
...----------------...
*Jhonatan POV*
Setelah aku mengetahui semua kebenaran tentang Serly dari Xio, aku langsung mengusir Serly dan anaknya dari rumah, aku juga membakar semua barang-barang miliknya.
Keeseokan harinya aku berniat mengunjungi Xio tapi karena tidak tahu rumah barunya jadi aku pergi kerumah Chris karena aku yakin Chris mengetahuinya. Saat sampai rumah Chris aku langsung membunyikan bellnya.
Ting tong!
Setelah aku memencet bel tak lama kemudian pintu terbuka dan keluar seorang anak kecil lelaki yang kalau aku ingat dia merupakan cucuku atau anaknya Xio.
"Paman mencari siapa?" tanyanya.
"jangan panggil paman tapi panggil kakek, karena aku ayah dari papah kalian" jawabku.
"dan siapa namamu nak?" lanjutku bertanya.
"Namaku Leon, apakah benar kakek adalah ayahnya papah?" tanyanya lagi.
"Tentu saja benar" ucapku sambil tersenyum.
"Lalu kenapa kemarin Kakek membuat ayah marah?" Leon kembali bertanya membuatku bingung harus menjawab apa.
"Leon ada siapa?, kenapa tidak disuruh masuk?" terdengar suara pria dewasa didalam rumah.
"Iya paman!, kakek silahkan masuk" Leon mempersilahkan ku untuk masuk, dan saat aku masuk aku melihat Chris yang sedang membaca koran disofa.
"Oh tuan jhonatan silahkan duduk" Ucap Chris, dan aku pun langsung duduk disofa menghadap Chris.
"Leon kemarilah duduk disini" Chris menyuruh Leon untuk duduk disampingnya.
"Ada keperluan apa tuan Jhonatan berkunjung ke rumahku?" tanya Chris langsung keintinya.
"Saya kemari untuk menanyakan alamat Xio, apakah tuan Chris tahu dimana Xio berada?" aku langsung mengungkapkan tujuanku.
"Maafkan saya tuan Jhonatan, tapi saat ini tuan muda sedang keluar kota untuk menemui ayah mertuanya" jawab Chris.
'Ayah mertua?, apakah Xio sudah menikah?' batinku.
"apakah Xio sudah menikah?" tanyaku untuk memastikan.
"Tuan muda belum menikah, tapi akan menikah setelah meminta restu dari mertuanya" jawab chris.
'Apakah Xio sudah tidak menganggapku sebagai ayah lagi, bahkan saat akan menikah pun tidak memberitahuku terlebih dahulu' batinku.
"Seperti itu, lalu apakah saya boleh membawa anak-anak Xio untuk jalan-jalan?" Ucap ku.
"Anda bisa mennyakannya langsung pada anak-anak, Leon kamu panggil Lena kemari" Chris menyuruh Leon untuk memanggil adiknya yang bernama Lena, Leon berjalan menaiki tangga dan tak lama kemudian dia kembali bersama seorang anak perempuan yang cantik dan imut.
"Leon, Lena apakah kalian mau ikut jalan-jalan bersama kakek?" tanyaku, tapi Leon dan Lena malah termenung mungkin mereka seperti itu setelah melihat kejadian kematian saat aku di perusahaan Xio.
"Leon, Lena kakek kalian mengajak kalian jalan-jalan loh!" Chris membantuku untuk bertanya pada mereka, dan akhirnya mereka berdua pun mengangguk tanda setuju yang membuatku sangat senang dan langsung memeluk keduanya.
*Jhonatan POV END*
Jhonatan keluar bersama Leon dan Lena dan diantar oleh Chris hingga kemobil Jhonatan.
"Tuan Jhonatan tolong jaga anak-anak, dan maafkan aku tidak bisa menemani" ucap Chris.
"Tentu saja bagaimanapun mereka adalah anak dari Xio dan juga cucuku sendiri" Jawab jhonatan tersenyum bahagia, jhonatan berpikir walaupun tidak bisa membahagiakan anaknya setidak dia bisa membahagian cucunya.
Jhonatan serta Leon dan Lena masuk kedalam mobil dan duduk di kursi belakang karena Jhonatan membawa asistennya untuk mengemudi.
"Tuan selanjutnya kemana?" tanya sang asisten.
"Anak-anak kalian mau kemana?" Jhonatan bertanya pada Leon dan Lena.
"Terserah kakek saja!" jawab Leon dan Lena juga mengangguk tanda setuju.
"Baiklah kita ke mall saja, kakek akan membelikan apapun yang kalian mau" ucap Jhonatan dan dibals anggukan oleh Leon dan Lena. kemudian mereka pun melajukan mobilnya menuju mall.
dan saat sampai di mall Jhonatan langsung mengajak masuk Leon dan Lena.
"Kakek ayo kesana!" Lena yang melihat toko cokelat langsung menarik tangan jhonatan dan juga Leon masuk kedalam toko tersebut.
"kakek Lena ingin membelikan untuk papah, mamah dan paman dirumah bolehkan?" tanya Lena dan Jhonatan mempersilahkannya, Leon dan Lena langsung memilih mana cokelat yang akan dibelinya tapi tiba-tiba mereka terhenti karena tidak tahu cokelat yang mana kesukaan Xio dan juga Ellisa.
