
...----------------...
Malam hari pukul 19.00 PM. Di sebuah ruangan terlihat Xio bersama dengan keluarganya yang sepertinya sedang makan malam. Mereka makan dengan hening sehingga hanya mendengar suara peralatan makan saja.
Selesai makan, Rose berkata, "Xio malam ini sepertinya aku harus kembali ke Jepang." Ucap Rose.
"Ayah juga harus kembali untuk mengurus sesuatu." Tambah Jhonatan.
"Apakah nenek dan ayah tidak ingin ikut melihat acara yang bahkan diadakan beberapa hari lagi?" tanya Xio.
"Memangnya acara apa?" Kata rose bertanya balik.
"5 hari lagi akan diadakan kompetisi pemilihan pahlawan." Jawab Xio.
"Hmmm Nenek ingin sih menontonnya, tapi sepertinya tidak bisa." Ucap Rose.
"Oh bagaimana kalau nanti tiba waktunya Xio yang akan menjemput nenek kemari." Ujar Ellisa diangguki oleh Xio.
"Yah baiklah." kata Rose.
Selesai mengobrol sebentar, akhirnya Xio pun mengantarkan Rose dan Jhonatan kembali ke bumi. Selesai mengantarkan Rose dan Jhonatan, Tiba-tiba saja Xio ditarik oleh Leon dan Lena ketempat yang sepi.
"Ehh.. ehh... tunggu dulu ada apa ini?" Ucap Xio terkejut. "Dimana mamah kalian?" Tanyanya.
"Suttt... papah jangan berisik, kita sudah membuat mamah sibuk sebentar." Kata Lena. "Hemm memangnya kenapa?" Tanya Xio.
"Jangan beritahu mamah yah janji?!" Ucap leon meyakinkan.
"Baiklah papah janji!" Jawab Xio.
"Boleh tidak kita mengikuti kompetisi pemilihan pahlawan?" Tanya Leon membuat Xio terkejut.
"Tidak!, kompetisi itu sangat berbahaya." Bantah Xio karena memang didalam ujian bertahan hidup di hutan sudah banyak sekali monster-monster dan juga jebakan yang mematikan. Apalagi kan belum tahu bagaimana kekuatan lawan yang akan mereka hadapi.
"Plisss!!!" Leon dan Lena memohon dengan memasang puppy eyes nya.
Xio menepuk jidatnya sendiri. 'Dengan hal yang begini saja aku jadi lemah' Batin Xio.
"Memangnya kalian sudah punya kelompoknya?" Tanya Xio.
"Sudah dongeng. Kita berdua di tambah dengan Zekiel dan Azco." Jawab Lena. Sebenarnya mereka berdua sudah bertemu dengan Azco tadi kemudian memaksanya, Tapi Azco bilang Leon dan Lena harus meminta izin Xio terlebih dahulu karena takutnya nanti malah Azco yang terkena amukan Xio.
"Hahhh baiklah kalau dengan Azco papah akan mengizinkannya, tapi kalian juga harus tetap hati-hati ingat!?" Ucap Xio yakin karena jika dengan Azco maka tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Siapp!!!" Jawab Leon dan Lena bersmaan kemudian memeluk Xio. "Terimakasih Papah!" Kata mereka berdua.
"Aish aish aish... ada apa ini sepertinya asik sekali?!" Terdengar suara Ellisa di belakang mereka. Ellisa sebernarnya habis dari dapur untuk membuatkan Leon dan Lena Susu khusus buatan Ellisa yang di campur dengan ekstrak madu. Itupun atas permintaan Leon dan Lena untuk membuat Ellisa sibuk sementara mereka dapat bicara dengan Xio.
"Tidak ada apa-apa sayang tiba-tiba saja anak-anak ingin memeluk aku." Ucap Xio diangguki oleh Leon dan Lena. Xio kemudian melambaikan tangannya memberi tanda untuk Ellisa agar ikutan memeluknya.
Ellisa pun menaruh dua gelas susu yang ada ditangannya ke meja. kemudian mendekat ke Xio dan ikut memeluknya serta anak-anak.
'Nyaman sekali kalau kehidupan ku terus seperti ini, sangat damai dan tidak ada konflik sama sekali. Apalagi bersama dengan orang-orang yang aku sayangi.'
'Setelah menemukan kakek, aku akan mempertahankan suasana seperti ini dan jika ada yang mengsusiknya sedikit saja maka aku akan membuat orang itu menderita seumur hidupnya.' Batin Xio tanpa ia sadari dari tadi dirinya tengah melamun.
"Sayang... sayang... apakah kamu tidak apaapa?" Ucap Ellisa melambai-lambai kan tangannya di hadapan wajah Xio.
"Oh iya aku tidak apa-apa!" Seru Xio bangun dari Lamunannya dan kembali memeluk Ellisa serta anak-anak dengan erat.
"Hahhh mau sampai kapan kamu akan terus memeluk kita?" Tanya Ellisa menghela napas.
"Hehe biarkan seperti ini sebentar lagi, rasanya sangat nyaman." Jawab Xio terkekeh dan membuat pelukannya semakin erat sembari tersenyum.
