
...----------------...
Sementara itu disisi Leon dan Lena.
Terlihat mereka sudah di kepung oleh banyak orang dewasa berbadan besar serta prajurit-prajurit yang sudah mengarahkan tombak mereka kearah Azco, Falma, Serta Leon dan Lena.
"Ck orang-orang bodoh."
...--------Flashback--------...
Setelah Azco dan juga anak-anak berhasil melewati gerbang penjagaan tanpa halangan sama sekali, Azco langsung menyuruh anak-anak untuk mengikutinya.
Karena tempat terakhir yang belum Azco periksa yaitu istana yang ada di kerajaan tersebut, jadi Azco memutuskan untuk kesana sekarang. Tapi ia bingung bagaimana dengan anak-anak, jika membawa mereka ikut bersama itu akan lebih merepotkan, karena dia berniat untuk mengeksplorasi istana tersebut secara diam-diam.
"Zio kesini karena ada tugas dari papah kan?" Tanya Lena dan dijawab anggukan oleh Azco.
"Kalau begitu Zio kerjakan saja dulu tugas Papah, biar kami menunggu disini saja. Kita juga pasti menjaga Falma kok, dan kalau Tugas Zio sudah selesai, Zio harus mengajak kita jalan-jalan. bagaimana?" Ujar Lena.
'Itu memang cara yang efisien sih, dan kalau aku meninggalkan anak-anak disini walaupun tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebab ada Leon dan Lena pasti baik-baik saja. tapi aku takutnya malah mereka berdua lah yang membuat kekacauan.' Batin Azco.
"Hmm...Baiklah kalian jangan tetap disini dan jangan keluyuran kemana-mana. dan juga jangan membuat masalah. Zio tidak akan lama kok." Kata Azco.
"Ok!, kita tidak akan membuat masalah." Jawab Lena bersungguh-sungguh.
Azco tersenyum dan mengelus kepala mereka bertiga secara bergantian kemudian menhilang dari hadapan mereka. bukan menggunakan teleportasi, tapi Azco menghilang dengan sekejap karena kecepatannya.
"Kakak sekarang kita ngapain?" Tanya Lena.
"Hmm..." Leon membelai dagunya sendiri sedang membuat keputusan. "Yah tidak ada, kita menunggu saja disini." Kata Leon.
Saat mereka sedang berdiri di sisi jalan, mereka melihat ada beberapa kereta melintas dihadapannya. Tapi di belakang kereta-kereta tersebut membawa kurungan-kurungan besi yang didalamnya ada banyak orang-orang dengan tangan, kaki, dan leher yang di borgol.
Tidak hanya orang-orang dewasa saja yang ada didalam kurungan tersebut, tapi banyak juga anak-anak dengan penampilan yang lusuh dan badan yang kurus seperti sudah tidak makan selama beberapa hari.
Dengan sekilas Leon dan Lena-pun sudah tahu kalau orang-orang yang ada dalam kurungan tersebut adalah mereka yang dijadikan sebagai budak karena alasan tertentu seperti tidak bisa membayar hutang atau sebagainya. Tapi yang membuat Leon dan Lena geram yaitu kenapa mereka harus menangkap anak kecil juga, bahkan terlihat ada anak kecil yang masih berumur 3 tahun.
Falma menggenggam erat tangan Leon dan Lena dengan tubuh yang bergetar.
"Jangan takut Falma, aku dan kakak ada di sini." Ucap Lena membalas genggaman tangan Falma.
Falma sebenarnya memiliki trauma dengan yang namanya budak, karena ia dulu di buang oleh keluarganya dan dijadikan seorang budak. Tapi karena kekurangan yang dimilikinya, sehingga tidak ada yang mau membeli dirinya dan dia pun di buang ke jalanan di biarkan hidup menjadi gelandangan.
"Kakak mau kemana?!" Seru Lena melihat Leon berjalan meninggalkan mereka.
Leon berjalan cepat dan berdiri tepat didepan kereta tersebut hingga membuat kereta tersebut berhenti.
"HEI BOCAH SIAPA KAU?!! CEPAT MENYINGKIR, KAU INGIN MATI YAH!!" Gertak kusir yang mengendarai kereta tersebut.
Leon mengangkat tangannya kedepan, dan dengan seketika roda-roda kereta tersebut langsung terpisah menggelinding ke segala arah. Sehingga kereta tersebutpun menjadi ambruk sebab sudah tidak ada lagi penopangnya.
"Kuggh!" kusir serta orang-orang yang ada di dalam kereta kaget karena tiba-tiba mereka terhentak ke tanah.
"Sial*n apa yang sudah kamu lakukan dengan keretaku huh?" Keluar seorang pria setengah macan dari dalam kereta sambil memijat kepalanya sendiri karena merasa pusing dengan hentakan yang tiba-tiba barusan.
"Saya tidak tahu tuan, saat anak itu mengangkat tangannya tiba-tiba saja roda-roda keretanya terpisah." Jawab kusir.
Karena kusir tersebut memanggil pria itu dengan sebutan tuan, itu berarti dialah orang yang menjadi ketua atau pemilik semua budak-budak tersebut.
"Bukankah itu Keith?"
"Ya bukankah itu Keith?"
"Benar dia Keith orang yang jadi bandar perbudakan terbesar itu."
"Bocah itu pasti tidak akan selamat."
"Hum pasti bocah itu akan dijadikan budak juga."
"Aku mendengar Keith juga bekerjasama dengan orang istana loh."
Begitulah bisik-bisik orang yang berada dekat dengan tempat Leon berdiri.
Saat ini sudah ada beberapa orang lagi yang berdiri di belakang Keith, kelihatannya mereka merupakan anak buahnya Keith.
"Cepat tangkap anak itu!" seru Keith memerintah anak buahnya.
Satu orang dari mereka pun langsung maju berniat untuk menangkap Leon. Tanpa tahu kalau saat ini anak yang ingin ditangkapnya sedang tersenyum licik dibalik tudung jubahnya.
Saat anak buah Keith itu sudah dekat dan ingin menangkap Leon, tiba-tiba saja kepala orang tersebut sudah terpisah dan menggelinding di tanah yang sontak membuat orang-orang terkejut. Sama sekali tidak ada orang yang melihat apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"APA YANG KALIAN TUNGGU BODOH!! CEPAT TANGKAP ANAK ITU!!" Perintah Keith.
Lima orang anak buahnya pun langsung berlari kearah Leon. Tapi sayangnya belum juga sampai, kepala mereka sudah terputus semua.
Terlihat wajahnya Keith juga menjadi masam, ia berpikir mana mungkin anak kecil yang saat ini berdiri di depan sana bisa menjatuhkan lima anak buahnya sekaligus. padahal dia yakin sekali kalau anak buahnya kuat-kuat.
"Apa yang sudah terjadi disini?" Azco tiba-tiba saja sudah berada disamping Lena dan Falma yang lantas membuat mereka berdua terkejut.
"Kakak sedang melawan penjual budak." Jawab Lena menunjuk Leon.
Azco menepuk jidatnya sendiri, "Hahh padahal aku sudah bilang jangan membuat keributan." Azco menghela nafas kasar.
"ITU DIA ORANGNYA!!! CEPAT TANGKAP!!!" Teriak salah seorang Prajurit menunjuk Azco.
Terlihat banyak sekali prajurit yang menngunakan zirah serta membawa senjata mereka masing-masing.
Azco langsung melesat kearah Leon lalu kembali ke tempatnya semula sambil menggendong Leon. Tanpa sengaja ia malah membuka tudung yang di kenakan Leon.
"Zio, kenapa prajurit-prajurit itu mengejar zio?" Tanya Leon dengan santainya, Tidak melihat bagaimana reaksi orang-orang di sekitar yang terkejut ketika melihatnya yang berwujud manusia setengah serigala putih.
"Fenrir?!" Gumam semua orang yang ada di sana. Mereka mengira Leon berasal dari ras Legenda Serigala putih yaitu ras Fenrir.
'Jika aku menjualnya ke orang bodoh itu, pasti aku akan menjadi kaya raya.' Batin Keith dengan tatapan penuh kerakusan.
"Hey Molt!!" Keith memanggil kapten para prajurit tadi.
"Bagaimana kalau kita bekerjasama?, hasilnya nanti kita bagi dua." Ucap Keith.
"Cihh sebenarnya aku tidak mau bekerjasama denganmu, tapi untuk kali ini aku mengikutimu." Jawab Molt.
'Haha jujur saja aku juga tidak Sudi bekerjasama dengan orang bodoh.' Batin Keith tertawa jahat, karena ia berpikir akan langsung menyingkirkan Molt jika sudah mendapatkan yang diinginkannya.
"Serahkan anak itu dan kami akan membiarkanmu pergi." Ucap Keith pada Azco.
"Benar serahkan anak itu, walaupun kamu sudah menyusup ke istana tapi jika kamu menyerahkan anak itu kita tidak akan menangkapmu." Tambah Molt.
"Cih kalian terlalu banyak bermimpi di siang bolong begini. Siapa yang akan menyerahkan pangeran pada kalian?" Kata Azco meremehkan. "Dan disini bukan aku yang akan kalian tangkap, tapi kalian semua-lah yang akan ku tangkap." Tambahnya dan diangguk-angguki oleh Leon.
"Jangan banyak bicara, CEPAT TANGKAP MEREKA!!" Seru Keith tanpa aba-aba. Anak buahnya serta anak buah Molt pun Langsung bergerak serentak kearah Azco dan anak-anak.
"Pangeran butuh bantuan zio tidak?" Tanya Azco.
Leon menggelengkan kepalanya dengan dua pedang yang sudah siap di genggaman kedua tangannya. Dia memasang kuda-kuda dan terlihat cahaya berwarna merah dimatanya yang sekejap berkerlip.
Swoosh!!
Leon melesat dengan sangat cepat kedepan menuju gerombolan anak buahnya Keith dan Molt.
Sringg!
Sring!
Sring!
Tidak sampai lima detik Prajut serta anak buahnya Keith tiba-tiba Anggota tubuh mereka terjatuh ke tanah, dan dapat dipastikan kalau mereka sudah tidak bernafas lagi melihat dari anggota tubuh yang berceceran kemana-mana.
Dan tentunya kejadian tersebut membuat Keith dan juga Molt ternganga, mereka seakan tidak percaya melihat seorang anak kecil yang dapat membuat orang sebanyak itu terjatuh hanya dalam 5 detik saja. Tapi mau tidak mau mereka harus percaya dengan apa yang baru saja terjadi melihat pedang milik Leon sudah terlumuri darah.
'Siapa sebenarnya anak ini? bagaimana dia bisa sekuat itu? jika anak kecilnya saja sudah sekuat itu, bagaimana dengan pria disampingnya itu.' Batin Keith dan Molt dengan wajah yang sudah pucat. Sementara para pejalan kaki sudah berteriak dan berlarian histeris melihat mayat yang berserakan.
"Kakak kenapa tidak bilang dulu? lihatkan Falma jadi ketakutan." Ucap Lena menggandeng Falma yang bersembunyi di punggungnya.
"Maaf maaf, barusan kakak terlalu bersemangat lupa Falma belum terbiasa." Kata Leon.
"Haha Falma tidak usah takut, Ayah kan ada disini." Azco mengelus kepala Falma.
'Sial kenapa dia kesini juga? habislah aku.' Batin Azco. Ia merasa ada kekuatan yang setara dengannya sedang mendekat dengan kecepatan tinggi.
Boomm!
Ada seseorang dari langit yang turun menghantam tanah dengan kuat hingga tercipta retakan-retakan dan kabut debu di sekitarnya. Setelah kabut tersebut menghilang, nampaklah seorang pria berumur yang mengenakan pakaian seorang kepala pelayan.
"Salam Pangeran, Tuan putri." Ucap pria tersebut yang tidak lain adalah Sebas. Dia membungkukkan dadanya sedikit untuk memberi hormat pada Leon dan Lena.
"Kakek Sebas kenapa ada disini?" Tanya Leon.
"Saya disini atas perintah Yang Mulia untuk membawa pulang Pangeran dan Tuan putri." Jawab Sebas.
Leon dan Lena pun langsung berpikir kalau itu berarti Xio sudah mengetahui mereka pergi tanpa Izin. Merekapun langsung bersembunyi di belakang Azco. Takut jika Sebas membawanya pulang akan mendapatkan hukuman dari Xio.
Sebas menatap Azco dari kaki hingga kepala, sampai membuat Azco berkeringat dingin.
"Pangeran, Tuan putri saya mohon kembali sekarang. Yang Mulia sangat mengkhawatirkan anda sekalian." Ujar Sebas.
"Apakah papah tidak akan menghukum kita?" Tanya Lena.
"Saya kurang yakin, tapi Yang Mulia pasti tidak akan memberikan hukuman berat pada anak-anak kesayangannya." Jawab Sebas.
"Ehmm baiklah, kasihan papah mengkhawatirkan kita." Ucap Lena.
"Terimakasih sudah mau mendengarkan saya." Kata Sebas.
Sementara itu Keith dan Molt sedang kebingungan apa yang sebenarnya sedang mereka obrolkan. Dan kenapa pria tersebut memanggil kedua anak kecil itu Pangeran dan Tuan Putri. Tapi seketika mereka berdua pun sadar kalau saat ini adalah kesempatan yang tepat untuk melarikan diri.
"Dan siapa kalian berdua?" Ucap Sebas yang tiba-tiba berdiri dihadapan Keith dan Molt.
"Kakek Sebas, tadi mereka berdua berencana menjual ku." Kata Leon.
"APA?!! INI TIDAK BISA DIBIARKAN, BERANINYA KALIAN INGIN KABUR SETELAH BERENCANA BURUK PADA PANGERAN!!" Seru sebas dengan nada tinggi dan terlihat juga kalau saat ini ia seperti sedang marah besar. Wajah Keith dan Molt semakin pucat ditambah dengan Keringat dingin yang bercucuran membasahi seluruh tubuh mereka.
"Gold:Tape!" Seru Sebas mengangkat tangannya dihadapan mereka berdua. Dan dengan seketika seluruh tubuh mereka berdua pun langsung terbungkus seperti mumi tapi menggunakan kain emas.
"Pangeran sekarang apa yang ingin anda lakukan pada mereka?" Tanya Sebas menunjuk para budak yang berada dalam kurungan.
"Apakah aku boleh membawanya ke kerajaan Regalia?" Leon bertanya balik.
"Hmm saya pikir itu tidak masalah, tapi apa yang akan anda lakukan pada mereka?" Ucap Sebas.
"Ada deh, itu rahasia." Jawab Leon.
"Yasudah Kalau begitu." Kata sebas. Dia kemudian melirik kearah Azco yang dari tadi diam membatu.
"Azco bawa mereka dan dua orang itu. Oh ya bawa anakmu juga jangan menyembunyikannya. Walaupun kamu sudah memasangkan Illusi, tapi aku dapat melihatnya kalau anak itu tugas yang harus serahkan pada Yang Mulia." Ucap Sebas.
Deg!
Azco membelalakkan matanya. Karena memang benar ia belum menemukan ras boldul yang lain selain Falma di kerajaan tersebut. Dan Saat ini Sebas orang yang selalu berada di sisi Xio sudah mengetahui keberadaan Falma.
Falma memeluk kaki Azco erat. "Tidak apa-apa sayangku, Yang Mulia hanya ingin bertemu dengan kamu." Ucap Azco tersenyum ramah sambil mengelus kepala Falma. walaupun nanti ia harus menerima kemungkinan terburuknya.
...----------------...
Sementara itu disisi Xio. Saat ini ia terlihat sedang menembakkan cairan-cairan miliknya di dalam Ellisa. Wajah mereka berdua terlihat sekali sangat menikmati bagaimana sensasi setiap semburannya.
"Hahhh..." Xio menghela nafas mencabut miliknya lalu duduk bersandar di sandaran ranjang.
Ellisa merangkak kearah Xio, terlihat di belakangnya juga masih ada cairan putih milik Xio yang masih menetes karena saking terlalu banyaknya cairan tersebut. Ia menggenggam benda keras milik Xio kemudian menurunkan kepalanya untuk menjilat sisa-sisa cairan yang menempel di benda Xio.
"Sayang..." Xio terlihat memejamkan matanya karena permainan lidah Ellisa yang lincah terasa sangat enak.
"Ehm aku akan membersihkan pria besar yang punya bau enak ini." Kata Ellisa dengan nada seksi.
"Kalau begitu aku juga ingin membersihkan tempat anak-anakku di produksi." Ucap Xio tersenyum miring.
Merekapun mengganti posisi dimana saat ini Xio berada dibawah Ellisa. Tapi posisi kepala mereka terbalik dimana Xio dapat melihat keindahan surgawi dan duniawi sekaligus.
...----------------...
...BERSAMBUNG...