Cross The World With System

Cross The World With System
Tujuan selanjutnya



Di belakang pulau di tepi pantai Jhonatan sedang duduk menghadap ke arah laut tanpa mengenakan atasan sambil menikmati setiap pijatan Nadia di pundak dan otot-otot lengannya. 


"Haha sepertinya Xio salah paham." Jhonatan tertawa sambil menyimpan kembali handphonenya di samping.


"Memang apa katanya?" Tanya Nadia menghentikan sejenak tangannya.


"Dia bilang tidak mau punya adik lagi haha."


Nadia tertawa kecil mendengar itu. Ia kemudian melanjutkan memijat otot-otot Jhonatan. 


Jhonatan memang beberapa hari lalu kurang istirahat dan tidak sempat berolahraga karena harus mengurus persiapan acara pernikahan Xio, jadi ketika mendapat pijatan apalagi yang memijatnya adalah istrinya, ia merasa tubuhnya dan semua otot-ototnya kembali berenergi selain itu rasanya rasa penat dan stress juga menghilang seketika.


Nadia yang dari tadi memijat seluruh tubuh Jhonatan menyadari kalau berat badan pria itu turun. Selain itu Nadia juga dapat melihat beberapa bekas luka seperti bekas sayatan-sayatan kecil dan luka bakar di lengannya yang seperti bekas terkena bara rokok.


Nadia tidak tahu kalau gangguan mental Jhonatan kambuh lagi. Karena ketika masih bersamanya dulu Jhonatan sudah berhenti melukai dirinya sendiri.


Sebenarnya Nadia tidak akan lama-lama berada didunia fana ini, dan beberapa hari lagi dirinya harus kembali ke ke After World. Tapi dia jadi tidak yakin untuk pergi, karena takut Jhonatan melakukan sesuatu yang lebih gila lagi. Meskipun ia pernah mati sekali karena bunuh diri waktu itu tapi masih bisa dikembalikan oleh Nadia.


"Sayang…" Jhonatan berucap meski pandangannya tetap lurus ke arah ombak yang tidak hentinya berdatangan. 


Nadia menyudahi pijatannya dan duduk tepat di samping Jhonatan. 


"Apa kamu masih ingat hari pernikahan kita saat itu?" Tanya Jhonatan menyandarkan kepalanya di pundak Nadia.


"Tentu saja aku mengingatnya. Saat itu kamu menggendongku lalu melompat kedalam air. Memang menjengkelkan karena gaunku jadi basah dan berat, semua orang juga jadi melihat kearah ku yang benar-benar basah kuyup karena kamu." Jawab Nadia dengan nada jengkel.


Jhonatan terkekeh melihat ekspresi Nadia, "Bukan yang itu maksudku," Ucapnya langsung menegakkan kepalanya dan memegang kedua tangan Nadia. "Ketika memasangkan cincin di jarimu, saat itu aku mengucapkan janji untuk mencintai satu wanita saja di hidupku. Tapi aku mengingkarinya."


"Kamu tidak mengingkari janjimu- Aku tahu kamu menikah dengan wanita itu tidak punya perasaan apapun. Kamu hanya ingin membalas ku."


Jhonatan tersenyum sambil mencium punggung tangan Nadia lalu ia memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku…" Lirih Jhonatan. 


Nadia tersenyum sambil mengelus kepala Jhonatan. Dan melihat tato kecil di belakang lehernya yang mengingatkannya pada masa mudanya dulu. Ia menemani Jhonatan membuat Tato tersebut yang bergambar dua burung merpati mengepakkan sayapnya.


...***...


Sementara itu di tempat acara pesta.


Xio dan Ellisa sudah didatangi hampir seluruh tamu yang mengucapkan selamat pada mereka. Xio merasa lucu ketika melihat Ellisa gugup disapa oleh pemeran-pemeran film terkenal. Itu karena jika senggang atau sedang menyusui para bayi ia sering sambil menonton film. 


Satu saat Xio pernah dikagetkan melihat Ellisa meneteskan air mata sambil menyusui. Ketika ditanya ternyata ia menangis karena melihat film, padahal yang sedang dilihatnya adalah film kartun. Selain itu Ellisa juga sering merasa geram sendiri jika melihat film romantis atau film aksi.


"Sayang bukankah laki-laki barusan pemeran di film ….., oh sayang! perempuan cantik tadi aku sering melihatnya di televisi….., lihatlah sayang laki-laki dan wanita itu! Bukankah di televisi mereka adalah pasangan, kenapa keduanya tidak bersama disini?" Begitulah celotehan Ellisa yang membuat Xio tidak berhenti tersenyum melihat ekspresi lucu dan manis istrinya itu. Xio mewajarinya karena Ellisa memang bukan berasal dari bumi dan sedikit pengetahuannya tentang dunia entertainment dan perfilman. Sedangkan dirinya sendiri sedari kecil sudah sering yang namanya bertemu orang-orang terkenal bahkan mereka yang berkunjung kerumahnya.


