Cross The World With System

Cross The World With System
Throne Room



...----------------...


Tengah malam hari dimana rembulan bersinar menerangi langit yang begitu gelap. Angin malam yang sangat dingin, dan juga suara serangga-serangga kecil diluar sana yang saling bersahutan bagaikan lagu pengiring tidur untuk para elf yang sedang pada tidur tidak merasa terganggu dengan suara nyaringnya serangga.


Masih dirumah Meryl. Leon dan Lena kini sudah tertidur pulas bersama dengan Meryl dikamarnya bertiga, sebab hanya ada satu kamar tidur saja di rumah tersebut.


Sementara Xio masih terjaga sepanjang malam, duduk di kursi di tengah rumah, memandang keluar jendela memperhatikan rembulan yang sedikit terhalang dedaunan pohon-pohon yang tinggi tersebut.


Dia tidak merasakan kantuk sedikitpun, sejak dia bertambah kuat, kegiatan yang sering disebut tidur atau rasa kantuk sudah tidak terlalu sering ia rasakan. Kantuknya hanya akan tiba apabila tidak tidur selama 3 hari lebih, atau saat terlalu banyak menghabiskan mana.


Beruntungnya Xio memiliki seseorang yang sama tidak terlalu membutuhkan tidur seperti dirinya yaitu Ellisa. Ellisa menemaninya di malam hari ketika dia tidak bisa tidur. Dengan saling bercengkrama atau hanya sekedar duduk berdua di balkon kamar menikmati pemandangan bintang di langit sambil menceritakan kenangan-kenangan mereka saat kecil yang membuat mereka geli sendiri ketika menceritakannya.


Sekarang ketika Xio tidak tidur, dia teringat dengan Ellisa di bumi. Khawatir istrinya itu tidak tidur.


"Kuharap istriku tidurnya nyenyak." Gumam Xio.


Tidak lama kemudian dia bangkit dari kursinya dan mengeluarkan sebuah jubah sutra putih berpola bunga emas di sisi-sisinya. Ia memakai jubah tersebut untuk menutupi tubuhnya.


"Hei hei mau kemana?" Tanya Heldir yang terbang ke dekat Xio.


"Aku pergi dulu sebentar. Kamu tetaplah disini." Jawab Xio.


"Tunggu, biarkan aku ikut denganmu!" 


"Tidak. Tetaplah disini jaga anak-anakku." Kata Xio yang tiba-tiba menghilang dari tempatnya berdiri barusan tanpa meninggalkan jejak.


"Cih memangnya aku tempat menitipkan anak?!" Gerutu Heldir. "Hahh..tidak apa-apalah." Ucapnya pasrah kembali terbang ke dalam kamar ke atas rak yang terlihat disana terdapat kasur kecil untuk ukurannya. Kasur kecil tersebut merupakan pemberian Lena yang sebenarnya kasur mainan untuk bonekanya. Tapi Heldir sangat menyukainya.


***


Di kerajaan Regalia, lebih tepatnya di dalam istana di lorong menuju ruang tahta. Terlihat Sebas berjalan dengan cepat menuju ruangan tersebut, dan tak lama kemudian disusul oleh 7 dosa serta 7 kebajikan yang mulai berdatangan juga.


Mereka semua baru saja mendapatkan kabar dari Sebas kalau tuannya sudah kembali dari bumi dan saat ini sudah berada di ruangan ruang tahta nya. Dari yang masih beraktivitas ataupun yang sudah tidur, langsung segar kembali ketika mendengar kabar dari Sebas. Tidak sabar ingin bertemu kembali dengan Tuannya.


Sekarang sebas tidak berjalan seorang diri lagi. Di Belakangnya sudah ada para dosa dan kebajikan yang berjalan beriringan.


"Kemana Azco?" Tanya Lucifer yang berjalan tepat di belakang Sebas.


"Dia dalam perjalanan." Jawab Sebas.


"Sksk...lamban seperti orang tua." Kata Lucifer meledek. Sedangkan sebas hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mereka terus berjalan di lorong Luas tersebut yang samping kanannya menunjukkan langsung ke halaman istana, sedangkan samping kirinya dinding berwarna putih dengan pot-pot bunga yang menggantung serta beberapa lampu yang terang. Sampai akhirnya tibalah mereka di depan pintu putih besar dengan tinggi 5 meter dan lebar 4 meter. Serta disetiap sisinya yang berlapiskan emas berkilau.


Ketika Sebas mau menyentuh pintu tersebut, tiba-tiba terdengar suara teriakan Azco dari belakang yang menghentikannya.


"Sebas tunggu!" Seru Azco melesat dengan cepat ke arahnya, dan berhenti tepat di hadapan semua orang.


"Kemana saja kamu?" Tanya sebas.


"Maaf terlambat. Barusan aku menemani istriku dulu." Jawab Azco.


"Baiklah. Kita masuk saja sekarang." Kata Sebas yang kali ini sudah menyentuh pintu besar tersebut. Tapi entah kenapa perasaan kali ini dia merasa gugup.


Tanpa menunggu lebih lama, Sebas segera mendorong pintu tersebut untuk membukanya.


Di ruang yang luas nan megah dengan bermacam-macam patung besar di setiap sudut. Ah! Terkejutnya mereka melihat seorang dengan jubah putih menudungi kepalanya tanpa terlihat wajah sedang duduk di kursi singgasana raja mereka.




Sumber cahaya yang menerangi ruangan tersebut berasal sebuah dari berlian bening dan besar yang menggantung di langit-langit, dan cahaya langsung dari rembulan yang menyorot masuk melewati jendela patri bergambar matahari dan bulan serta seorang anak kecil di tengahnya.


Sebas sama sekali tidak dapat merasakan aura Xio di tempat tersebut. Padahal tadi sebab mendapatkan pesan telepati dari Xio yang mengatakan kalau dirinya sudah berada di ruangan itu. Lantas siapa orang misterius yang sekarang sedang duduk di kursi singgasananya?


Semuanya hening. Orang dengan jubah putih itu juga tidak bergerak atau mengeluarkan suara sama sekali.


Sebas melirik ke arah Azco dan dibalas anggukan pelan oleh Azco yang ternyata sama tidak dapat merasakan aura Xio.


Dalam waktu satu sepersekian detik, Sebas dan Azco menghilang dari tempatnya berdiri barusan. Dan  tiba-tiba saja mereka berdua sudah berada di depan kursi singgasana tepat di hadapan orang berjubah putih.


Sebas muncul sambil memegang belati emas yang ditodongkan tepat di depan dada orang berjubah putih tersebut. Sedangkan Azco mengeluarkan tangan aslinya yang memiliki sisik keras dan cakar yang tajam. Mereka berdua sama-sama mengarahkan Benda tajam tersebut didada orang tersebut. Bahkan belati emasnya Sebas dan juga cakarnya Azco sudah menyentuh jubah sutra halus itu.


"Siapa kamu dan dimana Yang Mulia?" Kata Sebas sedikit menekankan belatinya.


"Apa kamu merasakannya juga?" Azco bertanya pada Sebas. Dekat dengan orang tersebut Azco merasakan aura suci yang kuat.


"Apa tujuan malaikat kemari?" Introgasi Sebas lagi meninggikan suaranya mengira orang tersebut berasal dari ras malaikat.


Tidak ada Jawaban sama sekali. Orang itu malah terlihat tersenyum di balik tudung yang hanya memperlihatkan bagian bibirnya saja.


Sementara itu para dosa dan kebajikan saat ini tengah keheranan. Bagaimana malaikat bisa masuk kedalam istana, sedangkan mereka masing-masing yang menjaga setiap sisi istananya.


Whooss!


Brakkk!


Sebas dan Azco tiba-tiba saja mental ke belakang melesat dengan cepat hingga punggung mereka menabrak dinding sampai tercipta retakan yang luar biasa di dinding yang mereka tabrak.


Para dosa dan kebajikan segera memasang posisi tempur mereka baik untuk menyerang ataupun untuk bertahan.


"Uhukk!!..." Sebas berdiri sambil memegang perutnya dan terlihat darah keluar dari mulutnya. "Hati-hati dia sangat kuat." Dia memperingati ketujuh dosa dan kebajikan. Sebas masih mengingat barusan pria berjubah putih itu hanya mengetukkan jarinya di pegangan kursi. Tapi hanya dari ketukan kecil tersebut saja mengeluarkan energi yang sangat besar, bahkan bisa menghempaskan dirinya dan juga Azco.


Para dosa dan kebajikan atau yang sering Xio sebut Proprium mencakup ke 14 orang tersebut. Mereka awalnya terkejut melihat Sebas dan Azco terhempas oleh orang tersebut yang secara mereka berdua adalah orang terkuat di kerajaan tersebut setelah Xio dan Ellisa. Tapi mereka langsung sadar kalau saat ini bukan saatnya untuk pesimis, mereka harus melawan orang misterius tersebut.


Di seberang mereka melihat orang misterius tersebut menyunggingkan bibirnya tersenyum meremehkan.


Secara bersamaan para Proprium berpencar mengelilingi kursi singgasana dengan jarak lebih dari 2 meter bersiap untuk menyerang.


Zzaapp!


Mereka semua melesat ke arah pria misterius tersebut dengan senjata signature mereka masing-masing yang diarahkan padanya.


Tapi belum juga mereka sampai, Pria misterius itu terlihat mengangkat satu tangannya kedepan dan keluar cahaya di sekelilingnya yang membentuk seperti jarum tajam besar yang kemudian jarum-jarum cahaya tersebut melesat ke segala arah.


Semuanya terkena jarum yang menembus tubuh mereka dan membuatnya membeku di tempat itu juga. Tapi rupanya ada yang dapat menghindarinya, ia adalah Lucifer.


Trangg!


Dengan sebuah sentilan kapak Lucifer hancur seketika, dan Lucifer sendiri terpental ke atas dengan keras hingga menabrak lampu berlian gantung tersebut dan membuatnya terputus dari langit-langit karena saking kencangnya hantaman tubuh Lucifer.


Berlian besar yang terlihat cantik tapi berat tersebut pun terjun ke bawah yang disana terdapat pria misterius tadi bersama dengan para Proprium yang masih belum dapat bergerak.


Sebas kembali melesat ke depan ketika melihat pria tersebut akan pergi untuk menghindari berlian besar itu. Dia berdiri di depan pria tersebut sambil mencengkram pundaknya agar tidak kabur dan supaya tertiban oleh berlian itu. Walaupun dia yakin harus ikut terkena jatuhan itu juga, tapi dia tidak peduli asalkan pria tersebut juga ikut dengannya.


Sebas masih melihat pria tersebut masih sempat-sempatnya tersenyum walau sudah tahu akan tertiban.


"Malaikat makhluk paling menjijikan di kerajaan Regalia." Kata Sebas tubuhnya mengeluarkan aura berwarna emas yang sangat kuat, dan dari tangannya keluar benang-benang emas yang secara cepat mengikat pria tersebut. Dan sisanya digunakan untuk menarik para Proprium keluar dari area jatuhnya Cristal besar itu.


"Maaf Yang Mulia aku belum bisa menemani perjala-"


PRANGG!!!


Azco yang masih duduk tidak berdaya membelalakkan matanya melihat Cristal besar tersebut jatuh rapat mengenai Sebas. Begitupun para Proprium yang masih belum bisa bergerak, tapi mereka masih dapat melihat.


"Tidak...sebas…"  Ucap Lucifer terkapar lemas di lantai dengan darah di mulut dan pakaiannya.


Sebas memang orang yang datar tanpa ekspresi, tapi terkadang dia juga sangat garang kalau ada yang melakukan kesalahan. Selain itu, mereka juga mengenal sebas karena keloyalannya pada Xio dan kerajaan Regalia. Dia bahkan terlihat bersedia menyerahkan nyawanya jika Xio meminta.


Tapi sekarang mereka malah melihat bagaimana akhir dari bawahan Tuan mereka yang paling loyal.


Semua orang yang ada di istana terkejut mendengar suara benda jatuh yang suaranya cukup keras. Dan Lebih terkejut lagi karena asal suara tersebut dari ruang tahta. Para penjaga dan beberapa pasukan yang terdekat pun segera bergegas menghampiri asal suara tersebut. Mereka tercengang ketika melihat sebuah lampu gantung berlian yang sangat besar sudah hancur di lantai, tanpa tahu apa yang sudah terjadi disana.


Azco berjalan ke arah reruntuhan tersebut sambil memegang perutnya yang masih terasa nyeri.


"Malaikat Sialan…" Geramnya.


"Apa yang terjadi disini?" Terdengar suara yang sangat Azco kenal berasal dari pintu ruangan.


"Yang Mulia!" Seru Azco segera berbalik badan setelah mendengar suara Xio.


Azco terkejut melihat Xio mengenakan jubah berwarna putih sama dengan orang yang tadi mereka lawan, bahkan pola bunga emas di sisi-sisinya pun sama persis.


Azco kembali menoleh ke arah pecahan lampu berlian dan ke arah Xio memastikan. Sampai ia mendengar suara teriakan sebas lagi, tapi suaranya berasal dari belakang Xio yang berdiri di seberang.


"BERI SALAM PADA YANG MULIA!!" Sebas muncul di belakang samping kiri Xio.


"Apa?! Bukankah tadi kamu…" Azco bingun sekaligus terkejut, karena tadi dia jelas-jelas melihat sebab tertiban lampu berlian besar tersebut, dan sekarang bagaimana dia sudah berdiri disana dengan sehat tanpa luka.


Semua prajurit yang tadi datang ke tempat tersebut segera memberi salam hormat pada Xio dengan menggenggam tangan mereka di dada dan sedikit membungkukkan tubuhnya sambil seraya mengucapkan, "Salam Yang Mulia…" 


"Maaf yang mulia, mereka sepertinya belum bisa bergerak." Kata sebas menunjuk para Proprium.


"Ah ya aku lupa melepaskannya." Ucap Xio mengangkat satu tangannya dan dengan seketika dari tubuh para Proprium keluar lagi jarum cahaya yang membekukan mereka tadi.


Azco dan yang lainnya pun paham yang sebenarnya terjadi.


Mereka segera berdiri di hadapan Xio berjajar ke samping. Secara bersamaan mereka juga memberi salam hormat pada Xio.


"Maafkan bawahanmu yang masih lemah ini." Kata Azco menundukkan kepalanya.


"Selama aku tidak ada sepertinya kalian sudah meningkat kekuatan kalian. Bagus aku bangga dengan keteguhan kalian barusan saat melawanku." Kata Xio. "Kalian tidak lemah, hanya…."


"Kekuatan Yang Mulia terlalu jauh dengan kami." Sahut Lucifer.


"Haha…sepertinya aku terlalu keras yah. Padahal aku niatnya ingin mengetes kalian saja." Kata Xio melihat darah di mulut dan pakaian Lucifer.


"Kami senang yang mulia mau mengapresiasi Kekuatan kami." Kata Azco diangguk-angguki oleh semuanya.


"Hm, obati diri kalian dulu. Setelah itu datanglah ke ruang rapat." Ujar Xio.


"BAIK YANG MULIA!" Seru semuanya serentak.


Xio berbalik badan dan berjalan keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh Sebas di belakangnya.


Azco bersama dengan yang lainnya segera menyembuhkan diri dengan bersemangat. Mereka tidak marah atau kesal ketika tahu kalau yang tadi dilawannya adalah Xio. Mereka justru senang seakan kemampuan mereka sedang diukur oleh Tuannya. Namun mereka merasa menyesal karena tidak mengeluarkan semua kemampuan untuk ditunjukkan.


"Kalau bisa di ulangi aku akan mengeluarkan kekuatan asliku." Kata Leviathan sang iri hati yang ingin mendapatkan pujian dari Tuannya.


"Memangnya kompetisi?" Sahut Rafael.


"Kamu juga ingin pujian Yang Mulia kan?" Kata Leviathan.


"Sksk...bocah dua ini. Dari pada bertengkar mending kalian bereskan itu!" Kata Uriel yang sedang mengobati Lucifer menunjuk bekas lampu berlian yang jatuh tadi.


"Baiklah…" Jawab Leviathan dan Rafael pasrah.


.


.


.


.


.


Ruangan rapat khusus anggota kerajaan. Disana ada sebuah meja panjang dengan kursi berderet rapi di sisinya dan sebuah kursi di ujung meja.



Ketika masuk kedalam ruangan mereka sudah dapat melihat Xio duduk di kursi yang berada di ujung meja tanpa jubah lagi, dengan Sebas yang berdiri tegak di belakangnya seperti bodyguard.


"Duduklah." Kata Xio.


...********...


...BERSAMBUNG...