Cross The World With System

Cross The World With System
Tidak tidur



...----------------...


Pria mana yang tidak ingin memberitahukan pada dunia jika dirinya mempunyai seorang wanita sempurna yang telah menjadi belahan jiwanya, dan juga cinta sejatinya.


Tak jauh berbeda dengan Xio. Karena pernikahan sebelumnya dengan Ellisa diselenggarakan sederhana saja, dan hanya mengundang orang-orang terdekat saja, jadi tidak banyak yang tahu kalau Putra sekaligus cucu dari perusahaan bergengsi internasional itu sudah menikah dengan seorang wanita yang sangat cantik.


Perusahaan peninggalan Azril dan juga Jhonatan sudah tidak asing didengar lagi di seluruh dunia. Karena perusahaan mereka berjalan di segala bidang dengan cabang-cabang besar di setiap negara. Nama Jhonatan dan Azril pun sudah sangat terkenal di berbagai kalangan orang-orang.


Satu tahun lalu setelah 2 perusahaan itu bergabung, beritanya menjadi trending topik di seluruh dunia selama 1 Minggu. Dan apalagi ketika diketahui kalau pemegang perusahaannya telah berganti tangan. Banyak yang penasaran siapa CEO baru perusahaan yang berganti nama menjadi XIEL Company itu.


Tidak sedikit pula para warganet yang menebak-nebak jika penerusnya adalah putra sulungnya Jhonatan yaitu Xio. Namun sampai sekarang belum ada konfirmasi dari perusahaan tersebut siapa yang menjadi pemegang kedudukan tertingginya. Sebab Xio masih menyembunyikan identitasnya dengan membuat identitas-identitas palsu mengenai dirinya.


Hanya segelintir orang saja yang mengetahui Xio CEO barunya.


Xio pun berencana untuk membukakan identitas asli dirinya yang sudah menjadi CEO dari XIEL Company ketika acara pesta pernikahannya nanti. Dia ingin mengadakan pesta pernikahan yang termegah, termewah, terindah, dan terluar biasa dari pesta pernikahan yang ada di dunia.


Mungkin terdengar seperti berlebihan. Tapi siapa yang peduli selama dia bisa melakukan semua itu. Dan itu pun demi perasaan cintanya pada Ellisa yang sudah erat dan tidak bisa dipatahkan lagi. Jika dunia tahu siapa cinta sejatinya, dan juga tahu jati dirinya yang tinggi, mungkin tidak akan ada lagi akan mencoba untuk memisahkannya.


Begitulah alasan Xio ingin mengadakan acara pesta pernikahan luar biasa yang tidak akan pernah terlupakan oleh dunia.


Namun siapa yang menyangka kalau ternyata pemikirannya tidak sejalan dengan Ellisa.


Setelah Xio mengatakan rencananya pada Ellisa saat di puncak gunung malam itu. Ellisa tidak langsung menjawabnya, dia malah meminta untuk pulang.


Menghargai apa yang diminta Ellisa, Xio pun menurutinya. Mengantarnya kembali ke mansion hingga masuk ke kamar. Tapi ketika akan ikut masuk kamar, Ellisa menahannya.


"Maaf...tolong izinkan aku sendiri dulu." Kata Ellisa menghalangi langkah Xio sambil menundukkan kepalanya seperti tidak berani melihat wajah Xio secara langsung.


"Baiklah…" Jawab Xio pasrah dan melangkah ke belakang.


Ketika Xio sudah melangkah ke belakang, Ellisa pun menutup pintunya perlahan. Dan saat pintu sudah tertutup seutuhnya, Xio memukul dinding di dekatnya dan membenturkan kepalanya.


"Ckk! Aku mengacaukannya!" Xio berpikir kalau Ellisa tidak setuju dengan rencananya. Dia tidak tahu kalau saat ini dibalik pintu kamarnya ada Ellisa yang sedang bersandar mendengar kekesalan Xio.


Ellisa sebenarnya sangat senang ketika mengatakan ingin menunjukkan cintanya pada dunia. Tapi disisi lain dia khawatir dan takut.


.


.


.


.


.


.


Malam hari ketika semua orang sudah tertidur pulas. Tapi hanya dua orang inilah yang tidak bisa tidur karena tidak nyaman.


Karena Xio tidak diizinkan masuk ke kamarnya. Jadi dia memutuskan untuk tidur di sofa di depan perapian. Sebenarnya masih banyak kamar di mansion tersebut. Tapi dia takut nanti bisa jadi Ellisa kesulitan mencarinya. Itupun kalau sungguhan Ellisa mencarinya.