"Sayang sepertinya aku harus menyusui anak-anak dulu." Kata Ellisa, ia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Xio, "Bra-ku sudah sedikit basah." Bisiknya pelan membuat Xio membelalakkan matanya. Memang benar air ASI Ellisa sangat subur setelah melahirkan Nathan dan Tassa, bahkan jika beberapa lama saja tidak menyusui, air ASI-nya ada yang lolos keluar karena saking melimpahnya, apalagi seminggu ini kekurangan satu personil yang sering membantu mengurangi air susunya setiap malam.


"Sepertinya anak-anak tidak sanggup kalau hanya berdua. Apa aku harus turun tangan juga?" Ucap Xio melingkarkan tangannya di pinggang Ellisa dengan tatapan berbinar dan senyuman genit.


"Sigh….yasudah ayo!" Pasrah Ellisa langsung menarik tangan Xio menghampiri Rose dan Azril untuk mengambil bayi mereka. Lalu berlalu dari keramaian.


Sepanjang perjalanan sambil memangku kedua bayinya, Xio tidak berhenti mengangkat ujung bibirnya tersenyum penuh makna dan semangat yang membara.


.


.


.


.


.


Jika para tamu diberikan kamar di sebuah bangunan besar tidak jauh dari pelabuhan, maka tuan rumah memiliki tempat tinggal sendiri yang terpisah dan sedikit jauh dari keramaian yaitu di belakang pulau.


Sengaja rumah tersebut dibuat terpisah dengan alasan untuk menenangkan diri dan tidak akan ada gangguan jika sedang melakukan sesuatu.


Seperti yang saat ini sedang terjadi. Ketika sampai rumah tadi Xio langsung membantu Ellisa membuka gaunnya karena ribet memakai gaun jika sambil menyusui.


Ellisa kini hanya mengenakan lingerienya saja yang sangat seksi dan memperlihatkan tiap lekukan tubuhnya yang aduhai.


Segera Ellisa duduk di tepi ranjang dan memberikan ASI-nya pada Nathan dan Tassa. Xio yang melihat istrinya telanjang seperti itu langsung membangunkan prianya di bawah sana.


Xio duduk juga di tepi ranjang di samping Ellisa dan  mengangkat dia menaruhnya di atas pangkuan.


"Eh sayang tunggu sebentar! Tunggu sampai mereka tidur!" Kata Ellisa.


"Aku tidak bisa menunggu sayang. Gara-gara istriku cantik begini aku jadi tidak bisa tidur nyenyak seminggu terakhir." Jawab Xio memeluk perut Ellisa dan mencium tengkuk lehernya.


"Ahh!" Ellisa mengeluarkan suara ******* karena tangan Xio sudah masuk kedalam celana d*lamnya.


.


.


.


.


Pukul 2 siang pesta tidak berhenti tapi para tamu diperbolehkan bersenang-senang di pantai yang indah itu. Lagi pula pengantin dan tuan rumahnya sudah tidak terlihat lagi.


Para dosa dan kebajikan bersenang-senang di tepi pantai dan ada juga yang ikut bermain selancar. Sesekali terlihat juga beberapa wanita muda yang mendekati karena mereka memang terlihat tampan semua apalagi Lucifer. Tapi sayangnya Lucifer sudah punya yang disukainya.


Leon dan Lena yang sedang bermain menyadari kalau orangtuanya tidak terlihat. Sebas yang tidak jauh berdiri dari sana langsung menghampiri melihat kedua anak tersebut mencari orangtuanya.


"Tuan Putri, Pangeran, apa sedang mencari Yang Mulia?" Tanya Sebas dan dijawab anggukan oleh keduanya. Sebas pun memberitahu keduanya kalau Xio dan Ellisa kembali duluan untuk menyusui para bayi.


"Kalau mau menyusulnya biar saya temani." Ujar Sebas.


"Emm baiklah." Jawab Leon.


Mereka berdua pun berjalan berlalu ditemani Sebas yang sudah diberitahu lokasi rumahnya sebelum Xio pergi tadi.


***


Kembali ke sisi Xio. Satu jam ia menikmati kenikmatan tubuh Ellisa itu, kini mereka berdua sudah selesai dan sedang duduk di sofa tengah rumah hanya mengenakan handuk kimono dan rambut yang basah sambil menatap keluar kaca transparan yang langsung memperlihatkan pemandangan laut.


Xio asik membelai dan mencium rambut Ellisa yang bersandar di dadanya. Sampai tiba-tiba ada suara yang membuka pintu depan rumah.


"Ckckck ternyata pengantinnya ada disini!" Terdengar suara Jhonatan dibelakang mereka. Reflek Ellisa dan Xio menoleh kebelakang melihat Jhonatan bersama dengan Nadia.


Ellisa langsung berdiri terkejut melihat ada Nadia atau ibu mertuanya disitu. Dengan kebingungan ia membuka suara, "Bukankah…"


"Yah aku tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi perkenalkan ini ibuku." Ucap Xio.


Nadia berjalan mendekati Ellisa dan memegang kedua tangannya sambil tersenyum menatapnya.


"Akhirnya ada yang bisa meluluhkan hati Xio." Kata Nadia, "Terimakasih sudah mau menemani Xio, entah jadi seperti apa nantinya jika tidak ada yang mencairkan hatinya." Nadia tersenyum dengan ramah.


"Selain cantik energi di dalam tubuhmu juga sangat kuat. Memang pandai Xio memilih wanita." Lanjutnya.


Ellisa masih terbengong dari tadi karena selama ini ia dengar ibunya Xio sudah tidak ada, lalu siapa yang ada di depannya ini?


Xio terkekeh melihat Ellisa kebingungan lalu ia merangkul pundaknya. "Kamu pasti kebingungan, nanti aku akan menjelaskannya." 


"Tunggu dulu!" Celah Xio, "Hmm…." Ia melirik ke arah Nadia dan Ellisa secara bergantian terus menerus.


"Ada apa denganmu?" Tanya Nadia.


"Hmm sekilas ibu dan istriku terlihat seperti adik kakak." Jawab Xio mengulas dagu. 


"Benarkah?!" Seru mereka berdua bersamaan. Tapi memang benar ketika berdiri berdampingan seperti itu keduanya seperti saudara karena proporsi tubuh mereka yang sama seksi dan wajah yang sama cantiknya hanya saja terdapat beberapa sedikit perbedaan.


"Haha, itu karena istriku memang yang tercantik." Jawab Jhonatan memeluk Nadia dari belakang dan mengecup pipinya.


"Oh benarkah? Bukankah sudah jelas istriku yang paling cantik?" Sahut Xio memeluk Ellisa dengan ekspresi tersenyum meledek.


"Apa perlu ayah buktikan kalau istri ayah yang tercantik?"


"Oh siapa takut!"


Ellisa dan Nadia hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat mereka berdua seperti anak kecil yang sedang memamerkan mainan mereka. Tapi mereka sudah terbiasa dengan sikap suami mereka yang seperti ini.


"Mama, Papa! Kakek, Nenek!" Seru Leon dan Lena yang baru datang bersama Sebas.


Xio dan Jhonatan langsung menoleh.


"Nah ayo kita buktikan." Kata Jhonatan, "Leon, Lena, siapa yang paling cantik? Mamah atau nenek kalian?" Tanyanya.


"Emmm…" Leon dan Lena kebingungan karena itu pertanyaan yang sulit. Bagaimana mereka bisa memilih salah satu kalau keduanya sama-sama cantik.


"Ah kepalaku mau meledak memikirkannya!" Seru Leon memegang kepalanya.


"Eh sayang kamu tidak apa-apa?" Sontak Ellisa dan Nadia langsung menghampirinya bersamaan. 


"Tidak apa-apa, hanya saja aku tidak bisa memilih salah satu." 


"Benar, Mama dan Nenek terlalu cantik."


"Haha terimakasih sayang." Ellisa mengelus kepala Lena.


Lalu secara bersamaan Ellisa dan Nadia langsung menatap Xio dan Jhonatan tajam dan juga penuh ancaman seperti menyalahkan mereka berdua.


Xio dan Jhonatan langsung berpura-pura memalingkan muka sambil menggaruk pipi mereka meskipun tidak gatal.


Sebas yang berdiri dari sana hanya bisa tersenyum kecil melihat sikap pria-pria itu.


Tidak lama kemudian datang lagi sepasang pria dan wanita yang tidak lain adalah Azril dan Rose.


"Nadia!!!" Terkejut Rose juga melihat Nadia. Ia langsung menghampirinya dan memeluknya.


"Ma'am kenal dengan istriku?" Heran Jhonatan soalnya ia merasa belum pernah mempertemukan mereka berdua.


"Kau lupa aku ini siapa hah?!" Sahut Rose menekankan. Jhonatan pun sampai melupakan profesi Rose sebenarnya yang tentu saja pasti pernah mengintai dirinya dan juga Nadia.


"Haha kita pernah bertemu sekali di acara pameran fashion. Aku sengaja tidak bilang padamu karena Ma'am yang memintanya." Kata Nadia.


"Ohh begitu…"


"Sekarang bertambah satu lagi wanita cantik, aku jadi merasa minder." Ucap Rose memegang bahu Nadia dan Ellisa.


"Jangan begitu nenek...nenek juga cantik kok!" Kata Ellisa.


"Oh sayang kamu memang senang membuatku tersipu." Jawab Rose, "Bagaimana kalau kita berjemur saja?!" Lanjutnya bertanya.


"Yahh kalian para wanita berjemur saja duluan sana! Nanti kami menyusul." Ujar Azril.


"Ayo sayang-sayangku!" Rose menarik tangan Nadia Dan Ellisa menuju pantai yang ada di belakang Rumah. Begitupun Leon dan Lena yang mengikuti mereka.


"Heiii kau mau kemana?!" Azril memegang pundak Jhonatan yang hendak mengikuti para wanita juga.


"Apa? Kukira aku tidak ada urusan disini."


"Duduk!"


Dengan pasrah Jhonatan pun langsung duduk di sofa panjang yang berjumlah tiga itu dan mengelilingi sebuah meja kaca persegi.


"Xio kamu juga duduklah." Perintah Azril dan Xio menurutinya.


Sekarang masing-masing sofa itu sudah terisi dan didepan mereka. Dan Sebas juga sudah menyajikan masing-masing segelas anggur di depannya.


"Apa yang ingin kakek bicarakan?" Xio langsung membuka percakapan.


"Aku hanya ingin bertanya apa rencana kalian selanjutnya."


"Rencana apa maksudnya?" Tanya Xio lagi.


"Yah maksudku apa yang ingin kalian lakukan kedepannya?" Jelas Azril mengambil gelas anggurnya.


"Setelah ini aku berencana mengajak Ellisa dan anak-anak trip keliling dunia. Karena aku pernah menjanjikan mereka untuk berkeliling dunia setelah Nathan dan Tassa lahir." Jawab Xio.


"Oh itu rencana yang bagus sekali." Tanggap Azril.


"Kalau kakek? Apa yang akan kakek dan nenek lakukan?"


"Karena kita berdua sudah tua, dan kita ingin suasana yang tenang. Jadi aku dan Rose memutuskan akan tinggal di tempat terpencil yang suasananya tenang tapi tidak jauh dari kehidupan juga. Seperti di desa pegunungan. Kakek tidak mau jadi pria tua yang setiap hari hanya main golf." Ungkap Azril.


Xio mengangguk mengerti. Tapi seketika hening karena mereka berdua sadar dari tadi tidak ada yang bereaksi. Xio dan Azril langsung melirik kearah Jhonatan bersamaan.


Jhonatan sedang melihat ke bawah dan menggenggam tangannya sendiri dengan raut wajah yang lesu.


 "Kalau aku sepertinya akan sendiri lagi." Kata Jhonatan dengan nada lembut. "Aku tahu tempat Nadia bukan disini, dan dia punya kedudukan yang sangat penting di sana. Aku juga menyadari kalau dia gelisah untuk mengatakan kebenarannya padaku. hahh…" Jhonatan menghela nafas di akhir kalimatnya.


Xio dan Azril juga tahu Nadia pasti tidak akan tinggal lama di alam fana, dan mereka merasa kasihan dengan Jhonatan. Disaat semuanya dipersatukan kembali dengan orang tercintanya, Jhonatan hanya dapat merasakan itu beberapa saat saja.


"Yah tidak apa-apa mungkin ini memang hukuman untukku." Ucap Jhonatan lagi dengan senyuman tapi seperti dipaksakan karena dalam hatinya ia benar-benar merasa sedih.


Glek! Glek! Glek!


Semuanya terkejut melihat Xio meminum anggur di gelasnya begitu cepat. Dan setelah habis langsung menaruh gelasnya lagi di atas meja.


"Aku tahu bagaimana agar ayah bisa terus dengan ibu!" Seru Xio seperti membawa berita baik yang membuat Jhonatan langsung tidak sabar mendengarnya. "Bagaimana kalau ayah ikut saja tinggal disana bersama ibu?" Saran Xio tapi malah membuat Jhonatan kembali lemas.


"Eh." Xio kebingungan melihat ayahnya yang kehilangan semangatnya lagi.


"Haha terimakasih sarannya nak. Ayah juga berharap bisa seperti itu. Tapi ibumu tidak mengijinkannya."


"Hah? Kenapa?"


"Ibumu bilang ayah harus tetap tinggal disini agar bisa menuntunmu dan mengajarimu. Tapi memang benar apa yang dikatakan ibumu. Kamu dipaksa dewasa oleh keadaan disaat kamu seharusnya masih menikmati masa-masa mudamu. Dan ayahlah yang harus bertanggung jawab karena membuatmu dewasa sebelum waktunya." Jika Jhonatan memutar kembali ingatannya, memang dirinyalah yang membuat Xio pernah merasakan menjalani hidup sendiri didunia tanpa ada tangan yang mau meraihnya.


Xio tersenyum dan meminta Sebas menuangkan anggur lagi di gelasnya.


 


...****************...