
...----------------...
"Kamu pikir bisa pergi dari sini setelah membuat cacat barang-barang ku?" Ucap manusia setengah badak itu dengan membusungkan dadanya.
"Sighh! memangnya apa peduliku?" Azco menghela nafas kasar. "Menyingkirlah aku tidak ada waktu untuk mengurusi orang-orang barbar seperti kalian." Lanjutnya sudah akan melangkahkan kakinya.
Tapi tiba-tiba di belakangnya ada seseorang yang mengayunkan pedang mengarah pada ekor Azco.
Trangg!
Saat pedang itu menyentuh ekornya Azco terdengar suara dentingan seperti logam yang saling bertabrakan. Orang yang mengayunkan pedang tadi langsung membeku sebab bukannya ekor Azco yang terputus atau terluka, tapi pedang miliknya lah yang langsung patah menjadi dua bagian.
"Manusia setengah kadal jenis apa yang punya ekor sekuat itu?" Begitulah pertanyaan yang muncul dalam benak semua yang ada didalam bar. Karena mereka tahunya tidak ada ekor kadal yang bisa sekuat itu, apalagi sampai berbunyi seperti logam yang sangat kuat.
"Lagi-lagi kalian tidak mau di berikan keringanan." Ucap Azco tersenyum miring dengan tatapan sinis menatap kelompok manusia setengah badak di depannya.
Brakk!
Saat Azco menghentakkan kakinya di lantai yang terbuat dari kayu itu, tercipta gelobang yang menyebar ke seluruh ruangan bahkan membuat benda-benda seperti meja dan kursi berterbangan begitupun dengan orang-orangnya yang ikut terbang menabrak dinding dengan keras.
Tidak sampai disitu, Azco juga mematahkan tulang-tulang mereka dari lengan hingga kaki mereka dengan cara menginjaknya. Azco melemparkan sekantung koin emas diatas meja kemudian berjalan keluar dari bar tersebut meninggalkan orang-orang yang sedang berteriak kesakitan dan sudah dapat dipastikan mereka akan cacat seumur hidup.
Saat keluar dari bar, ia melihat ke langit yang ternyata sudah menunjukkan waktu petang.
Azco pun memutuskan untuk melanjutkan pencariannya berjalan menyusuri setiap jalan yang ada di kerajaan itu berharap segera menemukan satu saja ras Boldur, karena ia sudah tidak sabar ingin pulang kembali kerumahnya.
Saat ini Azco sudah sampai di tempat yang sepertinya adalah pasar. Ia melihat banyak orang-orang yang sepertinya sedang mengerumuni sesuatu, tapi Azco tidak dapat melihat apa yang sedang di kerumuninya karena terhalang oleh beberapa orang.
Penasaran dengan apa yang ada di tengah kerumunan itu, Azco pun langsung masuk juga kedalam kerumunan tersebut hingga saat ini ia sudah berada di palaing depan dan dapat melihat ada seorang anak kecil perempuan setengah domba dengan penampilan lusuh serta beberapa luka lebam di sekujur tubuhnya.
Anak kecil perempuan itu saat ini sedang tersungkur lemas diranah mellindungi kepalanya sebab sedang di pukuli oleh beberapa orang dewasa pria dan wanita.
"Bocah s*alan!! berani-beraninya kamu mencuri di tempatku!" Gertak wanita dewasa sambil menendang anak perempuan itu yang di tangannya sedang menggenggam sebuah roti.
Entah kenapa rasa Empati Azco langsung terbangun ketika melihat anak kecil itu sedang di pukuli, ia berpikir bagaimana jika Lena yang berada dalam posisi itu? sungguh ia tidak akan bisa memaafkan dan memberi ampun pada orang-orang yang sedang memukulinya itu. Bagaimana bisa para orang dewasa tega menyiksa seorang anak kecil yang terlihat lemah seperti itu.
Azco mengepalkan tangannya kesal melihat perlakuan orang-orang di sekelilingnya yang bahkan tidak ada yang mau menolong anak tersebut, bahkan mereka malah bersorak untuk menghabisi anak tersebut.
Azco dengan segera mendekat kearah anak tersebut lalu menghalangi pukulan orang-orang dewasa itu, lantaran ia sudah tidak tega lagi jika melihat anak tersebut terus-menerus di kenakan pukulan.
Whoosss!!!
Azco mengeluarkan gelombang angin yang sangat kuat di tengah-tengah kerumunan itu hingga membuat mereka berterbangan ke segala arah, bahkan hingga membuat tempat tersebut berantakan.
Dengan segera Azco pun menggendong anak perempuan tersebut dan membawanya pergi dari tempat itu.
Saat ini Azco sudah berada di gang sepi dengan masih menggendong anak perempuan tersebut.
"Hey nak dimana rumahmu?" Tanya Azco tapi ternyata anak perempuan tersebut sudah pingsan tak sadarkan diri.
"Hahhh sepertinya aku harus mencari penginapan di sekitar sini." Azco menghela nafas pasrah karena ia tidak tahu dimana tempat tinggal anak tersebut. Jika meninggalkan di situ juga, Azco merasa tidak tega melihat banyaknya luka lebam di sekujur tubuh anak tersebut yang terlihat seumuran dengan Lena.
"CEPAT CARI ORANG ITU SAMPAI KETEMU!!" Azco mendengar suara seseorang yang berteriak serta terdengar juga suara derap langkah banyak orang.
"Cih merepotkan." Gumam Azco. Ia sudah dapat mengira kalau orang-orang tersebut saat ini mencari dirinya mengingat sudah dua tempat yang sudah di acak-acaknya.
Awalnya Azco ingin menghabisi semua orang-orang tersebut, tapi ia berpikir kembali kalau hal tersebut akan memicu konflik yang bisa membuat benua Vir Dihomu dan Virminium berperang, dan pastinya itu akan merepotkan Xio.
Azco pun mengeluarkan 2 jubah berwarna hitam dan langsung dikenakannya sedangkan yang satu lagi ia pakai untuk menutupi anak perempuan di gendongannya. Saat ini Azco ditak ingin mencari masalah terlebih dahulu sebab tidak ingin membuat Xio repot.
Azco berjalan normal melewati prajurit-prajurit tersebut, walaupun ia mengenakan jubah yang hampir menutupi seluruh tubuhnya, dengan bodohnya tidak ada satupun prajurit yang mencurigai penampilan Azco.
"Hem bodohnya." Gumam Azco tersenyum licik.
Tidak butuh waktu lama akhirnya Azco pun menemukan sebuah tempat penginapan, dan ia pun langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam penginapan tersebut.
Azco berjalan ke tempat resepsionis yang di jaga oleh seorang perempuan setengah kelalawar dilihat dari telinganya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya resepsionis perempuan itu dengan ramah.
"Satu kamar untuk satu malam." Jawab Azco.
"Penginapan kami memiliki 3 kamar yang berbeda ting-" Tidak sempat resepsionis itu menyelesaikan penjelasannya, sudah terpotong dengan ucapan Azco.
"Yang mana saja terserah." Ujar Azco menaruh satu kantung kecil koin diatas meja resepsionis itu.
Resepsionis tersebut mengecek isi kantong yang di berikan Azco. Terlihat wajah terkejut di wajah resepsionis itu.
"Tuan ini terlalu banyak!" Seru wanita resepsionis itu sebab koin didalam kantung tersebut terlalu banyak untuk biaya menginap sehari saja.
"Sighh..bisa lebih cepat tidak tidak? ambil saja kembaliannya." Ucap Azco.
"Baik, Silahkan tuan ini kuncinya dan terimakasih." Jawab si resepsionis menyerahkan kunci kamar yang bertuliskan VIP pada Azco.
Azco langsung mengambil kunci kamar tersebut dan langsung pergi meninggal resepsionis tadi yang penasaran dengan wajah Azco sebab saat ini ia menutupi kepalanya dengan tudung.
Sesampainya di kamar, Azco membuka jubahnya lalu meletakkan anak perempuan setengah domba tadi di atas kasur.
Azco melihat penampilan anak kecil tersebut yang sangat memprihatikan. Seluruh badannya kurus, pakaian serta permukaan kulit yang lusuh seperti tidak pernah mandi, banyak luka-luka lebam di sekujur tubuhnya, bahkan Azco juga melihat banyak lagi luka-luka yang sepertinya sudah lama tapi masih membekas.
"Sebaiknya aku obati dulu." Gumam Azco mengeluarkan salep buatan Lena yang berguna untuk luka.
Azco mulai mengoleskan salepnya mulai dari bagian kaki hingga kepala. Saat Azco ingin mengoleskan salepnya di bagian telinga, ia melihat di tanduk anak perempuan tersebut ada totol kecil berwarna silver yang berarti anak tersebut adalah ras yang sedang ia cari-cari.
'Tunggu dulu! itu berarti aku harus mebunuh anak ini dan mengambil organ hatinya?' Batin Azco. 'Kalau aku membunuh anak kecil seperti ini, lalu apa bedanya aku dengan orang munafik?'
Saat ini dirinya sedang di bingungkam dengan pilihan yang sulit. Jika harus mencari ras Boldur yang lain itu mustahil sebab ia sudah mengelilingi semua sudut kerajaan tersebut. Dan jika membunuhnya ia tidak tega tapi tugas yang di berikan Xio akan selesai.
Azco menatap wajah anak perempuan tersebut dengan sendu tapi tangannya sudah berada tepat di atas dadanya seperti sudah siap menancapkan tangannya yang sudah terlihat mengeluarkan kuku-kuku runcing dari jarinya.
Deg!
Azco terkejut sebab anak perempuan tersebut tiba-tiba membuka matanya dan tatapannya tepat sekali dengan tatapan Azco.
Terlihat Ekpresi terkejut dan ketakutan di wajah anak tersebut.
"wahh...wahhh!!!" Anak itu langsung mundur kesudut ruangan dengan terburu-buru dengan tubuh yang sudah bergetar luar biasa.
'Apakah aku semenyeramkan itu?' Batinan bodohnya Azco. Bagaimana mungkin seorang anak kecil tidak takut ketika melihat orang asing dihadapan mereka, ditambah lagi dengan tangannya yang menyeramkan seperti sudah siap mencungkil dadanya.
Azco mendekati anak perempuan itu yang sedang berlindung menekuk kakinya serta menghalangi wajahnya menggunakan kedua tangan.
"Tidak usah takut paman orangnya baik kok" Ucap Azco mengusap kepala anak itu. yang anehnya membuat anak kecil tersebut langsung tenang.
Azco tersenyum, "Siapa namamu nak?" tanyanya, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Yang rupanya anak tersebut langsung pingsan kembali sebab terkejut ketika Azco menyentuhnya tadi.
"Hahh..sepertinya aku memang menyeramkan." Azco mengehela nafas. "Padahal aku ingin menanyakan nama dan dimana rumahnya."
Azco pun memutuskan untuk membawanya pulang kerumah malam itu juga agar bisa ditanya oleh Chintya saja. Karena jika anak tersebut terus pingsan dan ketakutan melihatnya maka tidak ada apapun yang ia dapatkan.
Azco keluar dari kamar tersebut melalui jendela, dan ia meloncat dari atap ke atap rumah yang lainnya sambil menggendong anak Boldur tadi, hingga sampailah di gerbang masuk kerajaan. ia menggunakan illusinya kembali untuk mengelabui para penjaga di depan gerbang tersebut.
Setelah dirasa sudah jauh dari gerbang, Azco merubah tubuhnya menjadi naga lalu terbang dengan secepat kilat dengan Anak perempuan tadi ia sembunyikan didalam jubah seperti sedang membawa barang.
Karena kecepatan serta ketajaman penglihatan yang dimilikinya, membuat Azco tidak butuh waktu lama untuk sampai kembali di kerajaan Regalia walau saat ini malam hari.
"Ah sial." Kata Azco sebab saat sedang terbang di langit menuju rumahnya ia berpapasan dengan Belphegor dan juga Mammon yang sama-sama sedang terbang.
"Azco apa kamu sudah menyelesaikan tugas dari yang Mulia?" Tanya Belphegor.
"Aku belum menyelesaikannya." Jawab Azco berbohong sebab tujuan tugasnya saat ini sudah berada di genggaman tangannya.
"Oh seperti itukah? lalu apa yang kamu bawa itu?" Tanya Mammon.
"Jangan bilang itu...."
'sial sial sial' batin Azco takut mammon tahu apa yang dibawanya.
"Makanan!! kami pasti membawa banyak makanan oleh-oleh dari benua Vir Dihomu!!" Seru Mammon. Sehingga Azco bisa bernafas lega karena Mammon ternyata tidak mencurigainya.
"Yah benar ini makanan dan barang-barang yang aku bawa selesai bertugas untuk Chintya di rumah." Jawab Azco.
"Oh kalau begitu baiklah, dan jangan lupa melaporkan tugasmu pada Yang Mulia." Ujar Mammon.
"Iya iya besok aku akan menghadap Yang Mulia langsung. kalian jangan menghalangiku terus aku ingin cepat-cepat bertemu dengan wanitaku." Kata Azco sedikit menyombongkan dirinya.
"Cih sombong sekali, ingat kalau kamu belum menikahinya jadi Chintya belum sah menjadi wanitamu." Kata Mammon.
"Heheh kalau kalian iri sebaiknya mencari pasangan juga." Azco terkekeh.
"Huss huss kami sebaiknya cepat kembali kerumah saja." Mammon mengusir Azco.
"Ok!" Azco langsung terbang kearah rumahnya.
Sesampainya di mansion Azco merubah kembali tubuhnya menjadi manusia dan langsung masuk kedalam rumah dan langsung kekamar miliknya serta Chintya.
"Sayang aku pulang!" Seru Azco membuka pintu kamarnya.
"Oh kamu sudah pulang, apakah sudah selesai tugas dari Yang Mulia-nya?" Jawab Chintya menghampiri Azco.
"Ehmm itu....." Azco pun mencerity semua kejadiannya tadi saat sedang bertugas di benua Vir Dihomu untuk mencari ras Boldur.
"Benarkah? Lalu dimana anaknya sekarang?" Tanya Chintya terlihat Ekpresi kekhawatiran di wajahnya.
"Benar juga aku lupa mengeluarkannya." Jawab Azco mengeluarkan anak perempuan tadi dan menaruhnya di atas ranjang.
Chintya langsung terkejut ketika melihat kondisi anak tersebut yang sangat memprihatinkan.
"Aku kira tidak separah ini! siapa pelakunya huh? aku akan menghajarnya sekarang juga." Dengan wajah geram Chintya sudah akan melangkahkan kakinya keluar kamar tapi di tahan oleh Azco.
"Tenang saja aku sudah memberikan mereka pelajaran, lagi pula mereka kan tidak ada di benua ini." Ucap Azco.
"Eh iya benar juga, lalu apa kamu sudah mengobatinya?"
"Sudah tinggal menunggu efeknya saja. dan tolong buatkan makanan yang banyak kasihan anak ini sepertinya belum makan beberapa hari." Ujar Azco.
"Baiklah kalau begitu beritahu aku kalau sudah bangun" Jawab Chintya tersenyum lalu keluar dari kamar sementara Azco masuk kedalam kamar mandi.
Didalam kamar mandi Azco memikirkan apa yang sebenarnya ingin Xio lakukan dengan menggunakan organ hati ras Boldur tersebut. Azco juga bingung harus memberitahukan Xio bahwa ia sudah menemukan ras Boldur atau tidak, tapi ia benar-benar tidak tega jika anak kecil yang sudah ia tolong saat menderita tadi harus di tambah menderita lagi.
'Besok aku harus menanyakan terlebih dahulu pada Yang Mulia, apa yang akan dilakukannya menggunakan hati ras Boldur.' Batin Azco.
Setelah selesai mandi Azco pun keluar dari sana, dan ia langsung melihat pemandangan dihadapannya yang dapat melukiskan senyuman di wajahnya.
...----------------...
...BERSAMBUNG...