
...--------SATU BULAN KEMUDIAN--------...
Di istana kerajaan Regalia saat ini sudah mulai berdatangan pemimpin-pemimpin dari semua wilayah yang ada di benua Virminium. Mereka mendapatkan undangan dari Sang Raja untuk melakukan perkumpulan dari berbagai penjuru.
Karena undangan tersebut disebarkan 3 hari sebelum perkumpulannya berlangsung, orang-orang yang mendapatkan undangan pun sudah menyiapkan hadiah-hadiah untuk memberikan ucapan selamat atas kelahiran pangeran dan putri kedua yaitu Nathan dan Tassa. Sebab didalam surat itu tertulis selain melakukan perkumpulan Yang Mulia Raja juga akan memperkenalkan anak-anaknya yang baru berumur kurang lebih 2 bulan.
Di halaman depan Istana sudah terlihat banyak sekali kereta kuda yang terparkir dan masih ada juga beberapa yang baru saja tiba. Dari berbagai kalangan tua dan muda terlihat sangat antusias dengan acara kali ini karena mereka ingin bertemu dan melihat secara langsung pemimpinnya yang sudah memakmurkan banyaknya nyawa.
Noah Miller, seorang pria berumur 24 tahun yang menjadi pemimpin dari sebuah kota kecil bernama Kota Platheus. Kota Platheus terletak dibagian timur benua Virminium dengan populasi orangnya yang tidak terlalu banyak, kota tersebut tidak terlalu terkenal dibandingkan kota-kota lainnya.
(Noah Miller mayor of the Platheus City)
Kali ini Noah datang ditemani oleh 4 pengawal dan 1 orang sekretaris saja. Alangkah terkesimanya Noah ketika tiba di gerbang istananya saja yang terlihat sangat besar dan menjulang tinggi dan gerbang tersebut terlihat seperti terbuat dari emas murni.
Kereta kudanya berhenti didepan gerbang karena ada penjaga yang menghentikannya.
"Tolong tunjukkan undangannya." Ucap penjaga tersebut.
Setiap ada kereta kuda yang akan masuk harus diperiksa terlebih dahulu undangan mereka.
"Ah ini!" Noah menyerahkan surat undangannya yang langsung di periksa oleh penjaga tersebut.
"Silahkan Masuk Tuan Noah." Penjaga tersebut mempersilahkannya masuk sambil menunduk untuk menunjukkan salam.
"Terimakasih." Jawab Noah sedikit tersenyum dan menundukkan kepala untuk membalas salamnya. Keretanya pun maju kembali.
Setelah dibuat terpukau dengan gerbar yang terbuat dari emas, kali ini Noah di buat ternganga melihat jalan menuju halam istana yang sama-sama dilaposi dengan emas serta Cristal bening.
'Bahkan jalan yang berguna untuk menjadi pijakan pun terbuat dari emas dan berlian. Entah sebanyak apa lagi kekayaan yang dimiliki oleh Yang Mulia. Aku yakin hartanya tidak akan habis sampai beberapa garis turun-temurun berikutnya.' Batin Noah.
Kereta kudanya sudah terparkir disamping kereta-kereta kuda yang lainnya tapi Noah terlalu gugup untuk keluar. Dia merasa tidak berani bertemu dengan pemimpin kota lainnya sebab kota miliknya sendiri saja yang Paling kecil.
Didalam pikirannya Noah terus berpikir bagaimana jika nanti ia di rendahkan atau bahkan di hina oleh mayor lainnya.
"Tuan ada yang berjalan kemari." Ucap sekretaris Noah.
Noah melihat keluar jendela kereta, dia melihat seorang pria mengenakan pakaian pelayan sedang berjalan mendekat kearah keretanya.
Tok! tok!
Orang tersebut mengetuk pintu kereta Noah. dan Noah pun membukakan pintunya.
"Permisi dengan Tuan Noah benar?" Tanyanya pelayanan tersebut.
"Iya benar" Jawab Noah.
"Mari saya antar anda ke tempat perkumpulan nya." Ujar si pelayan.
"Mmm baiklah.." kata Noah melangkahkan kakinya keluar kereta. dia bisa melihat kereta-kereta lainnya juga di jemput oleh seorang pelayan sama seperti dirinya.
Noah berjalan mengikuti pelayan yang barusan menjemputnya, sampai tibalah mereka di ruangan yang sangat luas dengan berbagai macam furniture beekilauan serta meja-meja yang sudah tertata rapi dilengkapi makanan dan minuman diatasnya.
"Silahkan nikmati hidangannya terlebih dahulu sambil menunggu Yang Mulia tiba." Ucap si pelayan menundukkan sedikit kepalanya.
"Ah iya terimakasih." Kata Noah
"Sama-sama Tuan." pelayan itu pun berjalan pergi meninggalkannya.
Saat ini Noah bingung harus melakukan apa. Dia ingin sekali mengajak ngobrol orang-orang tapi dirinya masih saja tidak percaya diri. Sampai akhirnya ada seorang pria terlihat masih berumur 35 tahun berjalan menghampirinya.
"Halo saya Roland Beck, mayor dari kota Blical." Sapa pria tersebut yang bernama Roland mengajak berjabat tangan.
"Oh ya saya Noah Miller, Mayor dari kota Platheus. Salam kenal." Noah membalas jabatan tangannya dengan tersenyum ramah, karena bagaimanapun ia tahu apa yang namanya itu tata krama.
"Wah senang bisa bertemu dengan anda! saya dengar kota Platheus memiliki keindahan alam yang yang luar biasa. Sebagai mayor dari kota tersebut anda pasti butuh perhatian ekstra pada spot itu!" Seru Roland.
"Haha anda terlalu menyanjung."
Mereka berdua pun terus mengobrol dan ada beberapa orang juga yang ikut bergabung. Noah merasa tidak percaya ternyata wilayah yang dipimpinnya lumayan terkenal dan banyak yang menyanjung dirinya.
'Rupanya perkiraan ku salah, ternyata mereka semua ramah-ramah dan tidak ada yang merendahkan sama sekali.' Batin Noah, Dia menenggelamkan pikiran buruknya tadi.
"YANG MULIA TELAH TIBA!!" Teriak seorang prajurit yang tidak lain yaitu Dulux. Semua orangpun langsung berdiri tegap dan menundukkan kepala mereka guna memberi salam Hormat pada keluarga kerajaan.
Aura didalam ruangan tersebut pun seketika menjadi sejuk dan sangat nyaman ketika Xio bersama dengan Ellisa datang sambil menggendong bayi-bayinya, serta Leon dan Lena yang berjalan di ssisi kiri-kanannya. Mereka terlihat sangat anggun dan Mempesona dengan ditambah aura kewibawaan yang sangat pekat sehingga membuat orang yang melihatnya saja akan langsung menyeganinya
Xio berjalan menuju kursi singgasananya sambil menggandeng Ellisa dengan Ekpresi datar seperti biasanya, tapi kali ini ada sedikit lekukan dibibirnya seperti sedang senang walaupun hanya terlihat sedikit. Dia berjalan melewati orang-orang yang sedang menunduk memberikan hormat padanya.
Sebelum duduk Xio menatap semua orang yang hadir terlebih dahulu dan mengangkat satu tangannya tanda menerima dalam dari mereka semua, Dan Xio pun langsung duduk di singgasananya.
"Hadirin semua silahkan duduk di kursi yang telah di sediakan." Ucap Sebas dan semua orangpun langsung duduk dengan tenang.
"Baiklah semuanya hari ini aku mengundang kalian untuk 2 tujuan, Yang pertama perkenalkan Cahaya siang dan malamku yang akan menambah kegembiraan serta Berkah untuk kerajaan Regalia ini. Yaitu anak-anakku sendiri Nathaniel Archon Alexander dan Natassa Archon Alexander." Ucap Xio berdiri sambil menggendong Nathan dan Tassa.
Semua orang bertepuk tangan seraya mengucapkan "Selamat Yang Mulia, Semoga diberkahi Tuhan." Begitulah Ucap-ucapan semua orang. mereka melihat Nathan dan Tassa tertawa lucu sehingga Xio juga ikut tersenyum tulus yang dapat dilihat orang-orang, Baru kali ini mereka bisa melihat Xio tersenyum seperti itu.
Xio menyerahkan kembali Nathan dan Tassa pada Ellisa kemudian menghadap kedepan lagi.
"Dan tujuan perkumpulan ini yang kedua yaitu aku ingin memberitahukan kalian kalau aku akan pergi selama kurang lebih 2 bulan. Jadi selama aku tidak ada, aku harap kalian bisa menjaga kerajaan ini tetap makmur walau tanpa diriku." Ujar Xio.
Semua orang langsung berdiri dari tempat duduknya dan berlutut satu kaki menghadap Xio.
"Hmm bagus, hari ini kita akan mengadakan pesta sampai malam hari." Kata Xio.
Walaupun saat ini Systemnya belum bangkit, tapi Xio yakin hari ini adalah hari dimana Systemnya akan Bangkit kembali.
Dan dia akan kembali kebumi keesokan harinya, untuk hari ini dia ingin menikmati waktu bersama dengan orang-orang yang sudah membantuya mengelola serta merawat kerajaannya.
Semua orang sedikit menyesal tidak mengajak istri dan anak mereka, karena tadi ya berpikir perkumpulan hari ini untuk rapat tapi nyatanya malah berpesta. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, semua orangpun mencoba mengobrol dengan semua yang hadir satu-persatu u tuk mencari kenekri dan relasi, sebab kapan lagi mereka bisa di perkumpulkan lagi seperti sekarang ini.
Saat ini Xio sedang mengobrol dengan Ellisa sambil menggenggam satu gelas anggur ditangannya.
"Sayang kalau bosan, kamu boleh kembali saja kekamar duluan." Ujar Xio mengelus rambut Ellisa.
"Tidak apa-apa, aku tidak bosan kok apalagi Nathan dan Tassa sedang asik seperti ini." Jawab Ellisa memperhatikan Nathan dan Tassa yang sedang mengendor ibu jari mereka sendiri.
"Haha...setelah kembali kebumi aku akan menepati janjiku waktu itu." Kata Xio tertawa kecil sambil menyentuh-nyentuh pipi Nathan yang lembut.
"Benarkahh?! Aku kira kamu sudah lupa." Ucap Ellisa.
Cup!
Xio mengecup tipis pipi Ellisa. "Mana mungkin aku lu-"
Prakk!!
Gelas anggur yang terbuat dari kaca itu jatuh kelantai.
Xio baru saja merasakan seluruh tubuhnya seperti disengat listrik yang sangat dahsyat dengan penglihatan yang semakin memudar. Tentu saja semua orang yang diruangan tersebut terkejut serta panik melihat raja mereka seperti akan tumbang tidak sadarkan diri.
Ellisa yang panik terus-menerus manggil nama Xio, Tapi sayangnya Xio tidak bisa mendengarkan apapun walau dia masih bisa melihat redup Ellisa dengan wajah khawatir. Sampai akhirnya Xio benar-benar menutupkan matanya.
...----------------...
Didalam hutan rindang terlihat seorang pria tua sedang berjalan bersama anak kecil laki-laki.
"Kakek!, kakek! Kenapa semua orang tidak mau bermain denganku?" Tanya Seorang anak kecil laki-laki itu yang memiliki berambut putih serta pupil mata berwarna ungu cerah, tapi pakaian yang dikenakannya terlihat lusuh.
Sedangkan pria tua yang anak itu panggil kalek terlihat memiliki badan yang tinggi dan juga kekar serta memakai jubah berwarna putih bersih.
"Bocah jangan panggil aku kakek, aku bukan kakekmu." Ucap si pria tua.
"Tapi kakek adalah kakek." Kata anak tersebut dengan tatapan polos.
"Haishh terserah kamu sajalah." Jawab pria tua pasrah.
"Oh iya kita mau kemana? rumahku bukan kearah sini." Tanya Anak itu lagi.
"Memangnya kamu mau kembali ke tempat itu lagi?" kakek itu bertanya balik.
dengan cepat anak tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak kan? sekarang kamu ikut saja dulu." Ujar si kakek dijawab anggukan oleh anak tersebut.
Setelah beberapa lama berjalan ketengah hutan rimbun itu, mereka akhirnya tiba di sebuah gubuk kecil sederhana.
"Apakah ini rumah kakek?" Tanya anak tersebut.
"Iya ini rumahku." Jawab kakek.
"Kok jelek sekali." Kata anak itu dengan santainya.
'Sabar-sabar namanya juga anak kecil'
"Kakek miskin yah?"
Langsung saja pria tua itu menjinjing anak tersebut membawanya kedalam rumah dengan kesal.
"Kakek, siapa nama kakek?"
"Azril Archon."
"Ohhh kakek Azril. Namaku Arcas."
"Hem aku sudah tahu."
"Kakek sudah tahu? kita kan baru bertemu tadi."
"Haha itu rahasia, sekarang cepat buka pakaianmu dan bersihkan dirimu di belakang sana."
Arcas pun dengan bersemangat langsung membuka semua pakaiannya dan berlari ke belakang rumah.
"Hahhh anak kecil." Azril menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian mengambil pakaian Arcas yang ditinggalkannya di lantai.
"Cihh sekejam itukah mereka pada anak kecil polos sepertinya?" gumam Azril melihat bercak-bercak darah menempel di pakaian Arcas.
BOOMM!!
Terdengar suara ledakan dari arah belakang rumah.
...----------------...
...BERSAMBUNG...