Cross The World With System

Cross The World With System
Pencarian



...----------------...


Malam berganti pagi dan matahari mulai menampakan diri namun awan gelap tetap tak mau pergi dan terus mengguyuri air hujan kepermukaan bumi seakan alam ikut sedih dengan apa yang terjadi.


Pagi hari dirumah Xio, suasana tidak seperti yang biasanya karena biasanya suasana dirumah selalu ramai dan semua orang gembira. Jhonatan duduk di sofa dan tidak tidur sama sekali karena menunggu Xio pulang kerumah namun apa yang ia tunggu tidak kunjung kembali.


Arthur pun sama ia lebih memilih mengurung diri dikamar sambil terus memikirkan apa yang terjadi pada putrinya sendiri.


"Kakek apakah papah dan mamah belum pulang?" tanya Leon yang baru saja keluar kamar. Jhonatan yang tadinya sedang melamun langsung mengalihkan perhatiannya pada Leon.


"Kemarilah." Ucap Jhonatan dan Leon pun langsung menghampiri Jhonatan dan duduk di sampingnya.


"Papah Xio belum pulang karena masih mencari mamah Elisa." kata Jhonatan mengelus kepala Leon.


"Lalu kapan mereka akan pulang?" Tanya Leon lagi.


"Kakek juga tidak tahu, tapi kakek berharap semoga secepatnya mereka pulang kemari." Jawab Jhonatan.


Lalu pintu kamar Arthur terbuka dan arthur keluar dari kamar dengan menggunakan pakaian tebal dan juga membawa payung ditangannya.


"Kakek Arthur mau kemana?" Tanya Leon.


"Kakek akan pergi mencari mamah Ellisa." Jawab Arthur.


"Aku juga ingin ikut mencari mamah!" ucap Leon.


"Tapi bukannya Leon harus sekolah?" Ujar Arthur.


"Pokoknya Leon ingin ikut mencari mamah, disekolah Leon sudah mengerti semua materinya jadi Leon akan libur dulu." Sahut Leon. Arthur kemudian melirik kearah Jhonatan karena bingung harus melarangnya atau mengiyakannya.


"Baiklah Leon boleh ikut biar kakek temani, kakek Arthur juga pasti tidak tahu jalan, kita mencarinya sama-sama saja." Ucap Jhonatan.


"Kakek aku juga ingin ikut!" Sahut lena yang baru bangun tidur langsung berlari keluar kamar.


"Baiklah Leon dan Lena boleh ikut tapi sebaiknya ganti pakaian dulu menggunakan jaket biar tidak kedinginan." Ujar Jhonatan. Leon dan lena mengangguk dan langsung masuk kamar untuk mengganti pakaian.


Jhonatan berjalan kedapur untuk membuatkan sandwich dan susu hangat untuk Leon dan lena sarapan agar tidak sakit. Jhonatan juga membuatkan untuk dirinya dan untuk Arthur sekalian.


Selesai sarapan mereka langsung masuk ke mobil Jhonatan untuk memulai pencarian mereka. Jhonatan melajukan mobilnya menuju lokasi yang semalam ditunjukkan oleh bawahan Xio.


Sesampainya dilokasi, Jhonatan dapat melihat beberapa bawahan Xio yang sedang mencari petunjuk.


"Leon dan lena tunggu sebentar didalam mobil, kakek akan bertanya dulu." kata Jhonatan dan diangguki oleh leon dan Lena. Jhonatan pun keluar dari mobil dengan menggunakan payung dan langsung menghampiri bawahan xio tersebut.


"Bagaimana apakah kalian sudah mendapatkan petunjuk?" tanya Jhonatan.


"Tuan kami hanya dapat menemukan handphone nona Ellisa saja, kami sudah memeriksa semua CCTV di lingkungan ini tapi tidak ada yang menunjukan keberadaan nona Ellisa, semua rekaman CCTV seperti ada seseorang yang meretasnya." Jelas bawahan Xio tersebut dan menyerahkan handphone Ellisa pada Jhonatan.


"Lalu apakah kalian menemukan Xio?" tanya Jhonatan lagi.


"Maafkan kami tuan, kami tidak dapat menemukan keberadaan tuan Xio juga."


"Baiklah kalian lanjutkan pencarian kalian, dan jangan lupa untuk istirahat." Ucap Jhonatan.


"Baik tuan!".


Jhonatan pun masuk kembali kedalam mobil dan memberitahukan pada Arthur apa yang barusan bawahan xio katakan.


"Oh iya kenapa kamu tidak menggunakan televisi saja untuk mencarinya?" Ujar Arthur.


"Maksudmu mengumumkan kehilangan Ellisa di berita, tapi cara seperti itu hanya akan membuat musuhku yang melihatnya mereka malah akan menjadikan ellisa sandra." Jawab Jhonatan.


"Heh, mereka yang memulainya terlebih dahulu karena iri padaku, memangnya kamu sendiri tidak memiliki musuh aku pikir kamu akan memilikinya lebih banyak mengingat kamu kan raja iblis." Ucap Jhonatan terpancing emosi.


"Hah lalu kenapa kal-" Arthur akan berkata tapi terpotong oleh teriakan Lena.


"CUKUP!!!"


"kenapa malah bertengakar, kalau kakek bertengkar terus kapan kita mencari papah dan mamahnya" Ucap lena kesal.


"Baiklah maafkan kakek" Ucap Jhonatan dan Arthur. kemudian Jhonatan melajukan mobilnya kembali.


Tak terasa mereka mencari sampai sore hari, tapi apa yang mereka cari tak kunjung ketemu baik itu Ellisa maupun Xio.


"Bagaimana ini kakek?" Ucap Leon.


"Bagaimana kalau papah dan mamah pergi meninggalkan kita?" Lirih lena dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Sabar yah nanti juga papah dan mamah pasti akan pulang. kan masih ada kakek dan juga kakek Arthur disini kita tidak akan meninggalkan leon dan lena." Ucap Jhonatan menenangkan lena agar tidak menangis.


"Sebentar lagi akan malam sebaiknya kita lanjutkan saja besok pencariannya." ujar Arthur.


"Baiklah." Jawab leon dan lena. Jhonatan pun melajukan mobilnya untuk kembali kerumah dan mereka sampai dirumah pada malam hari.


Saat sampai rumah mereka memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu, selesai makan Jhonatan menyuruh Leon dan Lena untuk segera tidur.


(Leon POV)


"Anak-anak kalian tidurlah duluan." Ujar kakek Jhonatan.


"Baik kek!" jawab aku dan Lena. dan kami pun langsung berjalan kekamar kami.


Sebelum tidur, aku dan lena mencuci muka dan menggosok gigi terlebih dahulu, setelah selesai kami langsung naik kekasur.


"Selamat tidur kakak." Ucap Lena.


"selamat tidur juga." jawab ku langsung menutupkan mataku.


Tiba-tiba saja seluruh tubuhku terasa dingin sekali dan seperti ada angin berhembus yang menerpa tubuhku.


Aku membuka mataku namun yang kulihat hanya kegelapan yang bahkan aku tidak bisa melihat tubuhku sendiri dan hanya bisa merasakannya, aku mulai ketakutan ingin sekali meminta tolong tapi suraku tidak bisa keluar sedikitpun.


Setitik cahaya mulai terlihat di hadapan ku dan berubah menjadi Papah, Papah berjalan padaku dan saat pertengahan jalan muncul lagi cahaya yang kemudian berubah menjadi mamah yang menggandeng tangan anak kecil.


Mereka bertiga berjalan kearahku, aku juga ingin sekali berlari kearah mereka dan langsung memeluk mereka tapi tubuhku susah sekali digerakan.


Aku melihat tiba-tiba permukaan yang ada dibelakang mereka mulai runtuh dan perlahan mendekati mereka, aku berteriak untuk memperingati mereka tapi suaraku tidak mau keluar. dalam hati aku berharap kalau semua ini hanya mimpi karena aku tidak ingin kehilangan orang yang sudah aku dan lena anggap sebagai orang tua kandung kami sendiri.


(Leon POV end)


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG