Cross The World With System

Cross The World With System
Kembali ke Bumi



...----------------...


Waktu menunjukkan pukul 8 malam hari.


Dan Saat ini di Rumah peninggalan Azril atau rumah yang sering Xio bawa berpindah dunia. Terlihat di halaman depannya sudah ada Xio sekeluarga beserta dengan para bawahannya yang akan mengucapkan salam perpisahan.


'Kenapa Yang Mulia tidak tinggal di sini saja untuk seterusnya sih?'


'Walaupun Yang Mulia orangnya galak, tapi pasti akan ada saja yang sisi dimana membuat semua orang merindukannya'


Begitulah kira-kira batinan bawahan Xio yang tidak rela jika Xio harus kembali kebumi ditambah lagi harus beberapa bulan.


"Haishh.. Aku bisa mendengar semua kata hati kalian. Apa kalian melarangku kembali ke bumi?" Ucap Xio.


"Ti-tidak Yang Mulia, kami hanya berpikir pasti akan merindukan sosok yang mulia dan pasti akan menjadi sepi kembali suasananya." Jawab Bellzebub.


"Oh seperti itu.... aku juga harus pergi karena kepentinganku tidak hanya disini saja tapi masih banyak lagi urusanku yang ada di bumi." Jelas Xio. "Yah aku harap tidak ada masalah disini ketika aku pergi." Tambahnya.


"BAIK YANG MULIA!!" Jawab semua bawahannya serentak.


"Baiklah kalau begitu aku percayakan semuanya pada kalian." Kata Xio. "Ayo sayang masuk kedalam." dia langsung menggandeng Ellisa dan berjalan kedalam rumah diikuti oleh Leon, Lena, dan juga Jhonatan serta Rose yang masing-masing menggendong bayinya Xio dan Ellisa.


'System pindahkan sekarang!'


Tidak butuh waktu lama, Merekapun dengan seketika sudah berada di bumi lagi.


"Hahh akhirnya kita kembali kebumi. Walaupun udara disini tidak sejernih udara di dua Flix, tapi tetap saja aku sangat merindukan suasananya." Jhonatan menghela nafas lega tapi tidak lama kemudian ia malah mencium bau yang kurang mengenakkan.


"Ehmm cucuku tidak memberikanku kesempatan untuk menghirup udara segar." Katanya sadar kalau bau tersebut berasal dari Nathan yang sedang tidur di pangkuannya.


"Haha Ayah sangat beruntung sekali." Ellisa tertawa kemudian mengambil Nathan dari pangkuan Jhonatan.


"Haha..benar aku sangat beruntung punya cucu yang nakal seperti ayahnya." Jhonatan ikut tertawa.


"Memangnya dulu aku nakal yah?" Bingung Xio.


"Haishh itu tidak usah ditanya lagi, dulu bahkan saat masih berumur 7 bulan kamu pernah mengencingi ayah di kantor beberapa kali." Jawab Jhonatan. "Dan lagi kamu pernah menuangkan susu di laptop ayah yang penuh dengan berkas-berkas penting, untung saja tidak sampai rusak." Tambahnya.


"Terus sa-" Jhonatan tidak jadi menyelesaikan ucapannya karena terpotong oleh Xio.


"Sudah, sudah ayah jangan di ceritakan Semuanya." Kata Xio baru tahu kalau dulu saat masih kecil dirinya nakal sekali.


"Sayang kamu duluan saja kekamar, aku akan melihat-lihat di mansion belakang dulu." Ujar Xio, dan dijawab anggukan oleh Ellisa.


Xio pun berjalan keluar rumah sementara Ellisa dibantu oleh Rose menggendong Nathan dan Tassa ke kamar bayi. Untuk Leon dan Lena, mereka diajak oleh Jhonatan menonton acara TV favorit mereka yaitu pertandingan baseball.


Kembali ke sisi Xio. Saat keluar rumah dia melihat sudah banyak sekali para bawahannya yang berbaris di depan Rumah.


beberapa waktu yang lalu ketika rumah Xio muncul, membuat semua orang terkejut. Dengan sigap mereka semua pun langsung berbaris untuk menyambut kedatangan kembali Tuannya.


"SELAMAT DATANG KEMBALI YANG MULIA!!!" Seru mereka serentak menyambut kedatangan kembalinya Xio sambil berlutut dengan satu kaki.


"Bangunlah." Xio menjawab sapaan mereka dengan sekali lambaian tangan saja yang bereti dia menerima ucapan sambutannya.


Dengan patuh semua bawahannya langsung berdiri kembali dengan tegap.


"Terimakasih semuanya, sekarang kalian bisa kembali ke pekerjaan kalian kembali." Ucap Xio.


"BAIK YANG MULIA!" Jawab semuanya langsung bubar dengan rapih dan teratur.


"Riki kemarilah!" Kata Xio.


'Yang Mulia masih mengingatku ternyata.' Batin Riki senang, karena ia mengira Xio tidak akan mengingat namanya.


"Apa ada yang bisa saya bantu Yang Mullia?" Kata Riki.


"Tolong kamu suruh orang-orang yang bekerja di bagian perusahaanku untuk berkumpul di ruang rapat mansion sekarang." Perintah Xio.


"Baik Yang Mulia, kalau begitu saya akan memanggil mereka sekarang." Kata Riki dijawab anggukan oleh Xio.


Setelah Riki pergi, Xio juga berjalan menuju mansion. Xio mengumpulkan bertujuan untuk membahas mengenai perkembangan perusahaannya. selain itu dia juga ingin mengetahui apakah ada masalah selama 1 tahun dia di dunia Flix.


Sesampainya di ruang rapat ternyata semuanya sudah hadir di ruangan tersebut. Xio juga duduk di kursinya kemudian menyuruh bawahannya untuk mulai berpresentasi sementara dirinya hanya mendengar dan mencerna semua yang di jelaskan.


Xio mendapatkan fakta bahwasanya banyak perusahaan-perusahaan besar di luar negri yang mulai mengawasi pergerakan perusahaan XIEL. Itu karena perusahaan XIEL sendiri sudah mulai terdengar di telinga dunia terutama di kalangan para papan atas.


"Hm..sepertinya mereka takut tersaingi." Gumam Xio ditambah dengan senyum miring, yang berarti dia sudah memiliki rencana.


"Apakah ada permasalahan di perusahaan selama aku tidak ada?" Tanya Xio.


"Tidak ada masalah Yang Mulia, semuanya berjalan dengan baik. Tapi banyak sekali karyawan baru serta media yang mempertanyakan sosok CEO dari XIEL Company, Sebab mereka belum pernah melihat sosok anda dihadapan umum atau di media massa." Jawab salah satu bawahan-nya. walaupun sebenarnya ada ada satu masalah lagi yaitu kelompoknya Jordan yang selalu berencana untuk mengganggu, tapi sayangnya mereka tidak pernah berhasil karena dapat di selesaikan dengan mudah oleh para bawahan Xio.


Memuncaknya serta semakin berkembangnya Perusahaan Xio yang berjalan di segala bidang seperti properti, teknologi, hiburan, dan masih banyaknya lainnya. Tentu saja itu selalu membuat berita trending di setiap media massa, mau itu didalam negeri ataupun di luar negeri. Tapi belum ada yang mengetahui siapa sebenarnya pemimpin perusahaan tersebut kecuali yang bekerja di perusahaan itu sendiri.


"Hmm...mereka ingin melihatku yah.." Gumam Xio sambil membelai dagunya sendiri. Dia berpikir memangnya apa keuntungannya jika menunjukkan diri di depan halayak umum. "Itu nanti akan ada saatnya dimana aku akan membuat seluruh dunia tercengang." Katanya dengan Ekpresi tanpa keraguan.


"Apakah tidak ada lagi yang harus kalian laporkan?" Tanya Xio.


"Tidak ada Yang Mulia." Jawab bawahannya.


"Baiklah kalau begitu kita sudahi saja rapat kali ini." Ujar Xio kemudian berdiri dari tempat duduknya dan menghilang dari tempatnya barusan dengan seketika.


Sementara itu disisi Ellisa. Setelah menidurkan Nathan dan Tassa di kamar bayi, Ellisa kembali kekamarnya. Tentu saja setelah memastikan anak-anaknya tidur dengan nyenyak.


Saat ini dia terlihat sedang santai membaca buku di sofa serta ditemani dengan secangkir kopi diatas meja yang ada di hadapannya.


"Sayang sedang membaca apa?" Tanya Xio yang tiba-tiba berada di belakang Ellisa dan memeluknya.


"Haishh...sudah berapa kali aku bilang jangan mengagetkanku!" Kata Ellisa sedangkan Xio sendiri hanya tersenyum-senyum saja sambil menciumi pipi Ellisa yang halus dan juga wangi seperti kulit bayi.


"Aku sedang membaca buku legenda-legenda yang ada di bumi. Kalau dipikir ternyata ada sosok-sosok legenda yang sama dengan yang ada di dunia Flix." Ucap Ellisa.


"Apa iya?" Tanya Xio.


Xio tersenyum, "Mungkin itu hanya cerita fiktif saja." Kata Xio mengangkat Ellisa dan mendudukkannya di atas paha. "Kamu lanjutkan saja membacanya, aku tidak akan mengganggu kok." Ujarnya.


Ellisa tidak menghiraukannya dan lebih memilih melanjutkan membaca bukunya. Tapi dia sama sekali tidak bisa fokus, lantaran Xio terus memperhatikan wajahnya yang membuat Ellisa tersipu.


"Xio jangan memperhatikanku seperti itu...! apa ada sesuatu di wajahku?" Kata Ellisa menutupi wajahnya menggunakan buku.


"Iya di wajah kamu ada banyak sekali keindahan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata." Kata Xio merebut buku Ellisa dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Ellisa.


Wajah Ellisa terlihat semakin memerah karena tersipu. Dan tiba-tiba saja bibir Xio sudah menempel tapat dengan bibirnya. Semakin lama ciuman mereka semakin panas dan menjadi-jadi, bahkan jari-jari Xio sedang asik mencubit dan memelintir kedua benda kecil sensitif milik Ellisa.


Permainan mereka terus berlangsung hingga melakukan kegiatan suami istri seperti biasanya, dan mereka juga terus menerus berganti posisi serta tempat. Dari kursi, lalu melanjutkannya di atas meja, kemudian diatas ranjang tanpa kelelahan, melainkan terlihat sangat menikmatinya.


Sementara itu di lantai bawah tepat di ruangan Jhonatan serta Leon dan Lena sedang menonton Televisi.


Dukk!


dukk!


kriett!


"Kakek suara apa itu?" Tanya Lena.


"Oh itu...emm.." Jhonatan bingung harus menjawab apa, walaupun sebanarnya dia tahu suara tersebut berasal dari kamar Xio tepat diatas kepalanya saat itu. Dia juga tahu kenapa bisa timbul suara-suara berisik tersebut, tapi tidak mungkin mengatakan pada Lena kalau orangtuanya sedang bersetubuh.


"Itu mungkin Xio sedang mempaku sesuatu." Jawab Jhonatan berbohong.


'Kenapa mereka berdua terlalu bersemangat sih..? mentang-mentang masih muda.' Batin Jhonatan sedikit kesal dan iri, karena sudah lama juga dirinya tidak pernah berhubungan dengan wanita lagi.


Mau bagaimana lagi, walaupun diluar sana banyak wanita yang ingin tidur dengannya, tapi dia terlalu takut mengecewakan Xio lagi meski sangat sulit menahan ***** seorang pria.


"Ini sudah malam, Leon dan Lena kembalilah kekamar, besok kalian harus sekolah." Ujar Jhonatan.


"Baik kakek!" Jawab keduanya memeluk Jhonatan sebentar lalu langsung pergi ke kamar mereka masing-masing.


Jhonatan tersenyum, entak kenapa dirinya merasa senang jika melihat Leon dan Lena. Dan dia juga berpikir bagaimana bisa sudah mempunyai empat cucu dari anaknya, padahal dia mengingat umur Xio masihlah sangat muda.


'Tidak apalah, aku juga senang jika ramai dengan anak kecil.' Gumam Jhonatan sambil tersenyum.


Kembali kesisi Xio dan Ellisa. Setelah 3 jam mereka habiskan untuk saling berhubungan, sampai sekarangpun belum selesai juga. Padahal tubuh mereka berdua sudah dibasahi oleh keringat.


Suara ******* merdu terus di keluarkan dari mulut Ellisa bersamaan dengan suara ******* Xio yang terdeng berat tapi masih tetap senada.


Pukul 1 malam hari akhirnya mereka berdua pun sudah menyelesaikan permainannya, dan langsung berbaring sambil berpelukan diatas ranjang tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.


Xio mencium bibir Ellisa Sekilas kemudian mengusap rambutnya. Sementara dibawah sana dia masih belum mengeluarkan benda miliknya yang berdiri tegak didalam Ellisa. Walaupun cairan berwarna putih sudah berderai keluar.


"Bolehkan aku diam sebentar didalam sini?" kata Xio menunjukan jarinya dibawah pusar Ellisa.


"Emm." Ellisa mengangguk dan tersenyum hangat terlihat cantik. dia merasakan benda milik Xio malah semakin keras didalamnya. 'Sepertinya ini tidak akan berhenti.' batin Ellisa sudah dapat menebak.


Xio yang mendengar batinan Ellisapun tersenyum kemudian ******* bibir mungil Ellisa.


"Ini salahmu karena selalu terlihat cantik dan membuatku kepanasan." Kata Xio menopang tubuhnya diatas Ellisa dan perlahan-lahan menggerakkan pinggulnya kembali.


Yang dikiranya akan selesai, ternyata masih terus berlangsung sampai pukul 3 pagi.


Keesokan harinya, diruang makan sudah terlihat Xio serta Leon dan Lena yang sedang duduk di meja makan dengan pakaian mereka yang sudah terlihat rapih, Leon dan Lena mengenakan seragam sekolah, sedangkan Xio memakai jas kerjanya.



Mereka akan sarapan bersama dengan Ellisa dan juga Rose. Dengan makanan yang sudah tertata rapih di atas meja.


"Nenek kemana ayah?" Tanya Xio.


"Nenek juga tidak tahu, dia tadi cuman bilang mau pergi keluar saja." Jawab Rose. "Tidak usah memikirkannya, Jhonatan pasti sudah sarapan di luar." Tambahnya, dijawab anggukan oleh Xio dan melanjutkan memakan sarapannya.


Selesai sarapan, Ellisa mengantar Xio dan anak-anak sampai di depan rumah sambil menggendong Nathan dan Tassa.


Xio mencium kedua bayinya, kemudian mencium bibir Ellisa sekilas. "Sayang nanti siang kamu ke kantorku saja dengan nenek." Ucap Xio.


"Emm baik." Jawab Ellisa.


"Kalau begitu kita berangkat sekarang, ayo anak-anak." Kata Xio memanggil Leon dan Lena.


"Dadah Mamah!" Leon dan Lena melambaikan tangannya pada Ellisa dan dibalas lambaian tangan juga.


Xio serta Leon dan Lena-pun masuk kedalam mobil milik Xio. Dan mobilnya pun langsung melaju menuju jalan raya.


Seperti sebelumnya, Xio akan mengantarkan anak-anaknya kesekolah terlebih dahulu sebelum ke perusahaannya.


Mobil Xio berhenti di depan gerbang sekolah.


"Anak-anak jangan nakal oke?" kata Xio.


"Oke bye bye papah!" seru keduanya lalu keluar dari mobil.


karena mobil Xio merupakan mobil yang terbuka, jadinya banyak sekali orang pandangannya langsung tertuju pada ketampanan Xio. bahkan banyak wanita yang berteriak histeris seperti melihat hantu saja.


Setelah Leon dan Lena masuk gerbang, Xio pun menancapkan gasnya kembali. Hingga sampailah dia di perusahaannya, dan lagi-lagi dia langsung menjadi pusat perhatian saat masuk ke lobby nya saja, tapi Xio tidak menghiraukannya dan berjalan menuju lift khusus miliknya.


Banyak orang yang belum pernah melihat Xio sebelumnya keheranan kenapa dia menggunakan Lift khusus CEO. Tapi untuk yang sudah mengetahui siapa Xio, hanya bisa tercengang dengan ketampanannya yang semakin luar biasa.


Tubuh atletis, badan tinggi, pupil mata berwarna biru langit, rambut putih, wajah tampan dan dewasa, bahkan aktris sekelas dunia pun tidak akan ada yang bisa menyainginya mungkin sudah sangat jauh.


Saat pintu lift akan tertutup, Xio melihat Chris dan Adam yang berlari kearahnya.


"TUAN MUDA!"


...----------------...


...BERSAMBUNG...