Cross The World With System

Cross The World With System
Menawan



...----------------...


Jhonatan menjelaskan secara rinci pada Xio bagaimana suasana tempat saat dirinya bertemu dengan Nadia. Semua yang dijelaskan Jhonatan membuat Xio membayangkan tempat tersebut seperti surga.


"Ibumu memiliki 2 anak buah yang menyeramkan. Tapi ayah lupa nama mereka." Kata Jhonatan.


"Kenapa ayah tidak bertanya nama mereka dan nama tempat itu?"


"Ya...hehe...waktu itu ayah tidak berpikir kesana. Soalnya ayah lebih tidak bisa fokus kalau ada ibumu." Jawab Jhonatan tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Xio hanya bisa menepuk kepalanya sendiri. Padahal kalau Jhonatan tahu nama tempat atau tahu nama kedua anak buah Nadia itu, mungkin saja systemnya mengetahui sesuatu.


"Baiklah tidak apa-apa. Aku akan mencari tahunya nanti kalau sudah kembali ke dunia Flix." Kata Xio.


"BENARKAH?!" Seru Jhonatan mencengkram kedua pundak Xio.


Xio menganggukkan kepalanya. "Aku juga ingin bertemu dengan ibu lagi." Ucapnya.


"Iya! Ayah akan membantumu!" Seru Jhonatan bersemangat.


Tidak lama kemudian datang seorang Maid perempuan yang menghampiri mereka.


"Permisi Tuan... Nyonya memanggil Tuan." Ucap salah seorang Maid tersebut pada Xio.


"Baiklah ayah, aku mau ke Ellisa dulu." Kata Xio dijawab anggukan oleh Jhonatan.


Xio pun beranjak dari ruangan tersebut berjalan menuju tempat Ellisa berada yang sudah pasti ada di kamar bayi.


Krekk…


Xio membuka pintu kamar tersebut, dan masuk kedalamnya. Dia melihat Ellisa sedang memakaikan pakaian bayi-bayinya yang sepertinya baru selesai dimandikan.


Grep!


"Mmm...wangi sekali." Ucap Xio memeluk Ellisa dari belakang sambil mencium lehernya dan tidak melepaskannya.


"Geli sayang…hentikan." Kata Ellisa merasa geli dengan hidung dan bibir Xio yang menggerayangi lehernya.


"Hehe baiklah." Xio berhenti menciumi leher Ellisa, dan mulai berdiri di sampingnya sambil mengajak ngobrol Nathan dan Tassa.


"Tolong jaga anak-anak dulu. Aku mau mandi dulu." Kata Ellisa yang memang belum membersihkan tubuhnya yang agak lengket setelah melakukan kegiatan intimnya dengan Xio tadi.


"Bagaimana kalau mandi bareng saja!" Seru Xio dengan mata berbinar-binar.


"Tidak!" Ellisa menolaknya mentah-mentah. "Kalau mandi denganmu, nanti malah bukan mandi dan pasti akan lama." Tambah Ellisa.


"Baiklah…" Jawab Xio dengan wajah cemberutnya.


"Nanti selesai aku baru kamu sayang. Bukankah kemarin kamu bilang mau mengajakku dan anak-anak ke tempat wisata?" Kata Ellisa.


"Oh iya benar juga. Aku lupa...kalau begitu aku lihat ke kamar Leon dan Lena dulu." Kata Xio kemudian mengangkat Nathan dan Tassa ke pangkuannya. 


"Sayang mamah dengan papah dulu yah..." Ellisa mengecup Nathan dan Tassa terlebih dahulu kemudian keluar dari kamar tersebut berbarengan dengan Xio. Tapi dia pergi ke kamarnya untuk mandi, sedangkan Xio berjalan menuju ke kamar Leon dan Lena sambil menggendong kedua bayinya.


***


Sementara itu kini di Indonesia tengah ramai dengan berita tentang perusahaan besar yang tiba-tiba merosot, bahkan bisa dikatakan sudah bangkrut.


Perusahaan tersebut ialah perusahaannya Heru. Ayah Zara kekasihnya Chris. 


Chris juga baru mendapatkan kabar baru tadi pagi dari bawahannya Xio yang mengatakan kalau Perusahaannya Heru sudah ditaklukkan. Tentu saja Chris sangat tercengang, karena hanya dalam beberapa hari saja mereka bisa membuat sebuah perusahaan besar bangkrut. Dan itupun tanpa campur tangan dari Xio, karena Xio hanya menyuruh mereka saja sedangkan dirinya berkata akan liburan dulu keluar negeri.


