Cross The World With System

Cross The World With System
Bertemu Ratu Monster



...----------------...


"Aku hanya ingin menanyakan kabarnya saja."


"Ohh...tenang dia terlihat sangat baik." Jawab Jhonatan. "Bagaimana denganmu?" Lanjutnya bertanya.


"Hmm aku juga baik."


"Bukan, maksud ayah bagaimana rasanya, apa berat tidak tidur dengan istrimu? Hahaha…" Kata Jhonatan diakhiri tertawaan darinya.


Jika bukan ayahnya, Xio benar-benar ingin mengumpat pada Jhonatan. Tapi memang benar apa yang dikatakan Jhonatan, Xio tidak selera untuk tidur jika tidak ada yang menemaninya. 


Jhonatan sangat percaya diri berkata seperti itu pada Xio, padahal dirinya sendiri juga sama. Bahkan Xio pernah melihat Jhonatan menangis di dapur pada tengah malam sambil menyebutkan nama istrinya, dengan keadaan mabuk.


"...haha... bercanda bercanda. Baguslah kalau kamu baik-baik saja."


"Oh ya bagaimana persiapan disana yah?" Tanya Xio.


"Semuanya lancar. Karena pernikahan sebelumnya hanya sedikit saja yang diundang, jadi Semua yang ayah undang terkejut ketika mendengar kamu akan menikah. Bahkan ayah sudah lelah mendapatkan panggilan yang mengucapkan ucapan selamat, tapi ujung-ujungnya malah menjadi penjilat. Karena banyak yang diundang, jadi ayah berniat untuk menggunakan private island yang dulu ayah dapatkan. Bagaimana menurutmu?"


"Ya baguslah kalau begitu. Terimakasih ayah."


"Haha itu memang tugas ayah, kalau kamu ingin apapun ayah pasti mendukungnya. Memangnya apa sih yang tidak untuk putra ayah satu-satunya dan yang paling ayah sayangi." Ucap Jhonatan seperti sedang berbicara dengan anak kecil, atau ia saat sedang membayangkan Xio ketika masih kecil.


"Ayolah yah! Aku bukan anak kecil lagi. Pokoknya terimakasih dan sampaikan salam ku pada Ellisa! Bye!" Seru Xio segera memutuskan panggilannya, menaruh handphonenya di pinggiran kolam, lalu merilekskan tubuhnya didalam bak mandi sambil memejamkan mata. Tidak tahu kalau saat ini Jhonatan sedang tertawa setelah mendengar Xio ngambek barusan.


Sekitar setengah 20 menit Xio berendam, lalu dia memutuskan untuk beranjak dari bak mandi. Sekarang tubuhnya sudah terasa segar dan berenergi kembali, dengan aroma tubuhnya yang sudah menjadi sangat wangi berkat air dari bak mandi tersebut.


Xio mengambil handuk kecil lalu menggosok-gosokkan handuk tersebut di tubuh dan juga rambutnya agar tidak basah. Setelah dirasa kering, dia mengambil jubah mandinya dan mengenakan jubah handuk tersebut.


Ia keluar kamar mandi lalu berjalan ke arah balkon dan duduk di kursi yang ada disana. 


Tidak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya, ia adalah Sebas yang sengaja Xio panggil melalui telepati.


"Masuk!" Sahut Xio.


Sebas masuk kedalam kamar dengan seorang maid wanita yang membawa peralatan meracik teh serta dessert kue di atas troli dorong. Mereka segera berjalan menghampiri Xio yang terlihat duduk di balkon kamar yang luas.


"Selamat datang kembali Yang Mulia." Ucap Sebas dan Maid wanita tersebut. Lalu Maid wanita itu segera meracikan teh untuk Xio seperti peracik teh profesional. 


"Hm, Sebas dimana anak-anak?" Tanya Xio.


"Tuan Putri dan Pangeran baru berangkat ke guild petualang Yang Mulia." Jawab Sebas.


"Kalau begitu kamu siapkan pakaian untukku. Aku akan menyusul mereka."


"Baik yang Mulia!" Sebas berjalan masuk kedalam ruangan ganti Xio untuk memilihkan pakaian untuknya.


Maid yang baru selesai membuatkan secangkir teh itu pun segera menyajikannya di meja batu yang ada di depan Xio bersama dengan dessert nya. 


"Kamu boleh kembali." Kata Xio.


"Baik Yang Mulia." Maid tersebut menundukkan kepalanya lalu membawa kembali troli nya pergi keluar dari kamar Xio.


Xio menyesap perlahan teh miliknya sambil melihat pemandangan langit biru serta para burung yang terbang kesana kemari, juga sambil menunggu Sebas.


*** 


Leon dan Lena saat ini terlihat disambut sangat meriah oleh para petualang yang ada di dalam guild. Mereka seperti senang melihat Pangeran dan Tuan putri mereka kembali. 


Sampai tak lama kemudian Semua orang dapat mendengar suara Orang yang turun arah tangga ke lantai 2.


"Akhirnya Petualang hebatku kembali." Suaranya yang Khas sudah dapat Leon dan Lena tebak jika orang tersebut adalah Aslan. Dan benar saja yang turun dari tangga tersebut adalah Aslan, ia berjalan ke arah Leon dan Lena. "Bagaimana kabar anda sekalian Pangeran dan Tuan putri?" Ucapnya.


"Ayolah paman, jangan terlalu formal seperti itu." Kata Leon.


"Hahaha, baiklah." Aslan tertawa sambil mengacak rambut mereka. Mungkin hanya dia yang berani memperlakukan keluarga kerajaan seperti itu. 


Suasana didalam Guild sangatlah ramai. Berbagai macam orang ada di satu tempat tersebut dengan kekuatan dan keahlian yang beragam. Terlihat ada yang sedang menjual barang ke resepsionis, ada yang minum bir di siang bolong, ada yang sibuk memilih misi di papan misi, dan ada juga yang sedang asik makan.


"Apa kalian kesini mencari Zekiel?" Tanya Aslan dijawab anggukan oleh keduanya. "Jam segini Zekiel biasanya masih di akademi." Kata Aslan.


Zekiel sama seperti Leon dan Lena, dia tidak menetap di asrama akademi karena alasan yang sama dengan Leon dan Lena. Salma istri Aslan dan merupakan ibunya Zekiel tidak mengijinkan ia tinggal di asrama karena alasan umurnya masih terlalu kecil.


"Baiklah, terima kasih paman!" Kata Leon berbalik dan berlari bersemangat sambil menarik tangan Lena. Dia tidak sabar ingin kembali ke akademi.


Tapi saat sudah hampir sampai di Lawang pintu…


Dukk!


Dia terjatuh dengan pantat mendarat duluan karena menabrak seseorang yang mau masuk ke dalam Guild.


Aneh kenapa ada orang yang tidak bergeming sama sekali ketika dia menabraknya. Sampai akhirnya Leon mendengar suara Lena.


"Papah!" Seru Lena berlari ke arah orang yang ditabrak Leon tersebut yang ternyata adalah Xio bersama dengan Sebas dibelakangnya.


Xio menangkap Lena dan memangku nya. Sementara semua orang langsung hening seketika dan membungkukkan sedikit kepala mereka ketika melihat Xio. 


"Kapan papa kembali? Apa ada yang terluka?" Tanya Lena sambil meraba-raba dan membolak-balik wajah Xio seperti sedang melakukan pengecekan.


Xio terkekeh melihat kelucuan Lena dan juga tangan imutnya yang meraba seluruh wajahnya. "Tidak ada yang terluka sayang…" Ia menempelkan keningnya dengan kening Lena dan menggesek-gesekkannya gemas.


Xio kemudian menoleh kebawah melihat Leon yang masih terduduk meringis sambil mengusap-usap bokongnya. Ia menurunkan Lena dari pangkuannya, Lalu kemudian ia membantu Leon berdiri.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Xio menyentuh hidung Leon yang merah karena wajahnya menabrak Xio cukup kencang.


"Ya, hanya saja menabrak papa seperti menabrak pilar besi." Jawab Leon menepuk-nepuk celananya yang menyentuh lantai.


"Haha maafkan papa." Kata Xio. Padahal Leon sendirilah yang kurang berhati-hati dan tidak memperhatikan jalan. "Memangnya kalian mau kemana, buru-buru seperti itu?" Lanjutnya bertanya.


"Kita mau pergi ke akademi." Jawab Leon.


"Berdua saja?" Tanya Xio lagi dan dijawab anggukan olehnya. Xio terdiam sejenak.


"Tidak usah khawatir, mereka akan baik-baik saja." Sahut Aslan.


