
...----------------...
Malam hari dikamar Leon dan Lena.
Lena terbangun karena mendengar suara Leon yang seperti sedang menggigil kedinginan.
Saat Lena membuka matanya ternyata benar Leon terlihat sangat pucat dan berkeringat dingin.
"Kak?, kakak kenapa?" Ucap Lena terkejut kemudian lena menyentuh kening Leon dan lena dapat merasakan suhu tubuh Leon sangat panas.
"Kakak tunggu disini aku akan panggil kakek!" Lena langsung beranjak dari kasur dan keluar dari kamar sambil berteriak memanggil Arthur dan Jhonatan.
Arthur yang kebetulan belum tidurpun langsung menghampiri Lena dengan cepat.
"Lena ada apa?, kenapa kamu belum tidur?" Tanya Arthur.
"Kakek cepat ikuti aku, suhu badan kakak sangat panas." Ucap lena langsung menarik tangan Arthur kedalam kamar.
"Leon!!" Arthur dengan cepat mendekat kearah Leon dan menyentuh kening Leon dengan perasaan khawatir.
"Astaga!, suhunya sangat tinggi, biar kakek panggil akan kakek Jhonatan dulu." ucap Arthur segera mengeluarkan handphone nya untuk menelepon Jhonatan karena Jhonatan sedang berada di mansion. Arthur menelepon Jhonatan karena dia tidak tahu apa-apa soal penyakit demam seperti ini.
Selesai menelepon Jhonatan, Arthur mengelus kepala Lena karena Lena terlihat sedang menangis sambil menggenggam tangan Leon yang sangat dingin.
Tak lama kemudian Jhonatan pun tiba dengan pakaian yang sedikit basah karena ia berlari dari mansion kerumah disaat cuaca sedang hujan.
Jhonatan dapat melihat Leon yang sedang menggigil tapi matanya masih tertutup dan dari mulut Leon terdengar ia sedang mengucapkan kata "Papah.. mamah.." dengan mengerutkan keningnya.
Jhonatan langsung mengambil termometer yang berada di rak dekat kasur kemudian ia memasukan termometer tersebut ke ketiak Leon.
Termometer tersebut menunjukan kalau suhu tubuh Leon saat ini 38Β° yang artinya memang benar kalau Leon terkena demam.
Karena sudah sangat parah Jhonatan pun menelepon dokter untuk datang ke rumah secara langsung karena tidak mungkin baginya membawa Leon kerumah sakit dimalam hari yang sedang hujan.
"Kakek..apakah kakak akan baik-baik saja?" tanya Lena.
"Kita tunggu dulu saja dokterya kemari." Jawab Jhonatan.
"Arthur kamu tunggu diruang tamu dan jika dokternya sudah datang langsung antarkan saja kemari" Ucap Jhonatan dan Arthur pun menurutinya menunggu di ruang tamu.
Sudah 15 menit menunggu tapi dokter tidak kunjung datang, pintu kamar terbuka dan masuklah Arthur.
"Dimana dokternya?" kata Jhonatan.
"Dokternya belum tiba tapi barusan orang mansion bilang kalau mereka menemukan lokasi Xio." Jawab Arthur.
"APA!!?, Kalau begitu kamu tunggu anak-anak dirumah biar aku yang menemui Xio." ucap Jhonatan dan diangguki oleh Arthur.
"Kakek aku ikut!" Sahut Lena.
"Baiklah ayo!" Jhonatan langsung menggendong lena agar lebih cepat.
diluar rumah sudah ada bawahan Xio yang sudah menunggu menggunakan mobil dan Jhonatan segera masuk kedalam mobil.
"Cepat jalankan mobilnya!" Perintah Jhonatan dan mobil pun segera melaju.
Para bawahan Xio dapat menemukan Xio karena dia tertangkap salah satu kamera CCTV yang berada diluar kota, selama ini Xio tidak tertangkap CCTV karena ia masuk kedalam bayangan.
...----------------...
Didalam gang sempit terlihat ada seorang pria yang sedang duduk bersandar di sisi tempat sampah dengan menggunakan pakaian yang basah kuyup dan kotor karena lumpur.
Pria tersebut terus memandangi cincin yang berada di genggamannya tanpa ekspresi dan pandangan yang kosong seperti tidak ada kehidupan serta matanya juga terlihat seperti orang yang belum tidur selama berhari-hari akibat menangis.
Grepp!
Tiba-tiba ada anak perempuan yang memeluknya tapi pria tersebut masih tidak berekspresi dan tatapannya masih kosong.
"BODOH!!,BODOH!, PAPAH BODOH!!" Ucap anak perempuan tersebut yang tidak lain yaitu Lena sambil memukul-mukul dada Xio.
"Apa yang papah pikirkan mencari mamah 2 hari tanpa istirahat?"
"Hiks saat ini kakak Leon sedang sakit dan terus memanggil papah dan mamah."
"hiks kenapa papah tidak mau pulang, aku takut kalau papah dan mamah pergi meninggalkan aku dan kak Leon. kita bisa mencari mamah bersama." Lena berbicara sambil menangis tersedu-sedu.
"Lenaβ¦" Xio berbicara dengan suara lemas.
"Maafkan papahβ¦" Xio langsung memeluk Lena. Kemudian datanglah Jhonatan membawa payung dan mantel kemudian menyelimutkan mantel tersebut pada Xio dan Lena agar mereka tidak kedinginan.
Xio melirik kearah Jhonatan dan berkata. "Terimakasih ayah dan maafkan perkataanku waktu itu." Kata Xio.
"Tidak apa-apa ayah juga mengerti, sebaiknya kita segera pulang kasihan Leon sedang demam dirumah dan terus menyebutkanmu serta ellisa." Balas Jhonatan.
Xio langsung berdiri sambil menggendong Lena yang ternyata sudah tertidur saat dipelukan Xio tadi. kemudian Xio memegang bahu Jhonatan dan langsung menggunakan shadow teleportation nya agar langsung sampai kerumah.
Seketika mereka bertiga langsung berada di ruang tamu rumah Xio. Jhonatan yang baru pertama kali melakukan proses teleportasi merasa sedikit pusing.
"Xio lalu bagaimana dengan orang yang tadi mengantar ayah?" Tanya Jhonatan.
"Tidak perlu khawatir, nanti juga pulang sendiri. sebaiknya aku langsung melihat keadaan Leon saja." Jawab Xio segera beranjak kekamar Leon. Saat Xio sampai didepan kamar Leon, Xio melihat Arthur yang sedang berdiri didepan pintu.
"Ayah maafkan aku, aku belum menemukan Ellisa tapi aku tidak akan pernah menyerah untuk mencari Ellisa." Ucap Xio sedikit menunduk.
"Tidak apa-apa kita bisa mencarinya bersama-sama, sebaiknya kamu temani Leon dan Lena dulu." ujar Arthur, Xio mengangguk dan masuk kedalam kamar. terlihat dokter yang sudah selesai memeriksa Leon.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Xio.
"Tuan anak anda terkena demam diduga akibat suhu cuaca yang dingin serta terlalu kelelahan, ini untuk obat-obat nya dan anak anda harus banyak beristirahat" jawab dokter tersebut.
"Baiklah terimakasih dok." ucap Xio. dokter tersebut mengangguk kemudian langsung keluar dari kamar Leon dan Lena.
Xio berjalan menmendekat kearah Leon dengan masih menggendong Lena. Saat Xio menyentuh kening Leon, Leon pun perlahan membukakan matanya.
"Tangan papah dingin ya?, maafkan papah jadi membangunkan le-" Belum selesai berbicara, Leon langsung berhambur memeluk Xio sambil menangis.
"Leon badan papah sedang basah nanti kamu kedingininan."
Ucap Xio.
"Biarkan Leon memeluk papah, kalau papah yang memeluk Leon rasanya jadi hangat kembali." Jawab Leon mempererat pelukannya.
"Kakak!, apakah kakak baik-baik saja?" Ucap lena yang terbangun karena mendengar suara Leon.
"Umm kakak tidak apa-apa, maafkan kakak membuat Lena khawatir." Jawab Leon.
"Leon lepaskan dulu yah, papah dan lena akan ganti pakaian dulu." Ucap Xio dan Leon pun mengangguk dan kembali ketempat tidurnya.
Selesai mengganti pakaian, Xio kembali kekamar Leon dan Lena.
"Papah tidur dengan kami yah?!" Ucap Lena.
"Baiklah." Jawab Xio ikut berbaring bersama Leon dan Lena.
"Papah janji ya jangan tinggalkan kami lagi." Ucap Leon.
"Papah janji tidak akan meninggalkan Leon dan Lena lagi, papah juga minta maaf karena papah Leon jadi demam."
.
.
.
.
.
π½ππππΌππ½πππ