
...----------------...
Di ruangan Rapat.
Xio beserta bawahannya saat ini sedang membicarakan masalah Retakan ruang dan waktu (Rift) yang terjadi setiap satu tahun sekali, dan insiden tersebut akan terjadi dalam waktu kurun tiga hari lagi.
Benua Virminium (Manusia) memiliki skala yang lumayan besar sehingga dibagi kembali menjadi beberapa daerah, dan di setiap daerahnya akan di tempatkan satu dari 14 dosa dan kebajikan serta beberapa prajurit untuk mengatur daerah tersebut agar tidak hancur oleh para monster.
Xio berniat Jika Rift tersebut sudah selesai, ia akan mengatur ulang tata letak benua Virminium agar penduduknya tidak terlalu padat hanya di satu kota saja. Karena tidak mungkin juga menampung semua orang di pulau terbang, walaupun pulau tersebut bisa di perbesar, tapi jika terus bertambah ukurannya maka akan menutupi benua dibawahnya.
"Yang Mulia, itu berarti akan ada satu pemimpin di setiap daerahnya?" Sammael mengacungkan tangannya.
"Benar!" Jawab Xio. "Aku akan menentukan siapa yang akan memimpin nanti serta siapa saja yang akan pindah ke daerah baru." Lanjutnya.
"Lalu apakah Kerajaan Regalia akan tetap masih menjadi pusat atau ibukota benua Virminium?" Tanya Lucifer.
"Yah kerajaan Regalia akan tetap menjadi pusat dari semuanya." Jawab Xio. "Aku sedang membuat sketsa peta untuk benua yang baru jadi nanti kalian bertugas untuk membangun masing-masing daerah yang sudah ada dalam peta." Tambahnya.
Xio dalam beberapa waktu belakangan ini sedang membuat sketsa peta untuk pembaruan benua yang baru, tapi ia belum menyelesaikannya karena harus menyurvei kembali daerah-daerah yang ingin di ubah.
"Aku akan menamakan project yang besar ini dengan nama NOVA CONTINENT!" Ucap Xio. "Apakah ada yang ingin bertanya atau memberikan saran?" Lanjutnya bertanya.
"Yang Mulia, Apakah para warga akan di pindahkan ketempat evakuasi ketika terjadinya Rift?" Tanya Azrael.
Xio berpikir sejenak, "Yah sebaiknya kita mengevakuasi orang-orang sehari sebelum Rift itu terjadi." Jawabnya. "Untuk tempat evakuasinya aku akan membuatnya sendiri." Tambah Xio.
Tok tok tok!
Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruang rapat.
"Tunggu disana sebentar Azco!" Sahut Xio sudah tahu orang yang berada di luar adalah Azco.
"Baiklah semuanya hanya itu saja Rapat kali ini, sekian." Ucap Xio beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar.
"Yang Mulia apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya Azco ketika Xio sudah keluar dari ruangan.
"Ikuti aku!" Kata Xio langsung melangkahkan kakinya diikuti oleh Azco di belakangnya.
Ketika mereka berdua sedang berjalan, dan tidak sengaja sampai di taman tempat Ellisa sedang mengadakan pesta minum teh.
Xio berhenti secara tiba-tiba membuat Azco heran. Azco melihat pandangan mata Xio yang tertuju pada Ellisa yang sedang bercanda gurau dengan teman-teman wanitanya.
Terlukis sedikit lekukan di sudut bibir Xio. ia tersenyum ketika melihat Ellisa yang sepertinya senang bercengkrama bersama dengan teman-teman barunya.
"Yang Mulia?" Ucap Azco menyadarkan lamunan Xio.
"Ah yah, ikuti aku!" Kata Xio kembali berjalan melewati taman.
Tidak butuh waktu lama mereka berjalan, saat ini mereka berdua sudah tiba di depan ruangan kerja Xio.
Xio membuka pintu ruangan terebut dan melangkahkan kakinya kedalam di ikuti oleh Azco.
"Azco duduklah di situ!" Perintah Xio menunjuk sofa, dan Azco pun menurutinya.
Xio berjalan kedekat meja kerjanya kemudian mengambil sebuah kotak yang berbentuk persegi panjang. Lalu kembali kesofa dan duduk di hadapan Azco.
Xio dan Azco saat ini sudah duduk berhadapan. Ketika Xio membuka kotak yang di pegang nya, seketika raut wajah Azco langsung berubah.
"Azco cepat teteskan darahmu di sini." Xio mengeliarkan selembar kertas di atas meja.
"Tapi Yang Mulia, saya belum siap untuk semua ini, dan saya juga masih ingin terus berada di samping anda." Ucap Azco.
"Kamu tenang saja, walaupun kamu sudah tidak terikat kontrak lagi denganku dan kalau kamu sudah berkeluarga, Kamu akan tetap menjadi orang yang ku percayai." Kata Xio. "Kamu juga masih biasa datang kapan saja kesini jika kamu mau." Lanjutnya.
Azco belum mau melepaskan kontraknya dengan Xio karena ia berpikir kalau dirinya belum melakukan sesuatu yang besar untuk tuannya yang mendatangkannya ke dunia.
Dengan enggan Azco pun meneteskan darahnya di atas kertas tersebut, begitupun dengan Xio yang meneteskan darahnya setelah Azco.
Xio kemudian menuliskan sebuah mantra di atas darahnya serta diatas darah Azco menggunakan pena Lilium yang berfungsi untuk menghancurkan kontrak.
Setelah selesai Xio menuliskan mantranya, tiba-tiba saja kertas itu terbakar dan berubah menjadi abu bersamaan dengan perasaan ada sesuatu yang hilang dari tubuhnya.
"Sudah selesai." Kata Xio. "Sekarang kamu sudah bisa bebas hidup bersama dengan orang yang kamu Cintai." Lanjutnya.
Azco bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan kedepan Xio dan langsung berlutut satu kaki dihadapannya.
"Yang Mulia, Walaupun saya sudah terikat kontrak lagi dengan anda, Tapi saya akan tetap mempertaruhkan hidup ini untuk Yang Mulia serta kerajaan ini." Ucap Azco dengan wajah seriusnya.
...----------------...
Sementara itu disisi Ellisa.
Ketika ia sedang mengobrol, Chintya bersama dengan teman-teman nya tiba-tiba saja berdiri dan membungkukkan sedikit dada mereka kearah Ellisa sehingga membuatnya heran.
"Kenapa kalian ber-"
Cupp!
Satu kecupan mendarat di pipi Ellisa, dan pelakunya adalah Xio. Chintya dan yang lainnya juga berdiri dan membungkuk untuk memberikan hormat pada Xio. karena mereka melihat Xio berjalan kearah Ellisa bersama dengan Azco di belakangnya.
"Sayang kenapa kamu kesini?, apakah kamu sudah selesai rapatnya?" Tanya Ellisa.
Xio mengangguk sambil tersenyu, "Iya rapatnya sudah selesai, tapi kulihat yang disini belum selesai juga yah...Apakah kamu lupa dengan persyaratannya?" Jawab Xio balik bertanya.
"Hehe saking asiknya aku sampai lupa waktu." jawab Ellisa terkekeh. "Baiklah semuanya mungkin hanya sampai sini saja pertemuan kita kali ini. jika ada waktu aku aku akan mengundang kalian kemari lagi." Ucap Ellisa berdiri dari tempat duduknya.
"Baik Yang Mulia. sekali lagi terimakasih sudah mengundang kita ke acara anda." Jawab Chintya di balas anggukan oleh Ellisa.
"Azco kamu kembalilah bersama mereka!" Perintah Xio.
"Baik Yang Mulia, kalau begitu kami pamit undur diri." Jawab Azco membungkukkan sedikit dadanya, lalu mengajak Chintya bersama dengan yang lainnya pergi dari sana.
"Oh iya sayang apakah kamu ada melihat anak-anak?" Tanya Xio.
"Aku tidak melihatnya, mungkin mereka keluar bersama Sebas." Jawab Ellisa. 'Anak-anak ini selalu saja menyusahkan Sebas.' batinnya karena sudah pasti ketika mereka pulang akan mendapatkan Omelan dari Xio dan Sebas juga akan terkena omelannya.
Beginilah nasib punya suami yang terlalu overprotektif, pikir Ellisa. Karena kalau mau kemana-mana harus meminta izin Xio terlebih dahulu, Ellisa mewajarinya Xio seperti itu karena tahu Xio khawatir kalau anak-anak kenapa-napa.
"Tidak usah terlalu mengkhawatirkan Leon dan Lena, mereka kan pergi bersama Sebas. Kamu juga tahu kan bagaimana kekuatan yang di miliki Sebas." Ucap Ellisa.
"Hemm dengan Sebas, yah kalau dengan Sebas aku tidak terlalu khawatir." Kata Xio setuju dengan Ellisa, karena ia juga sudah tahu bagaimana kuatnya Sebas.
"Tapi tetap saja aku tidak tahu kalau ada musuh diluar sana." Lanjut Xio.
"Sudahlah ayo ikut aku, aku akan menunjukkan sesuatu!" Ellisa menarik tangan Xio.
...----------------...
Sementara itu di tempat perbelanjaan. Saat ini Sebas sedang mengejar-ngejar Leon dan Lena yang berpindah-pindah dari kios satu ke-kios yang lain untuk membeli setiap makanan atau cemilan yang ada.
"Tuan Puteri tunggu!" Seru Sebas.
Lena berhenti kemudian menoleh kebelakang, "Ada apa?" Tanya Lena tidak terlihat kelelahan sama sekali di wajahnya walaupun dari tadi sudah mengunjungi banyak sekali kios.
"Tuan Puteri anda tidak bisa membeli semuanya, kalau nanti tidak habis kena marah Yang Mulia loh." Jawab Sebas.
"Tidak apa-apa kita kan bisa membagikannya ke para prajurit." Sahut Leon diangguki oleh Lena.
"Hahh baiklah.." Sebas menghela nafas pasrah. karena tidak akan menang berbicara dengan kedua anak pintar itu, dan hanya kedua orangtuanya sajalah yang hanya bisa mengatur mereka berdua.
...----------------...
Malam hari pun akhirnya tiba. Selesai makan malam bersama, Xio berpamitan pada Ellisa untuk pergi berlatih di tempat latihan pribadinya.
Tempat latihan Xio tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga. Saat ini Xio sedang mencoba menvari tahu bagaimana cara membuat ruangan dimensinya sendiri seperti yang dilakukan oleh Klause.
Untuk menciptakan suatu Skill baru maka ia harus memikirkan bagaimana teorinya skill itu bisa tercipta.
"Untuk menciptakan sebuah dimensi maka aku harus menggunakan Elemen ruang."
Xio mencoba menciptakan yang sederhana terlebih dahulu seperti sebuah kubus yang bisa menyimpan barang seperti Inventory. Tapi didalam ruangan kubus itu ternyata tidak ada oksigen sama sekali.
Tidak tanggung-tanggung Xio pun langsung mencoba membuatnya kembali menggunakan keempat Elemen nya. Dan tiba-tiba saja ia sudah berada didalam ruangan yang memiliki permukaan berwarna putih sedangkan langit-langitnya berwarna hitam.
Ruangan dimensi miliknya ternyata tidak mempunyai ujung, itu berarti berarti mau sebanyak apapun ruang dimensinya diisi tidak akan penuh atau sama saja dengan tidak terbatas.
Yang membuat Xio lebih takjub yaitu karena ternyata ia juga bisa menghentikan waktu didalam ruangan tersebut. Sebenarnya masih banyak lagi fungsi dari ruangan dimensi miliknyal. Tapi Xio memutuskan untuk mencari tahunya lagi nanti saja, karena yang terpenting sekarang ia sudah menemukan tempat untuk mengevakuasi semua orang nanti.
"Aku akan menamakan ruang dimensi ini dengan nama Xumman Dimension." Ucap Xio, lalu keluar lagi dari ruang dimensinya dan langsung memutuskan untuk ketempat Ellisa yang sedang berada di kamar Lena bersama dengan Leon.
...----------------...
...BERSAMBUNG...