
...----------------...
1 jam telah berlalu. Tapi semua orang masih menunggu kehadiran sang pengantin Pria. Suara bisik-bisik dapat Ellisa dengar dengan Indra pendengarannya yang tajam. Yang awalnya semua orang melongo melihat kecantikan Ellisa dan membicarakannya yang baik-baik, sekarang mulai ada yang mengatakan hal-hal negatif tapi dengan suara kecil karena mereka tahu apa yang akan terjadi jika mengatakannya dengan lantang.
'Kenapa Xio belum datang juga?' Batin Ellisa masih berdiri dengan tegar di hadapan semua sorot mata tamu yang hadir. Melirik ke arah Jhonatan dan Rose, mereka juga terlihat cemas. Tapi tiba-tiba Juli seperti membisikkan sesuatu pada Jhonatan.
Jhonatan tersenyum dan langsung membisikkan sesuatu juga pada Ellisa karena mereka berdiri tidak jauh. Jhonatan bilang kalau Juli barusan sudah menelepon orang yang bersama Xio, dan ternyata mereka akan tiba tidak lama lagi.
Dan ternyata benar saja, dari kejauhan semua orang dapat melihat kapal besar namun bergaya kuno seperti kapal bajak laut mengapung di lautan dan sedang berlayar mendekat dengan kecepatan lumayan tinggi padahal angin saat itu sedang tenang.
Seketika menjadi riuh karena semua orang mempertanyakan kapal apa itu? Dan siapa yang membawa kapal besar dan Kuno seperti itu? Sampai tidak terasa kapal tersebut sudah sampai di tepi pantai yang memiliki dermaga.
Semuanya mendongak ke atas melihat orang yang sedang berdiri di atas dek kapal tersebut. Sinar matahari membuat mata seorang Pria di atas dek kapal tersebut berkilau, biru seperti lautan yang jernih.
Benar ia adalah Xio yang disampingnya berdiri seorang kakek-kakek dan juga perempuan dengan wajah dan rambut di tutupi kain putih bersih.
Meskipun kebanyakan orang belum bertemu langsung dengan Xio, tapi mereka sudah dapat menebak kalau pria bermata biru cerah tersebut adalah Xio putra Jhonatan karena mata mereka sangat identik dan juga sama-sama tampan.
***
Sekarang aku sudah berdiri di depan semua orang atau bisa disebut dunia saat ini sedang menyaksikan diriku. Aku yang ingin terjadi, sekarang apa yang harus kulakukan?
Ah, ayolah Xio jangan tiba-tiba menjadi pengecut seperti ini. Sekarang tarik nafasmu dan keluarkan secara perlahan….
Setelah aku menghembuskan nafasku barusan, aku langsung terdiam diatas sini melihat sesosok wanita cantik yang tersenyum kearah ku. Senyumannya seolah menarik langkahku untuk berjalan ke arahnya dan senyuman itu juga yang membuat hatiku berdegup sangat kencang tidak karuan.
Saat anak buahku menurunkan papan panjang untuk turun dari kapal ini, kakiku bergerak melangkah dengan sendirinya, atau hati ini yang menyuruhnya untuk segera melangkah?
Baru satu langkah kakiku ke depan, aku langsung dapat melihat bunga-bunga mawar yang cantik mulai berjatuhan dari langit. Aku tidak melihat seorangpun di sekitarku, karena yang kulihat dan kurasakan hanya aku dan wanita bergaun pengantin itu saja di bumi yang luasnya tak terhingga ini.
Aku terus berjalan dengan suasana hati berbunga-bunga sampai langkah yang seharusnya panjang tidak terasa hingga kini aku sudah berdiri dihadapannya.
Mata kami saling bertemu, tapi aku melihat matanya yang merah Semerah darah itu berkaca-kaca.
Ah, nafas ini seperti tersendat. Sampai aku mulai merasakan sentuhan halus di pipiku yang diciptakan oleh belaian tangannya yang halus.
Aku memegang tangannya yang terasa hangat dan nyaman di pipiku itu. Dan aku langsung memeluknya, karena sudah berhari-hari pelukan ini ingin segera ku rasakan kembali. Pelukan yang membuat tubuhku terasa seperti bulu yang tertiup angin dan membawanya ke surga.
"Ellisa…" Sepatah kata keluar dari mulutku sambil menatap matanya dan lengan yang masih merangkul badannya.
***
Ellisa menatap balik manik Xio yang menatapnya dengan lembut.
"Sekarang impianku sudah terwujud. Aku akan bertanggung jawab atas semua perbuatanku, Aku akan menjaga senyummu terus terbit dan tidak akan membiarkannya tenggelam, aku akan melindungimu meski harus mengorbankan hidupku,aku tidak akan membiarkan setetes pun air mata sedih keluar dari mata indahmu, aku akan membuatmu menjadi istri paling bahagia di seluruh dunia. Sekarang biar aku tanyakan satu hal, apa kamu bersedia mendampingiku seumur hidupmu?"
Tanpa ragu Ellisa langsung menjawab, "Aku bersedia menjadi pendamping hidupmu sampai kita berakhir nanti. Aku akan menemani mu baik saat senang maupun duka. Aku akan membantumu merakit rumah tangga kita bersama-sa-" Belum selesai Ellisa mengucapkan janji sucinya, bibirnya kini sudah terasa hangat karena bersentuhan dengan bibir Xio.
---
Semua orang bersorak sorai bertepuk tangan menyaksikan pasangan tersebut. Terutama para bawahan Xio yang bersorak paling keras.
Sementara Leon dan Langsung menutupi mata Lena dengan kedua tangannya, sedangkan ia sendiri melihat sekejap mama dan papanya berciuman lalu langsung memejamkan matanya tidak ingin melihat adegan dewasa tersebut yang sangat dekat ditempat mereka berdiri. Begitupun dengan anak-anak yang lain yang langsung ditutupi matanya oleh orang tua mereka, sedang orang tuanya tersenyum cerah seperti sedang menyaksikan keindahan alam.
Jhonatan, Rose, Azril, Nadia, dan semua orang yang dekat dengan Xio dan Ellisa merasa sangat terharu melihat mereka bahagia bersama. Itu karena mereka tahu sebanyak apa lika-liku yang terus memberi cobaan pada keduanya, dan mereka juga sering menyaksikan bagaimana pasangan tersebut menyelesaikan masalahnya bersama.
.
.
.
.
.
Setelah selesai upacara pernikahan, Xio dan Ellisa langsung mengambil Nathan dan Tassa dari adam. Sementara para tamu di minta untuk menikmati pestanya saja dengan alunan musik yang dinyanyikan oleh penyanyi barat terkenal.
Leon dan Lena bersama anak-anak lainnya langsung mendatangi air mancur coklat yang sangat menggiurkan untuk seumuran mereka. Jhonatan sengaja mempersiapkan air mancur coklat tersebut untuk menyenangkan anak-anak.
Azril dari tadi mencuri-curi pandang pada Rose dan dengan tegar segera menghampirinya meskipun dari tadi mereka berdiri memang sudah benar-benar dekat.
"Cantik." Azril tanpa sadar mengucapkan kata tersebut dihadapan Rosenya langsung setelah melihat penampilannya. Rose yang mendengarnya langsung menatap mata Azril tajam sehingga membuatnya tersentak.
Mereka berdua terdiam tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun sampai tiba-tiba lengan Azril sudah merangkul pinggang Rose dan langsung memeluknya beberapa lama untuk melepas rindu.
"Sudah tidak bertemu, tapi kamu masih cantik saja." Kata Azril melepas pelukannya.
"Meskipun sudah tua kamu tetap suka menggombal yah?"
"Haha memangnya apa salahnya? toh aku bilang seperti ini cuma untuk kamu."
"Yahh terselahlah, ngomong-ngomong sepertinya ada yang ingin bicara denganmu." Rose mengangkat dagunya menunjuk Jhonatan yang berdiri di belakang Azril.
Azril memutar badannya menoleh ke arah Jhonatan dan langsung memeluknya sambil membisikkan, "Jika tidak ditempat yang ramai, dan jika aku tidak mau menjatuhkan harga dirimu, mungkin sekarang aku sudah meninjumu disini." Kata Azril sambil menepuk dada bagian kiri Jhonatan.
Jhonatan bergedik ngeri, karena ia tahu satu tinjuan Azril bisa merobohkan sebuah tembok, dan tidak dapat dibayang jika Azril meninjunya, mungkin bukan hanya tukang rusuknya yang patah, tapi organ dalamnya juga akan ikut hancur. Jhonatan tahu Azril mungkin ingin membalas keburukan yang Jhonatan lakukan pada Xio, karena bagaimanapun Xio merupakan cucunya.
"Kumohon jangan lakukan itu Pops, aku tidak mau berbaring dirumah sakit lagi." Gurau Jhonatan.
"Baiklah, aku akan melakukannya kalau acara ini selesai."
"Haha ha-ha mam... help me…" Jhonatan mengadu pada Rose dengan wajah memelas seperti seorang anak kecil yang mengadu pada ibunya.
Rose pura-pura tidak melihatnya dan segera berlalu menjauhinya sambil tersenyum jahat.
Sementara itu dari tadi Nadia yang berdiri tidak jauh dari mereka, penyamarannya tidak diketahui melihat Jhonatan yang sepertinya juga tidak menyadari kehadirannya karena ia menutupi wajah dan rambutnya dengan kain putih. Itu karena Nadia ingin memberi kejutan pada Jhonatan dan menghindari sesuatu yang tidak diinginkan sebab yang semua orang ketahui Nadia istri Jhonatan sudah meninggal. Dan jika melihat dirinya kini yang baik-baik saja mungkin semuanya akan syok.
---
Aku sangat terharu melihat putraku satu-satunya melaksanakan upacara pernikahan tadi sampai setetes air mata lolos menetes, tapi aku segera mengusapnya dan menarik nafas dalam-dalam agar terlihat tetap kuat.
Aku tahu aku dulu sangat bersalah. Aku pernah menamparnya karena menggertakku, aku pernah memukul kepalanya hingga tersungkur karena dia berkata kasar pada wanita yang aku bawa kerumah, dan aku pernah menendangnya dari rumah karena hatiku sangat berantakan saat itu.
Sangat aneh setelah semua kejahatan yang ku lakukan padanya, dia tetap mau memaafkan ku. Sifatnya tidak jauh berbeda dengan ibunya, karena ibunya juga memaafkan ku ketika aku memutuskan untuk menikahi wanita lain.
Kini aku bertemu dengan ayah angkatku yang bilang ingin memukulku. Sebenarnya aku tidak mempermasalahkannya, jika mau pukul, pukul saja. Aku tahu ayah angkatku ini atau kakek Xio ini sangat menyayangi cucunya. Perusahaan ku hampir bangkrut sehari setelah aku menendang Xio dari rumah, itu karena dia marah aku menelantarkan cucunya.
Entah kenapa hasrat ku menyuruhku untuk menghampirinya. Tapi tiba-tiba saja wanita itu berjalan pergi, dan aku terus mengikutinya. Sampai aku sadar kita berdua sudah jauh dari tempat pesta dan dia berdiri membelakangiku di tepi pantai dengan ombak kecil yang terasa menerpa kaki dan membasahi celanaku.
"Hei tunggu!" Aku pun memutuskan untuk memanggilnya, karena mau sampai kapan ia terus menghindar dariku seperti itu.
Wanita itu berhenti melangkah sedangkan aku mempercepat langkahku hingga kini sudah berdiri tepat di belakangnya dengan jarak hanya beberapa inci saja.
Saat ia membalikkan badannya, kini aku dapat dengan jelas melihat manik matanya yang berwarna kuning keemasan dan seketika membuat hatiku berdegup kencang. Darah didalam tubuhku terasa mendidih dan aku mulai merasakan pandanganku kabur karena air mata yang sudah menggenang di kelopak mataku.
Meskipun aku belum melihat wajahnya sepenuhnya, tapi aku tahu kalau mata itulah yang membuatku jatuh hati dan tidak mungkin aku mengenal mata indah yang sudah melihatku selama bertahun-tahun itu.
Apa ini mimpi?
Aku langsung membenamkan dirinya ke dalam pelukanku dan mendekapnya dengan sangat erat. Rasanya seperti masih sama seperti dulu saat aku memeluk Nadia pertama kalinya.
---
Suara deraian ombak dan kicauan burung tidak memisahkan Jhonatan yang sedang memeluk erat Nadia, seperti ia tidak mau mengakhiri pelukannya, atau ia takut jika melepaskannya Nadia akan pergi lagi.
Nadia pun merasa sangat nyaman dengan pelukan Jhonatan seperti dunia akan baik-baik saja jika ia terus dipeluknya.
"Jhonatan...." Nadia memegang wajah Jhonatan dan mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Aku tidak mau melepaskanmu lagi Nadia...aku tidak mau melepaskanmu lagi…" Lirih Jhonatan ia tidak ingin mengulangi kesalahannya lagi.
Nadia kembali menenangkan Jhonatan dengan mengelus-elus punggungnya sampai akhirnya Jhonatan pun benar-benar tenang.
Jhonatan mengangkat tangannya dan melepaskan tali cadar yang menutupi wajah Nadia sehingga terlihatlah wajahnya yang cantik dan manis.
"Aku mencintaimu Nadia…" Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Jhonatan dan bibir mereka pun saling bertemu dengan mata yang saling terpejam.
Keduanya saling bercumbu cukup lama dengan ditambah bumbu Cinta Dan kerinduan yang membuat mereka merasakan kenikmatan di setiap sentuhan bibir dan lidahnya.
Setelah beberapa menit saling bercumbu, Mereka pun melepaskannya dan kembali saling menatap.
"Aku juga mencintaimu Jhonatan…"
Cup!
Jhonatan sekali lagi mengecup bibir merah muda yang terasa manis itu. Lalu ia menggenggam tangannya.
"Ayo sayang!" Seru Jhonatan mengajaknya berjalan kekiri ke arah sebaliknya pesta sedang berlangsung.
"Tapi acaranya kan sebelah sana." Sahut Nadia.
"Ayo ikuti saja aku, aku ingin menghabiskan waktu berdua dulu denganmu."
"Bagaimana kalau nanti ada yang mencari?"
Jhonatan menyimpul senyum, "Tenang saja, lagi pula acaranya masih panjang."
"Hmm baiklah." Jawab Nadia.
Jhonatan pun membawa Nadia berjalan menyisiri tepi pantai sambil bergandengan tangan dengan senyum bahagia yang tak luput dari wajahnya yang cerah.
***
Sementara itu di sisi Xio. Ia menoleh ke segala arah seperti mencari sesuatu, dan mendapatkan teguran dari Ellisa.
"Sayang, Kamu sedang cari apa?" Tanya Ellisa menyadari gerak-gerik Xio dari tadi.
"Oh tidak bukan apa-apa," Jawab Xio tersenyum seolah tidak terjadi apapun, 'Sepertinya ayah dan ibu sudah bertemu.'
"Baiklah." Kata Ellisa, "Oh iya sebentar lagi pelemparan bunga, ayo kita kesana!" Ajaknya menunjuk ke tengah lapangan pesta.
Xio mengangguk dan berjalan ke arah yang ditunjuk Ellisa sambil bergandengan tangan. Saat berjalan, mereka selalu disapa oleh para tamu yang memberinya ucapan Selamat sambil mengangkat gelas wine mereka.
Setelah MC mengumumkan kalau acara pelemparan bunga akan segera dimulai, para tamu wanita langsung berbondong-bondong berkumpul ingin berpartisipasi karena siapa tau salah satu dari mereka bisa mendapatkan bunga yang dilemparkan pengantin pria dan wanita. Karena konon katanya yang berhasil menangkap Bunganya maka kemungkinan mereka akan segera mendapatkan jodoh, atau akan segera menikah juga.
Setelah semuanya siap, Ellisa dan Xio berdiri membelakangi para wanita tersebut sambil memegang buket bunga.
Saat hitungan ketiga keduanya melemparkan buket bunga tersebut ke belakang, semuanya bersorak mengangkat tangan mereka keatas berusaha menangkap bunga tersebut, tapi siapa yang menyangka lemparan Xio dan Ellisa terlalu kuat sampai buket bunga tersebut jatuh di tepi pantai dan tidak ada yang berhasil menangkapnya.
Xio dan Ellisa malah terkekeh geli, "Sepertinya aku melemparnya terlalu kencang." Kata Ellisa.
"Haha sepertinya semuanya pada kecewa,"
"AYO KITA ULANGI SATU KALI LAGI!" Seru Ellisa dan dijawab teriakan semangat dari para wanita itu.
Satu kali percobaan lagi, dan kali ini dengan Tenaga yang tidak terlalu kuat. Seorang perempuan cantik berhasilkan mendapatkan buket bunga tersebut dan ia terlihat sangat senang.
.
.
.
.
.
Setelah beberapa lama Acara berlangsung, Xio hanya melihat kakek dan neneknya yang sedang mengobrol dengan tamu, karena ayah dan ibunya belum kembali juga, jadi ia pun memutuskan untuk meneleponnya. Dan untungnya Jhonatan mengangkat panggilannya.
"Kenapa Xio…" Jhonatan bersuara terlebih dahulu di seberang telepon tersebut dengan nafas yang berat dan seperti orang yang sedang merasakan sesuatu yang nikmat.
Xio langsung menepuk keningnya berpikir apa yang sedang dilakukan ayahnya saat ini jika bersama ibunya.
"Aku tidak mau punya adik!" Gertak Xio langsung menutup panggilannya.
Tuttt...
...****************...
...BERSAMBUNG...