Xio menatap Leon dan Lena kembali, "Baiklah, jangan nakal." Ucapnya menepuk kepala mereka dan membuat keduanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Dilua, Leon dan Lena melihat 2 kuda berada di depan. Kuda yang satu berwarna hitam besar dan sangat gagah, sedangkan kuda satunya lagi berwarna coklat seperti kuda pada umumnya. Mereka tahu siapa yang menunggangi kuda tersebut, tidak lain adalah ayahnya dan juga Sebas.


"Wow tumben papah menunggangi kuda!" Kata Lena.


"Iya, biasanya juga suka berteleportasi." Sahut Leon. Kemudian mereka naik ke dalam kereta kuda yang mereka naiki ketika tadi berangkat Guild.


Sementara di dalam Guild, "Aslan, ada sesuatu yang mau kubicarakan." Kata Xio.


"Baiklah ayo diruanganku saja." Jawab Aslan.


Mereka berdua pun berjalan naik ke lantai dua diikuti oleh Sebas dibelakangnya. Dan ketika Xio sudah tidak terlihat lagi di lantai satu, semua orang kembali melanjutkan kegiatan mereka masing-masing.


.


.


.


.


.


Xio sudah duduk di kursi ruangan Aslan. Dia menjelaskan pada Aslan mengenai benua elf yang akan menjalin tali persahabatan bersama dengan benua manusia. Dan peresmiannya akan diadakan besok.


Jadi Xio ingin para guild untuk mengumumkan hal tersebut ke seluruh penjuru benua agar rakyatnya tidak terkejut, karena Xio akan memasang beberapa portal yang menyambungkan kedua benua tersebut.


"Baiklah, akan segera kulaksanakan." Kata Aslan.


"Sebas kamu berikan tugas pada prajurit atau siapapun untuk memasangkan portal." Perintah Xio. Ia menyerahkan sekantong batu berwarna hitam dengan rune-rune biru yang terukir di atasnya, dan juga sebuah peta yang menunjukkan dimana titik portal tersebut harus di pasang.


"Baik Yang Mulia!" Jawab Sebas membungkukkan badannya sedikit lalu beranjak pergi dari sana untuk menjalankan perintah Xio.


Xio berdiri dari tempat duduknya.


"Sekarang kamu mau kemana?" Tanya Aslan.


"Aku ingin menghirup udara segar terlebih dahulu di perbukitan timur." Jawab Xio lalu berjalan keluar ruangan. Turun kelantai bawah dan keluar dari Guild.


Ia menunggangi kuda besarnya yang berwarna hitam, sehitam langit di malam hari. Dan juga dengan rambut dan bulunya yang berkilau terlihat sangat halus, dapat menjadikan kuda tersebut seperti kuda paling gagah dan indah.


Dia memacu kuda tersebut berlari kencang menerpa angin serta hormat dari para warga yang ia lewatinya. Pergi ke tempat sepi nan asri untuk Menenangkan hati dan menyegarkan diri.


.


.


.


.


.


Kuda Xio terlihat berjalan di dalam hutan yang sangat indah, hingga akhirnya ia sampai dan berhenti di sebuah air terjun yang dulu pernah mandi bersama disana dengan Ellisa.


Ia turun dari kudanya lalu berjalan menuju kolam dibawah air terjun tersebut. Sambil membuka seluruh pakaiannya, ia pun turun kedalam kolam dan berendam di dalamnya. Mata air yang dingin beserta wangi tanaman herbal disekitar terasa sangat segar di hari yang panas ini. Mungkin akan lebih nikmat jika sambil mendekap tubuh mulus Ellisa didalam pelukan, menurut Xio.


Xio menamai air terjun tersebut dengan nama, Air terjun teratai. Sebab bunga teratai yang berwarna putih dan merah muda banyak mengapung diatas kolam. Bukan sekedar teratai biasa, teratai tersebut merupakan teratai herbal, sehingga air kolam pun mendapatkan khasiatnya yaitu untuk menghaluskan kulit.


Xio memahamkan matanya, dan Ellisa telanjang didalam air muncul dibayangkannya. Kulit mulus, tubuh seksi dan berisi nampak kenyal jika digigit. Tanpa sadar wajah Xio memerah, dan miliknya dibawah sana perlahan mulai berdiri hingga kepalanya muncul ke atas permukaan Air.


Masih memejamkan mata, tangannya perlahan turun dan menggenggam miliknya, yang kemudian ia naik turunkan tangannya sambil membayangkan suara desah Ellisa yang tidak pernah hilang dari kepala, karena saking seksi dan juga sangat menggugah gairah.


Sampai tiba-tiba dia membuka mata dan berhenti menggerakkan tangannya. "Siapa yang berani mengintip ku mandi? Apa kamu mau mati?" Ucap Xio mengeluarkan auranya.


Seorang gadis muda keluar dari balik batu besar di depan pandangan Xio dan bersujud membentur-benturkan kepalanya ke tanah, "MAAFKAN HAMBA YANG MULIA! SAYA SUNGGUH TIDAK SENGAJA!" Ucapnya histeris ketakutan setengah mati dengan tubuh yang gemetar dan tidak berani melirik kearah Xio yang masih telanjang didalam air.


Xio melihat gadis yang kiranya berumur 16 tahun itu mengenakan seragam dari akademi, dan membawa keranjang yang berisikan tanaman-tanaman herbal.


"Siapa namamu?" Tanya Xio.


"Ha-hailey yang mulia." Jawabnya masih bersujud tidak berani mengangkat kepalanya.


"Apa yang kamu lakukan disini? dan bagaimana kamu tahu tempat ini?" Tanya Xio lagi, karena ia yakin kolam air terjun tersebut hanya dia yang tahu sebab letaknya yang berada didalam hutan dan harus melewati monster-monster yang berlevel tinggi.


"Saya se-sedang mencari bahan-bahan herbal, da-dan tidak sengaja sampai ditempat ini yang mulia." Ucap Hailey terbata-bata.


Xio tidak yakin bagaimana gadis itu bisa melewati banyak monster tingkat tinggi di dalam hutan tersebut, melihat dari kekuatannya ia masih lemah. Mungkin sekarang ia sedang beruntung, pikir Xio.


"Tahukah kamu, ketika masuk kedalam hutan ini kamu bisa mati kapan saja, apalagi dengan levelmu yang masih rendah. Seekor lalat saja bisa memakanmu, dan di dalam hutan ini lebih banyak lagi monster yang lebih menyeramkan." Kata Xio, dan terlihat ekspresi wajah Hailey yang semakin ketakutan. Sehingga Xio dapat mengira kalau gadis itu benar-benar beruntung masih hidup didalam hutan.


"Sekarang kembalilah!" Suruh Xio membuat Hailey membelalakkan mata dan tubuhnya bergetar hebat. 


'Berani masuk, tapi sekarang tidak berani keluar.' Batin Xio.


"Hahh…" Xio menghela nafas sambil mengusap wajahnya. "Tutup matamu dan jangan membukanya sampai aku suruh!" Lanjutnya. Setelah Hailey memejamkan mata, ia naik ke permukaan lalu mengeringkan tubuhnya dan kemudian mengenakan kembali semua pakaiannya, tapi kali ini dia memakai sarung tangan putih miliknya.


Xio berjalan ke arah Hailey dan langsung memegang kepalanya untuk menghapus ingatan dia saat tadi melihat Xio sedang asik sendiri. Setelah ingatan tersebut terhapus, dan saat dia berniat menteleportasikan Hailey kembali ke akademi, tiba-tiba saja system memberi peringatan.


「PERINGATAN! TUAN BERADA DIDEKAT RATU MONSTER!」


Bersamaan dengan Hailey yang menghilang setelah berhasil di teleportasi, System kembali berbunyi.


「Ratu monster sudah tidak terdeteksi」


"Apa? Kenapa tiba-tiba ada dan langsung menghilang lagi?" Bingung Xio. Sampai beberapa saat kemudian ia pun menyadari sesuatu yang terasa janggal pada Hailey. Jika dia bisa selamat masuk kedalam hutan yang penuh monster, maka itu artinya para monster tidak berani menyerang Hailey. Sama seperti Xio, para monster tidak ada yang berani mendekatinya meski berlama-lama di dalam hutan tersebut.


Xio tidak menyadari penyamaran serta aktingnya yang berpura-pura tadi. "Sial! aku mengirimnya ke akademi." Seru Xio ingat Leon dan Lena ada disana juga.


Xio menghilang di dalam hutan tersebut dan ikut berteleportasi ke akademi untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi di akademi. 


...****************...


...BERSAMBUNG...