Cross The World With System

Cross The World With System
Masa lalu Jhonatan



...----------------...


keesokan harinya. selesai sarapan bersama, Xio beserta Jhonatan dan Rose berkumpul di ruang tamu untuk berbicara. Sedangkan Ellisa dan Arthur menemani Leon dan Lena yang ingin berlatih bersama dengan para bawahan Xio di mansion.


"Nenek, apakah tidak apa-apa kalau menambahkan marga ayah di dalam marga kakek?" Tanya Xio.


"Memangnya kenapa?" Kata Rose bertanya balik.


"Soalnya di keluarga ayah hanya tinggal ayah sendiri saja yang masih memegang marganya dan aku juga sudah mengganti margaku menjadi marga kakek." Jawab Xio karena ia merasa menyayangkan kalau tidak ada yang meneruskan marga ayahnya.


"Tidak apa-apa sih, Azril juga pasti membolehkannya." Kata rose kemudian melirik kearah Jhonatan yang dari tadi terlihat sedang ada pikiran. "Aku lihat-lihat dari tadi kamu bengong terus, memangnya kamu sedang memikirkan apa?" Tanya Rose pada Jhonatan. Rose ini sudah bersikap layaknya seorang ibu pada Jhonatan begitupun dengan Jhonatan yang menganggap Rose seperti ibunya sendiri.


"Aku sedang berpikir apakah Tuan Azril akan marah jika tahu aku tinggal kembali bersama Xio. Aku sudah dapat mengira kalau Tuan Azril menyayangi Xio dengan bukti ia pernah berencana membuat hancur perusahaanku dulu ketika setelah hari aku menyakiti Xio, tapi untungnya aku bisa mempertahankannya." Jelas Jhonatan.


Rose tersenyum, "Apakah kamu tidak tahu siapa nama asli pria bernama Matthew yang waktu itu membatu mu?." Tanya Rose.


"Jadi maksud ma'am laki Pops Matthew itu adalah Tuan Azril?" Dengan wajah terkejut Jhonatan kembali bertanya. ia juga baru sadar kalau Rose kan pasangannya hanya Matthew saja.


Rose mengangguk, "Benar jadi dia pasti akan memaafkan perbuatanmu pada Xio waktu itu jika Xio juga sudah memaafkanmu." Kata Rose, Namun wajah Jhonatan malah semakin lesu.


"Nenek coba ceritakan masa lalu ayah, aku sangat penasaran." Ujar Xio karena ia mengira semua orang yang ia kenal pasti pernah mengalamibkejadian khusus dengan Azril sehingga Xio berpikir ini semua kebetulan atau sudah ada yang merencanakannya.


Rose melirik kearah Jhonatan untuk meminta persetujuannya dan Jhonatan menjawab dengan anggukan.


Flashback


Jhonatan lahir di Negara AS, dan ia juga menjadi yatim piatu ketika usianya 16 tahun karena kedua orang tuanya mengalami kecelakan sehingga meninggalkan perusahaannya waktu itu pada Jhonatan yang saat itu sangat Nakal dan juga sering terlibat dalam kasus karena pergaulannya.


Satu tahun perusahaan tersebut di pegang oleh Jhonatan tapi ia bukan membuatnya berkembang malahan membuatnya semakin menurun dengan drastis. Walaupun Jhonatan memang pintar tapi kerjaannya tiap hari selalu ke klub malam untuk mabuk-mabukan dan juga ke Kasino untuk berjudi.


Dengan umurnya yang waktu itu masih muda, Membuat dirinya mudah sekali ditipu serta termakan omongan dan hasutan dari orang lain.


Pernah sekali ia datang ke Kasino dan mengikuti perjudian yang diajak oleh teman-temannya yang sama memiliki perusahaan mereka sendiri. di awal-awal permaianan Jhonatan selalu memenangkan permaianan tersebut, permainan terus berlanjut dan harga yang ditaruh kan pun semakin lama semakin meningkat, karena ia menang terus.


Dengan percaya dirinya mempertaruhkan perusahaan miliknya karena merasa akan menang, Namun ternyata durinya sudah termasuk kedalam jebakan yang sudah direncanakan oleh teman-temannya yaitu mereka akan terus mengalah sampai akhirnya Jhonatan mempertaruhkan perusahaan miliknya maka mereka akan langsung membalikan keadaan.


"Tidak seru kalau hanya sedikit, apakah kalian berani mempertaruhkan perusahaan kalian?" Tanya Jhonatan dengan percaya dirinya karena dari awal permainan ia selalu menang dan telah terbawa suasana.


"Kata siapa kita tidak berani?, baiklah aku ikut!" Jawab teman Jhonatan diangguki oleh teman-temannya yang lain dengan tersenyum jahat. Mereka sudah tahu kalau Jhonatan sangat pandai dalam berjudi jadi mereka merencanakan rencana curang untuk mengalahkan nya.


Mereka menandatangani kontrak tanpa ada keraguan sama sekali di wajah meraka. Permainan pun akhirnya dimulai, sampai akhirnya Jhonatan dinyatakan kalah. dengan terkejut Jhonatan pun berpikir tidak mungkin untuk dapat membatalkan taruhannya karena ia sudah menandatangani kontrak sehingga ia berpikir jalan terakhir adalah dengan harta terakhirnya yaitu sertifikat rumah orang tuanya. Namun sayangnya Jhonatan telah dicurangi sekali lagi tapi ia akhirnya menyadari kalau dari tadi dirinya sudah dicurangi.


Jhonatan mulai berdebat dengan mereka tentang kecurangan yang sudah mereka lakukan tapi mereka tidak mengakuinya sama sekali, karena sudah terbawa emosi Jhonatan pun memukul salah satu dari mereka dibagian kepalanya sampai tidak sadarkan diri namun naas dengan dirinya yang seorang diri tidak mungkin menang melawan 4 orang lainnya. Mereka memukuli Jhonatan hingga babak belur dan kemudian meninggalkannya tergeletak di lantai.


Kenapa tidak ada petugas keamanan yang menghentikannya, itu karena dari seawal Jhonatan masuk kedalam kasino tersebut sudah ada seorang pria dan wanita yang mengawasinya yaitu Rose dan Azril yang ternyata pemilik kasino tersebut pada saat itu juga umur mereka 27-30 tahunan. Sedari awal Rose berniat untuk mengusir mereka tapi Azril menghentikannya.


"Biarkan dulu saja, Aku ingin anak ini merasakan bagaimana rasanya ketika sudah tidak punya apa-apa lagi dan sudah tidak mempunyai orang yang bisa ia andalkan lagi." kata Azril.


"Apakah kamu kenal siapa anak ini?" Tanya Rose.


Azril mengangguk. "Anak ini adalah orang pertama yang aku temui dan membantuku ketika aku datang ke bumi, dan waktu itu dia masih berumur 14 tahun." Jawab Azril.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang padanya?" Tanya Rose lagi.


"Aku akan membuatnya sadar apa kesalahan nya selama ini, dan aku juga akan membuat dirinya bisa merebut kembali apa yang sudah menjadi milik nya." Jawab Azril, "Bawa anak itu keruangan kami!" perintah Azril pada seorang penjaga.


Tak lama kemudian pintu terbuka dan penjaga tadi datang dengan membawa Jhonatan yang tidak sadarkan diri, Azril langsung menyuruh orang tersebut untuk menidurkan Jhonatan di sofa kemudian penjaga tersebut untuk keluar.


Setelah penjaga tersebut pergi, Rose menyerahkan sebuah topeng yang hanya dapat menutupi setengah wajah saja pada Azrill. "Pakai ini, dan saat ini namamu adalah Matthew." Kata Rose.


Melihat wajah Azril yang kebingungan, Rose pun mengehela nafas. "Dia kan sudah mengenalmu, dengan sifatnya yang saat ini dia pasti akan memintamu mambalas budi untuknya. Jadi kamu harus menutupi identitasmu terlebih dahulu." Jelas Rose.


"Wanitaku memang pintar." kata Azril mencium kening Rose. "Nanti malam aku pasti akan memanjakanmu." lanjutnya berbisik di telinga Rose.


"Dasar Mesum!" Seru Rose mendorong wajah Azril. Azril pun tertawa kemudian langsung mengenakan topengnya kemudian melanjutkan menggoda Rose.


"Uhukk.. uhukk..." Jhonatan mulai membuka matanya dan melihat ke sekitar. "Diamana ini?." Ucapnya belum melihat Rose dan Arthur. "Akhh...!!" Jhonatan langsung memegang kepalanya yang terasa cenat cenut akibat terkena pukulan.


Azril berjalan mendekati kearah Jhonatan, "Siapa kamu?!" Kata Jhonatan memasang Sikap Waspada namun lagi-lagi tubuhnya langsung merasakan kesakitan. "Akhh...Jangan Mendekat, Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Tolong jangan apa-apakan aku!!" Jhonatan mundur sedikit sedikit ketika melihat Azril mulai dekat dengannya.


Azril memegang kepala Jhonatan.


Deg!!


Tiba-tiba saja Jhonatan melihat kembali bayang-bayang dirinya sebelum kedua orang tuanya meninggal dan hidupnya setelah ditinggalkan kedua orang tuanya. Selesai di perlihatkan kembali masalalu nya oleh Azril, Jhonatan tiba-tiba saja langsung memeluk Azril sambil menangis.


"Tolong maafkan aku ayah, ibu. Aku menyesal tidak berbakti pada kalian selama ini, maafkan aku juga karena telah kehilangan perusahaan yang selama ini kalian berdua kembangkan. Tolong Maafkanlah atas semua kesalahan ku, aku berjanji akan menjadi orang yang baik dan akan merebut perusahaan ku kembali." Kata Jhonatan tidak melepaskan Pelukannya.


Azril yang di peluk seperti itu merasa risih tapi kasihan juga, ia melirik kearah Rose yang ternyata sedang menahan tawa.


"Hei bocah, aku bukan orang tuamu!" Kata Azril.


"Huftt Bauklah." Kata Azril menghela Napas. "Apakah kamu sungguh-sungguh ingin merebut milikmu kembali?" Tanya Azril.


"Tentu saja!!" Jawab Jhonatan, "Kalau aku bisa kembali kemasa lalu, aku ingin sekali memperbaiki sikap dan tingkah laku ku yang aku sangat menyesal sudah menjadi seperti itu."


lanjutnya.


Azril tersenyum "Baiklah kalau memang kamu bersungguh-sungguh, pertama aku akan memasukanmu kembali kesekolah." Ucap Azril karena Jhonatan memang sudah berhenti sekolah karena dulu biar berpikir untuk apa sekolah kalau sudah kaya. "Dan mulai sekarang kamu boleh tinggal bersama kami." Lanjutnya.


"Terima kasih Tuan??"


"Matthew dan ini Rose."


"Terimakasih Tuan dan nyonya Rose, aku berjanji akan membalas kebaikan kalian kembali." Kata Jhonatan diangguki oleh Azril.


Azril langsung mengambil kotak P3K dan langsung mengobati luka-luka Jhonatan. Selesai mengobatinya Azril pun langsung mengajaknya pulang kerumahnya dan Rose.


Keesokan harinya Jhonatan pun mulai bersekolah kembali, Ketika akan diberi uang bulanan oleh Azril, Jhonatan menolaknya dan ia malah meminta untuk bekerja di kasino saja. dan Azril pun menyetujuinya.


Satu tahun Jhonatan tinggal bersama dengan Azril, tapi Azril tidak pernah membuka topengnya ketika bersama Jhonatan.


Jika ada hari libur juga Jhonatan akan dilatih sangat keras oleh Rose seperti militer. Ketika hanya rose berdua saja dengan Jhonatan, Rose selalu menyuruh Jhonatan melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Namun Rose selalu tersenyum ketika melihat Jhonatan mengadukan dirinya pada Azril, Rose berpikir mereka berdua sudah seperti anak dan ayah. Azril juga selalu membawa Jhonatan menghadiri acara-acara penting seperti pesta, pelelangan dan masih banyak lainnya.


Ketika lulus SMA, Azril mengirim Jhonatan untuk melanjutkan sekolahnya diluar negeri yaitu di Indonesia. Satu tahun di indonesia, Jhonatan tidak mendapatkan kabar sama sekali dari Rose ataupun dari Azril. Jadi ia memutuskan pulang ke AS, Jhonatan pun dengan perasaan gembira karena akan bertemu kembali dengan dua orang yang sudah ia anggap seperti orang tua sendiri. Namun sayangnya ketika sampai di rumah yang dulu ia tinggali dengan Azril dan Rose, Rumah tersebut sekarang sudah menjadi puing-puing seperti habis kebakaran.


Jhonatan langsung bertanya pada orang-orang sekitar apa yang sudah terjadi, dan jawaban nya Telah terjadi kebakaran beberapa bulan yang lalu dirumah tersebut. Dengan perasaan yang campur aduk Jhonatan langsung mendatangi rumah sakit tempat para korban dibawa namun rumah sakit tersebut mengatakan kalau tidak ada korban yang nama-Nya Rose ataupun Matthew.


Jhonatan juga datang ke kasino namun sayangnya kasino tersebut juga sudah di tutup. Jhonatan langsung merasa terouruk karena tidak bisa menemukan mereka berdua, padahal ia belum membuktikan kalau dirinya merebut perusahaan nya kembali dan yang paling membuatnya terpuruk adalah ia belum membalas kebaikan mereka berdua.


Flashback Off


"Aku sudah menganggap kalian berdua seperti ibu dan ayah kandungku tapi kalian tiba-tiba saja menghilang entah kemana sebelum aku membalas semua kebaikan dan kasih sayang kalian." Lirih Jhonatan. Xio juga baru tahu kalau masalalu ayahnya seperti itu karena yang ia tahu kalau orangtua Jhonatan sudah tidak ada.


"Waktu itu sebenarnya aku memiliki masalah dengan Azril, jadi aku kabur darinya tanpa sepatah katapun. Mungkin Rumah itu juga terbakar karena Azril yang mengamuk." Jelas Rose. "Terimakasih sudah menganggap kami berdua sebagai orang tuamu, Kami juga sebenarnya sudah menganggap kamu seperti anak sendiri karena aku tidak bisa memiliki anak. maafkan kami tidak memberimu kabar selama ini" lanjutnya.


Rose menghela nafas, "Hahhh Entah kenapa aku jadi ingin bertemu dengan Pria mesum itu." Kata Rose diangguki oleh Jhonatan.


"Nenek, Apakah nenek sebelumnya sudah pernah ke dunia asal kakek?" Tanya Xio.


"Tidak, tapi Azril pernah menceritakan tempat-tempat menarik yang ada di dunia asalnya dan aku hanya mengingat sebagian saja." jawab Rose.


"Bagaimana kalau sekarang kita kedua Flix?" Ujar Xio diangguki oleh Rose dan Jhonatan.


"Tunggu dulu aku akan memanggil Ellisa dan anak-anak terlebih dahulu." Xio tiba-tiba saja menghilang dihadapan mereka dan kembali lagi bersama Arthur, Ellisa dan anak-anak.


'Oh iya aku lupa, seharusnya hari ini adalah hari penobatan Ellisa sebagai Ratu.' Pikir Xio, 'Semoga saja mereka sudah selesai mempersiapkan nya.' Xio sebenarnya sudah menyuruh para bawaannya untuk menyiapkan perayaan atas kembalinya Ellisa dan pernikahan mereka. Xio juga akn mulai memperkenalkan dirinya pada seluruh warganya.


Langsung saja Xio menteleportasikan rumahnya, dan dengan seketika rumah mereka sudah berada di taman istana. Ketika mereka keluar rumah sudah ada para bawahan Xio.


"SELAMAT ATAS PERNIKAHAN YANG MULIA DENGAN YANG MULIA RATU!" Tegas mereka secara bersamaan. Xio membalasnya dengan anggukan.


"Ellisa ayo ikut sebentar. dan Sebas tolong Bantu Leon dan Lena." Xio langsung membawa Ellisa ke sebuah ruangan yang di sana sudah ada para pelayan perempuan yang memegang sebuah gaun berwarna putih biru.


"Xio, untuk apa gaun itu?" Tanya Ellisa. "Pakai dulu saja." Jawab Xio. Ellisa pun langsung memakai gaun tersebut dibantu oleh para pelayan.


"Tinggal satu yang kurang." Xio langsung mengeluarkan sebuah mahkota. "Tap-" Ellisa akan bicara tapi terpotong.


"Jangan menolak karena sekarang kamu sudah sah menjadi Ratuku dan juga Ratu kerajaan Regalia." Kata Xio langsung memakaikan Mahkota tersebut di atas kepala Ellisa.



"Nah Cocok Sekali keanggunan mu bertambah berkali-kali lipat." Kata Xio. "Tunggu sebentar yah aku juga akan mengganti pakaian ku dulu." Xio langsung masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian karena di ruangan barusan masih banyak pelayan wanita.


Tak lama kemudian Xio pun kembali dengan mengenakan Jubah dan juga mahkota kebesarannya.


"Apakah hari ini kamu berniat untuk memperkenalkan dirimu kesemua orang?" Tanya Ellisa, Xio tersenyum dan mengangguk.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG