Cross The World With System

Cross The World With System
4% Memories



...----------------...


Malam hari di dalam gubuk kecil ditengah hutan itu, terlihat Azril sedang mengajarkan membuat ramuan pada Arcas yang matanya setengah mengantuk.


Sudah sekitar 1 Minggu Arcas tinggal bersama Azril. Hari-hari mereka lewati seperti biasanya. Pagi hingga siang belajar sihir-sihir dasar, siang hingga petang belajar berpedang, dan malamnya belajar tentang pengetahuan.


Hanya dalam beberapa hari saja, Arcas sudah berhasil menguasai beberapa sihir serta teknik-teknik berpedang dengan luwes. Padahal biasanya anak-anak seumurannya akan membutuhkan waktu lebih dari satu bulan untuk dapat belajar hal tersebut dan 2 bulan hingga sampai benar-benar menguasainya.


Meski Arcas mudah belajar, tapi Azril tidak mengurangi porsi latihannya sama sekali, yang ada dia malah menambahkan latihan lagi.


Seperti saat ini, kepala Arcas sudah beberapa kali akan tumbang, karena saking beratnya menahan kantuk. Sedangkan kedua tangannya harus teliti memilah-milah bahan-bahan herbal yang akan dibuat menjadi ramuan. Karena satu saja salah memasukkan bahan, maka ramuannya akan gagal dan ia harus mengulangnya dari awal.


"Kakek, kapan aku boleh tidur?" Tanya Arcas pada Azril yang sedang duduk di kursi di hadapannya.


"Selesaikan dulu tugasmu," Sahut Azril, "ramuan itu akan dijual ke pasar, jadi jangan sampai ada kesalahan." Lanjutnya.


"Huff... baiklah." Arcas menghela nafas pasrah tanpa tahu ramuan apa sebenarnya yang dia buat, dan dari tadi baru mendapatkan 2 botol kaca saja.


Setelah mendapatkan botol ketiga, ia pun akhirnya diperbolehkan istirahat oleh Azril karena keesokan harinya mereka harus pergi kepasar pagi-pagi untuk menjual barang dan membeli bahan makanan.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya. Azril dan Arcas sudah berjalan keluar dari hutan dengan mengenakan jubah putih bertudung yang menutupi kepala mereka sehingga sulit untuk dikenali.


Mereka terus berjalan keluar dari hutan tanpa ada gangguan sama sekali, meski hutan tersebut terlihat menyeramkan. Sampai akhirnya mereka pun tiba di kota, dan dengan mudahnya melewati para penjaga.


Arcas juga sudah di peringati oleh Azril, mau dalam keadaan apapun jangan sampai membuka tudung kepalanya. Pertama mereka pergi ke guild untuk menjual ramuan, dan setelah itu kepasar membeli bahan makanan.


"BERI JALAN UNTUK YANG MULIA!!" Terdengar teriak seorang prajurit yang menunggangi kuda, bersama dengan rombongan kereta kuda.


Semua orang segera menepi ke sisi jalan sambil membungkukkan setengah badan mereka, kecuali Azril. Dia menyembunyikan Arcas dibelakang tubuhnya yang tinggi seperti tidak mau orang-orang kerajaan itu melihat Arcas.


Tentu saja Azril yang tidak mau memberi hormat mendapatkan bentakan dari sang prajurit. Dia berhenti di depan Azril sambil mengarahkan pedangnya di pundak Azril mengancam. "Berani sekali kau tidak menghormati Yang Mulia Raja!" Ucap prajurit tersebut.


Azril diam tidak menjawab, dan tidak ada yang melihat dia tersenyum miring di balik tudungnya.


Kereta kuda yang membawa raja juga ikut berhenti dan membuka jendelanya. Sehingga terlihat seorang pria dengan rambut serta brewok berwarna pirang keemasan serta mahkota diatas kepalanya.


Sang raja membuka suara, "Jangan pikirkan dia, kita harus segera pergi!" Ucapnya. Dan Azril dapat merasakan kalau Arcas menggenggam jubah belakangnya semakin kencang dengan tangan yang gemetar seperti ketakutan.


Prajurit yang mendengar suara rajanya barusan pun segera menarik pedangnya kembali dari atas pundak Azril. Dengan tatapan sinis ia berkata, "kau beruntung kali ini." Ia pun kembali memacu kembali kudanya berjalan disusul oleh kereta kuda raja.


Azril memegang tangan Arcas dan segera membawanya pergi ke lawan arah dari rombongan raja. Sampai tiba-tiba ia berhenti di dekat gang sempit karena melihat Arcas yang tak berhentinya gemetar ketakutan seperti memiliki trauma berat ketika mendengar suara raja tadi.


Azril membawanya masuk ke dalam gang dan berjongkok di depannya sambil memegang kedua tangannya dan melihat ekspresi wajahnya yang suram dengan mata menggambarkan ketakutan yang luar biasa. "Sudah jangan takut, ayahmu tidak lagi disini." Ucap Azril.


"Ti-tidak! Dia bukan ayahku! Aku tidak punya ayah!" Bantah Arcas menundukkan kepalanya dengan matanya yang goyah.


'Sepertinya anak ini masih trauma dengan perlakuan ayahnya,' batin Azril. "Baiklah ayo kita kembali saja. Pegang tanganku!" Ucapnya memutuskan tidak membahas ayahnya lagi, karena pastinya akan membuat Arcas kembali mengingat perlakuan ayahnya yang akan membangkitkan aura kehancuran lagi dalam tubuhnya.


Arcas menuruti dan memegang tangan Azril. Azril kemudian seperti mengucapkan mantra, dan tiba-tiba saja mereka menghilang di gang tersebut tanpa jejak sedikitpun. Lalu mereka berdua kembali muncul di dalam hutan jalan menuju gubuknya.


Arcas tercengang dapat melihat dan merasakan langsung sihir teleportasi yang Azril gunakan, karena setaunya yang didengar dari orang-orang kalau sihir teleportasi sudah punah, dan hanya master sihir saja yang dapat menggunakannya.


"Kakek! Kakek! Apa kakek seorang master sihir?!" Seru Arcas melompat-lompat di depan Azril dengan tatapan kagum dan berantusias.


"Tidak, aku hanya penyihir biasa." Jawab Azril berjalan duluan. 


Arcas berlari menyusul Azril, "kakek! Apa aku juga nanti bisa sihir seperti kakek!" Ia melompat-lompat kegirangan memutari Azril.


"Ya Kalau kamu belajar sungguh-sungguh." Azril menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Arcas yang tadi murung sekarang sudah hiperaktif kembali.


Mereka terus berjalan dengan Arcas yang bawel karena banyak bertanya, tapi dengan sabar Azril menjawab semua pertanyaannya karena tahu anak kecil banyak penasarannya.


Setelah itu mereka pun kembali melalui hari-hari seperti biasanya, dan jika pergi ke kota, sebisa mungkin Azril menghindari bertemu dengan orang kerajaan karena Arcas masih trauma.


Hari demi hari berlalu. Arcas perlahan mulai terbuka pada Azril. Dia sedikit demi sedikit bercerita tentang dulu saat dia masih berada di kerajaan. 


Ternyata Arcas merupakan anak dari ratu bersama raja di kerajaan tersebut. Tapi saat sang ratu melahirkan Arcas, dia meninggal, sehingga raja menyalahkan Arcas sebagai anak pembawa sial. 


Raja memiliki beberapa selir dan juga anak dari selir-selirnya, dan setiap hari Arcas harus mendapatkan rundungan dari mereka. Mau itu kekerasan fisik seperti dihajar habis-habisan ataupun kekerasan mental seperti memfitnahnya sehingga disalahkan oleh ayah kandungnya sendiri, dan mendapatkan hukuman dengan dikurung di ruang bawah tanah dengan tangan dan kaki dirantai, serta siksaan setiap harinya. 


Saking bencinya orang-orang kerajaan pada Arcas, ia bahkan menganggap dan memperlakukan Arcas lebih rendah dari pada gelandangan. Sampai suatu hari Arcas pernah tidak terkendali dan tidak sengaja membunuh salah satu anak selir sehingga ia mendapatkan hukuman yang lebih berat setiap hari, dan raja mengumumkan pada rakyatnya kalau Arcas bukan anggota kerajaan maupun anak kandungnya, sehingga rakyat pun ikut mengucilkannya.


Azril bertanya, "apa kamu menyimpan dendam pada mereka?"


"Iya." 


"Apa kamu ingin membalaskan ya suatu hari?"


"Iya," 


"kerajaan itu akan hancur suatu hari."


"HAHAHA…" Entah kenapa Azril tiba-tiba tertawa. "Sekarang berapa umurmu?" Lanjutnya bertanya.


"Tidak tahu, aku juga tidak tahu kapan hari ulang tahunku." Jawab.


"Haishh...apa tidak pernah ada yang memberitahumu?" Tanya Azril lagi dan dijawab gelengan kepala oleh Arcas.


"Benarkah?" Tanya Arcas dijawab anggukan oleh Azril. "Terimakasih kakek! Aku senang sekali akhirnya aku punya hari ulang tahun seperti anak-anak lain." Arcas berhambur memeluk Azril karena saking senangnya. Azril tersenyum sambil mengacak-acak rambut Arcas.


"Aku punya hadiah untukmu," Azril mengeluarkan sebuah benda panjang dibalut kain. "Karena kamu sudah lancar menggunakan pedang, jadi ambillah ini."


Arcas membuka kain penutupnya dan melihat sebuah pedang indah dengan buahnya yang berwarna hitam.


"Apa ini pedang sungguhan? Kenapa bilahnya berwarna hitam?" Tanya Arcas.


"Tentu saja pedang sungguhan. Bilahnya berwarna hitam karena menggunakan logam pilihan yang menyesuaikan dengan elemenmu agar tidak mudah hancur." Jawab Azril.


"Ohh begitu...apa setelah ini aku boleh melawan monster sungguhan!?" Seru Arcas.


"Tidak, tunggu kamu menguasai beberapa ilmu pedang lagi." Kata Azril. "Sudah malam, cepat tidur!" Suruh ya.


"Hufft... baiklah…" Arcas berjalan pasrah sambil membawa pedangnya barusan.


Di kursinya Azril melihat keluar jendela rumah menatap bulan utuh yang bersinar sangat terang atau yang sering disebut bulan purnama.


Hari demi hari kembali berlalu, hubungan Arcas dan Azril juga semakin dekat. Bahkan sudah seperti kakek dan cucunya sendiri.


Satu tahun berlalu, dan besok adalah hari ulang tahunnya Arcas. Tapi malam ketika Arcas pulang kerumah setelah berburu, dia tidak mendapatkan seorangpun berada di gubuk tersebut. Bahkan sudah memutari dan mencari di sekitar hutan pun, Arcas tidak melihat Azril sama sekali.


Arcas berpikir Azril mungkin belum pulang dari kota, karena tadi bilang ada urusan sesuatu di kota. Jadi Arcas pun memutuskan untuk tidur karena tidak sabar menunggu ulang tahunnya besok.


Tapi ketika keesokan harinya tiba, dari pagi hingga siang Azril belum juga kembali. Arcas pikir, apa mungkin kakeknya mendapatkan masalah di kota? Semua pikiran negatif mulai masuk kepalanya takut Azril dalam masalah. Arcas pun memutuskan untuk pergi ke kota meski Azril melarangnya untuk pergi ke kota seorang diri.


Seperti biasa Arcas mengenakan jubah bertudungnya dan membawa pedang milik ya yang diberikan Azril padanya saat itu. 


Ketika sampai di pos penjaga, Arcas di suruh membuka tudungnya, padahal jika bersama Azril, mereka tidak pernah diperiksa sama sekali.


Dengan tegas Arcas menolak, tapi para prajurit penjaga membuka tudungnya dengan paksa sehingga wajah familiar pun terekspos dimata mereka.


"Apa? Si pembawa sial ini belum mati?!" Ucap salah satu prajurit.


"Cepat tangkap dia!" Teriak salah seorang lagi.


Arcas yang terkejut pun dengan refleks membunuh mereka dalam sekali ayunan pedang saja. Saat itu adalah pertama kalinya Arcas melihat banyak mayat dengan kepala terpenggal di depan matanya. Bukan gemetar, tapi dia malah terlihat senang seperti ada perasaan segar mengalir keseluruh tubuhnya ketika membunuh.


Prajurit-prajurit lain mulai berdatangan mendengar suara sirine peringatan. Mereka mengepung Arcas tanpa memberinya jalan untuk keluar, dan langsung melancarkan serangan gabungan mereka untuk melawan dan menangkap Arcas.


Tapi sekali lagi, dengan hanya beberapa teknik pedang saja, Arcas dengan mudahnya menebas mereka semua. Sampai akhirnya datanglah orang-orang terkuat dari kerajaan untuk membantu melawan Arcas.


Tidak hanya satu orang kuat, tapi puluhan orang-orang kuat yang datang satu persatu melawan Arcas. Arcas yang sadar tidak akan menang melawan mereka sekaligus pun berniat akan melarikan diri, tapi sayangnya kecepatan serta kekuatannya belum setara dengan orang-orang tersebut sehingga Arcas pun berhasil tertangkap dan dibawa menghadap raja.


Raja memutuskan gugat bahwa Arcas merupakan pemberontak kerajaan dan harus dihukum mati, dengan dipenggal hidup-hidup di tengah alun-alun kota sehingga masyarakat dapat menyaksikannya.


Seorang anak yang baru menginjak 8 tahun itu tidak bisa melakukan apapun, karena ia di rantai dengan rantai magis yang menyerap energi serta mana-nya.


Tidak ada wajah kasihan dari semua orang ketika melihat seorang anak kecil akan dihukum penggal di bawah alat pancung Guillotine dengan pisau tajam berada tepat di atas lehernya.


Saat ini Arcas seperti orang yang benar-benar tidak memiliki harapan. Pandangannya kosong dan di dalam hatinya dipenuhi penyesalan karena dia tidak menuruti apa kata kakeknya. Dan bahkan Arcas belum sempat membalas Budi pada kakeknya, melihat wajah-wajah orang yang menyaksikannya benar-benar membuatnya muak. Mereka tersenyum seolah menyaksikan hiburan diatas penderitaan orang lain.


Dari lahir dia hanya sekali mendapatkan kasih sayang, yaitu dari Azril. Dalam hatinya berkali-kali dia mengucapkan maaf pada kakeknya yang sudah memberikan dia pendidikan dan juga hari ulang tahun.


Terpuruk, semakin terpuruk dia ke dalam jiwanya yang paling dalam ketika melihat ayah kandungnya sendiri berpidato yang membuat membuat hatinya semakin sakit. Serta tawaan dari para saudara-saudara tirinya yang tanpa sadar membuat dia membangunkan sosok yang menatap didalam jiwanya.


Detik sebelum pisau itu dijatuhkan, Arcas tiba-tiba memejamkan matanya tidak sadarkan diri yang ia kira bahwa itu adalah akhirnya.


.


.


.


.


.


.


Ketika membuka matanya kembali, Sekilas Arcas melihat kota yang sudah menjadi lautan api dan mayat serta dara yang bergenang. Merasa sedang menggenggam sesuatu, Arcas melihat ke arah tangannya yang ternyata sedang menjinjing sebuah kepala tanpa badan yaitu kepala sang raja.


Tiba-tiba saja dia merasakan nyeri diseluruh tubuhnya yang membuatnya tersungkur ke tanah sambil mengerang kesakitan. Arcas sekilas melihat seorang pria yang sangat dikenalnya berdiri di depannya sambil tersenyum dan Arcas juga ikut tersenyum dengan perasaan hati yang lega melihat pria itu baik-baik saja sampai dia menutupkan matanya kembali.


***


Pagi hari di istana kerajaan Regalia. Di dalam kamar, Xio tiba-tiba membuka matanya dan di depan matanya dia langsung melihat langit-langit atap ruangan yang berwarna putih bercorak naga-naga emas.


Ia tiba-tiba saja tersenyum mengingat masa lalunya yang barusan ia saksikan, dan ia pun sudah mendapatkan beberapa poinnya. 


Ketika melihat memories di layar statusnya yang baru mencapai 4%, ia kembali menjadi datar. 


'sepanjang apa sebenarnya masa laluku?' Batin Xio penasaran.


"Sudah bangun?"


Xio dikejutkan dan langsung bangkit ketika mendengar suara seorang yang ada di dalam kamarnya, padahal dia tidak merasakan ada hawa keberadaan orang lain di dalam sana. 


Seseorang sedang berdiri di balkon dengan pintu yang terbuka.


...****************...


...BERSAMBUNG...