
...----------------...
"Haha sepertinya kamu sangat menyayangi istrimu." Kata Azril.
Xio menatap wajah Ellisa di foto. Sambil tersenyum ia menjawab lugas. "aku sangat menyayanginya."
Azril yang melihat tatapan serius Xio, terkekeh sambil mengacak-acak rambutnya. "Haha Bagaimana rasanya kamu tidak tidur sendiri lagi?" Godanya.
"Pantas saja dikamar ini masih tercium aroma wanita cantik. Pasti setiap malam kau menjadi hewan buas." Tambah Heldir.
"Sial*n kau Heldir. Ayo-ayo kita bicara di ruangan lain saja!" Seru Xio turun dari ranjang dan mendorong Heldir serta Azril keluar kamar.
Xio membawa mereka ke taman dan ketiganya duduk di gazebo yang ada disana. Pelayan mulai berdatangan, ada yang menyajikan minuman, dan ada yang menyajikan camilan diatas meja di depan mereka bertiga.
Heldir baru pertama kali melihat cairan berwarna hitam kecoklatan yang berada di salah satu cangkirnya itu. Karena penasaran ia pun menanyakannya pada Xio.
"Air apa ini? Aromanya kuat dan pekat." Dia mencium baunya terlebih dahulu.
"Namanya kopi espresso." Jawab Xio.
Ketika Heldir mencoba menyesapnya, wajahnya tiba-tiba saja berubah kecut. Karena baru pertama kali minum sesuatu yang pahit seperti itu.
"Gila yah! Siapa yang mau minum minuman pahit seperti ini?"
"Haha rasanya memang pahit, tapi itu bisa membuat tubuh segar berkat kafein nya." Kata Azril.
"Kafein? Apa itu kafein?" Bingung Heldir.
Xio menjawab, "kafein, merupakan senyawa alkaloid xantina berbentuk kristal dan berasa pahit yang bekerja sebagai obat perangsang psikoaktif dan diuretik ringan," Ucapnya yang membuat Heldir semakin bingung karena baru pertama kali mendengar istilah-istilah tersebut. "Kalau tidak mau terlalu pahit kau bisa tambahkan susu." Tambah Xio.
Heldir menyuruh pelayan untuk menambahkan susu di cangkir kopinya. Dan saat di minum kembali rasanya pun sedikit berbeda, tidak sepahit yang tadi tapi masih terdapat aroma kopinya yang pekat. Dia baru tahu ada minuman bernama kopi, karena memang kenyataannya kopi belum ada didunia tersebut, dan baru Xio perkenalkan baru-baru ini dengan membuat ladang biji kopinya di pegunungan.
Xio baru ingat belum mengatakan pada Heldir bahwa dirinya berasal dari dunia yang berbeda.
Lalu ia pun mengatakan padanya secara ringkas bahwa dia berasal dari planet yang bernama bumi yang berbeda dari dunia Flix, karena disana tidak ada yang namanya sihir dan juga monster. Hanya saja teknologinya lebih maju.
Heldir tidak terlalu terkejut, karena sudah melihat beberapa benda aneh yang pernah dipakai Xio seperti handphone dan laptopnya.
"Jadi istrimu juga ada disana?" Tanya Heldir dijawab deheman oleh Xio yang sambil menyesap kopinya.
"Kalau disana tidak ada monster, berarti kehidupan di bu-bumi lebih tentram." Pikirnya.
"Tidak serentram yang kamu bayangkan. Meski tidak ada Monster-monster menyeramkan, tapi ada manusia-manusia yang perilakunya lebih buruk daripada monster," Jawab Azril kemudian melirik kearah Xio. "Aku menemukannya juga disana." Ucapnya.
"Ohh begitu…" Heldir hanya ber oh ria.
"Kakek, apa kakek tahu siapa ibuku sebenarnya?" Tanya Xio.
"Ibumu Nadia? Sudah jelaskan kan istrinya Jhonatan." Jawab Azril.
"Berarti kakek juga belum tahu," kata Xio membuat Azril heran, karena dia hanya tahu nama serta rupa Nadia saja. "Beberapa waktu lalu ayahku…….." Xio menceritakan apa yang diceritakan Jhonatan tentang dia yang bertemu Nadia di tempat seperti surga, dan Nadia memiliki nama asli Diana.
Azril dan Heldir membelalakkan matanya seperti terkejut mendengar apa yang dikatakan Xio mengenai cerita tentang ibunya.
'Sepertinya mereka tahu sesuatu.' pikir Xio melihat dari Ekspresi keduanya.
Heldir dan Azril terlihat langsung berpikir sambil membelai dagu.
"....tidak itu tidak mungkin." Gumam Heldir.
"Apa Jhonatan yakin dengan apa yang dilihatnya?" Tanya Azril.
"Ayah sangat yakin. Dia bahkan bilang sempat menyentuh ibu." Jawab Xio.
"Xio, coba tunjukkan elemen cahayamu!" Suruh Azril dan Xio pun mengeluarkan elemen cahayanya dari telapak tangan.
Azril menatap energi cahaya tersebut beberapa saat. Dan di bibirnya terlihat lekukan tersenyum. "Hahaha…" ia tertawa sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. "...Entah harus kusebut anugrah atau bukan kebetulan ini!" Ucapnya.
"Apa maksud kakek?" Bingung Xio.
"Nak sepertinya kehidupan keduamu dipenuhi berkah," Azril menepuk-nepuk pundak Xio. "Ibumu merupakan entitas yang luar biasa di alam semesta, bahkan keagungan nya melebihi para dewa."
"Jika ibu sangat kuat, kenapa ia bisa sakit-sakitan dan meninggalkanku?" Xio menunduk dan menopang dahinya dengan kedua tangan. entah rasanya saat ini dipenuhi kekecewaan berpikir jika ibunya kuat tidak mungkin bisa sampai sakit.
Azril melirik kearah Heldir mengisyaratkan dia untuk meninggalkan mereka berdua. Heldir pun mengangguk mengerti dan pergi dari sana.
"Apa ibu hanya pura-pura sakit dan menangis hanya agar bisa pergi meninggalkanku dan ayah?" Bibir Xio berkedut, "Setiap malam aku sering mendengar ibu menangis di kamarnya sendiri saat sedang sakit. Setiap hari aku merawat sambil mengkhawatirkannya. Kenapa ibu tega melakukan itu hanya untuk pergi?"
"Apa ibu tidak peduli denganku? Apa ibu tidak sayang lagi padaku? Apa ibu punya seseorang yang lebih disayanginya disana? Apa ibu….." Xio terus bergumam sendiri berpikir kalau ibunya selama ini sakit hanya rekayasa. Dia bahkan tidak mendengar dari tadi Azril memanggil-manggil namanya.
"Xio...Xio...Xio hey!" Teriak Azril memegang wajah Xio dan menatap matanya serius sampai Xio pun tersadar. "Dengar! Jangan kamu terus berpikir negatif pada orang yang telah melahirkanmu! Memang benar ibumu orang yang kuat, tapi tidak mungkin dia benar-benar ingin meninggalkanmu. Meskipun aku tidak yakin, tapi pasti ada alasan kenapa dia pergi."
"Bagaimana ekspresi dan kesan ibumu padamu?"
Xio melepaskan tangan Azril yang memegang pipinya. Ia lalu membayangkan wajah cantik ibunya yang tersenyum jika ia melakukan sesuatu dengan benar ataupun salah. Meski saat sakit pun ibunya tidak pernah melunturkan senyuman di hadapannya.
"Ibu selalu tersenyum dengan tulus, senyumannya sangat cantik." Ucapnya.
"Sekarang pikirkan. Untuk apa seorang permaisuri After world datang ke bumi hanya untuk menikahi pria biasa dan melahirkan seorang anak laki-laki. Jika dia tidak tulus, lalu untuk apa dia merawatmu dari dalam kandungan hingga tiba ke dunia, mengajarkanmu tata krama, memberimu kasih sayang, dan tersenyum padamu!" Jelas Azril, "ia ingin membuatmu bahagia, merasakan kasih sayang ibu, dan menjadikanmu pria yang kuat. Kakek tidak tahu kenapa ibumu bisa sampai sakit meski dia entitas kuat, tapi kakek yakin ibumu sangat menyayangimu." Azril mengelus pundak Xio.
'Kakek benar ibu tidak mungkin pergi meninggalkanku dengan sengaja…' Batin Xio. "Hahh...aku ingin melihat senyuman ibu lagi." Ia menghela nafas.
"Kakek rasa ibumu juga pasti ingin bertemu dengan anaknya. Yang sekarang sudah tumbuh jadi pria besar haha!" Seru Azril menepuk punggung Xio. "Ngomong-ngomong apa Rose sekarang tinggal denganmu?" Tanyanya mengalihkan topik.
"Iya nenek tinggal dirumah kakek. Apa kakek mau bertemu dengan nenek sekarang?" Xio bertanya balik.
"Eh hehe tidak-tidak, nanti saja jadi saat jadi pengiringmu sekalian memberinya kejutan hehe." Azril tertawa canggung.
Xio tersenyum jahat, "kakek takut pada nenek yah?"
"Siapa yang takut hah? Aku tidak pernah takut pada siapapun!" Sangkal Azril membusungkan dada, 'Kecuali Wanita itu.' Batinnya yang lupa bahwa Xio dapat mendengarnya.
"Hahh... sepertinya tidak bisa disembunyikan lagi." Kata Azril menyesap kopinya terlebih dahulu lalu meletakkannya kembali di atas meja. "Apa kamu tahu setiap dunia ada penjaganya?"
Xio menggelengkan kepala, "Apa mereka seperti dewa?"
"Hampir mirip dewa, tapi mereka lebih kuat lagi. Bumi ada penjaganya, dunia Flix ini juga ada penjaganya. Dulu kakek adalah penjaga Dunia Flix menjaga agar dunia ini tidak hancur. Tapi karena kakek gagal menjaganya yang menyebabkan terbelahnya dunia ini, jadi kakek berhenti menjadi penjaga lagi."
"Aku sangat penasaran, kenapa sebenarnya dunia Flix ini bisa sampai hancur?" Tanya Xio berharap Azril memberikan detail nya.
"Dunia ini bisa hancur karena ada seseorang yang melawan para dewa, sehingga menyebabkan dunia ini seperti sekarang."
"Kenapa kakek tidak mencegah mereka?"
"Kalau bisa kakek pasti menghentikannya, tapi saat itu kakek tidak tahu kalau seorang yang berani melawan dewa tersebut ternyata entitasnya lebih tinggi dari siapapun melebihi kakek."
Xio tersenyum, dia sudah mendapatkan siapa sebenarnya orang tersebut. Tapi dia belum tahu apa faktor utama orang tersebut melawan dewa. Jika bertanya pun pasti Azril tidak akan menjawabnya, tapi yang pasti sekarang dirinya harus lebih waspada karena musuhnya adalah para dewa.
"Kalau kakek tidak menjadi penjaga dunia Flix lagi, lalu sekarang siapa yang menjaganya?" Tanya Xio.
"Ada dua orang. Yang satu menjaga dunia Flix yang kita pijak saat ini, dan satu lagi menjaga dunia yang terpisah dimana para dewa ada disana." Jawab Azril.
"Kakek aku ingin menjadi lebih kuat!" Seru Xio tiba-tiba.
"Menurut kakek kamu sekarang ini saja sudah kuat, dan bisa mengalahkan seorang dewa. Untuk apa kamu ingin lebih kuat lagi?"
"Sekarang aku memiliki banyak tanggung jawab. Selain kerajaanmu, aku punya orang-orang yang sangat berharga yang harus kulindungi. Aku tidak ingin seorangpun dapat menyentuh mereka. Jika aku hanya bisa melawan seorang dewa, maka aku ingin bisa melawan semua dewa sekaligus!" Tegas Xio.
"Baiklah kalau begitu kamu harus menyiapkan mental dan fisikmu!" Azril memegang kedua pundak Xio dengan tatapan bangga dan tersenyum mencurigakan.
***
Sementara itu di sisi Jhonatan. Siang ini dia baru saja pulang dari mengurus persiapan acara Xio. Turun dari mobil ia langsung berjalan masuk kedalam rumah.
Di ruang tengah ia melihat Ellisa duduk di sofa sedang bermain dengan Nathan dan Tassa ditemani juga oleh beberapa maid yang duduk di lantai.
"Oh ayah sudah pulang?" Ucap Ellisa. Para maid juga langsung berdiri dan menepi ketika melihat Jhonatan.
"Iya sore ini ada pertandingan teman-teman ayah." Jhonatan berjalan masuk dan ikut duduk menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Tuan mau minum apa?" Tanya salah seorang Maid.
"Buatkan aku jus." Jawab Jhonatan dan Maid tersebut pun segera pergi ke dapur. Lalu Jhonatan mengambil Nathan dan Tassa dari pangkuan Ellisa, "Ehmm cucu-cucuku lucu sekali!" Ia menempelkan hidungnya dengan hidung anak-anak bergantian. Lalu terdengar suara tawa khas bayi dari keduanya yang menambah kegemasan orang yang melihatnya.
"Pertandingan apa yah?" Tanya Ellisa.
"Basket biasa." Jawab Jhonatan. Meski umurnya sudah hampir 40 tahun, tapi ia dan teman-teman seumurannya masih melakukan aktivitas masa muda mereka seperti bertanding basket,ataupun sekedar hanya berkumpul saja.
"Apa aku boleh ikut?"
"Tentu saja! Ayah jadi lebih semangat bertanding basketnya kalau kamu menonton." Seru Jhonatan. Sampai jusnya tiba, mereka pun mengobrol sebentar hingga pukul 3 sore. Jhonatan bilang ia harus mengambil Jersey nya terlebih dahulu di rumah yang dulu, jadi Ellisa pun ikut pergi bersamanya dengan Juli yang jadi supirnya.
.
.
.
.
.
Sesampainya dirumah yang dulu, entah kenapa Jhonatan malah teringat kenangan kenangan bersama Nadia. Di setiap sudut rumah malah terbayang-bayang dia.
Jhonatan dapat melihat bayangan Nadia yang sedang menyiram tanaman, memasak di dapur, dan ketika masuk kamar, ia melihat Nadia yang sedang selonjoran di ranjang mereka.
Tapi Jhonatan tahu itu hanya bayangannya saja karena rumah ini penuh dengan memori bersama dirinya. Ia kemudian duduk di tepian ranjang dan mengelus permukaan kasurnya. "Aku tidak melihatmu ketika kau disini. Dan sekarang...ketika kau pergi, aku melihatmu dimana-mana." Lirihnya.
Jhonatan ingat saat istrinya sakit, dia pindah ke kamar lain dengan wanita lain. sedangkan Nadia tidur sendiri dikamar tersebut. Dia menyesal dulu meninggalkan istrinya tidur sendiri dimana ia tahu bagaimana dinginnya kasur jika tidak ada yang menemani. Karena sekarang ia pun mengalami apa rasanya kesepian ketika di malam hari.
"Aku tidak pantas merasakan sesedih ini...karena aku yang membuatnya jadi seperti ini…"
Rumah Jhonatan ini sangat besar dengan segala fasilitas yang lengkap seperti tempat gym, kolam renang, kebun bunga, garasi yang luas, dan masih banyak fasilitas mewah lainnya mengingat dia merupakan konglomerat tidak aneh jika ada tempat parkir helikopternya juga.
Setelah pindah kerumah Xio, dia tidak berniat untuk menjual rumahnya sama sekali. Karena rumah tersebut sudah menjadi saksi bisu saat awal pernikahannya dengan Nadia, memiliki seorang anak laki-laki dan merawatnya bersama hingga besar, dan juga menjadi tempat terakhir kalinya dia melihat istrinya yang berbaring tak berdaya.
Jika semua itu tidak terjadi, mungkin saat ini dia masih tinggal bersama istrinya di rumah tersebut bermain dengan cucu-cucunya menjalin kasih hingga tua bersama.
Tanpa sadar saat ini Jhonatan sedang memeluk bantal yang pernah dipakai tidur istrinya. Dan setitik air membasahi bantal tersebut yang masih terdapat harum istrinya.
***
Diana sedang mandi bersama para dayangnya di kolam surga. Dayangnya membantu ia menggosok rambutnya, menggosok tangan dan kakinya menggunakan cairan yang sangat harum.
"Permaisuri yang agung, apa anda teringat pangeran agung dan manusia itu lagi?" Tanya seorang perempuan berambut coklat yang duduk di tepi kolam melihat ekspresi Diana yang gusar. Dia adalah Emma salah satu penjaga Afterworld.
"Hmm aku ingin kembali turun." Jawab Diana.
"Kalau permaisuri sangat merindukannya, kenapa tidak turun saja?"
"Kalau aku turun, lalu siapa yang akan menggantikanku disini?"
"Permaisuri bisa mengandalkan ku dengan yang lainnya. Lagipula sudah berapa tahun kita tidak pernah mendapatkan tamu yang tidak diundang lagi."
Dia terlarut dalam pikirannya. Afterworld memang sudah lama tidak tidak kedatangan pemberontak, tapi siapa tahu pemberontak bisa datang kapan saja. Disisi lain dia dapat merasakan kalau saat ini suami serta anaknya sedang Merindukan dirinya, begitupun dia sendiri yang merindukan mereka.
...****************...
...BERSAMBUNG...