"Kakek, apakah kakek tahu coklat kesukaan papah?" Lena kembali menghampiri jhonatan untuk menanyakan cokelat kesukaan Xio.
"Papah kalian sukanya cokelat yang ini" jawab jhonatan menunjuk salah satu cokelat.
'Aku rindu saat sering bermain dengan Xio kemall' Jhonatan kembali mengingat masalalunya ketika Xio masih kecil Xio selalu meminta jhonatan untuk membelikan cokelat kesukaannya.
Setelah selsai membeli cokelat mereka melanjutkan menelusuri setiap toko yang ingin dikunjunginya dan mereka juga membeli beberapa barang yang mereka inginkan dan tempat terakhir yang mereka kunjungi adalah tempat bermain.
Saat sedang asyik-asyiknya bermain bersama Leon dan Lena tiba tiba saja jhontan melihat orang yang mengarahkan pistolnya kearah Leon dan Lena dari jauh, jhontan langsung berlari memeluk Leon dan Lena untuk melindungi mereka.
Dorr!
Dorr!
Terdengar suara dua kali tembakan peluru, dan ternyata peluru tersebut mengarah kearah jhontan yang sedang melindungi Leon dan Lena.
Jleb!
Jleb!
Kedua peluru tersebut mengenai punggung jhontan.
"KAKEK!!" Teriak Leon dan Lena terkejut.
"Tidak apa-apa, tolong katakan pada papah kalian kalau kakek menyayanginya dan ingin sekali menghadiri pernikahannya" ucap jhonatan lemas dan penglihatannya perlahan mulai kabur.
"Kakek bertahanlah" ucap Leon mengeluarkan air mata dan Lena juga sama sedang menangis.
"Tuan jhonatan!!" teriak Juli menghampiri mereka, setelah Juli sampai dekat jhontan, Juli langsung mengangkat tubuh jhontan dibantu beberapa orang menuju mobil untuk segera dilarikan kerumah sakit Leon dan Lena juga mengikuti dari belakang, sedangkan para petugas keamanan sedang mengejar pelaku penembakan tersebut.
Saat sudah sampai dirumah sakit jhontan langsung dimasukkan ke UGD, sedangkan Leon dan Lena menunggu diluar berdua kerena Juli ikut mencari pelaku penembakan. hingga tak lama kemudian Chris dan Adam tiba dan langsung menghampiri Leon dan Lena yang sedang terisak.
Sementara itu saat ini Xio setelah selesai menggali informasi dari Erden Xio hanya menemukan ingatan yang terjadi saat satu hari yang lalu, karena saat Xio ingin menggali lebih dalam lagi malah ingatan Erden semakin buram dan tidak jelas, Xio yakin pasti telah ada yang menyegel ingatannya yang membuat Xio semakin mencurigai malaikat.
Xio langsung memenggal kepala Erden karena sudah tidak dibutuhkan lagi.
[Membunuh Malaikat berlevel 6.300]
[Levek up 1.200 ×]
Drttt! drtt!
Handphone Xio bergetar, dan Xio langsung mengambil handphonenya, Xio dapat melihat kalau Chris yang menelponnya.
Xio: Halo?
Leon: hiks papah…
Xio: Leon ada apa?, kenapa kamu menangis?
Leon: Papah cepatlah kemari, kakek Jhonatan masuk kerumah sakit.
Xio: APA?!, MASUK RUMAH SAKIT?!.
Baiklah papah akan segera kesana.
Tutt tutt
Xio memutuskan panggilannya. dan langsung menghampiri Ellisa.
"Sayang kita harus kembali kebumi" Ucap Xio dan langsung mengeluarkan mobilnya, setelah mengeluarkan mobilnya Xio langsung masuk dan disusul oleh Ellisa yang menurut saja karena melihat wajah Xio yang seperti sedang khawatir, sebelum pergi Xio menyuruh Arthur untuk menyelesaikan urusannya sendiri.
Saat ini Xio dan Ellisa sudah ada dihutan sebelum dirinya pindah kedunia flix, Xio dan Ellisa langsung turun dari mobilnya dan menyimpannya kedalam inventory, setelah itu memegang tangan Ellisa karena berniat menggunakan shadow teleportation menuju shadow soldier yang ada di dekat anak-anaknya tapi Xio menjauhkan dulu shadow soldiernya dari keramaian agar saat dirinya berpindah tidak ada yang melihatnya.
Setelah berteleportasi dengan bayangannya Xio berlari menuju Leon dan Lena, Saat Xio sudah sampai Xio dpat meliaht Chris dan Adam yang sedang menenangkan Leon dan Lena.
"Leon, Lena apa yang terjadi?" ucap Xio, Leon dan Lena yang mendengar suara Xio langsung berlari kearahnya dan memeluk Xio.
"Hikss… papah tadi hikss… saat kita sedang bermain dengan kakek Jhonatan hikss… tiba-tiba ada yang ingin menembak Lena dan kaka hiks…, tapi hiks… kakek melindungi kita hiks…, jadinya kakek yang terkena tembakan hiks…" jelas Lena yang masih terisak.
"Kakek juga berkata kalau kakek menyayangi papah dan sangat ingin menghadiri pernikahan papah" ucap Leon, Xio termenung sejenak mengingat kembali mimpi yang dialaminya semalam.
(Jhonatan Alexander)
.
.
.
.
BERSAMBUNG