***


Dikamar Ellisa. Dia berusaha untuk tidur, tapi entah kenapa sangat sulit karena tidak nyaman. Mungkin benar dia tidak bisa tidur kalau tidak ada Xio di dekatnya.


Ellisa pun melangkahkan kakinya keluar kamar hanya dengan dress tidurnya yang cukup tipis. Dan berjalan ke kamar Nathan dan Tassa terlebih dahulu untuk melihat apakah Xio ada disana atau tidak. Tapi ternyata tidak ada, begitupun di kamar Leon dan Lena.


Sampai Ellisa pun mendengar seperti suara logam jatuh yang asal suaranya dari lantai bawah. Ellisa pun berjalan menghampiri suara tersebut yang ternyata berasal dari ruang berkumpul yang ada perapian.


Dari Lawang pintu saja Ellisa sudah dapat melihat ada Xio yang sedang duduk bersila di depan perapian tanpa mengenakan baju, dan hanya mengenakan celana pendek saja. Xio terlihat sedang memakan sesuatu sambil menggerutu sendiri sampai tidak sadar kalau Ellisa sedang berjalan ke arahnya.


Ellisa tersenyum ketika melihat Xio yang ternyata sedang memakan es krim, tapi belepotan seperti anak-anak.


Xio yang dari tadi belum sadar ada Ellisa, dikejutkan dengan jilatan di pipinya tiba-tiba. Refleks Xio pun langsung menoleh kesamping, dan dia melihat disana Ellisa yang tersenyum manis.


"Sudah besar tapi makan es krim masih belepotan." Ucap Ellisa meledek.


Xio menarik Ellisa dan mendudukkannya di pangkuannya saling berhadapan.


"Apa kamu tidak bisa tidur?" Tanya Xio dijawab anggukan oleh Ellisa. "Sama aku juga tidak bisa tidur kalau kamu tidak ada di pelukanku." Ucap Xio langsung memeluk Ellisa.


"Maafkan aku soal yang tadi…sulit untuk mengatakannya." Kata Ellisa menatap Xio sendu.


"Tidak apa-apa, aku akan menunggu sampai kamu mau terbuka padaku." Kembali memeluknya erat. Dan Ellisa pun membalas pelukannya.


Xio melepaskan pelukannya, kemudian mengambil es krimnya yang tadi di simpan di sebelahnya.


"Mau es krim gak?" Tanya Xio.


"Ah tidak Es Krimnya jatuh!" Kata Xio dengan sengaja menumpahkan Es Krim di tangannya ke dadanya Ellisa. "Hehe.." Xio tertawa genit.


"Hufft...kamu sengaja." Kata Ellisa mau mengelapnya dengan tangan, tapi tangannya ditahan Oleh Xio.


"Biar aku yang membersihkannya." Ucap Xio wajahnya sangat dekat dengan wajah Ellisa. Mungkin hanya berjarak beberapa inci saja.


Tanpa memberi kesempatan Ellisa untuk menjawab. Bibir Xio langsung nyosor ke bibirnya Ellisa. Tangannya bekerja untuk melepaskan tali dress yang di pundak Ellisa. Dan ketika kedua tali dress tersebut terbuka, dress Ellisa langsung merosot setengah badan, dan memperlihatkan kedua buah surganya yang tidak ditutupi oleh pakaian dal*m.


Tangan Xio yang awalnya membelai punggung Ellisa, sekarang mulai bergerak ke tubuh bagian depan Ellisa, dan meremas kedua buah tersebut. Mulutnya yang sedang berpautan dengan bibir Ellisa pun berpindah dan mulai menjilati lelehan es krim di belahan d*da Ellisa.


Xio sangat menikmatinya seperti sedang memakan dessert kue bertoping es krim. Ellisa juga merem melek kenikmatan karena tangan dan lidah hangatnya Xio yang liar memainkan kedua buah surganya.


Tapi itu tidak dianggap sebagai dessert, karena itu baru termasuk ke makanan pembuka. Belum ke menu utama dan penutupnya.


"Apa mau lanjut?" Tanya Xio meminta perizinan dengan menatap mata Ellisa lugu.


Seketika Xio pun menunjukkan senyuman mesumnya dan kembali mengemut ujung gunung Ellisa.


Dari pukul 2 malam sampai pukul 6 dini hari, mereka pun melakukan hal-hal nakal di ruang tersebut di depan perapian hangat ditambah dengan kehangatan tubuh yang saling menyatu.


Sekarang terlihat di sofa Xio yang berbaring di sofa sambil menciumi wajah Ellisa yang tengkurap di atas tubuhnya. Badan mereka berdua seperti baru selesai mandi, basah dipenuhi keringat.


"Sayang...apa kamu senang menjadi istriku?" Tanya Xio.


"Kenapa kamu bertanya begitu? Tentu saja aku senang dan sangat bersyukur." Jawab Ellisa.


"Kalau ada yang kurang dariku katakan saja...tidak perlu ragu. Aku berusaha untuk jadi yang sempurna buatmu." Kata Xio.


Ellisa bangkit dan duduk diatas perut Xio sambil menatapnya tajam "Kamu tahu? Kamu begitu istimewa bagiku. Kamu bahkan tidak tahu. Aku benci ketika kamu keras pada diri sendiri, karena kamu tidak pantas menerima hal negatif semacam itu. Kamu pantas mendapatkan semua yang baik dan sempurna dan manis dan aku ingin mencoba yang terbaik untuk memberikannya padamu. Aku tidak sempurna dalam hal apapun tapi aku ingin menjadi sempurna untukmu. Aku ingin menjadi yang terbaik yang aku bisa untukmu. Aku ingin membantumu menjadi tipe orang yang kamu inginkan. Aku ingin mendukungmu selama kamu mengizinkan aku. Kamu sangat penting bagiku. Terimakasih telah menjadi dirimu. Aku mencintaimu." Ucap Ellisa membuat Xio tertegun.


Cup!


Ellisa mengecup kening Xio dan turun dari tubuhnya. Memakai kembali pakaiannya, dan pergi dari ruangan tersebut karena mendengar suara bayi-bayinya yang menangis.


Sementara yang masih berbaring di sofa panjang itu, dia memejamkan matanya, dan menutupi wajahnya dengan lengan kanannya. "Aku sangat senang hanya dengan sekedar kata seperti itu saja, tapi kenapa kamu lagi-lagi mengatakan kamu tidak sempurna…hahh" Gumam Xio diakhiri helaan nafas. Sebenarnya Xio ingin bertanya alasan Ellisa belum menyetujuinya.


"Apa semalam ada maling?" Heran Jhonatan yang baru saja datang dan melihat ruangan tersebut yang berantakan. Sampai dia melihat sosok Xio di sofa yang sedang telanjang tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Jhonatan pun sudah dapat menebak penyebab ruangan tersebut berantakan.


"Ckckck...anak muda memang tidak mengenal tempat." Jhonatan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Jhonatan mengambil celana pendek seperti milik Xio yang tergeletak di lantai, dan melemparkannya ke arah muka Xio yang masih ditutupi oleh lengannya. "Setidaknya pakai kembali celanamu kalau selesai melakukannya di tempat seperti ini! Burungmu kemana-mana, bagaimana kalau dilihat pelayanan perempuan yang ada disini." Seru Jhonatan.


Xio membuka matanya dan menurunkan lengannya yang terhalangi celananya sendiri. "Oh ayah sudah bangun…" Ucap Xio bangkit dari tidurannya dan kemudian duduk di sofa.


"Apa kamu dan Ellisa sudah seperti semula?" Tanya Jhonatan duduk di sofa seberang Xio. Jhonatan mengetahui apa yang terjadi semalam setelah pulang melihat pemandangan langit di puncak.


"Iya kita sudah seperti biasa lagi, tapi aku masih bingung bagaimana caranya agar Ellisa mau menyetujui untuk mengadakan pesta pernikahan lagi." Kata Xio.


"Apa kamu serius ingin mengadakan pesta pernikahan besar-besaran?" Tanya Jhonatan lagi.


"Aku sangat serius yah." Jawab Xio.


"Tapi maksud ayah itu pasti akan semakin banyak yang akan mengincar mu atau istri dan anakmu kalau kamu membuka identitas aslimu." Kata Jhonatan.


"Apa ayah lupa? Aku, Ellisa, dan juga anak-anak kan punya kekuatan dari dunia lain."


"Ayah tahu...tapi tetap saja kan, kalau gegabah pasti akan memunculkan celah."


"Aku yakin bisa melindungi keluargaku. Tapi yang aku herankan kenapa Ellisa tidak langsung menyetujuinya dan mengatakan kalau dirinya masih penuh punya kekurangan.." Kata Xio memijat keningnya sendiri.


"Sebaiknya kamu cari tahu dulu mengapa Ellisa berkata begitu karena kami yang paling tahu tentangnya, sebelum kamu terus mendesaknya. Kalau masalah pesta pernikahan yang luar biasa itu bisa diatur, biar ayah saja yang membiayainya. Itupun kalau Ellisanya sudah setuju." Kata Jhonatan mengambil remote tv yang yang ada di atas meja, kemudian menekan tombol remote tersebut untuk menyalakan televisinya.


"Ya kalau begitu ayah doakan saja Ellisa mau menyetujui ku secepatnya." Ucap Xio berdiri disitu untuk mengenakan celananya. Lalu duduk kembali.


"Iya...ayah akan selalu mendukungmu." Kata Jhonatan menepuk pundak Xio. Jhonatan juga sangat setuju dengan rencana Xio yang akan membuka identitasnya. Dia ingin membanggakan pada semua orang termasuk teman-teman serta saingannya kalau dirinya memiliki seorang putra dan juga menantu yang luar biasa.


Tidak lama kemudian ada dua orang pelayan wanita yang datang kesana untuk menyajikan kopi suruhan Jhonatan. Setelah menyajikan dua cangkir kopi diatas meja, Jhonatan menyuruh mereka untuk merapikan ruangan tersebut. Sementara dirinya dan Xio menonton berita di televisi.


Ketika Jhonatan sedang menyeruput kopinya, tiba-tiba dia menyemburnya kembali terkejut dengan berita yang ada di televisi.


Di layar depan televisi sedang menyiarkan berita kematian Megan anaknya David. Di situ di kabarkan kalau Megan ditemukan di apartemennya bersama dengan 3 orang pria sudah tidak bernyawa tanpa busana. Diduga juga kalau mereka mati karena di perkosa, karena alat kelamin mereka yang yang tidak normal.


"Xio…" Jhonatan melirik ke arah Xio dengan tatapan menyelidik.


"Haha...kenapa ayah terkejut seperti itu?" Kata Xio tertawa.


"Kerja bagus! Untung saja ayah tidak pernah menyentuhnya." Seru Jhonatan sambil mengacungkan jempolnya.


"Apa ada hadiahnya untukku?" Tanya Xio bergurau.


"Katakan saja apa yang kamu inginkan." Ujar Jhonatan.


"Hmm...aku tidak membutuhkan apa-apa sih. Tapi bagaimana kalau ayah berjanji tidak akan menyembunyikan apapun lagi dariku?"


"Itu…" Jhonatan ragu. "Baiklah mulai saat ini aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi dari anakku. Dan ayah pikir memang dari dulu seharusnya seperti itu." Jawabnya.


"Ada yang ingin ayah katakan mengenai ibumu." Kata Jhonatan.


"Ibu? Memangnya ada apa dengan ibu?" Tanya Xio penasaran.


"Kemarin saat ayah tidak sadarkan diri, sebenarnya ayah……" Jhonatan menceritakan semuanya pada Xio ketika dirinya pergi ke alam tempat orang mati dan bertemu dengan Nadia disana.


".....Saat itu Ibumu sangat cantik mengenakan mahkota daun emas di kepalanya, dan duduk diatas singgasana megah. Saat itu ayah berpikir kalau ibumu terlihat sangat mulia dan ayah ingin tinggal tinggal bersamanya. Tapi ibumu malah memarahi ayah. Katanya bagaimana dengan anaknya kalau kedua orangtuanya tidak menemaninya. Tidak lama ayah berbincang dengannya sampai dia mengirim ayah kembali ke bumi. Dan untung sebelum dikembalikan ayah sempat merasakan ciumannya lagi." Jelas Jhonatan.


"Apa itu bukan halusinasi ayah saja?" Tanya Xio memastikan, karena mana mungkin orang mati bisa kembali lagi.


"Semuanya nyata. Suaranya yang lembut, rambut dan kulit putihnya yang halus, sentuhannya yang hangat, dan sensasi berciuman nya yang tidak pernah ayah lupakan." Jawab Jhonatan. "Ahhh...kalau saja saat itu ayah menciumnya lebih lama lagi." Desahnya.


"Dan oh ya. Disana mereka memanggil ibumu permaisuri agung Diana. Apa mungkin ibumu seorang ratu yah?" Tambah Jhonatan.


"Apalagi informasi yang ayah dapat selain itu?" Tanya Xio.


"Mungkin…."


...****************...


...BERSAMBUNG...