Cross The World With System

Cross The World With System
Menjaga di Rumah Sakit



...----------------...


Plakk!


Suara tamparan keras terdengar dari dalam ruangan Jhonatan yang pintunya tidak tetutup, Xio langsung berlari menghampiri ruangan jhonatan, saat Xio masuk ruangan Xio dapat melihat Serly yang pipinya sudah berwana merah dan melihat Ellisa yang wajahnya sedang marah.


"Sayang apa yang terjadi?" Xio berjalan mendekati Ellisa.


"Gara-gara anakmu, Jhonatan jadi seperti ini!." Sahut Serly meneriaki Xio.


"Apa kau bilang?!" Xio mencengkeram pipi Serly.


"Asal kau tahu, aku sudah mengetahui siapa pelakunya." Xio memasukkan Serly kedalam bayangannya untuk menyiksanya nanti.


"Papah..apakah ini salah kita?" Ucap Leon menunduk.


"Ini bukan salah kalian." Ellisa memeluk Leon dan Lena untuk menenangkan mereka.


"Benar kata mamah ini bukan salah kalian." Xio juga ikut memeluk mereka.


"Apakah tadi kalian membelikan cokelat untuk papah dan mamah?" Ujar Xio mengalihkan pembicaraan agar Leon dan Lena tidak mengingat kejadiannya lagi.


"Oh iya benar" Lena berjalan kedekat meja yang diatasnya terdapat beberapa paperbag, kemudian dia mengambil salah satunya dan kembali menghampiri Xio.


"Kakek bilang ini cokelat kesukaan papah, dan kakek juga membelinya banyak sekali karena katanya papah sangat suka dengan cokelat." Lena menyerahkan satu kotak cokelat pada Xio.



"Benar ini cokelat favorit papah!." Xio tersenyum mengambil cokelat tersebut.


"Lalu untuk mamah mana?" Ucap Ellisa cemberut.


"Ini!, karena kita tidak tahu kesukaan mamah jadinya kita samakan saja dengan yang papah." Lena juga menyerahkan sekotak cokelat pada Ellisa.


Akhirnya merekapun menghabiskan waktunya dengan memakan cokelat dan bercanda diruangan Jhonatan sampai malam.


"Sayang kamu dan anak-anak tidur dirumah saja, aku akan menjaga disini." Ucap Xio karena mengingat hari sudah malam.


"Baiklah, nanti aku akan kembali membawa makan, kamu pasti belum makan." Ucap Ellisa dan diangguki oleh Xio, Ellisa kemudian memegang tangan Leon dan Lena untuk berteleportasi bersama.


Setelah sampai rumah Ellisa menyuruh Leon dan Lena untuk mandi dulu, Ellisa juga pergi mandi dahulu. Setelah selesai mandi Ellisa masuk ke dapur untuk mulai memasak, Ellisa juga dibantu oleh Leon dan Lena saat memasak.


"Kalau begitu mamah akan mengantarkan makanan dulu papah." Ucap Ellisa.


"Mamah cepatlah kembali, Lena ingin tidur bersama mamah!" Sahut Lena dan Ellisa mengangguk sambil tersenyum, kemudian dia berteleportasi kembali ketempat Xio, saat Ellisa sampai di tempat, Ellisa dapat melihat Xio yang sedang duduk di kursi yang ada disamping tempat tidur Jhonatan.


"Sayang ini makanannya." Ucap Ellisa.


"Simpan saja di situ." Ucap Xio menunjuk meja dekat sofa, Ellisa pun menyimpan makanan yang dibawanya dimeja tersebut.


"Kalau begitu aku akan kembali sekarang, anak-anak sudah menungguku." Ujar Ellisa.


"Kemarilah sebentar!" ucap Xio, kemudian Ellisa mendekat kearah Xio, dan tiba-tiba Xio berdiri kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Ellisa dan mulai ******* bibir Ellisa.


"Xio disini ada ayahmu!" Ellisa mendorong sedikit tubuh Xio.


"Ayahku tidak akan melihatnya, Ayolah hanya sebentar soalnya aku tidak tidur denganmu malam ini." pinta Xio dengan wajah memelas membuat Ellisa tidak tahan, kemudian Ellisa mencium bibir Xio dan Xio juga membalasnya, selama 5 menit mereka bercumbu dan akhirnya selesai juga.


"Sudah ya." Ucap Ellisa melepaskan ciumannya.


"Hahh Baiklah." Xio menghela nafas karena dia ingin lebih lama. kemudian Ellisa berteleportasi kerumah, sedangkan Xio mulai memakan makanan yang dibawa Ellisa.


Saat sampai dirumah Ellisa langsung masuk kekamar Leon dan Lena yang ternyata mereka sedang membaca buku diatas kasur, Ellisa pun menghampiri mereka dan ikut membaringkan tubuhnya di atas kasur karena kasur tersebut sangat besar.


"anak mamah sedang membaca apa?" tanya Ellisa.


"Kami sedang membaca buku dongeng." jawab Leon.


"oh iya mamah. Lena mau nanya, apa yang mamah suka dari papah?" tanya Lena langsung menutup buku yang sedang dibacanya.


"Mamah menyukai sifatnya yang baik serta berwibawa dan juga bertanggung jawab, Selain itu mamah juga menyukai wajah dan…" Tiba-tiba saja Ellisa mengigat tubuh Xio yang atletis dan anunya yang besar.


"dan apa?" sahut Lena.


"Tidak tidak ada, kalian cepat tidurlah ini sudah malam" Ellisa langsung menutupi wajahnya dengan selimut. Leon dan Lena


heran melihat tingkah Ellisa, tapi mereka tidak menghiraukannya dan langsung menutup matanya untuk tidur.


Malam berganti pagi, dirumah sakit atau lebih tepatnya diruangan jhonatan dirawat terlihat Xio yang sedang tertidur sofa.


Jhonatan sangat bahagia karena orang yang menjaganya adalah anaknya sendiri. 'Terimakasih tuhan telah menyelamatkan hidupku, sehingga aku masih bisa melihat anakku tumbuh sukses dan bahagia' Batin Jhonatan dengan air mata yang sudah berlinang.


Tokk! tok!


Pintu kamar Jhonatan diketuk.


"Masuk!" Ucap Jhonatan langsung menyusut air matanya, pintu kamar terbuka dan masuk 2 orang anak-anak dan satu orang wanita.


"KAKEK!!" Teriak Leon dan Lena berlari menghampiri Jhonatan.


"Shhss.." Jhonatan menaruh telunjuknya di depan mulutnya seperti memberi tanda agar jangan berisik, kemudian Jhonatan menunjuk kearah xio, Leon dan Lena melirik kearah yang ditunjuk oleh Jhonatan, dan mereka langsung menutup


mulut mereka dengan kedua tangannya setelah melihat Xio yang tertidur lelap di sofa.


"Kakek apakah kakek sudah tidak apa-apa?" Tanya Leon dengan suara kecil.


"Kakek sudah baikan hanya masih merasa lemas saja." Jawab Jhonatan dengan suara kecil juga.


"Kakek perkenalkan ini mamah kami." Ucap Lena menunjuk Ellisa.


"Salam kenal ayah, namaku Ellisa" Ucap Ellisa sopan.


"Ah iya, jadi kamu yang akan menikah dengan Xio, Kalian memang cocok" ucap Jhonatan tersenyum.


Xio perlahan membuka matanya dan mengucek matanya sebentar, kemudian bangkit dari tidurnya dan duduk disofa.


"Ternyata kalian sudah disini!" Ucap Xio, sehingga semua tatapan tertuju padanya.


"Oh kamu sudah bangun, maafkan ayah mengganggu tidurmu." Jawab Jhonatan.


"Tidak apa-apa." Xio berjalan mendekati 4 orang tersebut.


"Terimakasih telah melindungi Leon dan Lena, dan maafkan aku jika berkata kasar pada ayah sebelumnya" Ucap Xio membungkukkan kepalanya sedikit.


"ayah melindungi Leon dan Lena karena ayah juga merupakan kakeknya, dan juga kenapa kamu yang meminta maaf?, seharusnya ayah meminta maaf karena telah mengabaikanmu dan ibumu, ayah sangat bahagia ketika mendengar kamu akan memiliki keluarga, setidaknya ada orang yang bisa mengisi kekosongan hatimu setelah ayah yang telah menhancurkannya, semoga kelak kamu tidak akan seperti ayah." ucap Jhonatan panjang lebar.


"Jadi apakah kamu sudah memaafkan ayah?" lanjutnya bertanya.


"Aku sudah memaafkan ayah karena ibu juga sudah memaafkan ayah." jawab Xio.


"Terimakasih, setidaknya ayah tidak memiliki penyesalan lagi dalam hidup ini, dan bisa menjadi wali untukmu ketika kamu menikah." ucap Jhonatan terharu.


"Ayah juga ingin memberikan perusahaan padamu." Lanjutnya.


"Apakah ayah yakin?" tanya Xio memastikan keputusan Jhonatan.


"Ayah sangat yakin, ayah hanya ingin menghabiskan waktu bersama cucu-cucu ayah." Jawab Jhonatan dengan wajah yakin.


"Berarti aku harus mengurus 2 perusahaan, hahh." Kata Xio dengan diakhiri helaan nafas, sebenarnya dia bisa saja mengurus 2 perusahaan sekaligus tapi itu akan sangat melelahkan mengingat dirinya yang masih seorang raja.


Tokk! tokk! tok!


Tersdengar suara ketuakan pintu dari luar.


"Masuk!" Ucap Xio, kemudian masuklah Adam, Chris dan Juli.


"Bagaimana, apakah sudah selesai?" tanya Xio.


"Sudah tuan muda!" Jawab Juli menyerahkan dokumen pada Xio.


Xio mengambil dokumen tersebut dan membuka isi dokumen tersebut kemudian dia membacanya. Setelah selesai membaca semua isi dokumen tersebut Xio tersenyum menyeramkan.


'Hahaha sungguh lucu mereka ingin bermain-main denganku" Ucap Xio tertawa dalam hati.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG