
...----------------...
Di pedalaman hutan dengan langit yang sudah menjadi gelap, terlihat ada 4 buah tenda yang sudah terpasang melingkari api unggun. Di sekeliling api unggun tersebut nampak ada 4 orang manusia dan seekor beruang sedang memegang batang kayu yang di ujung batang kayu tersebut ditusukan seekor ikan yang kemudian di putar-putar kan di atas panasnya bara api. Mereka adalah Leon bersama dengan tim-nya yang sedang membakar ikan untuk makan malam mereka.
"Apa?!!" Leon dan Lena terkejut "Kalau begini sih mamah pasti akan menghentikan kita di ujian ketiga nanti." Kata Leon di angguki oleh Lena.
"Hahh... apa boleh buat, kita tidak bisa melawan perintah mamah." Ucap Leon. Sebenarnya barusan Azco memberitahu mereka, kalau Ellisa sudah tahu bahwa mereka mengikuti kompetisi.
"Lalu bagaimana?, apakah kita akan berhenti disini atau menunggu sampai ujian keduanya selesai?" Tanya Lena.
"Tentu saja sampai selesai!" Jawab Leon. "Kakak belum puas bertarung sama sekali." Lanjutnya sambil memakan ikan bakar ditangannya.
"Huhh kebiasaan, soal bertarung saja nomor satu!" ucap Lena, Lena kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil yang didalamnya terdapat serbuk berwarna putih. Serbuk tersebut ia taburkan di atas ikan bakarnya sehingga menimbulkan aroma yang dapat membuat perut keroncongan dan Lena-pun
kemudian langsung mencoba gigitan pertamanya.
"Eummm enak sekali!" Seru Lena dengan wajah berbinar setelah satu gigitan barusan. Mereka yang melihat Lena menaburkan bubuk barusan, menjadi penasaran dengan bubuk apa yang baru saja ia taburkan.
"Lena bubuk apa itu?" Tanya Zekiel penasaran begitupun dengan Azco, Leon, dan Felco.
"Waktu itu aku sedang mencoba membuat sesuatu sampai terciptalah bumbu ini, dan ketika aku memberikan pada papah untuk mencobanya, papah bilang kalau ia akan memasarkannya ke kerajaan. dan bumbu ini yaitu Bumbu Praticio!" Jelas Lena seperti sedang mempromosikan bumbu tersebut.
"Apakah kakak boleh memintanya?" Tanya Leon.
"Tentu saja aku membawa beberapa untuk persiapan." Jawab Lena mengeluarkan beberapa lagi bumbunya dan memberikannya pada mereka masing-masing satu tak terkecuali untuk Felco.
Merekapun langsung menaburkan bumbu tersebut di ikan bakar mereka masing-masing dan kemudian langsung mencoba. Wajah mereka semua seketika menjadi berbinar dan langsung saja mereka melahap ikannya dengan cepat.
"Tuan puteri memang hebat, bisa membuat sesuatu yang sangat penting dan berguna seperti ini." Ucap Azco dengan mulut yang masih penuh.
"Hehe adikku memang pintar." Kata Leon mencium pipi Lena sambil tersenyum.
'Oh tidak, Keimutan apalagi ini?.' Batin Azco dan Felco yang tapa sadar mereka berdua sudah mimisan karena keimutan Leon dan Lena.
"Azco, Felco apa kalian tidak apa-apa?" Tanya Lena. Azco dan Felco pun sadar kalau mereka sedang mimisan dan langsung mengelapnya.
"Tidak apa-apa tuan puteri." Jawab Azco, "ngomong-ngomong apakah ikannya masih ada?" Lanjutnya bertanya.
"Ambil saja di sungai sendiri, Dari tadi kamu sudah menghabiskan banyak sekali dan sisanya ini tinggal punya kita." Jawab Leon.
"Hufff baiklah." Kata Azco pasrah, ia langsung berdiri dan pergi kearah sungai. Karena kebetulan mereka berkemah tidak jauh dari sungai.
Selesai Azco mengambil ikan dan membawanya kembali ke kemah, ia tidak langsung membakarnya tapi meminta Lena untuk menetralkan-nya terlebih dahulu karena ikan-ikan tersebut berasal dari sungai menangis, dan untungnya Lena mempunyai skill yang bernama neutralize yang ia dapatkan ketika menyelasaikan dungeon king goblin waktu itu.
