
...----------------...
Pria baya yang pernah menariknya 2 kali dari dalamnya keterpurukan, dan orang yang tulus menyayangi serta mengajarkan banyak hal tentang kehidupan padanya, saat ini tengah berdiri di balkon kamar. Tubuhnya tinggi perkasa, tapi perutnya sedikit buncit meski masih memiliki otot perut yang menonjol. Ia mengenakan jubah putih dengan sebuah tongkat emas ditangan.
Pria itu berjalan masuk kedalam kamar membuatnya terkejut tapi kemudian rasa lega dan senang melihat pria baya itu telah kembali dan dalam keadaan baik-baik saja. Pria yang sudah dianggap sebagai kakeknya sendiri meski tidak memiliki hubungan darah sama sekali.
Xio masih tertegun dan sepatah kata terucap dari mulutnya. "Kakek…" Dia turun dari kasur dan langsung menghampiri kakeknya yaitu Azril yang lalu dipeluknya.
Azril membalas pelukan Xio sambil tersenyum teringat kejadian ini seperti saat mereka masih di kehidupan sebelumnya. Yaitu ketika Arcas kecil berhambur memeluknya, tapi kini Xio kecilnya yang berhambur memeluknya.
"Kakek terimakasih." Ucap Xio melepas peluknya setelah dirasa puas melepas rindu.
"Terimakasih untuk apa?" Tanya Azril.
"Entah, aku ingin berterimakasih saja. Mungkin untuk semua kebaikan kakek padaku." Jawab Xio.
Bukk!
Azril meninju dada Xio pelan, "oh ayolah! Jangan membuat suasana jadi melodramatis seperti itu. Aku kembali tidak ingin membuat kesedihan, tapi aku ingin ikut merasa bahagia karena cucuku mau mengadakan pernikahan yang besar." Ucap Azril.
"Haha…baiklah kek! Aku ingin semua orang senang dengan pernikahanku." Kata Xio. "Nanti siang setelah acara peresmian, ada banyak yang ingin aku tanya dan konsultasikan pada kakek. Kakek janji jangan pergi lagi oke?!" Tambahnya.
"Hmm…" Azril berdehem cukup lama sambil membelai jenggot di dagu dengan jari-jarinya. "Baiklah, memangnya apa yang yang ingin ditanyakan jagoanku?" Ucapnya.
"Ada sesuatu yang membuatku penasaran." Jawab Xio "Dan jangan memanggilku seperti anak kecil!" Tegasnya. Entah kenapa tidak Jhonatan tidak Azril suka sekali memanggilnya seperti panggilannya ketika kecil.
Tok tok!
"Permisi Yang Mulia, ini saya Sebas." Terdengar suara Sebas diluar kamar.
"Masuk!" Sahut Xio.
Sebas pun masuk bersama 2 orang maid perempuan, dan Ia sekilas terlihat terkejut melihat kehadiran Azril disana.
"Sebas ini kakekku, kakek Azril." Kata Xio.
"Salam hormat Tuan Azril." Kata Sebas sambil membungkukkan dadanya diikuti oleh 2 maid dibelakangnya. Dan dijawab anggukan oleh Azril.
"Kakek duluan saja tunggu di ruang makan dengan anak-anak. Aku mau ganti pakaian dulu." Ujar Xio.
"Baiklah." Jawab Azril. "Emm tapi...aku tidak tahu ruang makan ada dimana!" Tambahnya mengedikan bahu.
"Oh benar juga, kamu!" Xio menunjuk salah satu maid yang berdiri di samping kiri Sebas, "kamu antarkan kakek ke ruang makan!" Perintahnya.
"Baik Yang Mulia, Mari saya antar Tuan!"
Azril pun berjalan mengikuti Maid tersebut. Sementara Xio masuk ke kamar mandi, Sebas menyiapkan pakaian yang harus dipakai Xio, dan maid satu tadi membereskan kamar bertugas membereskan kamar Xio.
.
.
.
.
.
Beberapa lama kemudian, Xio terlihat berjalan di lorong menuju ruang makan bersama Sebas dibelakangnya. Ketika sampai di ruangan makan, ia melihat Azril, bersama Leon dan Lena tengah duduk di pangkuannya dengan Azril yang sepertinya sedang menceritakan sesuatu. Dan mereka juga terlihat sudah sangat akrab.
Ketiganya menoleh ke arah Lawang melihat seseorang yang datang yaitu Xio yang sudah mengenakan jubah serta mahkota rajanya.
"Pagi papah!" Ucap Leon dan Lena.
"Pagi juga anak-anakku." Jawab Xio sambil tersenyum. "Sepertinya kalian sudah akrab yah!" Lanjutnya duduk di kursinya.
Leon dan Lena turun dari pangkuan Azril dan menuju ke kursi mereka masing-masing. "Iya, opa sangat keren!" Seru Lena.
(Opa & Oma diambil dari bahasa Jerman)
"Memangnya apa yang opa katakan pada kalian?" Tanya Xio.
"Opa bilang, opa pernah melawan dewa yang kuat tapi juga bodoh." Jawab Leon.
Xio melirik kearah Azril yang sedang terkekeh. "Sebaiknya kakek jangan mengatakan kebohongan pada anak-anak." Kata Xio dengan tatapan menyelidik.
"Siapa yang berbohong? Aku benar pernah melawan dewa." Sahut Azril, ia kemudian terlihat memperhatikan penampilan Xio dari atas sampai bawah. "Terakhir kakek melihatmu masih mengenakan seragam sekolah, tapi sekarang sudah mengenakan pakaian seorang raja saja." Ucapnya.
"Memangnya menurut kakek siapa yang membuatku bisa seperti sekarang ini?"
"Hahaha...tapi kamu senangkan bisa sampai disini?" Azril tertawa.
"Benar sih, berkat kakek aku akhirnya bisa bertemu wanita yang luar biasa dan anak-anakku yang imut haha…" Jawab Xio tertawa juga.
Setelah berbincang-bincang sedikit, mereka pun memutuskan untuk segera menyelesaikan sarapannya yang dari tadi sudah tersaji diatas meja.
Selesai sarapan, Xio bertanya persiapan acara pada Sebas. "Apa semuanya sudah siap?" Tanya Xio.
"Sudah Yang Mulia, semua warga di benua ini serta di benua elf pun sudah dari pagi berkumpul diluar ingin menyaksikan peresmiannya." Jawab Sebas. Memang benar sedari pagi semua orang sudah tidak sabar ingin menyaksikan bagaimana peresmian kerjasama antara benua manusia dan benua Elf. Diatas langit setiap kota sudah terdapat layar hologram besar yang nanti akan digunakan untuk menayangkan acaranya.
"Baiklah kita berangkat sekarang!" Xio beranjak dari kursinya.
"Ayo anak-anak!" Azril menepuk kepala Leon dan Lena, lalu merekapun bertiga pun berjalan dibelakang Xio.
.
.
.
.
.
Singkat cerita Xio pun telah sampai di portal besar nan tinggi yang masih ada di kerajaannya. Dan tayangan di langit pun sudah mulai ditunjukkan. Para warga terlihat sangat ramai dan antusias sekali, seperti sedang ada festival saja.
Kali ini dilangit sudah menyorot ke arah portal. Dan tak lama kemudian dia portal tersebut terlihat ada yang melangkahkan kaki, dia adalah Heldir.
Heldir bersama 3 orang pemimpin elf dan juga 3 bawahan Xio muncul dari portal tersebut. Pandangan Heldir langsung tertuju pada Azril yang berdiri tidak jauh dari Xio dan dia nampak terkejut saat melihatnya.
Xio sudah berdiri berhadapan dengan Heldir, dan layar di masing-masing kota pun menampilkan mereka berdua. "Rakyatku sekalian, dengan ini aku sahkan bangsa manusia dan bangsa elf akan bersatu! Dan portal antar benua telah dibuka!" Xio menjabat tangan Heldir, dan dengan sedikit pelukan.
Semua orang bersorak dan bertepuk tangan kagum dengan raja mereka yang bisa menyatukan berbagai ras, dan membuat mereka hidup rukun.
"Apa akan ada pesta?" Tanya Heldir.
"Karena semua orang terlihat gembira, jadi bebas jika ingin berpesta." Jawab Xio.
"Haha...ayolah kamu juga harus ikut!" Heldir merangkul Xio.
"Mau kau bawa Xio kemana?" Azril tiba-tiba muncul didepan mereka berdua.
Xio pun baru ingat kalau Heldir dan Azril kan berasal dari zaman yang sama, yang berarti mereka pasti saling mengenal, dan entah apa hubungan mereka saat itu. Tapi Heldir terlihat sangat menghormati Azril.
"Bolehkah saya membawa Xio berpesta?" Ucap Heldir.
"Awas saja kalau kamu membawanya melihat yang tidak-tidak." Ancam Azril.
"Ayolah tuan, Xio sudah dewas-" Belum menyelesaikan kalimatnya, Heldir sudah mendapatkan pentungan dari tongkat emas Azril.
"Baiklah baiklah, aku berjanji tidak akan mengajaknya melihat wanita-wanita seksi penari." Kata Heldir sambil mengelus-elus kepalanya sendiri. Sementara Xio hanya terkekeh saja melihatnya.
"Bagus! Cepat kalian pergi sana bersenang-senanglah!" Usir Azril. Sementara Amir, katarina dan Duncan hanya ternganga melihat leluhur mereka bisa diperlakukan seperti itu oleh seorang pria tua.
Xio sebenarnya malas ikut berpesta dengan Heldir, tapi dia pikir ini bisa jadi hiburan untuk membaguskan moodnya yang tidak lama lagi akan menghadapi seluruh manusia di bumi. Xio pun mengirimkan pesan telepati pada Sebas untuk menjaga dan memperhatikan Leon dan Lena.
Para elf terlihat keluar dari portal yang tersebar, dan mereka mulai membaur dengan para warga kerajaan Regalia memeriahkan pesta dengan makanan, minuman, musik, tarian, dan masih banyak lagi.
Pertama Heldir membawa Xio ikut menari bersama orang-orang. Awalnya Xio tidak mau, karena dia merasa tidak bisa menari bebas seperti mereka. Tapi dengan paksaan dari Heldir dan sorakan banyak orang, Xio pun bisa menari seperti orang-orang meski gerakannya masih kaku dan itu membuat dia sendiri tertawa begitupun dengan Heldir.
Kemudian Heldir mengajak Xio minum. Bukan sekedar minum biasa, tapi minum 1 gelas besar bir sekaligus.
Xio menerima tantangannya, karena diprovokasi oleh Heldir. "Yang menang tanpa kecurangan adalah pria sejati." Kata Heldir.
Sekarang di hadapan mereka berdua sudah terdapat gelas bir besar yang ukurannya lebih besar 4 kali lipat dari ukuran bir biasanya. Semua orang juga ikut berkumpul ingin menyaksikan perlombaan yang menegangkan tersebut. Para elf mendukung Heldir, dan yang lainnya mendukung Xio dengan sorak Sorai memberikan semangat.
"Apa kedua pihak sudah siap?!" Teriak sang wasit yang tidak lain adalah Aslan. Xio dan Heldir mengangguk dengan jari mereka yang sudah berada di gagang gelas bir.
"Baiklah, MULAI!"
Dengan segera Xio pun meneguk gelas besar tersebut. Xio bisa saja curang dengan membuat tubuhnya anti mabuk, tapi mengingat tidak boleh curang, dia pun harus berlomba dengan Heldir yang terlihat meneguk bir tersebut dengan hebat.
"AYO YANG MULIA!"
"SEMANGAT YANG MULIA!"
Terdengar teriakan orang-orang yang memberinya semangat, dan entah kenapa itu benar-benar membuat Xio jadi lebih semangat dan meneguknya lebih cepat.
Sudah mau sampai detik-detik terakhir, Heldir tiba-tiba saja berhenti minum dengan sendawa yang panjang.
Burrrppp…..
"Uh perutku sudah mulai kembung." Ucap Heldir. Ia kemudian melirik kearah Xio yang masih belum berhenti meneguk bir tersebut. Sampai akhirnya Xio pun selesai dengan menghabiskan semua isi bir dalam gelas tersebut.
Terjadi keheningan sejenak sebab semua orang tidak menyangka rajanya bisa menghabiskan gelas bir besar tersebut dan memenangkan perlombaannya.
"Pemenangnya adalah Yang Mulia!!!" Aslan mengumumkan pemenangnya dan mengangkat tangan Xio keatas.
HIDUP YANG MULIA!!
YANG MULIA SANGAT HEBAT!!
Semua orang menyerukan kemenangan Xio.
"Selamat kawan!" Heldir menepuk punggung Xio.
"Haha aku menang haha." Kata Xio dengan wajahnya yang sedikit merah karena sepertinya dia benar-benar sudah mabuk. Maklum saja di umurnya yang 18 tahun dia baru pertama kali minum bir, apalagi dengan gelas yang besar.
"Sepertinya aku harus segera membawamu kembali." Ucap Heldir meminumkan setetes ramuan pada Xio lalu menggendongnya di punggung dan membawanya kembali ke istana melesat dengan cepat. Diperjalanan Heldir dapat mendengar Xio tertawa-tawa sendiri seperti orang gila, tapi memang begitulah jika dia sedang mabuk dalam keadaan hati senang.
Ketika sampai di istana, Heldir dihampiri oleh beberapa penjaga. "Apa yang terjadi pada Yang Mulia?" Tanya mereka khawatir karena Xio datang digendong seseorang.
"Raja kalian hanya mabuk, cepat tunjukkan dimana kamarnya!" Kata Heldir.
"Ba-baiklah, mari ikuti saya!" Seru penjaga tersebut berjalan duluan di depan. Dan Heldir pun berjalan mengikutinya sambil masih menggendong Xio.
Di sepanjang lorong banyak prajurit serta pelayan yang melihat Xio khawatir, karena mereka tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Di Sepanjang lorong itu juga Heldir dapat melihat bingkai bingkai foto dan patung seorang perempuan cantik berambut putih. Ada gambar saat perempuan itu sendiri, ada juga gambar saat berdua dengan Xio serta ada yang dengan anak-anaknya juga.
Heldir pun tiba didepan kamar Xio. Penjaga itu menolong membukakan pintunya untuk Heldir.
"Silahkan!" Ucap penjaga tersebut.
Heldir masuk kedalam kamar. Pertama dia melihat ke sekeliling kamar terlebih dahulu, lalu kemudian menidurkan Xio di atas ranjangnya. Ternyata Xio sudah tertidur ketiga di gendongan Heldir tadi.
Heldir melirik ke arah penjaga yang mengantarnya tadi, "kamu boleh kembali." Kata Heldir.
"Tapi…" ragu penjaga tersebut.
"Tenang saja aku tidak akan apa-apakan rajamu ini." Ucap Heldir sudah tahu penjaga itu mencurigai dirinya.
"Baiklah, terima kasih sudah mengantar yang Mulia."
Heldir mengangguk dan penjaga itupun pergi.
Setelah penjaga itu pergi, Heldir berjalan ke dekat rak di samping ranjang untuk melihat sebuah foto yang menunjukkan gambar Xio dengan perempuan berambut putih tadi berdua. Heldir terlihat sangat memperhatikan wajah perempuan tersebut yang tidak lain adalah Ellisa.
Ia merasa sangat tidak asing dengan sosok Ellisa.
"Bagaimana? Takdir mereka sangat luar biasa bukan?" Azril tiba-tiba saja ada di lawang pintu.
Heldir langsung menoleh ke arah suara. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, "sepertinya sampai kapanpun keduanya memang tidak bisa dipisahkan."
"Apa orang-orang itu belum ada yang menyadarinya?" Lanjutnya bertanya.
Azril berjalan ke dekat ranjang Xio dan duduk di tepiannya sambil memandang wajah Xio yang masih tertidur. "Jika mereka tahu Xio telah kembali dengannya, mungkin kehidupan Xio tidak akan tentram seperti sekarang." Ucapnya sambil melepas mahkota Xio, karena takutnya dia tidak nyaman tidur sambil mengenakan mahkota.
"Sekarang namanya adalah Ellisa, dan mereka berdua sudah memiliki anak. Aku tidak tega jika Xio harus melihat masa lalunya." Kata Azril meletakkan Mahkota Xio di samping bantal tidurnya.
"Mungkin tidak apa-apa. Lagipula Xio sekarang kan sudah bahagia dengan istrinya." Ucap Heldir.
"Kamu mudah bicara seperti itu. Kamu tahu sendiri kan dari dulu bagaimana temperamennya jika menyangkut istrinya." Sahut Azril.
"Hahh…" Heldir menghela nafas. "Ini sangat membingungkan. Andai saja dulu orang-orang itu tidak mengusik kehidupannya, mungkin tidak akan ada kejadian itu." Ucapnya kesal.
"Mau bagaimana lagi, yang lalu tidak bisa di ulang kembali." Jawab Azril.
Mereka berdua mengobrol sampai akhirnya Xio pun bangun. "Kakek, apa yang sedang kalian bicarakan?" Xio langsung duduk. Dan Azril memberikan Xio air minum terlebih dahulu.
"Kita sedang membicarakan betapa cantiknya istrimu ini." Jawab Heldir menunuk Ellisa di foto.
"Tidak membicarakan yang tidak-tidak tentang istriku kan?" Tanya Xio dengan tatapan tajam seperti mengancam dan dari tatapannya seperti bisa membunuh seseorang.
"Tidak-tidak sumpah!" Seru Heldir menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
"Haha sepertinya kamu sangat menyayangi istrimu." Kata Azril
...****************...
...BERSAMBUNG...