"Sudah-sudah, sudah malam biarkan anak-anak tidur." Kata Ellisa. Xio pun melepaskan Pelukannya.
"Leon, Lena jangan lupa habiskan susunya." Ujar Ellisa.
"Baik, Selamat Malam!" Kata Leon dan Lena mencium pipi Ellisa kemudian mencium pipi Xio secara berganti dan langsung pergi kekamar mereka dengan membawa segelas susu.
"Apakah kamu sudah minum pil nya?" Tanya Xio dijawab anggukan oleh Ellisa. Tanpa menunggu lama lagi Xio mulai Mengeksplor setiap inci tubuh Ellisa.
Seperti itulah kegiatan malam yang tidak pernah mereka lewatkan setiap harinya tanpa ada rasa bosan sedikitpun, Karena mereka berdua juga sangat menikmatinya apalagi Xio yang merasa Ellisa tidak akan pernah tergantikan.
*********
Malam berganti pagi dan seperti biasanya Ellisa selalu bangun terlebih dahulu sebelum Xio. Ellisa langsung beranjak menuju kamar mandi karena badannya terasa lengket akibat keringat habis olahraga malam bersama Xio.
Sehabis mandi dan masih menggunakan handuk saja di tubuhnya, Ellisa kemudian menyiapkan dua cangkir teh untuk dirinya serta untuk Xio.
Ellisa duduk di kursi yang berada di dekat jendela kamarnya sembari menyesap teh yang baru saja ia buat. Dari jendela kamar tersebut, Ellisa dapat melihat pemandangan matahari terbit yang mulai menyinari setiap penjuru kerajaan serta terlihat juga sudah ada beberapa orang yang bekerja diistana mulai beraktivitas.
"Hahhhh...udaranya segar sekali." Ellisa mengehela nafas.
'Aku merasa tidak enak pada Xio kalau tidak membantu apapun untuk kerajaannya.' Batin Ellisa dengan pandangan menatap keluar jendela tanpa sadar kalau Xio sedang memperhatikan nya.
Grebb!
Xio langsung memeluk Ellisa dari belakang, "Sayang kamu sedang memikirkan apa?" Basa-basi Xio karena ia sebenarnya sudah mendengar batinan Ellisa tadi.
"Sebelum bertanya setidaknya pakai dulu pakaian kamu." Kata Ellisa menutup matanya. Xio pun baru teringat kalau saat ini dirinya sedang tidak mengenakan apa-apa, Xio kemudian langsung mengenakan celana d***m nya dan memangku Ellisa agar duduk di Pangkuannya.
Wajah Ellisa langsung memerah karena ia dapat merasakan tubuh lengket Xio serta ada sesuatu yang menonjol dibawah sana.
"Nah sekarang Coba katakan padaku apa yang barusan kamu pikirkan?" Tanya Xio.
"Aku sedang memikirkan apakah ada sesuatu yang bisa aku kerjakan untuk kerajaan, Karena aku merasa kasihan kalau melihat kamu mengurus kerajaan seorang diri." Jawab Ellisa.
Xio pura-pura berpikir, "Oh aku tahu, bagaimana kalau aku memberikanmu tugas yang dan pekerjaan uang sangat penting?" ujar Xio.
"Apa, Apa itu?" Tanya Ellisa penasaran.
"Tugas ini sangat penting sekali dan hanya kamu saja yang bisa melakukannya." kata Xio.
"Ayolah katakan apa itu!?" Tanya Ellisa sudah tidak sabar lagi.
Xio tersenyum, "Tugas kamu yaitu merawat serta menyayangi aku dan juga anak-anak saja." Jawab Xio di tambah senyuman.
"Serius Xio...." kata Ellisa.
"Aku Serius itu tugas kamu, karena cuma kamu seorang saja yang bisa melakukannya. Kamu juga bebas mau melakukan apa saja sesuka mu di Kerajaan ini." Ucap Xio tersenyum. "Lagian juga untuk apa kamu memperdulikan permasalahan kerajaan, cukup aku saja yang mengurusnya karena aku tidak mau kamu kelelahan dan terlalu banyak pikiran." Lanjutnya mencium pipi Ellisa.
"Huftt baiklah kalau itu maumu, berarti dari awal juga aku sudah mengerjakan tugasku!" Kata Ellisa menggembungkan pipi nya sehingga membuatnya terlihat imut.
"Ayolah sayang jangan membuat aku harus memakanmu lagi." Ucap Xio karena baru saja itunya langsung menegang.
tanpa pikir lagi Xio langsung menggendong Ellisa masuk ke kamar mandi. "Tunggu-tunggu aku barusan sudah mandi!" Kata Ellisa tapi Xio tidak mendengarkannya Sama sekali.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG
Sorry guys kayanya bakal jarang update karena senin harus daring lagi T^T, tapi bakal di usahaiannkalai ada waktu bakal update chap baru dan juga untuk alurnya abakal diperlambat insyaallah <3.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN KLIK FAVORIT KALAU KALIAN SUKA.