
...----------------...
"Fellis, apa kamu sedang sakit?" Tegur Rose melihat wajah Fellis yang merah matang seperti kepiting rebus.
"Ah nyonya!" Terkejut Fellis dengan teguran Rose. "Tidak, saya tidak apa-apa!" Elaknya.
"Baiklah. Kamu tidak perlu memaksakan diri kalau sedang tidak sehat." Kata Rose menepuk pundak Fellis.
"Baik Nyonya!" Serunya.
Tidak ada yang menyadari kenapa wajah Fellis tiba-tiba tersipu, Kecuali Ellisa. Ellisa menyadarinya ketika saat Fellis memandang Xio sekilas tadi dengan pupilnya yang membesar, tapi kemudian sekilas mengalihkannya berpura-pura memandang kearah lain.
"Hei apa kamu sudah bosan punya mata hah?" Xio menegur Morron yang memperhatikan Ellisa terus dari tadi ketika dia baru datang.
"Maaf Tuan, maaf atas ketidaksopanan saya, Tuan. Mata saya seperti secara alami bergerak sendiri menyuruh saya melihat kecantikan istri tuan yang tidak ada duanya. Baru pertama ini saya melihat ciptaan Tuhan yang luar biasa cantik." Kata Morron meminta maaf sambil membungkuk-bungkukkan kepalanya ketakutan..
"Oh kukira kamu sudah bosan hidup. Tapi karena kamu sudah sedikit memuji istriku, maka aku memaafkanmu. Meskipun kamu tidak mengatakan semua kelebihan istriku." Ucap Xio.
"Ha-ha sudahlah sayang." Ellisa tertawa canggung sambil menggenggam tangan Xio. "Bukankah tadi kamu bilang belum sarapan? Itu kamu, aku tidak tahu namamu. Tolong tunjukkan kita ke restoran yang tepat untuk sarapan!" Ucap Ellisa pada Morron.
"Baik nyonya, maaf atas ketidaksopanan saya yang barusan. Dan nama saya Morron." Jawab Morron.
"Mana kuncinya!" Kata Xio.
"I-ini tuan silahkan." Morron menyerahkan kuncinya dengan sopan sambil membungkuk-bungkuk.
.
.
.
.
.
Mereka pun berangkat dengan mobil pertama di dalamnya Rose, Jhonatan, Fellis, dan Morron sebagai supirnya. Sedangkan mobil mobil satunya lagi diisi oleh Xio, Ellisa, Leon Lena dan juga dua bayi menggemaskan.
Mobil Xio melaju di belakang mobil Morron, karena Morron yang mengetahui kemana mereka akan pergi. Sampai tak lama kemudian mereka pun tiba di sebuah restoran yang terlihat masih bergaya tradisional.
Mobil Morron berhenti di tempat parkir di depan restoran tersebut. Begitu Pula dengan mobilnya Xio.
Di Dalam mobil Xio, dia bertanya pada Ellisa. "Sayang, apa anak-anak sudah memakan pil yang waktu itu?" Tanyanya.
"Sudah sayang." Jawab Ellisa.
"Emm baguslah…" Kata Xio mengelus surai halus rambut Ellisa dan menyelipkannya di belakang telinga.
Xio sebenarnya ingin bertanya kenapa saat di perjalanan tadi Ellisa terlihat banyak melamun seperti memikirkan sesuatu, tapi Xio mengurungkan niatnya untuk bertanya takut dia salah bicara lagi. Mengingat Ellisa sedang haid tadi pagi. Yang dimana sudah pasti dia akan lebih emosional.
"Baiklah ayo kita sarapan dulu... setelah itu kita akan menghabiskan waktu seharian untuk berjalan-jalan." Ucap Xio.
"Yeayy! Jalan-jalan!" Seru Leon dan Lena. Xio dan Ellisa tertawa melihat mereka berdua sepertinya sangat senang dibawa berekreasi di luar negeri.
Xio keluar dari mobil sambil membawa Nathan Dan Tassa, sedangkan Ellisa sambil memegang tangan Leon dan Lena. Dan mereka pun berjalan menghampiri Rose dan yang lainnya yang sudah keluar dari mobil juga.
Di parkiran, terlihat hanya ada 2-3 mobil saja lagi yang terparkir di sana. Sepertinya restoran tersebut belum ramai pengunjung.
"Selamat datang di restoran sederhana kami Tuan dan Nyonya…" Sambut seorang gadis cantik dengan sopan. Tapi tadi gadis tersebut sempat terpana dengan ketampanan Xio sebentar, sampai dia sadar kalau dirinya hanyalah seorang anak dari pemilik restoran dan hanya bertugas menerima tamu saja.
"Berikan kami satu ruangan khusus." Ucap Morron.
"Baik Tuan, Mari ikuti saya." Ujar gadis tersebut.
Jhonatan berbisik pada Xio. "Barusan gadis cantik itu melirikmu loh.." bisikannya.
Xio menatap Jhonatan sinis. "Jangan memulai masalah." Tegas Xio.
"Ayahhh…!!" Seru Ellisa.
"Haha bercanda-bercanda. Ayah hanya ingin melihat reaksimu." Jhonatan menepuk-nepuk punggung Xio. Dan dia pun segera menyusul Rose yang sudah berjalan lebih dulu kemudian menggandeng lengannya.
Xio dan Ellisa pun ikut berjalan menyusul mereka masuk kedalam restoran.
Mereka sarapan di restoran tersebut dengan menu-menu yang sedikit asing, karena tidak ada di Indonesia. Tapi memang tempat serta rasa dari makanannya enak-enak dan mereka menyukainya.
Selesai makan di restoran tersebut mereka pun melanjutkan berwisata nya. Mengunjungi tempat-tempat wisata yang cukup indah dan juga menyenangkan.
Xio senang dan senyumannya tidak pernah luntur dari wajah tampannya melihat Ellisa serta Leon dan Lena yang gembira ketika melihat hal-hal baru.
Tapi tentu saja wajah tampannya yang sedang tersenyum tidak terluput dari mata Fellis yang selalu mencuri-curi pandang. Melihat Xio yang tersenyum membuat hatinya berdegup semakin kencang. Fellis sadar di tangan kanan tepat di jari manisnya Xio, sudah terdapat cincin yang melingkar sama dengan punyanya Ellisa. Tapi entah kenapa dirinya semakin sulit untuk tidak tertarik dengan Xio, dan malah membuatnya terobsesi.
"Say cheese…!!"
"Cheese!!!" Seru Xio, Ellisa, Jhonatan, Rose, Leon dan Lena yang sedang akan di foto bersama-sama oleh Fellis.
Mereka di foto tepat malam hari di tempat wisata terakhir mereka yang pohon-pohonnya banyak dengan hiasan lampu kelap-kelip.
"Nenek tolong pegang Nathan dan Tassa sebentar, aku mau di foto dulu berdua dengan Xio." Kata Ellisa menyerahkan Nathan dan Tassa pada Rose. Dia kemudian menarik tangan Xio.
"Fellis tolong foto kita berdua yah." Ujarnya.
"I-iya. Dalam hitungan Tiga." Jawab Fellis.
Satu
Dua
Ti...
Xio merangkul pinggang Ellisa membuatnya semakin dekat dan mencium pipinya.
...ga.
Ckrekk!
Kamera handphone tersebut berhasil mengambil gambar Xio yang sedang mengecup pipi Ellisa.
"Sayang yang benar dong ah, kamu ini.." Kata Ellisa menutup bibir Xio dengan tangannya.
"Ha-ha Tuan sangat romantis." Kata Fellis senyum terpaksa walaupun perasaannya sedikit sakit.
"Baiklah baiklah haha...Fellis tolong fotokan sekali lagi." Suruh Xio. Kali ini dia sudah menggandeng Ellisa dan tersenyum ke arah kamera sama halnya dengan Ellisa yang melakukan hal serupa.
Cekrekk!!
Potret dari sang raja dan ratu yang mulia itu pun telah diabadikan pada malam itu dengan senyuman tulus di wajah mereka berdua setulus cintanya satu sama lain yang tak pernah tergantikan.
Karena sudah cukup malam, jadi mereka pun memutuskan untuk kembali. Dan membeli oleh-oleh terlebih dahulu di perjalanan pulang.
"Apa anak papah senang jalan-jalannya hari ini?" Tanya Xio menoleh ke kursi belakang tempat Leon dan Lena duduk. Sedangkan Nathan dan Tassa bersama dengan Rose dan Jhonatan.
"Iya kita senang sekali!"
"Dan kita juga sudah membeli oleh-oleh buat Paman, bibi dan semua orang di rumah." Jawab Leon dan Lena. Di dalam cincin penyimpanan mereka tersimpan tumpukan oleh-oleh yang sangat banyak untuk dibagi-bagikan dengan orang-orang yang ada di mansion dan juga anak-anak di panti asuhan.
"Anak mamah memang baik…" Kata Ellisa mengelus kepala mereka berdua.
"Hehe." Leon dan Lena terkekeh.
"Oh iya sayang, kita pulang ke Indonesianya kapan?" Tanya Ellisa.
"Aku terserah kamu dan anak-anak, kalau kalian betah disini kita bisa lebih lama di sini." Jawab Xio yang sedang menyetir. Dia menaruh tangan kanannya di paha Ellisa.
"Baiklah aku putuskan nanti saja. Terimakasih sayang." Ellisa memegang tangan Xio dan menggenggamnya.
.
.
.
.
.
Morron keluar dari mobilnya dan kemudian membukakan pintu untuk Rose. Rose menapakkan kakinya diatas salju sambil memangku Nathan dan Tassa yang kelihatannya sedang tertidur nyenyak.
Tidak berbeda jauh dengan Xio. Dia juga memangku Leon dan Lena yang tertidur pulas di lengan kanan dan kirinya.
"Cucu-cucuku yang lucu ini sepertinya lelah setelah berjalan-jalan." Kata Jhonatan.
Cup!
Xio mengecup kening Leon dan Lena bergantian.
"Tidurlah yang nyenyak, besok kita akan bersenang-senang lagi." Ucapnya.
"Ayo kita pulang. Terimakasih Fellis, Morron sudah menemani kita." Kata Ellisa.
"Iya nyonya. Kita juga senang bisa menemani Nyonya dan semuanya." Jawab Fellis tersenyum diangguk-angguki Morron. Fellis sebenarnya sedih dengan semua kedekatan Xio dan Ellisa yang ditunjukkan di depannya selama seharian. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak punya wewenang bahkan keberanian sekalipun untuk mengungkapkannya.
.
.
.
.
.
Kembalinya mereka ke mansion, Ellisa membawa bayi-bayinya ke kekamar bayi untuk menidurkan mereka. Sedangkan Xio membawa Leon dan Lena ke kamar mereka untuk menidurkan mereka juga.
Dimansion ini Leon dan Lena tidur dikamar yang sama karena mereka sendiri yang memintanya.
Xio membaringkan mereka berdua diatas kasur. Kemudian membuka jaket dan juga syal mereka berdua dengan perlahan karena takut membangunkan mereka. Setelah membuka jaket serta syal mereka, Xio duduk di tepian kasur sambil membelai rambut mereka halus.
"Papah akan selalu melindungi kalian." Ucapnya kemudian mengecup kening mereka bergantian dan menyelimutinya. Dia berjalan ke arah pintu keluar mematikan lampunya dan keluar dari kamar itu lalu menutup pintunya kembali.
Saat Xio keluar kamar, ternyata berbarengan dengan Ellisa yang baru saja keluar kamar juga, karena kamar anak-anaknya saling bersampingan. Begitu juga dengan kamar mereka berdua yang ada disampingnya lagi.
Ellisa melihat Xio tersenyum genit kearahnya sambil menaik turunkan alisnya.
"Kode apaan itu?" Tanya Ellisa mengangkat sebelah alisnya kebingungan.
"Haha...ayo kita kekamar!" Xio tertawa dan berlari ke kamarnya sambil membawa Ellisa di pangkuannya.
Xio langsung menjatuhkan Ellisa diatas ranjang dan mencium bibirnya dengan lihai seperti sang veteran yang bermain dalam adegan panas di film romantis dewasa.
Mungkin jika ditambah dengan backsound musik yang panas akan membuatnya seperti dalam film sungguhan. Semakin lama waktu berjalan, mereka berdua semakin bermain liar. Xio menghentakkan pinggulnya dengan keras agar miliknya masuk lebih dalam di lubang surgawi yang panas dan sempit itu. Dan semakin benda tersebut masuk kedalam, semakin keras juga ******* yang Ellisa lantangkan sambil mencakar punggung Xio saking tak bisa mengontrol dirinya dengan kenikmatan yang semakin lama semakin memburu itu.
Setiap malam mereka akan selalu menumpahkan kecintaannya satu sama lain dengan berhubungan badan dan juga hati yang saling berdegup kencang.
Mungkin cintanya sudah sangat melekat di kedua hati berbeda lawan jenis itu. Dan mereka belum tahu apa kedepannya nanti akan terus seperti itu atau akan merenggang. Berharap saja tidak akan cukup agar tak terpisahkan, yang harus mereka lakukan adalah berusaha menjaga hati satu sama lain agar tidak ada orang lain yang singgah.
.
.
.
.
.
Malam berganti pagi, matahari sudah mulai menampakkan dirinya dan cahaya yang terpancar darinya lolos menerobos salah satu jendela. menyinari seorang pria yang sedang tertidur sambil mendekap seorang wanita dalam pelukannya dibawah selimut hangat yang sama tanpa busana.
Xio membuka matanya perlahan dan yang pertama dilihatnya yaitu wajah cantik istrinya yang tidak pernah bosan untuk dipandang. Dia menyisipkan rambut Ellisa yang menghalangi pemandangan indah tersebut ke belakang, dan kemudian mengecup keningnya.
Tidak mau membangunkan Ellisa, Xio bangkit dan turun dari ranjangnya dengan perlahan. Dia berjalan ke dekat jendela dan menutup gordennya menghalangi sinar matahari yang masuk agar tidak membangunkan Ellisa.
Dia kemudian berjalan ke arah lemarinya mengambil celana boxer untuk dipakainya, karena sedari bangun tidur tadi dirinya tidak mengenakan apa-apa.
Owaaa!!
Xio mendengar suara Nathan yang menangis di kamar sebelah. Dengan sekejap Xio menghilang dari sana dan muncul kembali di samping ranjangnya Nathan.
"Cup cup cup...sayang papah." Dengan segera Xio pun mengangkat Nathan ke pangkuannya dan mengais-ngaisnya.
Tidak lama kemudian disusul dengan Tassa yang juga menangis. Jadi Xio pun harus memangku dan mengais-ngais keduanya untuk membuat mereka berhenti menangis. Beberapa lama keduanya tidak berhenti menangis, dan Xio pun menyadari kalau rupanya mereka harus berganti popok.
Kreekk..
Pintu kamar terbuka dan masuklah Ellisa kedalam. Mengambil Nathan dan Tassa di pangkuan Xio lalu menyusui mereka berdua. Dan dengan sekejap keduanya pun berhenti menangis.
"Sayang, kenapa kamu tidak membangunkanku?" Tanya Ellisa berjalan ke dekat sofa dan duduk di sofa tersebut.
Xio menyusul berjalan ke arah Ellisa dan kemudian duduk disampingnya. Mengangkat Ellisa yang sedang menyusui, dan mendudukkan dia di atas pangkuannya.
Sambil memeluk pinggang Ellisa yang ramping dari belakang, dia juga menciumi punggung Ellisa yang hanya mengenakan bra saja itu.
"Aku pikir anak-anak cuma harus ganti popok, ternyata mereka mau susu mamahnya toh. Aku juga tidak tega membangunkanmu yang tertidur pulas." Kata Xio masih sambil menjelajahi punggung Ellisa dengan bibirnya.
"Haha...sepertinya kamu harus belajar lagi cara merawat bayi." Gurau Ellisa terkekeh.
"Baiklah nanti aku akan memanggil mentor untuk mengajarkanku cara merawat bayi yang benar. Demi anak-anakku." Jawab Xio serius.
Ellisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Xio yang menganggapnya serius.
"Oh iya sayang, apa kamu masih bermain sosial media?" Tanya Xio.
"Tidak, sudah lama aku tidak membukanya."
"Boleh aku pinjam handphone mu?"
"Tentu saja, memangnya mau kamu apakan?"
Ellisa menyerahkan handphonenya pada Xio.
"Tidak ada, aku hanya ingin melihat-lihat saja apa Kata orang-orang diluar sana mengenai mu." Jawab Xio diangguki Ellisa.
Ketika Xio menyalakan internet di handphone tersebut, mulailah suara notifikasi yang sangat banyak dan juga berisik. Dengan cepat Xio pun menurunkan volume notifikasinya agar tidak mengganggu si bayi.
"Apa handphone mu selalu seperti ini setiap dinyalakan?"
"Yah terkadang." Jawab Ellisa.
Ketika Xio melihat notifikasi apa saja itu, ternyata banyak sekali email serta notifikasi suka dan komenan di sosial medianya. Agar tidak terjadi hal yang serupa lagi, Xio mematikan semua notifikasi dari aplikasi tersebut.
Ketika membuka email-nya, Xio sangat ingin tertawa kencang membaca email-email tersebut yang dikirim dari berbagai macam orang. Ada dari merk-merk terkenal yang ingin menjadikan Ellisa brand ambassador mereka, ada yang ingin mengundang Ellisa ke berbagai macam acara selebritis. Dan ada juga yang hanya sekedar mengatakan mereka menyukai kecantikan Ellisa. Dan pesan-pesan tersebut dikirim dari berbagai belahan dunia.
"Hahaha... rupanya istriku sangat terkenal ke seluruh dunia."
"Apa ada yang pernah berkomentar buruk padamu?" Tanya Xio.
"Ehmm...ada. dia bilang wajahku operasi plastik dan uangnya pasti dari prostitusi. Terus ada juga mengatakan kalau aku simpanan orang kaya. Dan di postingan yang ada kita berdua ya, ada juga yang bilang kalau aku pasti merebutmu dari seseorang." Jawab Ellisa bukan dia yang marah saat ini, tapi Terlihat Xio lah yang mulai menunjukkan urat-urat di keningnya sangat marah mendengar istri tercintanya pernah di berikan kata-kata buruk seperti itu.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya dari dulu?"
"Yahh karena aku pikir itu cuma insecurity mereka saja. Jadi aku tidak menanggapinya. Lebih baik aku menikmati kesenangan yang kamu berikan saja padaku." Jawab Ellisa tersenyum.
"Hahh...kamu terlalu baik. Aku jadi bingung sebenarnya kamu ini iblis atau bidadari."
Ellisa turun dari pangkuan Xio "Bukan keduanya. Aku adalah seorang istri dari seorang pria yang merupakan seorang raja dan juga CEO yang tampan. Yang membuat hidupku selalu terpuaskan. Aku tidak butuh apapun lagi. Aku cuma ingin." Ellisa menunjuk dada Xio, "hati ini selalu terjaga untukku." Ellisa mencium bibir Xio sekilas sambil menunjukkan senyuman gembiranya. Lalu berjalan menuju meja ganti bayi meninggalkan Xio yang masih terdiam duduk di sofa memutar kembali otaknya hingga menyadari sesuatu.
"Benar……"
...****************...
...BERSAMBUNG...