Cross The World With System

Cross The World With System
Pancingan



"Ayah, aku memilih untuk seperti ini karena keinginanku sendiri. Dan aku seharusnya berterima kasih pada ayah karena ayah yang sudah mengajarkan banyak hal padaku. Memangnya menurut ayah bagaimana aku bisa mengerti bisnis tanpa sekolah bisnis dan gelar seperti sekarang ini?"


"Itu karena dari kecil ayah selalu mengajarkan aku banyak sekali pengetahuan ilmu dan pengalaman. Aku ingat sekali ketika umurku 7 tahun ayah pernah bilang kalau didunia bisnis tidak boleh lengah karena orang banyak yang bermuka dua. Dan ayah bilang untuk menghancurkan saja kedua mukanya agar ia tidak punya muka lagi berdiri di dunia itu."


"Aku sudah dewa, dan aku tidak terlalu harus dituntun lagi. Jika aku yang menjadi alasan ayah tidak bersama dengan ibu, maka biarkan aku yang bicara pada ibu. Aku berjanji akan mempersatukan kalian kembali." Tegas Xio.


...***...


Sementara itu di tepi pantai dibawah terik matahari, terlihat pemandangan yang sangat menyegarkan mata.


Bagaimana tidak, 3 wanita cantik dan seksi sekaligus sedang berjemur di kursi pantai mengenakan bikini seksi yang memperlihatkan kemolekan dan kemulusan kulit mereka yang bening.


Bergantian mereka memakaikan sunblock di tubuh membuat kulit mereka lebih mengkilap dan seperti terlihat kenyal.


Setelah mengolesi rata tubuh dengan sunblock, ketiga wanita tersebut langsung bersantai di kursi mereka masing-masing sambil mengenakan sunglasses. Dengan kelapa muda segar di tiap samping kursinya.


"Ellisa sepertinya pernikahanmu dan Xio benar-benar sudah terdengar ke seluruh dunia." Ucap Rose yang barusan memeriksa ponselnya.


"Aku senang keinginan Xio terwujud." Jawab Ellisa tersenyum.


"Hm anak itu benar-benar ada-ada saja. Benar-benar seperti ayahnya." Nadia ikut bicara. "Setelah ini setiap kamu atau Xio keluar rumah pasti akan selalu ada paparazi yang mengikuti. Dan mungkin mulai akan ada yang menyebarkan isu-isu buruk tentang kalian." Tambahnya.


"Apa dulu ibu dan ayah juga pernah seperti itu?" Tanya Ellisa mulai menoleh ke samping ke arah Nadia penasaran.


"Yah dulu setelah beberapa hari kita menikah, langsung tersebar berita dimana-mana kalau Jhonatan memiliki banyak wanita simpanan. Lalu banyak wanita yang tidak suka kepada ibu karena katanya ibu tidak jelas asal-usulnya dan pasti sudah mempengaruhi Jhonatan. Memang sulit punya suami yang digemari banyak orang."


"Lalu bagaimana ibu mengatasinya saat itu?" Tanyanya lagi karena Ellisa juga merasa dia sama dengan Nadia, pasti akan ada banyak orang yang akan mengatakan dirinya tidak jelas asal-usulnya.


"Ibu membiarkannya. Karena ibu percaya pada Jhonatan." Jawab Nadia singkat lalu ia langsung menoleh kesamping menurunkan kacamatanya dan menatap Ellisa. "Dengar. Tidak peduli ada apa diluar sana, yang paling penting adalah jangan sampai kamu dan Xio kehilangan kepercayaan. Karena badai yang kencang pun akan berhenti suatu waktu."


 "Aku mengerti! Terima Kasih Bu." Ellisa tersenyum.


"Ngomong-ngomong bagaimana pertama kamu bisa bertemu dengan Xio?" Tanya Nadia penasaran.


"Sebenarnya itu kecelakaan," wajah Ellisa memerah. "Saat itu aku terkena racun dan tidak sadarkan diri. Lalu saat bangun aku sudah berada di ranjang berdua dengan Xio dan dia langsung melamarku."


"Waahh itu pertemuan yang benar-benar tidak terduga. Apa kamu menerimanya menerimanya begitu saja?"


"Aku sebenarnya tidak tahu apa yang sudah Xio lakukan padaku saat itu dan aku tidak berpikir Xio sudah melakukan hal buruk sama sekali karena dia yang menyelamatkanku. Aku langsung menerima lamarannya karena aku merasa sudah tidak asing dengannya dan seperti hatiku yang bicara saat itu."


"Oh begitu...Tadinya kalau dia yang memaksamu aku akan memukul anak itu. Hahaha…" Gurau Nadia dan Ellisa juga ikut tertawa.


'Sepertinya Ellisa belum mengetahui tentang kehidupan pertamanya.' pikir Nadia.


"Lalu apa yang kamu sukai dari Xio?"


"Ehmm kalau itu sih aku menyukai sikapnya yang kadang tegas seperti orang dewasa, dan kadang juga manja seperti anak kecil. Aku suka cara dia memperlakukanku, baik padaku, peduli padaku, Pokoknya banyak sekali darinya yang membuatku suka dan….." Tiba-tiba saja wajah Ellisa memerah.


"Dan apa?" 


"Dan Xio mempunyai sesuatu yang bisa memuaskannya di ranjang." Celetuk Rose.


"NENEK!!!" Seru Ellisa dengan menutupi wajah yang sudah merah Semerah kepiting rebus. Rose dan Nadia malah tertawa melihat reaksi lucu Ellisa.


"Haha...tidak perlu malu Ellisa. Kemampuan pria di ranjang juga memang perlu diperhitungkan." Kata Nadia tersenyum penuh arti.


Tidak lama setelah itu para Pria yang didalam rumah juga akhirnya keluar dan ikut bergabung dengan hanya mengenakan celana pantai saja memperlihatkan tubuh mereka yang kekar. Mereka membawa peralatan memasak dan banyak sekali botol minuman serta bahan masakan.


Tahu Azril jago masak jadi masalah membuat masakan diserahkan padanya, dengan dibantu oleh Rose juga. Sementara Xio, Jhonatan, Ellisa dan Nadia bermain di pantai bersama anak-anak sambil menunggu makanan siap.


Pemandangan siang itu sungguh indah dan terasa sejuk. Seperti keluarga tersebut. Yang awalnya terpecah belah, kini bisa bersama kembali dan bersenang-senang.


Benar. Bersenang-senanglah selama masih ada kesempatan.


...***...


Malam hari adalah waktu yang tepat untuk diadakannya pesta dansa. 


Di Dalam gedung atau hotel yang gemerlap itu kini semuanya sedang berdansa di aula yang besar dan megah dengan diiringi irama musik yang berasal dari grup Opera terkenal. 


Semuanya fokus berdansa dengan pasangan mereka sambil mendengarkan musik yang indah seperti musik abad pertengahan. Sampai tiba-tiba datanglah pasangan yang kedatangannya seperti sinar sehingga semua orang langsung tertuju ke arahnya.


Xio baru saja datang sambil menggandeng Ellisa. Ketika mereka berjalan, semuanya langsung berhenti berdansa dan menyingkir seperti memberikan jalan untuk pasangan tersebut.


Kini Xio sudah berdiri tepat di tengah aula dansa dengan tangan kiri merangkul pinggang Ellisa dan tangan kanan memegang tangannya. Ia mengangkat tangan Ellisa di depan wajahnya dan mencium jari tangan tersebut dengan kecupan halus nan lembut.


"Sayangku, maukah berdansa denganku?"


Ellisa tersenyum dan mengangguk. Xio pun langsung menggenggam tangannya sambil tersenyum. Perlahan mereka mulai menggerakkan kaki dan badannya mengikuti irama musik yang merdu terdengar.


Sementara semua orang masih terdiam melihat pasangan tersebut seperti Pangeran dan Tuan Putri di dalam cerita dongeng. Namun sayangnya yang mereka tidak tahu kalau Xio dan Ellisa bukan sekedar pangeran dan putri, tapi melainkan seorang Raja dan Ratu kerajaan.


Dari banyaknya orang disana hanya mereka berdua lah yang paling bersinar dengan penampilan yang mempesona dan juga auranya yang sangat elegan dan berwibawa.


Tidak jauh dari Xio dan Ellisa ada seorang wanita yang menatap tidak suka ke arahnya. 


Dia Zara. Entah karena iri atau memang tidak suka, Zara tampaknya benar-benar benci Ellisa.


"Aku mau ke toilet dulu." Ucap Zara pada Chris.


"Apa mau aku temani?" Ujar Chris.


"Tidak perlu!" Ketusnya langsung berlalu.


Zara berjalan menuju toilet seorang diri dengan langkah yang sembrono, sampai ketika di lorong menuju toilet, ia menabrak seseorang hingga terjatuh.


Brukk


"Aww!! Aduh…" Zara meringis sambil mengusap-usap bokongnya. "Kalau jalan lihat-lihat Dong!" Bentaknya mendongak dan melihat yang ditabraknya adalah seorang pria berambut pirang panjang dengan kacamata hitam pakaian serba hitam dan topi fedora.


Pria itu malah tersenyum sinis. Tapi ia langsung membantu Zara berdiri.


"Maaf, apa kamu terluka?" Tanya Pria tersebut.


"Cih! Tidak berguna!" Zara tidak menghiraukannya dan langsung berjalan menyenggol pria tersebut dan berlalu.


Pria itu tidak bergeming tapi ia memasang senyuman sinis yang cukup menyeramkan. "Itu dia." Gumamnya samar.


Zara yang sedang membenarkan make-upnya di depan kaca tiba-tiba saja ada seorang wanita yang membekapnya dari belakang hingga ia pingsan tak sadarkan diri.


...***...


Disisi lain di pulau tersebut. Ada sebuah gubuk tua tidak terpakai seperti bekas gudang.


Didalam gubuk tersebut Zara terlihat sedang diikat di kursi dengan mulut disumpal kain. Dan ia tampaknya belum sadarkan diri.


Lalu tidak lama kemudian datanglah sesosok pria ke gubuk tersebut. Pria itu sama seperti pria yang tadi sempat bertabrakan dengan Zara.


Ia berjalan mendekati Zara dan menarik kain di mulutnya. Sebuah pil kecil dimasukan kedalam mulut Zara lalu seseorang di belakang pria tersebut menyiram seember air ke wajah Zara hingga Zara terbangun dan tanpa sengaja menelan pil di mulutnya tersebut. Sementara pria berambut pirang panjang tadi tersenyum sangat lebar.


...***...


"Maaf mengganggu Nyonya, tapi baby Nathan dan Tassa menangis di kamar." Ucap Fellis menghentikan Ellisa yang sedang berbicara dengan Xio di samping aula dansa.


"Oh baiklah." Jawab Ellisa menaruh gelas winenya diatas meja.


"Aku ikut." Xio memegang tangannya.


Ellisa tersenyum, "Tunggu saja disini sebentar. Bukankah kamu ingin berdansa dengan ibu?" Ucapnya sambil membenarkan Kerah kemeja Xio.


Xio terdiam entah kenapa dia memiliki perasaan tidak enak.


"Baiklah, jangan lama-lama. Aku belum selesai berdansa denganmu."


Ellisa tersenyum lagi lalu pergi dengan Fellis berdua.


Ia memang menitipkan bayinya pada Fellis dan Adam di salah satu bangunan kecil di belakang gedung besar tersebut yang berjarak sekitar 30 meter. Agar tidak terlalu berisik, dan agar tidak terlalu jauh. Sedangkan Leon dan Lena ditemani Sebas menghadiri pesta malam tersebut.


.


.


.


.


.


Ellisa menyusui bayi-bayinya di dalam kamar lantai 2 ditemani Fellis. Sedangkan Adam berdiri di luar kamar. Ternyata benar Nathan dan Tassa menangis hanya ingin ASI ibunya. Buktinya setelah tangisan yang tidak hentinya tadi, kini keduanya tertidur dengan nyenyak.


Setelah Nathan dan Tassa tertidur, Ellisa menutup kembali dadanya dan menidurkan Kedua bayinya di kasur.


"Fellis, apa benar tidak apa-apa kamu tidak ikut pesta?" Tanya Ellisa sambil membetulkan gaunnya dibantu Fellis.


"Tidak apa-apa Nyonya. Jangan khawatirkan saya, lagipula saya tidak punya pasangan dansanya." Jawab Fellis sambil tersenyum. "Nyonya nikmati saja waktunya dengan Tuan, biar saya yang menjaga anak-anak." Tambahnya.


"Baiklah kalau ada sesuatu panggil saja aku."


"Em! baik Nyonya. Sebaiknya anda cepat kembali. Tuan pasti sudah menunggu."


"Baiklah bye!" Sambil berjalan Ellisa tersenyum dan melambaikan tangannya.


'Selain cantik Nyonya juga sangat baik. Pantas saja Tuan sangat tergila-gila dengannya.' Batin Fellis melihat Ellisa melewati pintu sambil balas melambaikan tangan.


Ellisa bertemu Adam diluar dan terlihat banyak sekali penjaga di lorong kamar tersebut.


"Paman titip anak-anak dulu yah. Maaf merepotkan." Kata Ellisa.


"Ah tidak masalah Nyonya. Oh ya, apa nyonya ditemani penjaga untuk kembali?" Ujar Adam.


"Tidak perlu. Aku sendiri saja." Jawab Ellisa berpamitan lalu berlalu.


.


.


.


.


.


Ketika sudah di luar bangunan tersebut, Ellisa merasa ada sesuatu yang aneh. Tadi saat pergi ia melihat beberapa penjaga yang berpatroli, tapi sekarang saat pulang tidak ada satupun sama sekali.


Ellisa berpikir mungkin para penjaga keamanan sedang istirahat dan ia pun berjalan ke arah gedung utama lagi dengan lampu tiang yang menerangi jalannya.


Suasananya sangat hening. Sampai ketika Ellisa sudah sampai setengah Jalan, ia mendengar suara semak di samping kanan tepat di dalam hutan.


Ellisa menoleh dan melihat ada seorang wanita bergaun silver yang baru saja memasuki semak-semak tersebut. Meski terhalang beberapa pohon dan tanpa penerangan sama sekali, Ellisa dapat mengenali siapa wanita tersebut.


"Zara? Kenapa dia masuk kedalam hutan yang gelap begitu?" Heran Ellisa, "Apa harus aku ikuti?"


Ellisa berpikir harus mengikutinya atau tidak, karena itu bisa saja jebakan yang Zara buat. Mengingat dia tidak menyukai Ellisa. 


Disisi Lain Ellisa juga berpikir harus mengikutinya. Meskipun tahu Zara tidak menyukainya, tapi tetap saja Zara istri pamannya dan ia juga sedang hamil. Di Hutan malam-malam begini akan ada kemungkinan hewan liar yang menyerangnya.


Ellisa memutuskan untuk mengikutinya. Ia berjalan masuk kedalam hutan dengan matanya yang bisa melihat dalam gelap seperti kucing.


Ellisa tidak langsung memanggil atau mendekati Zara terburu-buru, karena ia ingin melihat terlebih dahulu Alasan Zara masuk kehutan tersebut.


Zara terus berjalan tidak berhenti-henti dan Ellisa juga terus mengikuti dia hingga ia merasa sudah berjalan sangat jauh. Dan mungkin saat ini mereka berdua sudah berada di tengah-tengah pulau.


Ellisa menghentikan langkahnya melihat Zara yang menghentikan langkahnya juga.


'Apa yang ingin dilakukannya?' Ellisa masih keheranan. Sampai ia menyadari di tengah hutan tersebut tidak hanya ada mereka berdua.


4 orang berada di pohon sebelah sudut kiri, 2 di pohon kanan, 2 di belakang batu. Tidak, jumlah mereka lebih dari dari 30 orang dan semuanya sedang mengepung Ellisa dan Zara.


"ZARA AWAS!!!" Ellisa berlari ke arah Zara sambil berteriak karena dapat melihat orang-orang tersebut sudah bersiap untuk menembak. Meski menyamar bersatu dengan Alam, Ellisa memiliki Indra yang sangat tajam sehingga semuanya terlihat jelas.


Dorrr!


Sebuah peluru melesat ke arah Ellisa yang sudah berdiri di belakang Zara. Ellisa mengangkat tangannya  menciptakan sebuah lingkaran cahaya di udara. Dan peluru yang melesat tadi masuk kedalam cahaya tersebut lalu menghilang seketika.


Orang-orang yang bersembunyi tadi kini bersamaan menghujani Ellisa dengan timah panas, tapi semua peluru tersebut tidak ada satupun yang berhasil lolos mengenai Ellisa. Karena semua pelurunya masuk kedalam lubang-lubang cahaya yang Ellisa ciptakan.


"Kalau tidak menyerang balik, ini tidak akan ada hentinya." Pikir Ellisa karena peluru yang berdatangan tidak henti-hentinya. "Tapi kalau aku menghilangkan cahaya ini bisa-bisa Zara terkena tembakannya." Pikirnya lagi diam sejenak.


Dengan tangan kanan yang masih diangkat ke atas, Ellisa menggigit jari telunjuk tangan kirinya hingga mengeluarkan darah. Darah tersebut ia teteskan ke tanah dibawah kakinya. 


Tiba-tiba saja tanah di sekelilingnya ditumbuhi dengan bunga yang jumlahnya  tidak main-main. Ellisa seperti sudah menciptakan sebuah taman bunga di tengah hutan tersebut.


"Blood Floral." Gumam Ellisa dan bunga-bunga tersebut seketika mengeluarkan kabut berwarna merah darah yang menyebar ke udara. Suasana di tempat tersebut kini sudah benar-benar seperti tempat horor karena ditutupi kabut berwarna merah darah.


Tidak hanya sampai disitu saja efek kabut tersebut. 


"Apa?! Apa yang terjadi dengan senapan ku?" Terdengar suara seseorang di atas pohon kebingungan dan bulu kuduknya yang berdiri.


"Senapan ku juga melebur! Kenapa ini sebenarnya?" Seorang lagi juga kebingungan karena semua alat-alatnya melebur seperti debu. Selain itu ia juga tidak dapat melihat target di dalam kabut tebal tersebut karena kacamata malamnya ikut melebur.


Tidak lama kemudian suara tembakan yang dari tadi seperti gemuruh hujan pun kini berhenti menjadi keheningan. Itu karena kabut Ellisa dapat menghilangkan apapun yang memiliki bahan dasar logam.


Sringg!


Ellisa mengeluarkan pedangnya dan menghilang dari tempatnya berdiri barusan.


Srakk!


Brughh!


Terdengar suara tebasan dan suara jatuh.


Kabut darah Ellisa juga perlahan mulai memudar hingga sepenuhnya hilang.


Orang-orang yang bersembunyi tadi dikejutkan dengan penampakan beberapa tubuh rekannya yang sudah tergeletak di tanah dengan kepala yang terputus dan darah yang bersimbah mewarnai bunga serta rerumputan.


...***...


"Paman, kenapa istriku belum kembali juga?!" Xio berbicara di telepon dengan Adam menggunakan handphonenya Chris karena Xio dan Ellisa memang tidak membawa handphone.


"E- Tapi Nyonya sudah kembali setengah jam yang lalu-"


Tutt….


Xio langsung mematikan teleponnya. Sadar sesuatu pasti terjadi pada istrinya, ia dengan tidak sengaja mengeluarkan sedikit aura kemarahannya sehingga menyebabkan listrik di pulau tersebut padam dan membuat kegaduhan serta teriakan para wanita yang kaget karena semuanya tiba-tiba menjadi gelap.


Didalam kegelapan tersebut Xio menghilang begitu saja tanpa ada seorangpun yang menyadarinya, atau mungkin hanya para bawahannya saja yang mengenal dari mana aura menyeramkan barusan.


...****************...