Merekapun akhirnya memutuskan untuk melanjutkan bakar-bakar ikan mereka, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk tidur didalam tenda masing-masing. Sebelum tidur Azco juga sudah memasangkan barrier ilusi terlebih dahulu di sekeliling kemah mereka agar tidak ada yang mengganggunya ketika tidur.
Di tengah malam, disaat semuanya sudah tertidur, Tiba-tiba saja Lena terbangun dan terlihat juga keringat bercucuran di wajahnya yang sepertinya ia baru saja bermimpi buruk. Lena memaksakan untuk tidur kembali tapi tidak bisa dama sekali, sampai akhirnya ia memutuskan keluar dari tendanya dan masuk ketendanya Leon. Lena melihat Leon yang sedang tertidur dan ia pun langsung mengambil posisi tidur disamping Leon sambil menatap wajah Leon, karena tendanya juga tergolong dalam ukuran besar jadi muat-muat saja kalau dimasuki oleh 3 orang sekaligus pun.
Saat Lena menatap Leon sendu, tiba-tiba saja Leon juga terbangun dan melihat Lena dihadapannya. "Kenapa Lena?, apakah kamu tidak bisa tidur?" Tanya Leon.
Lena mengangguk dan langsung memeluk Leon, "Aku barusan melihat mimpi itu lagi, dan aku tidak kuat kalau harus melihat kejadian saat itu." Ucapnya Lirih.
Leon membalas pelukan Lena dan mengecup keningnya kemudian berkata "Jangan diingat-ingat lagi ya, kakak sekarang sudah tidak apa-apa kok, dan sekarang kakak juga sudah bahagia karena ada yang melindungi kita."
"Sekarang tidur yah, disini saja dengan kakak." Tambah Leon memeluk Lena erat begitupun dengan Lena yang memeluk Leon erat. Sampai Akhirnya mereka pun tertidur dalam posisi berpelukan.
Malam berganti pagi, dan pagi ini sudah terdengar kerusuhan dari Azco. "Tuan puteri!!, Tuan putery!!" Teriak Azco memanggil manggil Lena karena tidak ada di tendanya. Sampai keluarlah Leon dari tendanya.
"Suttt, jangan berisik, Lena sedang tidur didalam." Kata Leon.
"Hufff aku kira kemana." Azco menghela nafas Lega. "Tapi pangeran bukankah Yang mulia sudah tidak memperbolehkan anda untuk tidur bersama lagi?" Tanya Azco.
"Papah sih memang tidak memperbolehkannya, tapi mau bagaimana lagi." Jawab Leon.
"Hemm baiklah, kalau begitu aku akan membuatkan sarapan dulu." Kata Azco langsung menyalakan api unggun nya kembali, dan menyiapkan bahan-bahan nya.
Setelah semua orang memakan sarapannya, merekapun langsung membereskan semua tenda dan peralatan-peralatan lainnya.
"Sekarang kita mau kemana?" Tanya Lena yang sudah berada di punggung Felco.
"Tentu saja berburu monster!" Seru Leon dengan wajah bersemangat.
"Huhh kalau begitu kakak saja yang berburu monster, aku akan mencari bahan-bahan saja." kata Lena.
"Baiklah tapi jangan terlalu jauh dari kakak." Ujar Leon diangguki oleh Lena.
Merekapun setuju untuk melanjutkan berburu Monster, sedangkan Lena mencari tanaman-tanaman herbal untuk eksperimen. Sampai siang hari mereka sudah menghabisi banyak banyak monster sekaligus tapi tidak semua monster yang mereka temui akan mereka habiskan, karena ternyata ada juga monster yang baik kata Lena.
Boooooommmm!!
Terdengar suara Ledakan yang lumayan dekat dengan Mereka, karena penasaran merekapun langsung berjalan mendekat kearah suara ledakan barusan tapi dari jauh saja mereka sudah dapat memperkirakan apa yang terjadi. Dan ketika sampai mereka dapat melihat beberapa wanita yang diantaranya ada Chintya sedang melawan Golem yang sangat besar dengan tinggi melebihi pohon-pohon yang ada disana.
Chintya bersama dengan tim-nya nampak sekali kalau mereka sedang kesusahan melawannya bahkan ada yang sudah terluka dan sedang di sembuhkan oleh healer timnya.
Tim Chyntia Memiliki peran yang berbeda-beda seperti 2 penyihir, 1 ahli pedang, 1 ahli memanah dan satunya lagi adalah healer.
"Sudahlah kita tidak usah membantunya." kata Azco tapi tidak mendapat jawaban sama sekali karena ternyata Leon, Lena dan Zekiel sudah duluan pergi dan hampir sampai pada Chintya.
"Hsss apa boleh buat." Pasrah Azco langsung menyusul anak-anak.
Ketika Chintya melihat ada yang menghampirinya, ia langsung menyuruh teman-teman nya untuk mundur beberapa langkah.
Chintya melirik kearah teman timnya dan diangguki oleh mereka. Chintya tersenyum "Hahh baiklah aku minta bantuan pada kalian." Ucap Chintya.
"Yesss!!, Mila dan Zekke tunggulah disini dan bantu obati mereka, Zico Kamu tidak udah membantuku karena aku ingin mencoba Skill ku." Ucap Leon menyebut mereka dengan nama samarannya.
"Baiklah pange- Eh Liam hati-hati." Jawab Azco hampir keceplosan.
Chyntia yang melihat Azco menyerahkan Golem tersebut pada Leon sendiri saja menjadi bingung, karena yang ia tahu Azco lah yang memiliki level tinggi sedangkan remaja barusan hanya berada dibawah levelnya.
"Apakah kamu serius menyerahkan Golem itu pada nya seorang diri?" Tanya Chintya.
"Hmm sebaiknya kamu obati lukamu dulu." Jawab Azco cuek, dan langsung berjalannkedekat Lena meninggalkan Chyntia yang kesal dibuatnya.
Sementara itu disisi Leon, Saat ini ia sedang ingin mencoba kemampuan Golem miliknya karena selama ini ia belum pernah mencoba kekutan Golem miliknya dalam pertempuran sungguhan.
Seketika awan dilangit berubah menjadi warna merah darah dan tanah berguncang, sampai taklama permukaan tanah menjadi terbelah dan munculah sesosok makhluk besar yang membawa pedang berlapiskan api.
Tentu saja penampakkan tersebut mengejutkan Chintya bersama dengan rekan timnya karena saat ini mereka seaakan melihat makhluk yang berasal langsung dari neraka.
"İldırım qılıncı!!" Leon Mngucapkan Skill-nya, Golem batu tadi mencoba untuk melarikan diri Seaakan tahu saat ini dirinya dalam bahaya. Tapi itu semua sudah terlambat, walaupun rata-rata Golem memiliki kecepatan yang lambat, tapi Golem milik Leon Sebaliknya.
Zinggg!!
Dengan Secepat kilat Golem Leon sudah berada di belakang golem batu tersebut yang perlahan terlihat kalau tubuhnya sudah terbelah dua, dengan bekas pedang dibelahan tersebut seperti terkena lahar panas.
Karena Golem batu itu sudah dikalahkan, dan Golem milik Leon pun perlahan menjadi abu karena Leon memerintahkannya untuk kembali. Sehingga langit menjadi normal dan permukaan tanah yang tadinya terbelah pun mulai tertutup kembali.
Leon menghela nafas sebentar dan langsung berjalan kembali kearah Chintya dan yang lainnya.
"Wawww!!, kamu hebat sekali nak!" Ucap Cynthia langsung memeluk Leon sehingga wajah Leon terbenam diantara kedua belahan dadanya.
"Heyy perawan tua!, jangan sembarangan menyentuh!" Kata Azco langsung menarik Chintya kebelakang sehingga Leon terlepas dari Pelukannya. dan Leon pun langsung pergi kedekat Lena meninggalkan mereka berdua.
"Lepaskan aku, aku hanya ingin mencupakan terimakasih. Laian siapa juga yang perawan tua hah?" Kata Chintya berusaha melapaskan tangan Azco.
Azko tersenyum miring dan mendekatkan bibirnya di dekat telinga Chintya, "Badan saja sexy tapi ternyata masih perawan." bisik Azco sehingga membuat Wajah Chintya mrmerah karena malu.
"Memangnya kenapa kalau aku masih perawan hah?" Ucap Chintya menundukkan kepalanya. "Aku sudah tidak percaya pada laki-laki lagi." terdengar suara Chintya yang agak bergetar.
Azco menangkup pipi Chintya dan menegakkannya keatas agar dapat melihat wajahnya, mata Chintya saat ini sudah berkaca-kaca dengan ekpresi menyedihkan dan tanpa sadar Azco pun langsung menariknya kedalam pelukannya.
"Maafkan perkataanku barusan dan jangan menangis lagi." Ucap Azco, karena ia berpikir Chintya pasti mempunyai masalalu kelam dengan laki-laki sehingga membuatnya dapat langsung menangis seperti itu.
Entah kenapa saat ini Chintya merasa nyaman sekali berada di pelukkan Azco sehingga tanpa sadar ia sudah membalas pelukan Azco sangat erat. Teman-teman Chintya tersenyum melihat sikap Chintya yang seperti itu, karena biasanya ia bahkan tidak mau menatap laki-laki sedikitpun, bahkan kalau ada laki-laki yang mencoba mengajak bicara pun ia langsung pergi mengabaikannya.
"Hei mau sampai kapan kalian akan berpelukan seperti itu?" Kata Teman Chintya, sehingga membuat Azco dan Chintya melepaskan pelukan mereka dengan cepat dengan wajah mereka berdua yang memerah.
"Maafkan aku." Kata Azco langsung bergerak dengan cepat kearah anak-anak. Begitupun dengan Chintya yang kembali ketempat teman-temannya dengan wajah yang masih tersipu.
"Sudah selesai!" Ucap Lena seraya berdiri setelah menyembuhkan semuanya.
Semua tim Chintya pun berdiri dan Chintya yang berada di paling depan. "Maaf sudah merepotkan kalian, dan terimakasih karena sudah membantu kami." Ucap Chintya mewakilkan teman-temannya.
"Kalau begitu kami akan pergi sekarang." Ucap Azco sudah bersiap akan pergi.
"Tante, apakah Tante tidak ingin ikut bersama kita saja?, lebih ramai kan lebih bagus." Kata Lena sehingga membuat Azco terhenti.
"Tapi kalau kami ikut, hanya akan menjadi beban saja." Jawab Chintya diangguk-angguki oleh Azco. Lena langsung menatap Azco tajam seperti sebuah ancaman terhadapnya.
"Hahh...Baiklah-baiklah kalian bisa ikut dengan kita." Ucap Azco pasrah karena tidak mampu menolak permintaan Lena.
"Ehmm Terimakasih kalau begitu, kami berjanji tidak akan menyusahkan kalian." Kata Chintya.
Setelah setuju Chintya untuk ikut, Azco langsung pergi berjalan duluan disusul oleh yang lain di belakangnya.
Merekapun melanjutkan perburuan monster mereka tapi kali ini Leon menyerahkan poin monsternya pada tim Chintya karena Leon bilang kalau dirinya tidak mengejar juara pertama.
Ketika hari menunjukan sudah petang, mereka memutuskan untuk berhenti berburu dan lebih memilih untuk mencari tempat berkemah yang berada tidak jauh dari sungai.
Merekapun langsung membagi tugas antara yang mendirikan tenda dan juga yang memasak. Chintya dan teman-teman agak terkejut ketika melihat tenda milik Leon dan yang lainnya. Karena Tenda milik terlihat lebih bagus kualitasnya dan juga sangat mudah di pasangkan, itu karena Leon menggunakan tenda yang berasal dari bumi sedangkan Chintya dan teman-temannya masih menggunakan tenda jadul.
Selesai mendirikan tenda dan memasak mereka berkumpul didekat api unggun untuk memakan makan malamnya. Selesai makan, mereka tidak langsung tidur, melainkan ngobrol ngobrol terlebih dahulu untuk mengakrabkan diri. Sampai tiba larut malam dan merekapun memutuskan untuk segera tidur, kecuali Azco dan Chintya.
"Kenapa kamu tidak ikut tidur?" Tanya Azco.
"Kamu juga kenapa tidak tidur?" Kata Chintya bertanya balik.
"Aku sih belum ngantuk." Jawab Azco. "Aku juga sama." Kata Chintya.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG