
...----------------...
"Pakai ini!" Azco meleparkan sebuah mantel ke arah Chintya dan ditangkaplah olehnya.
"Untuk apa ini?" Tanya Chintya.
"Tentu saja untuk di pakai, apakah kamu tidak tahu cara memakainya?" Kata Azco mengambil kembali mantelnya dan langsung menyelimutkan-nya pada Chintya sehingga membuat wajah nya tersipu.
"Aku tahu cara memakainya, yang kumaksud, kenapa kamu memberikannya padaku dan tidak dipakai untuk kamu sendiri saja?." Ujar Chintya.
"Aku tidak kedinginan." Jawab Azco langsung duduk disampingnya. Chintya pun langsung berinisiatif untuk berbagi mantel tersebut dengan Azco sehingga satu mantel di pakai untuk menyelimuti dua orang.
Beberapa menit berlalu dan diantara mereka berdua tidak ada yang memulai pembicaraan sama sekali karena keduanya merasa canggung satu sama lain.
"oh ya, apa tujuanmu mengikuti kompetisi ini?" Tanya Azco memulai percakapan.
"Selain mengincar hadiahnya, Aku dan timku bertujuan untuk mencari pengalaman Lebih." Jawab Chintya. "Kalau kamu?, apa tujuanmu ikut kompetisi?" Lanjutnya bertanya balik karena tadi siang Leon bilang kalau mereka tidak mengejar peringkat 1.
"Aku hanya disuruh untuk menemani anak-anak saja oleh orang tua mereka." Jawab Azco.
"Hahaha apakah kamu bercanda?!, kamu sudah seperti penitipan anak saja!" Chintya tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Azco, tanpa sadar saat ini Azco sudah mendekatkan wajahnya dengan wajah Chintya yang makin lama semakin mendekat bahkan sudah tidak ada jarak lagi diantara mereka, karena Azco mencium bibir Chintya sehingga membuat Chintya terkejut karena tiba-tiba saja Azco mencium bibirnya.
Tapi Chintya merasa aneh karena ia tidak bisa menolaknya dan bahkan malah menikmatinya. Azco sebenarnya secara reflek mencium Chintya ketika barusan melihatnya teratawa sambil tersenyum yang menurutnya sangat manis.
Mereka berdua berciuman selama beberapa menit, sampai akhirnya Azco memangku Chintya dan membawanya kedalam tenda tanpa melepaskan ciumannya. Azco menidurkan Chintya dan bibirnya mulai beralih dari yang tadinya mencium bibir Chintya, sampai saat ini sudah berada dilehernya sehingga membuat Chintya mengeluarkan suara desahan yang menyadarkan Azco dan membuatnya berhenti.
'Hah Sial, apa yang baru saja aku lakukan' batin Azco dengan jari-jari yang mengurut keningnya sendiri seperti sedang pusing. 'Kenapa aku melakukannya?, apakah aku menyukai Chintya?' Pikir Azco.
Sementara itu, Chintya heran kenapa Azco berhenti dan melihatnya seperti sedang pusing. Chintya pun langsung berinisiatif menurunkan tangan Azco yang sedang mengurut keningnya sendiri dan langsung mencium bibir Azco sehingga membuatnya agak terkejut.
"Kenapa berhenti?" Tanya Chintya melepaskan ciumannya dan menatap mata Azco. "Apakah kamu yakin ingin aku melanjutkannya?" kata Azco bertanya balik dan dijawab anggukan oleh Chintya.
Azco pun kembali mencium bibir Chintya dengan tangan yang mulai melucuti pakaiannya sehingga membuatnya tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Tangan pun Azco mulai menjelajahi setiap inci tubuh Chintya.
Chintya tidak mau kalah dengan Azco, ia juga mulai melucuti semua pakaian Milik Azco hingga sampai kecelananya. Ketika Chintya membuka celana Azco, nampaklah benda milik Azco yang sudah sangat tegang dan juga besar.
Chintya mencoba menyentuhnya, "Apakah semua pria memiliki benda sebesar ini?, karena aku ingat kalau di buku tidak sebesar ini." Kata Chintya menatap benda Azco.
"Tidak sih, bahkan ada yang lebih besar lagi." Jawab Azco karena ia pernah melihat milik Xio yang lebih besar darinya ketika waktu itu mereka mandi di kolam air panas yang berada di belakang rumahnya. Azco berpikir walaupun milik Xio bukan yang terbesar, tapi untuk ukuran seperti itu sudah amat besar serta bagaimana bisa di umurnya yang 17 tahun Xio sudah memiliki sesuatu sebesar itu, dan lagi entah bagaimana Ellisa bisa sanggup melakukannya setiap saat.
"sudahlah, karena aku sudah tidak sabar untuk merasakan tubuh mu." Kata Azco langsung melebarkan kedua paha Chintya dan langsung mengarahkan benda miliknya ke arah gua Chintya. Azco memasukkan nya secara perlahan-lahan karena mengingat Chintya masihlah bersegel.
"Ahh!..sakit!!" desah Chintya, Azco pun langsung mencium bibir Chintya dan melanjtkan memasukkan miliknya sampai masuk seluruhnya.
Malam tersebutpun menjadi malam pertama bagi Azco dan Chintya yang bermain semalaman sampai mereka tertidur. Keesokan paginya, Azco bangun lebih awal dari yang lainnya dan ketika bangun, yang pertama ia lihat adalah Chintya yang sedang tertidur di sampingnya tanpa mengenakan busana. Azco mencium kening Chintya dan langsung menyelimutinya.
"Hahhh sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu." Kata Azco mengehela nafas Lega sambil menatap wajah Chintya. Azco pun langsung mengenakan pakaiannya kembali dan pergi keluar dari tenda meninggalkan Chintya yang masih tertidur.
Ketika Azco keluar dari tenda, ternyata masih sangat pagi dan bahkan matahari pun belum menampakkan dirinya. Seperti biasa Azco akan menyiapkan sarapan untuk semuanya, tapi yang berbeda kali ini yaitu dapat dilihat dari wajah Azco yang terlihat lebih bahagia dan semangat lebih dari biasanya.
'Apakah aku juga harus segera menikahi Chintya, tapi apa yang mulia akan mengizinkan aku untuk menikah?' Batin Azco karena ia takutnya kalau Xio tidak mengizinkan dirinya untuk menikah karena itu berarti mereka harus melapaskan kontrak anatara keduanya.
"Nanti saja deh aku pikirkan lagi." Gumam Azco kembali melanjutkan memotong bahan-bahan masakannya. Satu persatu orang-orang didalam tenda terbangun dan langsung membantu Azco menyiapkan makan, tinggal satu orang lagi saja yang belum keluar dari tendanya yaitu Chintya.
"Tumben sekali Chintya belum bangun, apdahal biasanya dia selalu bangun pertama." Kata teman Chintya yang bernama Camilla dan memiliki kemampuan dalam berpedang. Selesai Camilla berkata seperti itu, dan Chintya pun tiba-tiba keluar dari tenda dengan rambut yang agak berantakan. Yang membuat teman-temannya bingung yaitu, kenapa Chintya keluar dari tendanya Azco.
Sampai akhirnya merekapun tahu alasannya setelah melihat sebuah tanda di leher Chintya yang terlihat jelas.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Bingung Chintya karena teman-temannya menatap dirinya sambil tersenyum miring.
"Sepertinya semalam ada yang sudah ekhem. Pantas saja semalam aku merasa seperti ada kebisingan." Kata Caren salah satu teman Chintya yang berprofesi di bidang healing.
Chintya langsung saja menutupi tanda dilehernya menggunakan telapak tangan karena baru tersadar kalau ia sudah memperlihatkannya. Azco langsung nenarik Chintya dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
"Tidak usah malu, tanda ini sudah menjadi tanda kalau kamu adalah milikku." kata Azco sambil tersenyum kemudian mengecup pipi Chintya dan mengendusnya.
Sementara itu disisi Xio, terlihat Xio sedang duduk sambil memangku Ellisa yang terduduk lemas di pangkuannya serta dengan keringat yang membasahi tubuh keduanya. terlihat kedua tangan melingkar di leher Xio, dengan Xio yang terus menciumi aroma rambut Ellisa sambil mengusap-usap perut Ellisa.
Ellisa tersenyum, "Sepertinya Azco sedang jatuh cinta dengan wanita itu." Ucap Ellisa di angguki oleh Xio.
"Kalau Azco meminta Izin untuk berkeluarga, apakah kamu akan mengizinkannya?" Tanya Ellisa.
"kalau itu untuk kebahagiaan dirinya, tentu saja aku akan mengijinkannya. walaupun mungkin kita harus memutuskan kontrak." Jawab Xio.
"Tapi yang membuat aku kesal, kenapa dia bermesraan di hadapan anak-anak?, bagaimana kalau nanti anak-anak menirunya?" Geram Xio.
"Memangnya kamu belum pernah?, bahkan kamu sering menciumku di depan anak-anak." Kata Ellisa.
"Hehe itu berbeda, karena kita sudah sah menjadi suami istri." Jawab Xio.
"Ngomong-ngomong, aku sangat suka sekali bau wangi tubuhmu setelah berhubungan." Ucap Xio, kemudian mendekatkan bibirnya di dekat telinga Ellisa. "baunya membuatku bergairah dan ingin melakukannya lagi." Bisik Xio kemudian menggigit telinga Ellisa.
"Jeeezz...Apakah kamu tidak lelah?." Ellisa mendorong wajah Xio menjauh.
"Kalau dengan kamu sih aku tidak akan lelah sedikitpun." Jawab Xio.
Ellisa menepuk keningnya sendiri. "Memangnya benihmu tidak akan habis?" tanyanya lagi.
'Shhhs selalu saja ada alasannya.' Batin Ellisa, Kemudian ia melirik kearah Xio yang sedang memasang wajah tersenyum seperti menunggu datangnya kabar gembira.
"Baiklah kalau kamu masih memintanya, maka aku akan menonton besama ayah dan nenek saja." kata Ellisa, membuat wajah Xio seketika berubah.
"Tidak!, tidak!, baiklah aku tidak akan memintanya lagi, asalkan kamu tetap disini!." ucap Xio dengan wajah memelas.
Cup!
Ellisa mencium pipi Xio, "Papah pintar..." Kata Ellisa membuat pipi Xio seketika merah merona, karena ia selalu langsung tersipu kalau Ellisa menyebutnya dengan sebutan papah.
"Haha...kamu lucu sekali, kadang terlihat seperti orang dewasa, tapi terkadang juga juga seperti anak kecil." Ucap Ellisa menertawakan Xio.
"Anak-anak, lihatlah mamah kalian sudah berani menertawakan papah." Kata Xio menempelkan telinganya di atas perut Ellisa. "Tapi benar juga, kalau mamah sedang tertawa membuatnya terlihat lebih manis." Lanjutnya perlahan memejamkan matanya akarena merasa nyaman berada di atas perut Ellisa, dengan Ellisa yang sambil membelai rambutnya.
Kalau orang yang melihat mereka berdua pasti akan mengira kalau mereka pasangan yang sudah menjalin hubungan bertahun-tahun, tapi sebenarnya baru beberapa bulan saja mereka menjalin hubungan.
"Sayang, berjanjilah tidak akan meninggalkan ku lagi!!" Ucap Xio secara tiba-tiba.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?, bukankah kamu sudah bilang kalau kamu akan terus berada di sampingku, jadi bagaimana bisa aku pergi kalau kamu terus berada denganku." Jawab Ellisa.
"Apakah kamu tahu apa yang paling aku takuti?" Tanya Xio.
"Kamu kan kuat, pasti tidak takut apapun dong." Jawab Ellisa.
Xio menggelengkan kepalanya. "Walaupun aku kuat dari luar, tapi berbeda dengan didalam. Aku sangat takut kalau kalau kamu kamu membenciku, dan yang paling aku takuti yaitu kalau kamu pergi meninggalkanku."
"Seperti waktu itu, saat kamu meninggalkan surat yang rasanya hidupku sudah hancur dan tidak punya harapan lagi ketika aku membacanya. Aku takut kamu sendirian diluar sana dan aku takut kalau anak kita tidak mendapatkan rasanya memiliki seorang ibu."
"Jadi berjanjilah jangan pernah meninggalkanku yah?!." Ucap Xio menatap mata Ellisa dengan sungguh-sungguh.
Ellisa langsung memeluk Xio, "Baiklah aku berjanji tidak pernah meninggalkanmu. Terimakasih sudah takut kehilanganku." Ucap Ellisa di balas pelukan erat oleh Xio.
Tidak lama mereka berpelukan, karena mendengar suara pembawa acara.
"Perhatian Untuk semua!, Ujian ke dua akan Selesai dalam 10 detik lagi. 10...9...8..." Pembawa acara mulai menghitung mundur. Tidak berbeda jauh dengan dengan para peserta kompetisi di dalam hutan yang dapat mendengar suara pembawa acara juga.
Setelah hitungan mundur selesai, muculah lingkaran sihir di tengah-tengah arena dan diatas lingkaran sihir tersebut mulai terlihat orang yang sudah berhasil bertahan hidup Selama 3 hari di hutan yang di penuhi dengan monster.
Terlihat hanya Tinggal puluhan Tim saja yang sudah menyelesaikan ujian kedua.
Leon dan Lena langsung mencoba menyelinap untuk kabur dan agar tidak ketahuan Oleh Ellisa. Tapi sayangnya ketiaka mereka sudah keluar dari kerumunan malah langsung di hadapkan dengan Ellisa yang sudah memasang wajah ancaman sambil menuangkan tangan.
"Sudah mulai nakal yah kalian berdua." Kata Ellisa berjalan kearah mereka berdua. Karena mereka masih berada di dalam arena, maka merekapun menjadi pusat perhatian. Apalagi Mereka melihat seorang Ratu yang turun langsung ke arena.
"Aaaahh Larii!!" Seru Lena langsung berlari kebelakang diikuti oleh Leon, dan merekapun dapat melihat Xio yang sudah berjongkok melebarkan tangannya dihadapan mereka.
"Hei jangan Lari!" Ellisa berusaha mengejar mereka berdua.
"Papah tolong!!" Teriak Leon dan Lena langsung berlari kearah Xio dan langsung datang ke pelukannya.
Perlahan Ilusi Leon dan Lena mulai menghilang, sehingga saat ini mereka sudah kembali kedalam wujud asli anak-anak, yang membuat semua orang terkejut teruatama Chintya dan timnya yang tidak menyangka kalau orang yang bersama mereka saat ujian kedua adalah seorang pangeran dan Puteri.
"Hayoo kalian sudah tidak bisa kemana-mana lagi kan!" Kata Ellisa.
Leon dan Lena langsung melirik kearah wajah Xio yang ternyata sedang tersenyum menyipitkan matanya. "Papah pengkhianat!" Kata Leon dan Lena berusaha melepaskan diri dari pelukan Xio.
"Mau kamu apakan dua anak-anak nakal ini sayang?" Tanya Xio berdiri sambil mengangkat Leon dan Lena di pundaknya seperti sedang membawa karung di kedua pundaknya. Leon dan Lena terus berontak memukul-mukul punggung Xio, tapi Xio tetap tersenyum seolah tidak merasakan apapun sambil berjalan kearah Ellisa.
Xio menurunkan Leon dan Lena dihadapan Ellisa. "Uhh sudahlah aku tidak jadi menhukumnya." Kata Ellisa karena melihat wajah memelas Leon dan Lena sehingga membuat mereka berdua kembali tersenyum dan memeluk Ellisa.
"terimakasih mamah!" Ucap Keduanya dan diangguki oleh Ellisa sambil mengelus kepala keduanya. "Mamah bangga sekali memiliki anak-anak yang kuat dan pemberani." Kata Ellisa. Xio yang melihat mereka sedang berpelukan pun ikut memeluk mereka bertiga.
"Apakah mereka tidak sadar kalau dari tadi menjadi pusat perhatian semua orang?" Ucap Jhonatan.
"Tidak apa-apa lah, toh kita semua saja yang melihatnya jadi ikut bahagia kan?." Kata Arthur.
"Yah benar juga juga sih, aku juga sudah jarang melihat Xio sebahagia itu." Jawab Jhonatan.
"Iya aku harap mereka selalu dianugerahi kebahagiaan yang berlimpah, dan di jauhkan dari segala macam petaka." Tambah Arthur.
Kembali ke sisi Xio. Setelah saling berpelukan, Xio pun langsung membawa Leon dan Lena serta Ellisa ke atas atau tempat duduknya kembali.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG