Cross The World With System

Cross The World With System
Perpisahan



Xio berjalan dan berhenti di depan pintu kamar Leon dan Lena. Dia mengintip kedalam kamar tersebut yang lampunya tetap menyala karena Leon ataupun Lena merasa takut jika tidur di ruangan gelap. Itu membawa trauma mereka dulu dikurung didalam ruangan sempit berdua yang pengap dan tanpa pencahayaan sedikitpun.


Setelah barusan merasa dikecewakan oleh para bawahannya, Xio mendapatkan ketenangan melihat pangeran dan putrinya tertidur pulas diatas kasur. Ditutupnya kembali pintu kamar tersebut perlahan agar tidak membangunkan mereka.


Dia kembali berjalan dan mendapati dirinya sudah berada di depan kamar miliknya dan juga Ellisa. Berdiri diam sejenak di depan kamar tersebut sambil menunduk melihat gagang pintu di depannya. Ia merenung jika bukan semuanya salah bawahannya, tapi dia juga merasa bersalah karena kurang kurang waspada dan selalu mudah disulut amarah. 


Apa sifat pemarahku ini akan hilang? Xio berpikir jika dirinya terus dikontrol amarah, takutnya keluarganya tersayang juga akan terkena imbasnya. Seperti barusan, Xio hampir saja membunuh seorang bayi yang tidak berdosa jika tidak dihentikan oleh Ellisa. 


Seperti ada monster di dalam dirinya yang membuat dirinya sulit mengendalikan tubuhnya sendiri. Tapi Xio juga menyadari monster tersebut hanya bangkit jika dirinya merasa akan kehilangan orang tersayangnya.


Tangannya meraih gagang pintu dingin tersebut dan membukanya perlahan. Langsung disapanya dia oleh Ellisa yang sedang mengayun-ayunkan ranjang bayi.


"Kamu sudah kembali, sayang." Ellisa tersenyum, dan berjalan ke arah Xio yang duduk di tepi ranjang. "Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Ellisa duduk disampingnya karena melihat wajah Xio yang sedikit muram.


Xio tersenyum dan menggelengkan kepala kecil. 


"Tidak apa-apa, katakan saja padaku jika ada yang mengganggumu. Aku senang bisa membantu." Ujar Ellisa.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Xio dengan senyum palsu yang mudah diketahui oleh Ellisa.


"Mau peluk?" Ellisa merentangkan lengannya sambil tersenyum. Xio menoleh dan melihat wajah istrinya yang tersenyum riang. Ia juga ikut tersenyum dan langsung memeluknya, mencium keningnya dan menghirup puncak kepalanya yang harum.


"Terimakasih." Kata Xio.


"Sekarang kamu maukan menceritakan pada ISTRI-mu ini kenapa kamu nampak gelisah barusan." Ellisa menekankan kata "istri" pada Xio.


"Baiklah istriku, sayangku, cintaku." Jawab Xio mencapit hidung Ellisa dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.


*


Setelah mengobrol dengan beberapa tamu atau rekan kerja masalalunya. Jhonatan sekarang terlihat sedang berjalan seorang diri di pesisir pantai tanpa menggunakan alas kaki, sebotol wisky di tangan dan wajahnya yang terlihat lesu. Hanya Sepoi-sepoi angin malam dan cahaya bulan yang menemaninya saat ini.


Dipikirannya sekarang dipenuhi dengan kesedihan dan kebingungan. Sedih karena hanya bisa bertemu dengan Istrinya sebentar saja, dan bingung bagaimana caranya agar dirinya bisa terus melihat istrinya.


"ARRGGHH!" Saking pusingnya, dengan emosi Jhonatan melempar botol whiskey di tangannya itu ke laut.


"Apa yang harus kulakukan…?" Jhonatan merenung sambil mengurut keningnya sendiri.


Ketika pikirannya dirundung ketidakpastian, dan tidak ada tujuan, Tiba-tiba saja Jhonatan merasakan kehangatan menyelimuti ke sekujur tubuhnya dan dirasakannya pelukan yang lembut juga menenangkan. Seakan hangatnya sinar matahari baru saja melerai tubuhnya. Jhonatan segera membalas pelukan tersebut mengetahui wanita yang memeluknya itu adalah Nadia.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Jhonatan masih memeluknya.


Nadia melepas pelukannya, memegang pipinya dan menatap Jhonatan seolah bertanya apa yang ingin ditanyakan nya.


Jhonatan memegang kedua tangan Nadia yang lembut itu sambil menatapnya penuh keraguan. "Kamu merupakan seorang yang luar biasa dan sempurna juga disegani banyak sekali makhluk hidup, sedangkan aku hanya manusia biasa yang punya banyak sekali kekurangan. Selama ini...apa kamu dengan tulus mencintaiku atau hanya aku saja yang merasa seperti kamu memang cinta padaku?"


Nadia mengelus punggung tangan Jhonatan dengan ibu jarinya. "Aku menyayangimu sebagai suamiku, ataupun sebagai seorang pria pertama yang membuatku jatuh cinta."


"Kalau kamu menyayangiku, lalu kenapa kamu pergi lagi dan lagi!"


"Haha…" Nadia tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar bodoh." Ucapnya lagi membalikan badan membelakangi Jhonatan dan menatap lautan yang bersimbah cahaya rembulan.


"Aku tidak mau pergi kalau bukan terpaksa. Aku ingin seperti dulu...dulu ketika kita masih berbagi tempat tidur, terbangun dengan kamu di sisiku, lalu membuatkanmu kopi dipagi hari, memberimu kecupan ketika kamu pergi bekerja, menatap wajahmu ketika tertidur, atau hanya sekedar berbicara berdua selama berjam-jam lamanya- aku juga rindu saat-saat itu Jhonatan!" Nadia mencurahkan isi hatinya.


Greb!


Jhonatan tiba-tiba memeluk Nadia dari belakang dengan eratnya. Nadia dapat merasakan dari pelukan itu perasaan Jhonatan yang tidak ingin melepaskannya lagi. Setetes air lolos dari mata Nadia dan berhasil terjun mengenai tangan Jhonatan.


Jhonatan tidak tahu lagi harus berkata apa, tapi yang pasti dia tidak ingin pelukan tersebut segera berakhir.


Nadia berbalik menghadap Jhonatan dan mendongakkan kepalanya. Jhonatan yang melihat pipinya basah dengan lembut mengusapnya dan manik mata mereka pun saling bertemu, saling menatap. Dia mendekatkan wajahnya sampai akhirnya bibirnya dengan bibir Nadia saling bersentuhan.


Setelah beberapa menit keduanya saling bercumbu mesra akhirnya mereka pun berhenti.


"Apa sekarang lebih baik?" Tanya Jhonatan dengan posisi masih saling berhadap-hadapan sangat dekat.


Nadia mengangguk pelan sambil tersenyum, "siang tadi aku mendengarnya dari Xio. Apakah kamu sungguh-sungguh ingin ikut bersamaku?"


Tanpa jeda sedikitpun Jhonatan langsung menjawab. "Tentu aku bersungguh-sungguh, aku ingin terus melihat senyuman ini setiap hari." Kata Jhonatan tersenyum balik sambil mengusap ujung bibir Nadia dengan ibu jarinya.


"Sebenarnya bisa saja. Tapi aku tidak yakin kamu sanggup menjalani persyaratannya terlebih dahulu."


"Apapun syaratnya sayangku, aku akan menjalaninya." Jawab Jhonatan dengan mata penuh tekad.


"Syaratnya kamu harus menjadi dewa terlebih dulu."


"Hah dewa?" Jhonatan kebingungan karena dia pikir selama ini dewa itu hanya mitos, ditambah lagi bagaimana caranya agar bisa menjadi dewa.


"Iya, dewa! Jika kamu berhasil menjadi dewa, tidak hanya bisa tinggal di istanaku, kamu juga bisa menjadi abadi dan punya kekuatan yang luar biasa."


"Menjadi abadi! Itu berarti aku bisa terus bersamamu selama-lamanya!"


"Eem kita bisa bersama selama-lamanya." Nadia tertawa kecil melihat ekspresi Jhonatan yang lucu ketika antusias seperti itu.


"Lalu katakan padaku! Bagaimana caranya!?"


"Kamu harus melewati pelatihan selama 100 tahun dan harus lulus ujiannya."


"100 TAHUN!!" Jhonatan sangat terkejut mendengar waktunya selama itu. "Selama itu?"


Nadia mengangguk, "Bagaimana apa kamu masih yakin?" Tanyanya. "Oh ya, waktu di sana lebih cepat dibandingkan di dunia asli."


"Tapi itu berarti sama saja dong aku tidak akan bisa melihatmu selama 100 tahun?"


"Haha…" Nadia terkekeh lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Jhonatan, "Aku akan mengunjungimu 1 bulan sekali untuk memeriksamu masih bernafas atau tidak." Bisiknya.


"Hahaha… kalau begitu tunggu apalagi!!" Dengan girangnya Jhonatan memeluk Nadia dan mengangkatnya sambil berputar dan menciumi wajah Nadia.


"Dasar tidak sabaran! Memangnya kamu sudah tidak mau bertemu lagi dengan anak dan cucumu?"


"Oh ya aku lupa haha… lalu kapan aku bisa mulai?"


"Tidak perlu terburu-buru, aku juga masih ingin menghabiskan beberapa hari lagi dengan putra-putri dan juga cucu-cucu ku." 


"Baiklah itu bagus, hehe...he..." Kata Jhonatan sambil tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Dia membayangkan bagaimana kekuatannya nanti jika sudah menjadi dewa. Apakah itu akan lebih kuat dari istri dan anaknya?


"Jangan senang dulu," Nadia berjalan pelan meninggalkan Jhonatan. "Ujiannya tidak akan semudah yang kamu bayangkan. Kamu bisa saja mati berkali-kali dan menjadi gila jika tidak mampu menjalankannya."


Jhonatan ikut berjalan disamping Nadia sambil memegang tangannya, "aku sudah bertekad untuk menjadi dewa dan akan kulalui seberat apapun rintangannya!" Serunya dengan nada percaya diri. 


Tiba-tiba saja Jhonatan memangku Nadia di depan nya dan membawanya ke arah mansion sambil tersenyum girang.


...*...


Di Dalam kamar, Ellisa berbaring diatas ranjang dengan lengan Xio yang menjadi bantalannya. Xio baru saja menceritakan keluh kesahnya dan menceritakan sedikit pada Ellisa kalau dirinya dan juga Ellisa merupakan reinkarnasi. 


Ellisa cukup terkejut dan tidak menyangka itu. Lalu Xio juga menjelaskan bahwa di kehidupan sebelumnya mereka juga merupakan pasangan.


"Lalu bagaimana kita berdua berakhir?" Tanya Ellisa.


"Aku hanya bisa menjelaskan segitu, karena aku juga belum mengingat seluruhnya," Ucap Xio sambil membelai helai rambut Ellisa. "Namun Kakek, maupun ibu tidak mau menceritakannya langsung padaku."


"Kenapa?"


"Entah, kakek dan ibu sama sekali tidak membuka suara mengenai itu. Tapi aku yakin itu pasti ada kejadian buruk dimasa lampau yang menyangkut sesuatu dalam tubuhku."


Xio kembali menceritakan pada Ellisa bahwa dia pernah beberapa kali diperlihatkan dengan kehancuran, dan sesosok makhluk mirip dirinya tapi dipenuhi dengan aura kegelapan yang sangat pekat.


"Apa kamu akan tetap mencari tahu apa kejadian di masa lalu itu yang membuat dunia Flix terbagi dua?"


"Aku penasaran dan ingin tahu bagaimana kehidupanku di masa lalu." Jawab Xio. "Bagaimana menurutmu sayang, apa aku harus meneruskannya atau cukup sampai disitu saja?"


"Hmm...aku pikir kakek dan ibu menutup-nutupi hal tersebut bukan hanya karena alasan sepele. Dan kamu bilang Heldir seperti memiliki trauma pada dirimu. Aku takut sosok yang kamu lihat itu adalah dirimu yang lepas kendali di masa lalu dan memporak-porandakan dunia Flix." Ellisa menatap wajah Xio.


"Aku juga sempat berpikir begitu, tapi tidak mungkin aku lepas kendali tanpa ada penyebabnya. Aku ingin tahu bagaimana aku bisa lepas kendali dan bagaimana akhir dari kehidupan kita. Disisi lain aku juga takut melepaskan makhluk tersebut lagi jika melihat kembali tragedi masa lalu yang nampaknya kelam."


"Kalau begitu jangan." Ellisa memeluk Xio. "Aku tidak mau suamiku sayang menjadi monster, dan membakar dunia untuk kedua kalinya."


Xio mengangkat dagu Ellisa, lalu mencium bibirnya beberapa detik. "Akan kupikirkan lagi itu nanti."


Setelah itu mungkin Xio akan berunding dengan Azril dan juga Nadia untuk membicarakan perihal tersebut, dan meminta pendapat mereka juga bagaimana baiknya.


Xio kembali mencium Ellisa kini lebih intens dan tangannya mulai menelusuri setiap lekuk tubuh seksi istrinya tersebut. 


Di Dalam kamar, diatas ranjang yang luas dan empuk, pasangan tersebut memadu kasih dengan pencahayaan bulan yang menerobos ventilasi serta jendela. Serta diiringi irama deburan ombak yang menabrak pesisir pantai.


***


1 Bulan kemudian.


Hari ini adalah hari Jhonatan untuk pergi menempuh ujian menjadi dewa. Perjalanannya tertunda dua Minggu karena kemarin, Jhonatan baru saja menemani Leon dan Lena menonton pertandingan football di Australia. Jhonatan sungguh lupa diri ya telah janji pada anak-anak untuk pergi menonton bersama. Karena tidak mau membuat mereka kecewa, Jhonatan pun harus menepati janjinya terlebih dahulu.


Sekarang mereka sudah berada didepan rumah Xio untuk mengantar kepergiannya. Jhonatan sudah berdiri di depan portal besar berdua dengan Nadia. Sementara Azril, Rose, Xio, Ellisa, Leon dan Lena berdiri dibelakang mereka menyaksikan.


"Apa kamu sudah Siap?" Tanya Nadia. "Kamu bisa mundur sekarang jika tidak—"


"Aku siap!" Jhonatan memotong dengan nada percaya diri menatap lurus pada portal di hadapannya.


Nadia tersenyum.


Jhonatan menoleh kebelakang, "Semuanya sampai jumpa lagi!" Teriaknya melambaikan tangan.


"Kita akan merindukan kakek!" Balas teriak Leon dan Lena sambil melambaikan tangan.


"Jaga diri ayah baik-baik!" Teriak Ellisa.


"Jangan sampai meninggal!" Kini Xio yang berteriak, tapi langsung disikut oleh Ellisa. "Haha bercanda! Jika ayah sudah menjadi kuat, ayo kita bertarung!"


"Haha baiklah nak sampai Jumpa lagi!" Jhonatan melangkahkan kakinya ke depan bersama dengan Nadia lalu menghilang dibalik portal tersebut begitu pula dengan portalnya sendiri.


"Papa, apa kakek akan lama disana?" Leon dan Lena mendongak pada Xio dengan wajah cemberut.


Xio jongkok dan mengusap kepala mereka. "Kurang lebih satu setengah tahun. Jangan sedih, kan papa ada disini. Nanti papa janji akan menemani kalian menonton." Ucap Xio. Dan mereka berdua pun mengangguk.


"Xio, kakek dan nenek akan pulang sore ini." Kata Azril. 


Azril dan Rose memang sudah tinggal di sebuah desa di gunung sejak 2 Minggu yang lalu. Hari ini mereka datang kerumah Xio hanya untuk mengantar kepergian Jhonatan. 


"Kenapa tidak menginap dulu saja semalam disini?" Ujar Xio, diangguki Ellisa setuju.


"Ehemm! Lain kali saja." Azril berdehem.


"Haha baiklah aku mengerti." Tertawa Xio mengerti maksud Azril


"Dua Minggu lagi musim panen, mainlah kesana." Tambah Rose.


Fellis menghampiri sambil memangku Nathan juga Tassa yang menangis.


"Sini!" Seru Rose. Dan Fellis pun menyerahkannya pada Rose. "Utututu… sayang Oma kenapa menangis." Rose menimang-nimang mereka hingga keduanya tenang.


"Besok kita juga kembali ke Flix." Xio menggandeng tangan Ellisa.


"Iya." Jawab Ellisa tersenyum.


Jhonatan kini pergi untuk mencapai tujuannya yaitu menjadi dewa dan bisa tinggal dengan Nadia di istananya selamanya. Azril dan Rose memilih tinggal di pedesaan terpencil di bukit gunung sambil membangun pertanian dan juga peternakan yang luasnya luar biasa.


Sedangkan Xio? Atau Raja yang memiliki masa lalu yang begitu tragis. Dia lebih memilih hidup seperti biasanya sebagai raja yang dicintai dan dijunjung rakyatnya, juga sebagai CEO muda yang berhasil meneruskan karir sang ayah juga kakeknya menjadi lebih berjaya.


Tidak lupa pula, dia senang dengan pekerjaannya yang satu ini. Yaitu jadi seorang suami dari istrinya tercinta dan ayah dari anak-anaknya tersayang. Setiap harinya dia jalani peran impiannya tersebut dengan penuh kegembiraan dan penuh rasa cinta.


Dia memilih untuk tidak mengejar masa lalunya lagi dan ingin lebih fokus kemasa depan yang sudah jelas berada di depan matanya, daripada masa lalu yang tidak jelas pandangannya. Masa Lalu tidak dapat diperbaiki, sedangkan masa depan dapat diperbarui. Begitulah ungkapnya.


Lalu, bagaimana dengan System didalam tubuh Xio? Kini System tersebut Xio pergunakan hanya untuk memperkuat dirinya dan juga kerajaannya.


Yang Xio inginkan saat ini dan kedepannya hanyalah kebahagiaan dan kehidupan yang damai. Dan itu sedikit demi sedikit sudah mulai terlihat di depannya.


Raja kehancuran kini menjadi Raja baik hati yang membenci pertumpahan darah.


...*******...


SORRY TO SAY 


TAPI CERITANYA TAMAT SAMPAI DISINI.


SAYA INGIN MEMINTA MAAF APABILA BANYAK TYPO SERTA KEKURANGAN DI KARYA SAYA INI.


DAN SAYA JUGA MINTA MAAF APABILA CERITANYA BELEPOTAN DAN KURANG BERMUTU.


SEBENARNYA SAYA SENDIRI KURANG PUAS DENGAN ALUR CERITA INI DAN JUGA ENDINGNYA. MASIH BANYAK YANG INGIN SAYA KEMBANGKAN PADA CERITA INI, TAPI NYATANYA KESIBUKAN SAYA MASIH BANYAK.


JADI YA TERIMAKASIH YANG SEBESAR-BESARNYA UNTUK YANG SUDAH MEMBACA HINGGA CHAPTER AKHIR INI, DAN TERIMAKASIH JUGA YANG SUDAH MENDUKUNG SAYA DI KARYA PERTAMA SAYA INI.


(INI CERITA ISENG KARENA GABUT SAAT COVID)