Cross The World With System

Cross The World With System
Kota Southampton



...----------------...


Ketika Jhonatan keluar dari kamar, disitulah semuanya berubah. Entah apa yang sudah mereka bicarakan saat itu sampai saat ini Xio tidak tahu kenapa ayahnya bisa tiba-tiba berubah saat itu.


Dia jarang berada dirumah, jika pulang pun itu tengah malam untuk mengambil sesuatu lalu pergi lagi. Sekalinya pulang, dia dalam keadaan mabuk dan membawa perempuan asing yang setiap harinya berganti-ganti.


Xio pernah memaki ayahnya dan juga wanita yang dibawanya, tapi malah Xio yang kena tamparan oleh ayahnya sendiri saat itu.


Sampai suatu hari ada seorang perempuan yang mengaku hamil anaknya Jhonatan yang tidak lain adalah Selly. Saat itulah juga terakhir kalinya Xio melihat Jhonatan masuk ke kamar Nadia dan keluar lagi dengan membanting pintu keras.


Keesokan harinya Jhonatan menikah di rumahnya dengan Selly tapi Xio tidak menunjukkan wajahnya sama sekali. Dia lebih memilih mengurung diri dikamar menjaga ibunya.


Beberapa bulan kemudian Xio harus menelan fakta pahit kalau ibunya sudah pergi meninggalkan dirinya.


Setelah pemakaman ia tidak keluar-keluar kamar lagi dan menjadi anak yang suram Tanpa dukungan siapapun.


***


Malam hari di istana.


Jam terus berdetak sampai tengah malam, diluar juga sudah tidak terdengar aktivitas sama sekali karena semua orang sedang beristirahat. Di Dalam kamar yang beraroma kan aromaterapi, Xio saat ini terlihat sedang bersandar di sandaran ranjangnya sambil membaca buku. Buku tersebut seperti buku yang berasal dari bumi karena sampulnya yang lebih modern. Malam ini dia harus kembali ke hobinya yang dulu sebelum bertemu Ellisa yaitu membaca buku sebelum tidur. Karena biasanya sebelum tidur dia senang menatap wajah cantik istrinya sambil membelai rambut dan permukaan tubuhnya yang halus.


Sampai Xio tiba-tiba saja teringat kalau Brenda yang saat itu dibunuhnya, maka tidak menutup kemungkinan Klause ayahnya Brenda akan segera mengetahui anaknya telah mati. Dan bisa kapan saja ia datang untuk mencari yang membunuh anaknya.


"Apa sekarang aku sudah bisa menang melawannya?"


"Aku tanyakan saja pada kakek besok." Ucapnya menaruh buku diatas rak disamping ranjang, dan membuka layar handphonenya.


Dia mendapatkan pesan dari Jhonatan yang lagi-lagi mengirimkan foto. Foto tersebut merupakan fotonya bersama dengan teman-temannya ketika tadi di restoran. Diantara jajaran orang dalam foto tersebut, Xio menemukan Ellisa berdiri disamping Jhonatan, tapi wajahnya ditutupi dengan emoji. Yang tentunya membuat Xio kesal, karena ia ingin melihat Ellisa. Ditambah lagi dengan ketikan Jhonatan seperti ini "Masih ada tiga hari lagi" pesannya dengan emoji melet seperti meledek di ujung kalimatnya.


Xio menepuk keningnya sendiri. Lagi-lagi dia terkena ejekan oleh ayahnya sendiri.


'sabar...itu ayahmu…' batin Xio sambil mengusap dada.


Di foto tersebut juga Xio melihat Nathan dan Tassa yang sedang dipangku oleh tante-tantenya dulu. Ia tersenyum mengingat waktu ia kecil tante-tante tersebut juga sering bermain dengannya.


Dia lalu menelpon Jhonatan karena ia tidak bisa tidur saking tidak sabarnya menunggu hari spesialnya. Xio tahu Jhonatan juga pasti belum tidur jam segini mengingat ayahnya juga memang sulit untuk tidur, tapi saat tidur pasti bangunnya siang hari. Semua dua hafal kebiasaan Jhonatan.


Malam itu Xio berbincang-bincang dengan Jhonatan di telepon membicarakan lagi persiapan nanti seperti berapa total biaya, berapa banyak orang yang diundang, berapa banyak media tv yang akan merekam, dan tentunya tidak lupa dan tidak akan terlewatkan Xio berpesan pada Jhonatan untuk menjaga Ellisa.


***


Pukul 9 pagi Keesokan harinya.


Di Lapangan latihan istana khusus untuk Xio, di tengah lapangan tersebut nampak Xio sedang berdiri berhadapan Azril untuk memulai latihan seperti yang kemarin Azril katakan. Sementara di sisi lapangan terdapat Sebas yang berdiri di dekat kursi dan meja bila tuannya ingin istirahat.


Saat ini Xio sudah mengenakan pakaian latihannya yaitu celana putih yang elastis tapi tidak terlalu ketat, dan baju putih yang ringan seperti sutra. Sementara Azril mengenakan pakaian biasa seperti bansawan dengan topi fedora hitam bergaris biru.


"Kakek mau kamu menyerang kakek duluan dengan tangan kosong." Kata Azril mengetukkan tongkat emasnya ke tanah. Yang kemudian dapat terasa gelombang energi menyebar ke sekitarnya.


Xio sudah memasang kuda-kuda nya dan sudah siap untuk menyerang dengan tangannya, tapi tiba-tiba saja di sisi lapangan terdengar suara Leon dan Lena yang memanggilnya. Sehingga Xio pun terpaksa harus berhenti dahulu.


Leon dan Lena berlari menghampirinya diikuti oleh Sebas.


"Ada apa sayang? papa sedang latihan." Kata Xio kembali ke posisi semula.


"Ehmm itu...boleh ga kita pergi ke laut selatan?" Leon berkata sambil menggosok-gosokkan sepatunya ditanah.


"Boleh, Sebas temani mereka!"


"Ta-tapi kita mau pergi berempat saja dengan Zekiel dan Salma." Gugup Lena.


"Kalau begitu tidak ada yang akan pergi ke laut." Tegas Xio membuat keduanya menundukkan kepala sudah mengira papanya akan menolaknya, "Di Laut sangat berbahaya, tidak ada yang tahu makhluk berbahaya apa saja yang bersembunyi di permukaan laut."


"Tapi kita cuma mau pergi ke pesisir nya saja kok." Leon menengadah dan menatap Xio dengan wajah melas diikuti oleh Lena.


"Tidak boleh, laut bukan tempat bermain untuk anak-anak kecuali ada yang mengawasi." Larang Xio sekali lagi.


"Pergilah dan berhati-hati…" Kata Azril mengelus kepala mereka. Keduanya langsung melebarkan mata senang.


"Yes! ayo Lena!" Girang Leon langsung menarik tangan Lena pergi, "Terimakasih opa! Bye bye papa!" Ia melambaikan tangannya dibalas lambaian tangan oleh Azril sedangkan Xio menajamkan matanya melihat mereka pergi.


Azril melirik kearah Xio yang sedang mengurut keningnya sendiri. "Tenang saja, mereka akan baik-baik saja." Ucapnya menepuk pundak Xio. "Sebas kamu ikuti mereka secara diam-diam!" Perintahnya.


"Baik tuan!" Sebas langsung berbalik dan pergi mengikuti Leon dan Lena.


"Percuma saja, Leon dan Lena sangat pintar, mereka bisa menyadari kehadiran Sebas." Kata Xio.


"Siapa bilang? Sebas juga tidak bodoh, dia bisa menyembunyikan hawa keberadaannya," Jawab Azril. "Sudah cepat kembali ke posisi mu!" Serunya memukul betis Xio dengan tongkatnya.


.


.


.


.


.


Sementara itu di depan istana, Leon dan Lena menghampiri Zekiel serta Salma yang sedang menunggu mereka berdua.


"Bagaimana apa kalian sudah diijinkan?" Tanya Zekiel.


Leon menjawabnya dengan mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum sombong.


"Kalau kalian? Apa paman Aslan dan zio Azco mengijinkan?"


"Tadi ayah bilang boleh asalkan yang mulia juga mengizinkan kalian." Jawab Zekiel.


"Aku juga sama." Tambah Salma.


"Bagus! Ayo kita berangkat!" Seru Leon terlihat bersemangat.


"Tapi kita berangkat dengan apa?" Tanya Zekiel.


"Wow kita akan terbang!" Kagum Salma.


"Ayo naik!" Seru Lena dan mereka pun satu persatu masuk ke dalam kereta.


Sementara tidak jauh dari sana, Sebas sudah siap mengeluarkan sayapnya untuk membuntuti mereka. Dia juga tidak tahu sebenarnya kemana mereka akan pergi, dan apa yang akan mereka lakukan.


***


Kemarin siang Leon sebenarnya mendengar dari para nelayan yang datang ke kerajaan regalia kalau di laut selatan sering terjadi kejadian aneh. Seperti munculnya kapal bajak laut yang besar dan terlihat usang di tengah laut, tapi tiba-tiba suka menghilang seketika dan tak lama muncul kembali.


Dan setiap malam juga sering terdengar suara raungan dari arah laut seperti suara seseorang. Jadi orang-orang yang tinggal di sana memanggil kapal tersebut kapal hantu bajak laut.


Dengan penasaran yang sangat tinggi dan jiwa petualang yang membara, Leon pun dengan semangat ingin melihat secara langsung kapal hantu bajak laut yang ada di rumah karena siapa tahu akan ada harta Karunnya. Dan kenapa Leon tidak mau ditemani orang dewasa, itu karena dia pikir tidak akan seru jika terlalu aman. Untung saja papah mereka yang terlalu protektif dapat dikalahkan perkataannya oleh opa nya.


***


Kereta pegasus tersebut pun tiba di pesisir pantai yang agak dekat pemukiman. Karena tidak mau membuat heboh orang-orang jika turun tepat di tengah pemukiman.


Satu persatu dari mereka turun meloncat keluar dari kereta tersebut karena pijakannya yang cukup tinggi dan menapakkan kakinya di tanah yang bercampur pasir putih.


Lena kemudian memasukkan kembali pegasus miliknya dan juga keretanya. Dan mata mereka berkeliling melihat sekitar yang terdapat banyak pohon kelapa dan sudah nampak lautan yang luasnya sangat membentang.


"Sekarang kita kemana?" Tanya Zekiel karena ia sungguh tidak tahu apa-apa dan hanya Leon lah yang tahu karena dia yang punya rencana pergi ke tempat tersebut.


"Ayo kita berburu makanan laut!" Seru Lena sambil tangannya di keataskan meninju udara. Zekiel dan Salma sudah mau mengikuti rencana Lena karena mereka juga tergiur dengan makan-makanan laut yang dijual di pasar nelayan.


Leon berdiri di depan menghadap mereka bertiga sambil menancapkan pedangnya ke tanah ia berkata, "Tidak, tujuan kita kesini untuk mencari kapal hantu! Bukan untuk makan!" Tegasnya sambil memejamkan mata dengan angin berhembus meniup rambutnya seperti seorang jendral perang yang meresapi aura sensasi Medan perang.


Tapi ketika membuka matanya, Leon sudah tidak melihat mereka bertiga yang tadi depannya. Seperti orang bodoh ia celingak-celinguk sampai ia mendengar suara Lena dibelakangnya sudah cukup jauh.


"KAKAK CEPAT! NANTI TIDAK KEBAGIAN LOH!" Teriak Lena.


Leon menggertak giginya dan dengan pasrah pergi menyusul mereka sambil menggerutu di jalan.


Dari jauh Sebas tersenyum melihat tingkah pangeran yang haus akan petualangan, dan tuan putrinya yang serba ingin tahu tentang makanan.


Mereka tidak mengira kedatangannya akan menimbulkan kehebohan karena seluruh rakyat sudah tahu siapa Leon dan Lena yang merupakan Tuan putri serta pangeran mereka.


Mereka pun disambut dengan baik oleh para warga setempat dan lalu diundang oleh walikota kerumahnya.


Di Sepanjang perjalan menuju rumah walikota, Leon hanya bisa menghela nafas pasrah dengan nasibnya yang ingin berburu harta Karun, malah menjadi seperti ini, menyesal dia tidak memakai penyamaran. Sedang kan Lena, Salma dan Zekiel terlihat bersenang-senang.


Kota para nelayan yang bernama Southampton tersebut lumayan besar, dengan banyaknya populasi kurang lebih sebanyak 7 ribu jiwa. Mata pencaharian terbesar mereka yaitu sebagai nelayan dan juga pedagang antar kota.


Mereka berempat dituntun oleh beberapa prajurit menuju rumah walikota. Sebenarnya tadi sudah ditawari untuk naik kereta kuda, tapi mereka menolaknya dengan alasan ingin melihat-lihat dengan jelas suasana dikota tersebut.


Sesampainya di tempat tujuan, mereka disambut langsung oleh walikota beserta keluarganya.


"Selamat datang di kota kecil ini Tuan putri dan Pangeran!" Sambut walikota tersebut yang bernama Dido dengan ramah dan sopan sambil membungkukkan sedikit dadanya.


Dido nampak keheranan melihat Seorang putri dan pangeran bepergian tanpa satupun pengawal. Tapi mengingat rumor kekuatan mereka yang hebat, Dido pun dapat memakluminya.


"Mari silahkan masuk!" Ucapnya mempersilahkan.


Didalam mereka dituntun menuju menuju ruang makan yang diatas mejanya sudah nampak banyak sekali hidangan laut yang menggiurkan. Meskipun perut sudah kembali keroncongan melihat makanan laut yang terlihat segar dan enak, mereka harus tetap mempertahankan tata Krama nya karena keduanya selalu diajarkan tata Krama kerajaan di perpustakaan istana. Dari cara menyapa siapa, dan sampai cara berdansa juga ada gurunya.


"Silahkan menikmati masakan khas daerah kami." Kata Dido.


"Terimakasih." Jawab Leon.


Selesai makan, mereka mengobrol dengan Dido di ruang tamu. Ia bertanya apa tujuan Leon datang ke kotanya, hanya untuk jalan-jalan kah?


"Aku ditugaskan oleh Yang Mulia untuk menyelidiki rumor yang terjadi di kota ini."


Dido terlihat terkejut tidak percaya, bagaimana bisa Yang Mulia mengirimkan anak-anak untuk suatu tugas yang entah berbahaya atau tidak. Leon menyeringai melihat reaksi Dido.


Sementara Sebas yang mengintip dari atas pohon melihat melalui jendela, ia menepuk keningnya sendiri mendengar kebohongan Leon yang membawa nama Yang Mulia.


"Ma-maaf, apa pangeran hanya datang berempat saja?"


"Kenapa memangnya? Apa kamu meremehkan ku?"


"Tidak-tidak pangeran saya tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja kasus kapal hantu ini cukup sulit dipecahkan, karena beberapa hari yang lalu juga sudah ada beberapa petualang yang menerima quest saya untuk menyelidiki keanehan tersebut, tapi mereka tidak berhasil karena katanya di tengah laut malah diteror oleh hantu-hantu bajak laut yang menyeramkan." Jelas Dido.


Salma dan Lena yang duduk di kiri kanan Leon memegang tangannya. "Kak pulang saja yuk…" Kata Lena mendengar kata hantu. "Benar kak, Hantu menyeramkan…" tambah Salma.


Sebas menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bodohnya walikota itu...kalau ia bilang begitu, pangeran malah akan lebih bersemangat." Gumamnya.


Dan benar saja bukannya gentar, Leon malah terlihat menyeringai dengan mata yang berbinar ia nampak menjadi lebih semangat karena lebih menantang.


"Katakan semua keanehan yang terjadi belakangan ini!" Tegas Leon menjadi serius sudah seperti orang dewasa yang sedang menginterview seseorang.


***


Pukul 1 Siang di pesisir pantai kota Southampton terlihat sudah ada kapal layar yang berukuran sedang di dermaganya. Kapal tersebut merupakan milik walikota Dido.


Leon, Lena, Salma dan Zekiel akan pergi ke tengah laut bersama dengan beberapa bawahan Dido karena Diantara keempat anak tersebut tidak mungkin ada yang bisa menjalankan kapal.


"Lena, Salma kalau kalian tidak mau ikut tidak apa-apa, kalian tunggu saja kakak." Kata Leon.


"Kenapa cuma Lena dan Salma saja yang boleh tinggal?!" Seru Zekiel.


"Kamu kan laki-laki jadi harus ikut denganku!" Sahut Leon.


'Memangnya kenapa kalau laki-laki? Laki-laki kan juga sama manusia bisa takut dengan hantu.' Batin Zekiel dengan wajah memelas.


"Aku ikut kemanapun kakak pergi!" Seru Lena. "Aku juga ikut!" Lanjut Salma.


"Baiklah." Leon tersenyum.


...****************...


...BERSAMBUNG...