
...----------------...
Saat melihat Adam dan Crish yang berlari kearahnya, Xio segera membatalkan menutup pintu elevator nya dan melangkahkan kaki keluar dari dalam elevator.
"TUAN MUDA!"
Brug!
Adam langsung memeluk Xio. "Akhirnya aku bisa bertemu dengan Tuan Muda lagi." Ucap Adam masih memeluk Xio.
Sedangkan Xio dan Chris hanya bisa menepuk kening mereka sendiri melihat tingkah Adam yang terlalu dramatis.
"Ah-haha aku juga senang bisa bertemu dengan paman lagi." Kata Xio.
Duk!
Chris memukul kepala Adam. "Sampai kapan kamu akan memeluk tuan muda seperti itu? Jika kamu terus seperti itu, Tuan muda akan merasa tidak nyaman." Kata Chris, Dia tidak enak pada Xio yang jadi perhatian semua orang yang ada di lobi itu.
Orang-orang juga mulai berbisik-bisik seperti, Siapa sebenarnya pria tersebut?, apakah dia anaknya pemilik perusahaan ini?, Kenapa Tuan Chris memanggilnya Tuan Muda?, Sebenarnya pergi kemana CEO Selama ini?.
Begitulah pembicaraan semua orang mulai dari yang tidak mengenal Xio sama sekali, dan yang sudah tahu siapa Xio sebenarnya.
Setelah di pukul kepalanya oleh Chris, Adam pun tersadar dan langsung melepaskan pelukannya.
"Ah maafkan saya Tuan Muda, barusan saya reflek memeluk Tuan Muda karena sudah lama tidak bertemu." Ucap Adam sambil terus membungkuk-bungkukkan badan memohon permintaan maaf.
"Tidak apa-apa paman, aku juga mengerti." Kata Xio menahan kedua pundak Adam agar tidak membungkukkan badannya lagi.
"Ngomong-ngomong Tuan muda kapan kembali?" Tanya Chris.
"Aku baru tiba kemarin malam." Jawab Xio. "Sebaiknya kita mengobrol di ruanganku saja." Ujarnya, karena dia merasa tidak pas di pandang Jika mengobrol di depan Elevator.
Adam dan Chris menganggukkan kepala, dan merekapun masuk kembali kedalam Elevator Khusus orang penting tersebut untuk melanjutkan mengobrolnya di ruangan Xio.
Gedung perusahaan tersebut memiliki ketinggian 69 lantai, dan ruangan Xio terletak di lantai 62 sehingga dari ruangannya, dia bisa langsung melihat pemandangan kota.
Saat masuk kedalam ruangan miliknya, Xio melihat tidak ada yang berubah, semuanya sama seperti asalnya dan sangat bersih. Dia berjalan kearah meja kerjanya lalu duduk di kursi kebesarannya.
Senyuman terlukis diwajah Xio setelah melihat Foto Ellisa yang dulu pernah dia pajang di atas meja. Dia mengambil Foto tersebut dan menatapnya.
'Walaupun Ellisa sekarang sudah berubah semakin cantik, tapi ternyata dulu juga tidak kalah cantik.' Batin Xio tersenyum-senyum sendiri tanpa menghiraukan Adam dan Chris yang sedang berdiri di seberang mejanya keheranan dengan sikap Tuan Mudanya.
"Ternyata istriku memang sudah sangat cantik." Gumam Xio yang masih dapat terdengar oleh dua orang di depannya.
'Kemana saja Tuan Muda selama ini...?! baru sadar punya istri cantik...!' Batin Chris dan Adam sedikit kesal.
"Ahh iya paman, apa ada yang ingin paman bicarakan?" tanya Xio menarik kembali foto Ellisa diatas mejanya.
"Sebenarnya ini tidak terlalu penting, kami hanya ingin mengobrol saja dengan Tuan Muda." Jawab Chris.
"Baiklah kalau begitu silahkan duduk saja agar lebih santai." Ujar Xio dijawab anggukan oleh keduanya.
...----------------...
Sementara itu di bandara ada sebuah mobil hitam yang baru saja tiba dengan dua orang pria didalam mobil tersebut. Satu pria duduk di bagian kemudi yaitu Juli Bawahan Jhonatan, dan yang duduk di kursi penumpang adalah Jhonatan sendiri.
"Tuan kenapa tidak memberitahu Tuan Muda kalau dia akan datang?" Tanya Juli.
"Dia bilang jangan memberitahu Xio dulu, katanya ingin memberi kejutan." Jawab Jhonatan.
"Apa tidak akan masalah jika mempertemukannya dengan Tuan Muda?" Tanya Juli lagi.
"Hahh.. sebenarnya aku juga berpikir Xio pasti tidak akan senang." Jhonatan mengehela nafas.
"Kalau begitu, Tuan halangi saja dia dan jangan pertemukan dengan Tuan Muda." Ujar Juli.
"Kamu memang mudah mengatakannya, tapi bagaimana caranya? kalau aku tidak pernah diselamatkan oleh ayahnya, aku juga tidak akan Sudi mempertemukannya dengan anakku." Ucap Jhonatan sedikit mendengus sambil memijat keningnya sendiri.
"Bagaimana kalau tuan bohongi saja, dan bilang kalau Tuan Muda Belajar di luar negeri. Saya yakin dia tidak akan mengenal Tuan muda yang sekarang." Kata Juli.
"Benar! dia pasti tahu ya Xio saat ini sedang duduk di bangku kuliah." Seru Jhonatan. "Cepat kamu siapkan saja 1 apartemen yang jauh dari rumah Xio." Perintahnya.
"Baik Tuan!" Jawab Juli langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
Jhonatan bersan di kursinya sambil menatap keluar jendela.
'Kali ini aku tidak boleh mengecewakan Xio, apalagi sekarang dia sudah punya Ellisa dan 4 orang anak.' Batin Jhonatan.
...----------------...
Pukul 10.43 di dapur di kediaman Xio. Saat ini Ellisa terlihat sedang sibuk memasak, sementara Rose kini tengah bermain dengan Nathan dan Jhonatan.
"Ellisa mau nenek bantu tidak?" Tanya Rose.
"Tidak perlu sebentar lagi juga selesai kok, nenek tolong jaga Nathan dan Tassa saja dulu." Jawab Ellisa tersenyum.
"Hmm baiklah, tapi kalau buruh bantuan bilang saja." Kata Rose dijawab anggukan oleh Ellisa.
Ellisa saat ini sedang memasak makanan untuk makan siang Xio nanti, sekaligus untuk Leon dan Lena juga. Meskipun di tempat itu juga memiliki pembantu, tapi Dia tidak mau dibantu atau di buatkan oleh mereka. Itu karena dirinya ingin
menjadi seperti para istri pada umumnya.
25 menit telah berlalu, dan Ellisa pun sudah selesai menyiapkan masakannya yang ia masukkan kedalam tempat makan lumayan besar 1 serta 2 tempat makan yang ukurannya lebih kecil.
"Selesai!!" Seru Ellisa terlukis diwajahnya kegembiraan dan kepuasan setelah semuanya selesai.
"Sekarang aku tinggal mengganti pakaian anak-anak dan langsung berangkat." Kata Ellisa bersemangat. Sementara Rose hanya terkekeh saja melihat Ellisa yang sepertinya sudah tidak sabar ingin bertemu Xio.
"Hm? kenapa harus berdandan? Xio bilang tanpa berdandan pun aku terlihat cantik." Kata Ellisa. "Apa Xio berbohong padaku?" Gumamnya.
Rose menggeleng-gelengkan kepalanya menyikapi Ellisa yang polos. "Xio tidak berbohong, kamu memang sudah terlihat cantik walau tidak berdandan juga. Tapi jika kamu berdandan sedikiiittt saja pasti cantiknya akan bertambah berkali-kali lipat." Ujar Rose.
"Benarkah?" Tanya Ellisa.
"Emm itu benar, selain itu kamu juga harus mengenakan pakaian yang sering dibelikan Xio. Masa Istri seorang CEO terkemuka sekaligus menantu dari orang terkenal menggunakan pakaian yang biasa saja. Xio pasti senang kalau kamu pakai pakaian yang ia belikan." Jawab Rose.
"Ayo ikut nenek!" Seru Rose mengajak Ellisa sambil menggendong Nathan dan Tassa.
Ellisa pun langsung mengikuti Rose di belakangnya sampai tibalah mereka di kamar Ellisa.
Rose langsung membaringkan Nathan dan Tassa di atas kasur, kemudian berjalan kedekat lemari Ellisa yang sangat itu. Saat membuka lemari tersebut Rose hanya bisa menghela nafas saja lantaran di melihat banyak sekali pakaian bagus seperti yang beragam, dan semuanya terlihat belum pernah di pakai sama sekali.
"Hahhh... Ellisa, nenek sudah tidak mengerti lagi dengan kamu. apa kamu tidak suka dengan pakaian yang di berikan Xio?" Tanya Rose.
"Bukan seperti nenek! tentu saja aku menyukainya. Tapi aku berpikir hanya akan memakainya ke acara penting saja, karena aku pernah melihat harga dari pakaian-pakaian yang harganya terlalu fantastis." Jawab Ellisa.
Rose menepuk jidatnya sendiri. Dia memang melihat pakaian yang ada di dalam lemari tersebut satunya saja bisa seharga 1 mobil sport, tapi jika melihat kondisi keuangan Xio semua itu tidak ada apa-apanya.
"Biar nenek beritahu kamu, dulu Azril juga sama seperti Xio sering membelikan nenek pakaian yang harganya sangat luar biasa tanpa sepengetahuan nenek, karena itu memang kesenangannya sendiri membahagiakan Istrinya."
"Jadi kamu tidak perlu menghiraukan harganya, karena asal kamu tahu saja keuang Xio tidak akan pernah habis sampai kapanpun, sudah seperti tidak terbatas. Nenek jamin Xio pasti akan senang kalau melihat kamu menggunakan barang-barang yang di belikan-nya khusus untukmu." Jelas Rose panjang lebar.
"Baiklah aku mengerti! aku juga mau membuat Xio senang. Nenek tolong pilihkan pakaian yang cocok untuk hari ini." Kata Ellisa semakin bersemangat.
"Nah itu baru benar! kamu tunggu saja nenek akan memilihkan yang paling cocok!" Seru Rose mulai memilih pakaian yang akan di kenakan Elllisa.
Waktu terus berjalan, dan Ellisa sudah mencoba berbagai pakaian sampai akhirnya menemukan yang paling cocok untuk di pakai ke perusahaan. Yaitu dress sederhana berwarna putih biru dengan renda-renda bunga seperti bunga asli. Walaupun dress tersebut terlihat sederhana, tapi terlihat sangat cocok dikenakan Ellisa dan jika orang yang mengetahui harga dress tersebut pasti akan langsung pingsan di tempat karena harganya dapat membeli 1 mansion besar.
Rose pun tidak tahu dari brand mana pakaian tersebut di buat, tapi dia tahu bahannya sangat berkualitas serta bunga yang di pakaipun seperti bunga asli karena mengeluarkan semerbak yang sangat wangi halnya bunga asli.
"Xio sangat beruntung memiliki istri yang sangat cantik seperti ini." Rose memeluk Ellisa erat.
"Haha nenek bisa saja, aku juga merasa beruntung punya suami seperti Xio." Kata Ellisa.
"Haha intinya aku sangat beruntung memiliki kalian." Ucap Rose menangkup kedua pipi Ellisa gemas. "Selagi masih lama, kamu rapih rapih saja dulu, biar nenek yang mengganti popok dan pakaian anak-anak." Ujarnya.
"Emm baiklah tolong yah nek." sahut Ellisa. Dia langsung duduk di depan cermin dan mulai menata rambutnya.
Akhirnya merekapun sudah selesai, begitupun dengan Nathan dan Tassa yang sudah berganti pakaian menngunakan pakaian yang serasi.
"Apa mau nenek temani?" Ujar Rose.
"Tidak perlu nek, Sebentar lagi juga ada paman Adam yang menjemput." Jawab Ellisa.
Tidak lama kemudian terdengar suara mobil diluar rumah.
"Nah itu sudah datang." Kata Ellisa sudah dapat menebak mobil yang di luar adalah mobilnya Adam.
Ellisa dan Rose pun berjalan keluar rumah yang ternyata benar Adam sudah ada di depan rumah, berdiri disamping mobilnya.
Pandangan Adam langsung terpaku pada penampilan Ellisa yang sangat cantik sekaligus Elegan walaupun sedang menggendong dua bayi karena makan siangnya Dia bawa menggunakan cincin penyimpanannya.
"Halo paman, sudah lama tidak bertemu." Sapa Ellisa.
"Ah iya lama tidak bertemu dengan nona, nona semakin cantik saja, pantas saja tuan muda sering tersenyum-senyum sendiri." Ucap Adam.
"Hahaha terimakasih pujiannya Paman." Ellisa tertawa ringan.
"Silahkan masuk Nona." Adam membukakan pintu mobilnya.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu nenek." Kata Ellisa berpamitan dengan Rose.
"Iya." Jawab Rose membalasnya dengan senyuman. Setelah Ellisa masuk kedalam mobil, Rose berbicara pada Adam. "Hati-hati berkendaranya, awas saja kalau Ellisa kenapa-napa." Ucapnya dengan tatapan dingin.
"Ba-baik Nyonya." Jawab Adam gelagapan.
'Ternyata benar apa kata Tuan Azril, nyonya sangat menyeramkan.' Batin Adam. Dia pun langsung masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya menuju sekolah Leon dan Lena terlebih dahulu, untuk menjemput mereka.
Di perjalanan Adam juga mengajak ngobrol Ellisa.
"Bayi Tuan muda dan nona sangat lucu, pasti besarnya akan sangat tampan dan cantik." Ucap Adam.
"Hem Terimakasih paman." Jawab Ellisa tersenyum sambil memperhatikan wajah Nathan dan Tassa.
"Oh ya paman apa di perusahaan banyak perempuan yang menyukai Xio?" Tanya Ellisa penasaran.
"Tentu saja, secara tuan muda kan sangat tampa. Siapa yang tidak akan menyukainya." Jawab Adam.
"Seperti itu yahh." Kata Ellisa.
"Nona tenang saja, Tuan muda tidak menanggapi mereka satupun kok, malahan Tuan muda tidak senang kalau ada wanita yang menyukainya. Tuan muda juga sangat jarang tersenyum kalau ada orang lain kecuali yang sudah dikenalnya." Ucap Adam tersenyum, karena ia barusan melihat Ellisa sedikit murung. Tapi setelah Dia berkata seperti itu, Ellisa kembali tersenyum.
'Tentu saja tuan muda akan seperti itu, secara dia punya istri yang sangat cantik seperti ini. Kapan aku punya pasangan secantik Nona?' Batin Adam meratapi nasibnya yang belum juga mendapatkan pasangan sama seperti kakaknya.
"Saya harap Nona dan Tuan muda terus bersama." kata Adam.
"Haha semoga seperti itu." Ellisa tertawa kecil.
...----------------...
...BERSAMBUNG...