran untuk ujian pertamanya?" Tanya Xio.
Mikhael mengacungkan tangannya. "Baiklah apa saranmu?" Ujar Xio. "Yang Mulia, Untuk ujian Pertamanya saya menyarankan untuk pengetesan Level saja." Ucap Mikhael.
"Baiklah aku setuju, Dan syarat untuk masuk ke ujian kedua syaratnya yaitu di setiap tim harus ada yang sudah melewati level 1.000." Kata Xio. Kemudian Lucifer mengacungkan tangan dan Xio pun mempersilahkan nya buntuk bicara.
"Yang Mulia, syarat satu timnya harus berapa orang?" Tanya Lucifer. "Satu tim harus berjumlah kan minimal 4 orang dan maksimal 7 orang dengan umur harus diatas 10 tahun." Jawab Xio diangguki oleh semuanya.
"Karena distorsi ruang dan waktunya masih 20 hari lagi, Jadi untuk ujian keduanya yaitu bertahan hidup selama 3 hari di hutan yang penuh monster. Setiap tim akan diberikan sebuah alat yang dapat menghitung poin monster yang telah mereka kalahkan, dan mereka juga dapat mengambil poin monster milik orang lain untuk dijadikan poin milik tim mereka." Jelas Xio. Semua orang pun setuju dengan rencana Xio.
"Ujian ketiga yaitu ujian pertarungan tim untuk mereka yang sudah berhasil melewati ujian kedua. Pemenangnya adalah tim yang berhasil sampai final, dan setiap tim yang meraih poin tertinggi di ujian pertama tau pun kedua kan mendapatkan hadiah." Ucap Xio. "Apakah ada yang ingin memberikan saran lagi?" Tanyanya.
"Tidak Yang Mulia!" Jawab mereka serentak.
"Bagus maka akun akan memberikan tugas untuk kalian yaitu mentata beberapa jebakan di hutan yang akan dipakai untuk ujian bertahan hidup. Serta usahakan membuat jebakan yang terlihat natural atau tidak susah untuk dideteksi. Paham?!" Tegasnya.
"Paham Yang Mulia!" Jawab bawahan Xio bersamaan. Xio kemudian mengeluarkan sebuah gulungan kertas dan menaruhnya di atas meja. "Ini adalah peta hutan tersebut." Kata Xio. "Baiklah sekian rpat kali ini." Lanjutnya Langsung menghilang dari hadapan mereka.
"Apakah kalian merasakan sesuatu yang berbeda dari yang Mulia?" Tanya Mammon.
"Yah aku rasa belakangan ini ekspresi Yang Mulia terlihat selalu gembira dan kadang juga aku melihatnya selalu senyum-senyum sendiri." Jawab Ramiel. "Yah baguslah kalau Yang Mulia sudah Bahagia kembali. Aku juga jadi ikut bahagia." Lanjut Rafael diangguki oleh semuanya. Mereka berpikir mungkin Xio kembali bahagia karena Ellisa sudah kembali dan berada di sisinya kembali.
Pirikiran mereka memang benar kalau Xio bahagia karena Kembalinya Ellisa namun bukan hanya itu saja yang membuat Xio terlihat selalu senyum-senyum sendiri. Sebenarnya Xio selalu membayangkan bagaimana kelucuan dan keimutan bayi-bayi nya nanti, Karena Xio sangat suka sekali dengan yang namanya anak kecil apalagi mengingat kalau anak tersebut adalah anaknya sendiri.
Kembali ke sisi Xio. Selesai rapat dengan para bawahnnya, Xio langsung pergi mencari Ellisa sampai ia menemukan Ellisa sedang duduk di kursi taman dan sepertinya Ellisa sedang memperhatikan Leon dan Lena yang Sedang bermain dengan para hewan kontraknya.
Saat Ellisa sedang menyesap teh nya, Tiba-tiba saja ada yang memeluk nya dari belakang dan menghirup lehernya sehingga membuat Ellisa menyemburkan kembali teh nya dan membuatnya tersedak "Uhukk.. uhukk." Ellisa langsung batuk.
"Sayang, apakah kamu tidak apa-apa?" Tanya Xio langsung berada di hadapan Ellisa dan mengeceknya secara teliliti.
"Tidak apa-apa apanya?, Kamu membuatku kaget tahu!" Kata Ellisa. "Lagian kenapasih Selalu muncul tiba-tiba seperti itu?" Lanjutnya karena tadi Ellisa tidak merasakan ada orang yang mendekatinya sama sekali.
"Hehe Maafkan aku." Jawab Xio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Habisnya aku sangat suka dengan aroma tubuhmu." Lanjut Xio mencium pipi Ellisa.
Sementara itu dari tadi ada yang melihat Xio dan Ellisa dari kejauhan. 'Sifat Xio mirip sekali dengan Azril' batin Rose ketika melihat kelakuan Xio pada Ellisa. kalau sudah sayang dengan satu orang wanita pasti akan selalu menempel dengan nya. Rose tersenyum kemudian pergi dari sana.
Ellisa pun duduk kembali di kursinya disusul oleh Xio yang langsung tiduran dikursi tersebut dengan menjadikan paha Ellisa sebagai bantalnya.
Ellisa mengelus rambut Xio. "Apakah kamu sudah menentukan nama untuk bayi kita?" Tanya Ellisa. Xio langsung menghadapkan wajahnya pada perut Ellisa. "Bagaimana kalau Untuk yang laki-laki Calio dan untuk yang perempuan Calia?" Ujar Xio.
"Celia... Celio.... Bagus cocok sekali!" Seru Ellisa. "Baguslah kalau kamu suka." Kata Xio mencium perut Ellisa.
"Memangnya berapa hari lagi sampai pekerjaan kamu disini selesai?" Tanya Ellisa. "Hmm mungkin kurang lebih 1 bulanan lagi." Jawab Xio. "Sabar yah kalau sudah selesai aku akan langsung mengajakmu kesana." Lanjut Xio memeluk pinggang Ellisa dan membenamkan wajahnya di perut Ellisa.
Saat Xio dan Ellisa sedang mengobrol tiba-tiba saja ada Leon yang menghampiri mereka. "Papah!" Leon memanggil Xio. Xio langsung melirik kearah suara sambil masih tiduran di pahanya Ellisa. "Ada apa sayang?" Sahut Xio.
"Papah sudah aku katakan jangan memanggil aku dengan sebutan sayang, karena aku sudah besar!" Seru Leon dengan wajah tersipu karena malu. "tapikan papah memang sayang Leon." Kata Xio mencubit gemas pipi Leon.
"Sudahlah sayang jangan menggoda Leon terus." Kata Ellisa.
"Haha Baiklah baiklah, kenapa Leon?" Tanya Xio.
"Bolehkah aku dan Lena pergi ke dungeon?" Tanya Leon.
"Memangnya dungeon tingkat apa?" Xio bertanya balik. "Tingkat C, aku juga sudah mengajak Zekiel." Jawab Leon.
"Baiklah, apa oerlu ada yang menemani?" Tanya Xio lagi. "Tidak usah kita bertiga saja juga cukup." Jawab Leon.
"Baikla-" Belum selesai Xio berkata sudah dipotong oleh Ellisa. "Tidak, Tidak boleh. Kalian harus di temani oleh orang dewasa!" Seru Ellisa.
"Tapi mam-" Leon ingin menjawab namun kembali terpotong, "Pokoknya tidak boleh kalau hanya bertiga saja!" bantah Ellisa.
Leon langsung melirik kearah Xio seolah meminta bantuan agar membantunya membujuk Ellisa. Xio yang mengerti kode dari Leon Leon pun langsung berbisik ditelinga Ellisa, "Tidak usah khawatir sayang, aku akan mengirim orang untuk mengikuti dan menjaga anak-anak secara diam-diam." kata Xio berbisik ditelinga Ellisa.
"Huftt Baiklah, tapi kalian harus hati-hati dan jangan gegabah" Kata Ellisa menghela napas.
"Yeyyy!, Terimakasih mamah!" Leon langsung mencium pipi Ellisa dan berniat langsung pergi. "Papah tidak?" Kata Xio menyodorkan pipinya. Leon pun akhirnya terpaksa harus mencium pipi Xio.
Leon langsung pergi menghampiri Lena yang ternyata sudah berada di punggung Elliot yang sudah bersiap untuk terbang. Leon juga langsung segera naik dan duduk di belakang Lena sambil memeluk nya. "Bye bye Mamah!, Papah!" Kata Leon dan Lena melambaikan tangannya dan ibalas lambaian tangan juga oleh Xio dan Ellisa. Elliot pun langsung mengepakan sayapnya dan kemudian terbang ke langit.
"Apakah kamu yakin mereka tidak akan kenapa-napa?" Tanya Ellisa lagi karena masih khawatir. "Yah mereka tidak akan kenapa-napa karena dungeon tingkat C tidak akan ada tantangannya sama sekali untuk kekuatan Leon. aku juga sudah menyuruh Azco untuk membuntuti mereka secara diam-diam." Jawab Xio.
"Karena sudah tidak ada siapa-siapa lagi disini, aku jadi ingin melakukan nya." Kata Xio mencium leher Ellisa. "Ahh tunggu dulu, bagaimana kalau ada orang yang lewat?" desah Ellisa.
Ctakk!
Xio menjentikkan jarinya dan seketika muncul barrier berwarna emas transparan mengelilingi mereka berdua. "Barrier itu akan membuat orang yang berada diluarnya tidak dapat mendengar atau melihat apapun yang ada di dalamnya jadi kita bisa bermain dengan bebas." Jelas Xio tersenyum.
"Dasar, kamu selalu saja sudah mempersiapkan segalanya!" Seru Ellisa. Xio pun Langsung Membuka Semua pakain yang ia dan Ellisa kenakan sampai mereka berdua sudah telanjang bulat.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG