
...----------------...
Sementara itu di akademi.
Semua anak-anak di kumpulkan diaula untuk di berikan pengarahan seperti sistem pembelajan yang setiap orangnya hanya boleh mengambil 4 kelas saja dari 10 kelas yang ada.
*****
Kelas Berpedang
Kelas Sihir
Kelas Bisnis
Kelas Tamer/Summoner
Kelas Alkemis
Kelas Pertanian dan peternakan
Kelas Memanah
Kelas Kuliner
Kelas pengrajin
Kelas Politik/Pemerintahan
Umur 7-12 (Murid Lower)
Umur 13-16 (Murid Middle)
Umur 17-18 (Murid Higher)
(Jika ada yang berprestasi maka bisa langsung naik tingkatan)
*****
Setiap kelas sudah di jelaskan oleh setiap guru yang mengajar di masing-masing kelasnya. Selesai penjelasan mengenai kelas, semua murid pun di berikan selembar kertas untuk mengambil kelas yang mereka inginkan.
"Aku harap bisa sekelas dengan Pangeran atau Tuan putri."
"Yah semoga saja aku memilih kelas yang sama."
"Tapi Akan masuk ketingkat apa Putri dan pengeran?"
"Benar juga, walaupun masih berumur 6 tahun tapi kemampuannya dan kepintarannya sudah setara orang dewasa."
Begitulah obrolan para murid yang ingin sekelas dengan Leon dan Lena, tapi mereka juga belum tahu akan masuk ketingkat apa Leon dan Lena sebab mereka sudah pernah melihat kemampuannya ketika kompetisi waktu itu.
Sementara itu Leon dan Lena yang duduk di samping Sammael sedang fokus pada kertas mereka masing-masing.
"Kakak mau masuk ke kelas apa saja?" Tanya Lena.
"Kakak memilih kelas Berpedang, Sihir, Pemerintahan, dan bisnis." Jawab Leon. "Kalau Lena?" Lanjutnya bertanya.
"Lena memilih kelas Berpedang, Sihir, Tamer, dan kuliner." Jawab Lena.
"Berarti kita ada 2 kelas yang sama." Kata Leon senang.
Lena menganggukkan kepalanya. "Tapi kenapa kakak mau masuk kelas pemerintahan dan bisnis?" Tanya Lena.
"Karena kakak akan meneruskan posisi papah nantinya, jadi kakak pikir 2 kelas ini akan sangat dibutuhkan." Jawab Leon. "Lena sendiri kenapa memilih kelas kuliner?" Tanyanya.
Lena menundukkan kepalanya, "Lena ingin menjadi istri yang pandai memasak untuk kakak nanti sebagai suami Lena." Ucapnya dengan wajah tersipu.
Leon tersenyum Sambil mengelus kepala Lena. "Hehe kalau begitu kakak juga harus bekerja keras untuk menjadi kuat agar bisa melindungi Lena." Ucapnya.
Sementara Sammael yang mendengar percakapan mereka berdua saat ini tengah kebingungan. Antara harus memberitahukannya kalau sauda tidak boleh menikah atau melaporkannya saja pada Xio nanti.
'Sebaiknya aku beritahukan pada Yang Mulia saja.' Pikir Sammael. Tapi ia juga merasa Leon dan dan Lena sangat imut jika sedang beromansa.
"Paman kita sudah Selesai." Ucap Leon menyerahkan kertasnya begitupun dengan Lena.
"Paman sekarang tinggal apa?" Tanya Leon.
"Seharusnya sih pembagian seragam, tapi untuk Pangeran dan tuan putri sudah di siapkan oleh Yang Mulia." Jawab Sammael. Ia sidah diberitahukan oleh Xio kalau anak-anak sudah memilih kelasnya laporkan pada Xio karena akan di berikan Sihir khusus di seragamnya. Setiap kelas mempunyai seragam yang berbeda-beda begitupun dengan tingkatannya.
"Oh iya Yang Mulia juga bilang kalau Pangeran dan Tuan Putri tidak boleh tinggal di asrama." Tambah Sammael. Xio tidak memperbolehkan Leon dan Lena tinggal diasrama karena ia tidak mau sehari saja tidak melihat wajah anak-anaknya yang imut.
"Hahh... aku sudah mengira itu dari papah." Leon menghela nafas pasrah diangguki oleh Lena.
"Jadi sekarang kita sudah boleh pulang?" Tanya Lena.
"Iya karena belajarnya akan dimulai besok." Jawab Sammael.
"Mari saya antarkan." Ujarnya.
"Tidak usah paman kita pulang sendiri saja." Kata Leon memegang tangan Lena, dan mereka pun menghilang seketika dari sana.
Sammael menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak ayah tidak anak, sama saja selalu menghilang tiba-tiba." Gumamnya tersenyum.
Leon dan Lena tidak langsung pulang ke istana, melainkan ke guild petualang terlebih dahulu untuk bertemu dengan Zekiel dan mengajaknya bermain.
Saat masuk kedalam bangunan guild petualang, Mereka berdua langsung di sapa oleh resepsionis yang memang sudah mengenalnya. Leon dan Lena pun langsung pergi ke ruangan Aslan karena sudah yakin Zekiel saat ini sedang berada di ruangannya.
"Nak kamu belum bisa masuk ke akademi tahun ini karena masih berumur 7 tahun." Terdengar suara Aslan didalam ruangannya yang sudah dipastikan sedang berbicara dengan Zekiel.
"Tapi Leon dan Lena juga kan masih 6 tahun sama denganku, dan mereka bisa masuk akademi." Ucap Zekiel.
"Hahh.." Terdengar Aslan menghela nafas, "Tuan putri dan pangeran kan anaknya Yang Mulia, ditambah lagi mereka sangat jenis jadi tidak aneh kalau mereka sudah masuk akademi." Ucap Aslan.
Tok! tok!
Leon mengetuk pintu.
"Masuk!" Sahut Aslan.
Leon dan Kena pun membukakan pintunya dan masuk kedalam ruangan, mereka bisa melihat Zekiel yang sedang berdiri didepan meja Aslan dengan Aslan yang sedang duduk menghadapnya.
"Oh Tuan putri dan pangeran!, apakah kesini untuk bertemu Zekiel?" Ucap Aslan.
"Eem kita mau mengajak Zekiel bermain." Jawab Lena mengangguk.
"Oh iya paman, nanti aku akan bicara pada papah biar Zekiel juga bisa masuk akademi bersama kita." Kata Leon.
Aslan langsung berdiri, "Tidak perlu pangeran! itu akan merepotkan Yang Mulia. Biar Zekiel menunggu tahun depan saja." Ucap Aslan, karena ia berpikir tidak enak jika harus dengan bantuan Xio lagi.
"Tidak apa-apa paman, papah juga pasti tidak akan keberatan." Ujar Leon.
"Emm baiklah, tapi biar paman saja yang bicara dengan papah kalian nanti." Kata Aslan karena merasa tidak sopan jika tidak berbicara secara langsung dan melalui anak-anak.
"Ok Paman!" Leon mengacungkan ibu jarinya.
"Ayo Zekiel kita menjelajahi dungeon yang baru lagi!" Seru Lena menarik tangan Leon dan Zekiel keluar dari ruangan Aslan. Leon dan Zekiel pun mengikuti Lena dengan semangat.
Sementara Aslan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kebiasaan mereka yang sangat senang jika ada dungeon baru terbuka. Dan anehnya lagi anak seumuran mereka tempat bermainnya ditempat berbahaya yang penuh monster, tapi Aslan sidah tidak aneh lagi mengingat Ketiganya sangat suka pertarungan.
"Sudah beberapa hari aku tidak mengunjungi Xio, sebaiknya aku kesana sekarang saja." Gumamnya langsung beranjak keluar dari ruangan itu.
Sebelum keistana Aslan pulang kerumahnya terlebih dahulu untuk mengajak Salma pergi bersamanya, karena Ellisa selalu menanyakan Salma jika Aslan ke istana sendirian.
Sementara itu disisi Xio saat ini.
Xio dan Ellisa baru saja sampai di istana sehabis pulang dari rumah Azco menaiki kereta kuda.
"Hati-hati sayang.." Ucap Xio membantu Ellisa turun dari kereta dengan memegang tangannya.
Setelah Ellisa turun pun, Xio kemudian menggandengnya dan melangkahkan kakinya menuju taman karena Ellisa bilang ia ingin ke taman.
...----------------...
...BERSAMBUNG...