Heru juga sebenarnya mengetahui pihak siapa yang sudah membuat Perusahaannya merosot. Tapi dia tidak berani bertindak karena sudah tahu bagaimana kekuatan dan kekuasaannya. Mengetahui kalau anak tirinya yaitu Zara kini tinggal dengan Chris, Heru ingin membawanya ke pengadilan, tapi lagi-lagi usahanya sia-sia. Karena malah dirinyalah yang diadili, dengan berbagai kasus dan perbuatan buruknya.


Kini Heru pun harus mendekam di penjara selama beberapa tahun. Walaupun kelihatannya dia sudah sedikit kehilangan akal sehatnya, atau sudah sedikit gila. Semua hartanya sudah hangus, dan semua anak-anaknya tidak ada yang mau membantunya karena takut malah terbawa-bawa.


---


Di perusahaan, atau lebih tepatnya di kantor Chris. Saat ini dia terlihat sedang memperhatikan monitor komputer dihadapannya. Dia tersenyum menyunggingkan bibirnya ketika melihat berita-berita mencengangkan hari ini. Dan mengetahui kalau yang memberikan pelajaran pada orang-orang di berita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Tuannya yaitu Xio.


"Tuan Muda memang luar biasa...Kalau Tuan Azril ada disini, mungkin saat beliau akan menyombong-menyombongkannya sambil tertawa." Gumam Chris.


"Kurasa Tuan muda sudah pantas dipanggil Tuan." Pikir Chris. Karena Xio sudah dewasa dan sudah memiliki empat orang anak. Selain itu Xio juga sudah pasti akan menjadi kepala keluarga Archon. Jadi dia akan memanggil Xio dan Ellisa sebagai Tuan dan Nyonya Archon mulai sekarang.


"Aku harus memberitahu Adam!" Chris segera mengambil handphonenya dan menekan nama Adam di daftar kontaknya.


^^^"Halo kak!" ^^^


^^^Kata Adam di seberang telepon.^^^


"Adam, apa kamu sudah melihat berita hari ini?"


Tanya Chris.


^^^"Haha...tentu saja! Mana mungkin aku ketinggalan berita yang menyangkut Tuan Muda."^^^


^^^"Benarkan kataku! Tuan muda punya sifat ^^^


^^^yang mirip-mirip dengan Tuan Azril."^^^


"Sekarang kamu dimana?"


^^^"Aku sedang latihan menembak dengan^^^


^^^ para bawahan Tuan muda."^^^


"Oh bagus yah kamu tidak mengajakku."


^^^"Bukankah kakak sendiri yang bilang hari ini mau menemani kakak ipar ke mall. Lagi pula tadi pagi kan kakak langsung berangkat ke perusahaan. Jadi jangan salahkan aku."^^^


"Iya iya baiklah, aku yang lupa. Aku harus pergi sekarang. Tolong kamu katakan pada siapa saja yang ada disana untuk mengantarkan berkasnya Heru kekantor ku!"


^^^"Baik!"^^^


Chris memutuskan panggilan tersebut dan memasukkan handphonenya kedalam kantong jas. Dia kemudian berdiri dari situ dan berjalan keluar ruangan.


Hari ini Zara meminta untuk menemaninya ke mall. 


***


Adam menaruh handphonenya di atas meja besar di sampingnya. Dan mengangkat kembali pistolnya.


Mengarahkan pistol tersebut ke arah papan target di depan mata yang berjarak lumayan jauh. Tapi tetap terlihat jelas. Papan target tersebut tidak diam di satu titik, tapi bergerak ke segala arah, dan tidak hanya satu. Tapi 7 papan target sekaligus.


Adam terlihat menyipitkan sebelah matanya dan lalu jari itu bergerak menekan pelatuk pistol ditangannya.


Dor! Dor! Dor!....


Tujuh papan target, dan tujuh peluru juga yang Adam tembakan. Lima peluru tepat mengenai titik pusat target, sedang dua peluru terakhir hanya mengenai bagian luar target saja.


"Fuhh…barusan itu nyaris sekali." Adam menghembuskan nafasnya. Dia menaruh pistolnya di atas meja disampingnya, membuka headset peredam suara dan kaca matanya, lalu menaruh semuanya diatas meja yang sama.


"Dodi! Kamu menyeting nya ke kesulitan berapa barusan?" Tanya Adam pada pria di belakangnya yang bernama Dodi, bawahan Xio.


"Normal." Jawab Dodi.


"Apa kamu Tahu kapan Tuan akan kembali?" Tanya Adam.


"Saya tidak tahu, Yang mulia tidak memberikan kabar." Jawab Dodi.


"Oh baiklah…"


***


Kembali ke sisi Xio. Saat ini dia terlihat baru keluar dari kamar mandi dan berjalan kedepan cermin hanya dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya saja.


Di cermin Xio memperhatikan otot-otot tubuhnya yang sangat atletis, dan sedikit memperagakan pose pose seperti binaragawan yang menyombongkan otot-otot mereka.


Xio tersenyum menyunggingkan bibirnya sambil meraba otot perutnya yang terbentuk menjadi beberapa guratan-guratan yang bisa memikat wanita mana saja. Ditambah dengan tinggi badannya yang hampir menyentuh 6.53 kaki dan juga wajahnya yang tidak ada tandingan tapi belum tersorot dunia. Kalau wajahnya sudah tersorot ke dunia, sudah dipastikan wanita-wanita diluar sana akan jatuh hati padanya.


"Heh...apa diluar sana ada anak 18 tahun yang punya tubuh seperti ini. Tapi aku memang tidak terlihat seperti anak 18 tahun, seperti 2 tahun lebih tua." Gumam Xio. "Mungkin karena faktor sudah jadi suami dan juga ayah." Lanjutnya sambil melihat sisi kiri dan kanan wajahnya di cermin.


Xio cukup kagum dengan perubahannya yang cukup drastis. Tapi masih ada dalam dirinya yang belum juga berubah. Yaitu sifatnya.


Walaupun tampilan luarnya berubah layaknya orang dewasa yang sudah siap menghadapi lika-liku jalan dan pahitnya dunia, tapi tetap saja di dalam tubuh tersebut hanya ada seorang jiwa seorang remaja yang belum jadi jiwa dewasa seutuhnya.


Puas mengagumi dirinya sendiri, Xio pun mengambil ****** ***** di atas ranjang yang sudah disiapkan oleh Ellisa, dia membuka handuk yang menutupi jagoannya itu dan lalu membungkusnya lagi dengan ****** ***** berwarna hitam tersebut.


Menyemprot semua bagian tubuhnya dengan parfum tubuh, tidak terkecuali yang ada di dalam ****** ******** juga.


Selesai membuat seluruh bagian tubuhnya menjadi wangi yang maskulin. Xio pun mengambil pakaian diatas ranjang tersebut yang diantaranya yaitu, turtleneck hitam, Blazer coklat dan celana Jeans bersama dengan sabuk. Tak lupa juga dengan sepatunya.


Di pakailah olehnya pakaian yang sudah Ellisa siapkan itu. Setelah selesai semua dan sudah terlihat menawan, Xio pun segera turun kebawah karena Ellisa dan juga anak-anaknya sudah menunggu di ruang tengah.


Masuk kedalam ruangan, Xio melihat Rose yang sedang membantu Leon dan Lena mengenakan Syal. Ellisa duduk di sofa sambil menyusui Nathan dan Tassa.


"Apa sudah siap?" Tanya Xio.


"Sudah!!" Seru Leon dan Lena.


"Hemm bagus." Xio tersenyum sambil mengelus kepala mereka berdua. "Nenek mana ayah?" Tanyanya.


"Biasalah dia sedang bersiap-siap...kamu juga pasti tahu apa yang sedang disiapkannya." Jawab Rose.


"Ha-ha.." Xio mengusap wajahnya sendiri mengerti apa yang sedang Jhonatan siapkan. "Oh iya siapa tour guide nya, dan dimana dia sekarang?" Tanyanya lagi.


"Tadinya Morron sendiri, tapi katanya Felis juga ikut. Kamu tenang saja, Morron tahu semua tempat wisata yang ada di disini." Jawab Rose.


"Oh baiklah." Kata Xio. Dia kemudian berjalan menghampiri Ellisa disofa.


"Anak-anak papah ngempeng mulu. Papah jadi iri." Ucap Xio menyentuh halus hidung Nathan dan Tassa menggunakan jarinya sambil tersenyum.


"Memangnya kamu bayi huh?" Sahut Ellisa mencubit hidung Xio gemas, sampai membuat hidungnya memerah.


"Tapi aku mau jadi bayimu." Kata Xio mendekatkan wajahnya ke wajah Ellisa.


"Lalu nanti siapa ayahnya?"


"Oh iya kalau aku mau jadi ayah dari anak-anakmu saja hehe." Kata Xio menempelkan ujung hidungnya dengan hidung Ellisa dan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan. Mereka terkekeh bersamaan.


Cup! 


Xio mengecup kening Ellisa. "Istriku sangat cantik." Ucapnya.


"Haha...suamiku juga sangat menawan." Balas Ellisa tersenyum manis membuat pipi Xio memerah melihatnya.


Dia langsung menutupi wajahnya dengan punggung tangan kanannya dan memalingkan wajahnya.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Ellisa.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Disini cuma sedikit panas." Ucap Xio padahal dirinya sedang berada di musim pendingin. "Kemana ayah ini lama sekali." Dia langsung mengalihkan pembicaraan. "Padahal kita belum sarapan."


"Apa mau aku buatkan makanan dulu?" Tanya Ellisa.


"Tidak, tidak perlu. Kita sarapan di luar saja." Sahut Xio. "AYAH KALAU MASIH LAMA KITA TINGGALKAN!" Teriaknya masih memalingkan wajahnya akibat tidak kuat melihat senyuman Ellisa yang mematikan tadi.


Tidak lama kemudian Jhonatan pun datang. "Sabar kenapa. Barusan ayah sedang menghubungi teman sebentar. Kebetulan dia punya bisnis disini." Kata Jhonatan.


"Iya-iya aku tidak punya urusan dengan teman ayah, lihat anak-anak sudah menunggu ayah dari tadi." Sahut Xio acuh tak acuh.


"Cih! Bocah nakal sudah berani mengacuhkan ku?" Ucap Jhonatan.


"Kenapa? memang benar ayah yang lama."


"Kalian berdua terus bertengkar saja disitu. Kita Mau jalan-jalan dulu. Ayo Ellisa!" Kata Rose berjalan meninggalkan mereka berdua sambil menuntun tangan Leon dan Lena.


"Haha bye-bye sayang…" Ellisa melambaikan tangannya sambil mendorong Nathan dan Tassa yang ada di kereta bayi.


"Ini gara-gara ayah!" Seru Xio menunjuk dada Jhonatan.


"Kamu yang pertama!" Balas Jhonatan menunjuk-nunjuk dada Xio juga.


"Huff... terserahlah aku tidak ada waktu bertengkar dengan ayah." Xio menghela nafas pasrah. Kemudian berjalan cepat meninggalkan Jhonatan sambil berteriak. "SAYANG TUNGGU AKU!" 


Jhonatan pun ikut menyusul di belakangnya berjalan dengan cepat.  


Sudah sering Rose dan Ellisa melihat anak dan ayah itu bertengkar adu bicara seperti anak kecil hanya karena masalah sepele. Dan tidak aneh juga kalau tidak lama kemudian mereka berdua akan seperti biasa kembali, bahkan menjadi lebih dekat. mungkin begitulah cara mereka mempererat hubungan ayah dan anaknya.


***


Sementara itu di bawah kaki bukit salju tersebut.


Fellis dan juga Morron sudah berdiri tegak di tengah hamparan salju. Dengan 2 mobil yang ada disampingnya.


Morron mengangkat tangan kanannya melihat jam sudah menunjukkan pukul berapa. "Ini sudah cukup siang, apa masih lama lagi?"


"Diam! Kau harus profesional kalau mau menemani keluarga Nyonya Rose." Sahut Fellis.


"Huhh baiklah…" Morron menghela nafas.


Morron sebenarnya baru mendapatkan panggilan dari rose untuk menjadi tour guide pagi tadi. Tentu saja dia merasa senang dan merasa terhormat, karena bisa menemani Rose serta keluarganya jalan-jalan di tanah kelahirannya.


Selain itu, Morron juga penasaran dengan Istrinya Xio yang bisa mengalahkan kecantikan Fellis, dan Fellis bilang seperti bidadari itu. Membayangkannya saja cukup, dia ingin melihatnya langsung seorang wanita yang bisa bersanding dengan ketampanan tuannya yang baru.


Beberapa saat kemudian diatas tanah bersalju di hadapan mereka berdua, muncul beberapa sosok  yang entah datang dari mana.


Melihat pasangan Pria dan wanita yang tampan dan can juga cantik serta menawan saling bergandengan tangan, seperti sedang melihat karakter fiksi menjadi nyata.


Mata Morron tidak berkedip sekalipun Melihat ciptaan Tuhan yang luar biasa yang ada di hadapannya saat ini. Pandangannya seperti terbius dengan muda-mudi ini.


Begitu Pula dengan Fellis yang wajahnya seketika memerah mengingat kejadian kemarin yang seperti mimpi baginya.


Sampai tiba-tiba…


...****************...


...BERSAMBUNG...