
...----------------...
Ketika Xio sudah tiba di akademi, dia sudah dapat melihat kekacauan yang terjadi. Ia melihat sesosok monster besar dengan tubuh bawah laba-laba yang memiliki 8 kaki, sedangkan tubuh atasnya adalah tubuh perempuan yang tadi Xio temui di hutan yaitu Hailey. Besar tubuhnya melebihi tinggi bangunan, dan bahkan terlihat beberapa bangunan yang sudah dihancurkan nya.
Xio juga melihat para murid yang panik berlarian untuk menyelamatkan diri, dan terlihat masih banyak yang masih dekat ratu monster itu. Tanpa pikir lama dia mengeluarkan hampir semua prajurit bayangannya untuk mengevakuasi para murid ketempat yang aman.
Dia mengirimkan pesan telepati pada para bawahannya yang ada di akademi untuk menjauhkan semua murid dari area akademi karena sudah terlihat ratu monster tersebut sudah mulai membuat kekacauan dengan pergerakan kecilnya yang bisa langsung menghancurkan apapun di sekitarnya.
Selain itu, Xio juga melihat kalau Ratu monster itu mengeluarkan jaring-jaring laba-laba yang mengarah ke arah orang-orang didekatnya. Tapi untungnya orang-orang yang terkena jaring laba-laba tersebut dapat langsung dibebaskan dan diselamatkan oleh para prajurit bayangannya Xio.
Saat itu kebetulan Xio berpapasan dengan Sammael yang sedang membawa beberapa murid menjauh didalam jaring yang sangat besar seperti sedang membawa jangkar ikan.
"Apa kau melihat Leon dan Lena?" Tanya Xio.
"Maaf Yang Mulia, saya tidak melihatnya." Jawab Sammael.
"Em, kalau begitu katakan pada yang lainnya untuk mempercepat evakuasinya." Kata Xio.
"Baik Yang Mulia. Kalau begitu saya permisi." Pamit Sammael dijawab anggukan oleh Xio.
Tanpa sadar kalau saat ini dilangit akademi sudah terdapat telur besar yang hampir menutupi seluruh langit akademi, sampai membuat setiap sudut akademi tertutup bayangan telur tersebut. Tapi dalam bayangan yang menyeluruh tersebut merupakan keuntungan bagi Xio, karena bayangan adalah kekuasaannya.
Dengan mudah Xio pun menemukan Leon, Lena, Zekiel dan Falma yang sedang berada di salah satu atap bangunan yang cukup jauh dari kekacauan, duduk berderet sambil memperhatikan ratu monster tersebut.
Xio hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat mereka sesantai itu meski di depannya ada monster yang sedang membuat kekacauan. Tapi untung saja mereka cukup jauh sehingga Xio tidak terlalu khawatir.
Krakk!
Terdengar suara retakan besar dari langit. Dan ketika melihat ke atas, ternyata cangkang telur raksasa itu terlihat mulai retak seperti akan menetaskan sesuatu didalamnya.
Sadar ada yang tidak beres di dalam telur tersebut, Xio pikir jika dia bisa menghancurkan telur tersebut sebelum menetas, mungkin bisa membuat sesuatu didalamnya tersebut ikut hancur. Tapi sayangnya telur tersebut menetas dengan sangat cepat.
Pusaran berwarna hitam yang terdapat didalam telur tersebut seperti portal.
"Portal apa itu?" Heran Xio.
Sampai tak lama kemudian ia mendapatkan jawabannya. "Hahaha...keluarlah anak-anakku!!" Monster laba-laba besar itu tertawa sambil menatap ke dalam portal.
Lalu Dari dalam portal tersebut keluar Monster-monster besar yang belum pernah Xio lihat sebelumnya. Selain monster-monster besar, ada juga monster-monster berukuran sedang yang jumlahnya tidak terhitung dan terus keluar dari portal tersebut seperti tidak ada habisnya.
Monster-monster tersebut berjatuhan dari langit ada ada juga yang berterbangan. Untuk mencegah mereka keluar ke perkotaan, Xio segera memasang barrier besar yang mencakup seluruh daerah akademi.
Untung saja para prajurit bayangan Xio cepat mengevakuasi para murid, sehingga sudah tidak ada lagi murid yang berada di dalam lingkup akademi.
"Yang Mulia!" Terdengar suara Azco yang sudah dalam wujud naganya menghampiri Xio.
"Bagus kamu bantu bereskan kroconya, dan aku akan melawan bosnya." Kata Xio langsung melesat cepat ke arah si ratu monster.
Sementara Azco menghabisi monster-monster lainnya dengan serangan area agar lebih cepat habis, disertai dengan bantuan para prajurit bayangan Xio yang jumlahnya tak kalah banyak dari monster-monster tersebut. Bantuan kembali datang yaitu Sebas, para dosa serta kebajikan, dan para prajurit istana.
Pertempuran yang sangat besar tak terhindarkan seperti di setiap sudut pasti ada pertempuran-pertempuran yang luar biasa efeknya, tapi meski sudah berapa banyak pun monster yang mati, jumlahnya tidak berkurang sama sekali, dan malah bertambah semakin banyak karena portal di langit belum juga berhenti mengeluarkan monster.
Xio sudah berdiri tepat di hadapan ratu monster dengan kaki menapak di udara.
"Kuakui aktingmu tadi cukup bagus." Kata Xio.
"Ksss….halo pria tampan, kita bertemu lagi." Sahut Ratu monster itu mendesis dan menjulurkan lidahnya yang panjang seperti lidah ular.
"Apa yang kau inginkan?!" Sinis Xio menanyakan tujuan ratu monster itu datang ke kerajaannya.
"Apa yang kuinginkan? Hahaha….aku ingin bersenang-senang dan menciptakan kerajaan monsterku! Hahaha…" Tawa dari ratu monster itu terdengar ke seluruh area di dalam Barrier akademi. Dan dari suara tawanya itu, membuat monster-monster lain semakin agresif dan bertambah kuat.
"Kalau itu tujuanmu maka…"
Xio langsung mengeluarkan pedang miliknya dan memegangnya dengan kedua tangan. Lalu Dia mulai menutup mata dan mengangkat pedangnya keatas. Perlahan aura berwarna emas mulai tercipta di sekeliling tubuhnya dan dihisap oleh pedang miliknya sehingga memancarkan cahaya yang sangat terang dari pedangnya.
"KINGS JUDGEMENT!!" Teriak Xio seraya menancapkan pedangnya ke tanah.
Detik pertama belum terjadi apapun, tapi sampai kemudian, dari langit terlihat sebuah pedang cahaya berukuran besar, yang besarnya bahkan melebihi besar dan tinggi ratu monster tersebut. Saking besarnya, bahkan semua orang yang berada di benua tersebut dapat melihat benda yang bersinar itu dilangit.
Saat Xio membuka matanya kembali, dalam waktu sepersekian detik, pedang cahaya tersebut terjun melesat ke bawah dengan sangat cepat dan tepat mengarah diatas monster laba-laba tersebut. Ratu monster yang menengadah ke atas sambil membelalakkan matanya. Belum sempat dua berkedip, tubuhnya sudah terbelah dua dan pedang cahaya tersebut menancap ke tanah.
Semua orang tercengang melihat hal tersebut serta pedang raksasa yang tingginya menjulang hingga ke langit. Terutama Leon yang matanya berbinar melihat apa yang baru saja dilakukan ayahnya.
Tidak sampai disitu, Xio kini menoleh kearah portal dilangit yang masih belum tertutup.
"X Slash!" Gumam Xio mengayunkan pedangnya dua kali kearah portal, dan menciptakan energi dari pedang miliknya yang berbentuk silang mengarah ke portal tersebut.
Crashh!
Portal tersebut terbelah menjadi empat bagian dan kemudian pecah seperti kaca. Monster sudah berhenti keluar, dan sekarang hanya tinggal monster sisa yang belum mati saja. Kejadian tadi sekali lagi membuat semua orang tercengang, karena siapa yang bisa menghancurkan portal hanya seperti itu?
Keempat anak yang dari tadi memperhatikan diatas bangunan sambil memakan makanan dan minuman ringan, ikut berdecak kagum dengan mata mereka yang berbinar melihat kekuatan Xio. Leon yang melihat kemampuan ayahnya, semakin mengidolakan ayahnya sendiri karena skill-skillnya yang luar biasa.
"Aku juga ingin seperti papa." Gumam Leon.
"Barusan Kakak bilang apa?" Tanya Lena yang duduk disampingnya.
"Tidak, bukan apa-apa." Jawab Leon mengelak. "Bagaimana kalau kita bantu menghabisi monster-monster yang tersisa?" Ujarnya.
"Apa kamu yakin? Bagaimana kalau nanti Lena marah yang mulia?" Sahut Zekiel.
"Tenang saja papa tidak akan marah. Kita habisi monster-monster kecilnya saja, sekalian menaikkan level." Jawab Leon sudah berdiri dan memegang kedua pedangnya.
"Huhh baiklah…" Zekiel ikut berdiri dan mengeluarkan busurnya.
"Ayo!" Seru Leon meloncat dari satu bangunan kebangunan lainnya diikuti oleh Zekiel.
Dari siang hingga sore hari itupun di akademi terjadi pembantaian monster-monster yang jumlahnya ribuan, hingga menyisakan tumpukan mayat monster yang Xio suruh untuk dikumpulkan.
Tumpukan monster tersebut menjadi beberapa gunung mayat yang menjulang tinggi karena saking banyaknya monster yang mati. Tapi yang membuat Xio masih penasaran adalah datang dari mana ratu monster itu, dan bagaimana dia bisa sampai di kerajaannya. Namun dia lebih memilih untuk mencari tahu hal itu nanti, karena sekarang para bawahannya sudah selesai mengumpulkan mayat monsternya, termasuk mayat ratu monster yang sangat besar.
Sekarang Xio sudah berdiri bersama dengan empat anak tadi di sampingnya. Lalu Sebas datang menghampiri bersama Azco serta para dosa dan kebajikan.
"Sudah semuanya, Yang Mulia." Ucap Sebas sedikit menundukkan kepalanya.
"Emm." Jawab Xio berjalan kesalah satu tumpukan mayat monster.
"Apa yang mau papa lakukan dengan mayat-mayat itu?" Tanya Lena pada Leon disampingnya.
"Entah, kita lihat saja." Jawab Leon. Mereka memperhatikan Xio.
Ketika Xio sudah berdiri tepat di dekat tumpukan mayat tersebut, dia mengangkat tangannya kedepan dan terlihat mengucapkan sesuatu. Dan tak lama kemudian lingkaran sihir berwarna hitam muncul di tanah.
Tidak hanya dibawah satu tumpukan mayat, tapi di semua mayat monster yang ada. Lingkaran sihir tersebut berputar dan kemudian mayat-mayat tersebut seperti terhisap ke dalamnya. Bahkan mayat ratu monster yang begitu besar pun ikut masuk kedalam lingkaran sihir itu.
Tidak lama setelah semua mayat terhisap tanpa sisa, lingkaran sihir hitam itu juga ikut menghilang. Tapi saat Xio menjentikkan jarinya, munculah kembali lingkaran sihir hitam itu dibawah kaki Xio. Namun berbeda dari sebelumnya, sekarang lingkaran sihir itu mulai melebar dan dengan cepat ukurannya jadi sangat lebar, bahkan setiap permukaan akademi hingga ke ujungnya tertutupi oleh lingkaran sihir tersebut.
Semua terkejut karena lingkaran hitam yang menyedot mayat-mayat tadi saat ini berada dibawah kaki mereka.
Tapi dibuat lebih terkejut lagi ketika muncul sosok ratu monster tadi yang sama besarnya, tapi perwujudannya berbeda, karena sekarang ratu monster tersebut berwarna hitam pekat dengan aura kegelapan di sekitar tubuhnya. Tidak hanya ratu monster yang muncul, tapi monster-monster yang tadi mati juga kembali muncul dengan perwujudan sama seperti ratu monster, hitam pekat.
Suasana disana terasa sangat mencekam karena saking banyaknya monster hitam yang mengeluarkan aura kegelapan.
Falma yang berdiri disamping Lena terlihat gemetar, tapi kemudian Lena menenangkannya dengan memegang tangannya. "Tenang saja, mereka tidak bahaya. Itu semua makhluk panggilan papaku." Kata Lena.
Whoosh!!
Semua makhluk tersebut seketika seperti tersedot ke dalam tubuh Xio sampai tidak tersisa.
Keheningan tercipta, sampai terdengar seruan Leon dan Lena yang berlari dan melompat ke arah Xio, dan ditangkap langsung olehnya mereka berdua.
"Ada apa hah?" Tanya Xio tersenyum sambil mengacak rambut mereka pelan.
"Tidak ada, kita cuma mau memastikan kondisi papa saja." Jawab Lena.
"Papa tidak apa-apa, cuma terlalu banyak mengeluarkan mana saja barusan saat pemanggilan." Kata Xio.
"Apa sekarang papa mengantuk?" Tanya Leon.
"Ya sedikit." Jawab Xio.
"Kalau begitu cepat tidur, papah sudah kelelahan." Kata Leon diangguk-angguki oleh Lena.
Xio tertawa kecil, sepertinya mereka berdua sangat ingin dirinya istirahat. "Iya-iya nanti papa tidur, sekarang ada yang harus diurus dulu." Kata Xio menoleh ke depan melihat hampir semua bangunan akademi sudah menjadi reruntuhan.
"Sepertinya akan ada pembangunan lagi." Gumam Xio.
.
.
.
.
.
Malam hari telah tiba.
Xio baru saja selesai membicarakan masalah akademi dengan para bawahannya. Dan telah memutuskan kalau semua murid akan diliburkan sementara akademi mereka sedang di bangun kembali.
Selain itu, Xio juga mendapatkan kabar bagus. Dia baru saja diberitahu oleh lucifer, kalau pada mayat Brenda ditemukan kristal hitam yang kata Heldir pecahan ingatan Xio. Selain pada mayat Brenda, ternyata Sebas juga menemukan kristal serupa yang ia temukan di bawah bekas mayat ratu monster tadi.
"Ini Yang Mulia." Sebas menyerahkan kristal hitam tersebut dalam balutan kain pada Xio yang sedang duduk di kursi meja kerjanya.
"Bagus!" Seru Xio mengambil kristal tersebut, dan membuka balutan kainnya. Didapatkannya kristal dengan ciri seperti yang Heldir sebutkan, yaitu ada lambang Chaos di kristal tersebut.
"Sekarang tinggal yang satu lagi." Xio bangkit dari kursinya berniat untuk pergi langsung ke benua elf untuk mengambil kristal satunya lagi yang di pegang Lucifer.
Tapi Sebas menghentikannya, "Maaf Yang Mulia, tapi Pangeran dan Tuan Putri sudah menunggu anda untuk makan malam." Kata Sebas.
"Oh benar! Aku lupa belum makan malam dengan anak-anakku." Ucap Xio, dan Sebas hanya tersenyum. Mereka berjalan keluar dan berjalan menuju ruangan makan.
***
Singkat cerita Xio sudah kembali dari bertemu Lucifer untuk mengambil kristalnya. Dan sekarang dia sudah berada di kamarnya, hanya mengenakan celana tidur tanpa atasan duduk di pinggiran kasur sambil menatap 2 buah kristal hitam di tangannya.
"System bagaimana caraku menggunakan ini?" Tanya Xio pada Systemnya, karena dia tidak tahu harus diapakan kristal tersebut agar menunjukkan masa lalunya.
「Tuan perlu menyerap energi di dalamnya」
"Oh hanya seperti itu." Gumam Xio. Ia duduk bersila di atas kasur sambil menggenggam kedua kristal tersebut ditangani kanan dan kirinya, lalu menuruti apa yang dikatakan System yaitu menyerap energinya.
Ketika sudah mulai, terlihat sebuah aliran hitam naik dari urat-urat tangan Xio bergerak perlahan menuju lengan lalu ke otot dan terakhir kepalanya. Awalnya Xio tidak merasakan apapun, tapi kemudian dia seperti merasa sesuatu yang hilang dari tubuhnya telah kembali, meski hanya terasa sedikit bagian saja.
Kristal hitam pekat ditangan Xio juga perlahan memudarkan warna pekatnya, dan berubah menjadi warna putih. Dan perlahan Xio juga merasa pandangannya menjadi kabur disertai dengan rasa kantuk yang sangat berat.
Sampai ketika kristal berwarna putih seutuhnya, Xio ikut tumbang memejamkan matanya dan tubuhnya terbaring diatas kasur.
...****************...
...BERSAMBUNG...