Cross The World With System

Cross The World With System
Kukira surga, ternyata neraka



...----------------...


Glekk!


Xio menelan Saliva nya sendiri setelah melihat bagaimana Ellisa yang menelan habis semua cairan Kental milik Xio. Bahkan dibawah sana yang tadinya sudah tertidur langsung bangun dan berdiri tegak kembali.


"Ahh sayang kamu benar-benar membuatku tidak mau beristirahat." Ucap Xio langsung menerkam dan mencium bibir Ellisa.


"Ronde terakhir yah." Kata Xio menatap Ellisa dengan senyuman genit.


"Emm baiklah." Jawab Ellisa. Walaupun sebenarnya sudah berapa kali Xio mengatakan ronde terakhir tapi tidak berakhir samasekali.


Xio tersenyum nampak senang di wajahnya sudah siap memulai ronde tersebut. Tapi tiba-tiba saja wajahnya langsung menjadi datar dan menghentikan niatnya untuk berhubungan kembali.


Dia langsung turun dari ranjang lalu mengenakan piyamanya.


"Suamiku, kamu mau kemana?" Tanya Ellisa keheranan padahal tadi Xio lah yang bersemangat ingin melanjutkan ronde selanjutnya.


Cup!


Xio mengecup bibir Ellisa tipis, "Kamu tunggu dulu sini dan jangan kemana-mana. nanti aku kembali kita lanjutkan permainan tadi." Ucapnya mengecup bibir Ellisa Sekali lagi, kemudian menghilang dari kamar tersebut.


"Kenapa Xio terlihat tidak senang? apa aku melakukan sesuatu yang salah?" Gumam Ellisa masih kebingungan dengan ekspresi Xio. Tapi Ellisa masih berpikir positif kalau itu mungkin bukan disebabkan oleh dirinya. "Hmm semoga saja aku memang tidak melakukan kesalahan." pikirnya.


'Tidak lama lagi kita bisa kembali ke bumi, aku ingin tahu apakah Xio masih mengingat janjinya.' batinnya tidak sabar dengan apa yang Xio janjikan sambil tersenyum-senyum sendiri terlihat sangat cantik dan manis walupun rambutnya sedikit berantakan.


Sementara itu saat ini Xio sudah berada di halaman depan istananya. Disana juga terlihat sudah ada Azco, Sebas dan anak-anak.


"Maaf mengganggu waktu anda Yang Mulia." Ucap Sebas menundukkan kepalanya. Ia tahu apa yang sedang Xio lakukan sebelum datang kesitu karena melihat Xio yang hanya mengenakan piyama kimononya saja.



"Hm." Xio menjawab hanya dengan deheman saja. Dia kemudian melirik kearah Leon dan Lena yang sedang menunduk juga seperti ketakutan dengannya.


"Leon, Lena kalian tahu kan apa kesalahannya?" Ucap Xio.


"Papah tolong maafkan aku dan jangan hukum Lena, ini semua salahku yang mengajaknya. Papah hukum saja aku." Kata Leon masih menunduk. Xio berjalan kearah Leon lalu berjongkok menyetarakan tingginya.


Xio mengelus kepala Leon dan Lena. "Mana mungkin papah menghukum anak-anak kesayangannya papah ini." Ucap Xio. "Tapi lain kali kalau mau pergi jauh harus bilang dulu ke-papah, agar papah tidak khawatir." Tambahnya.


Grep!


Leon dan Lena langsung memeluk Xio bersamaan.


"Haha sudah lama sekali aku tidak di peluk anak-anakku." Ucap Xio tersenyum dan membalas pelukan mereka berdua lalu mencium puncak kepalanya secara bergantian.


"Terimakasih papah, sudah memaafkan kita." Kata Leon. "Bolehkah aku meminta sesuatu?" Tambahnya.


"Tentu saja, apa yang pangeran papah ini inginkan?" Tanya Xio.


"Aku ingin meminjam pena pemutus kontrak punya papah, dan wilayah yang ada di sisi barat benua ini." Jawab Leon. Yang lantas membuat Xio terkejut karena Leon tiba-tiba meminta wilayah. padahal Xio akan memberikan wilayah nanti jika Leon sudah dewasa untuk ujian apakah dia siap untuk menjadi pemimpin.


"Tidak boleh yah.." Kata Leon mengira Xio tidak memperbolehkannya karena melihat dari ekspresinya.


"Bukannya tidak boleh, tapi Leon tahu sendiri kan kalau papah akan memberikan sebuah wilayah untuk Leon urus kalau nanti Leon sudah siap. papah berpikir saat ini kamu belum benar-benar siap untuk memegang wilayah." Ucap Xio. "Jadi maafkan papah tidak bisa menerima permintaan Leon yang kedua itu."


"Emm baiklah tidak apa-apa, Leon mengerti maksud papah." Kata Leon.


Xio pun menyerahkan pena untuk memutuskan kontrak yang Leon minta. Leon berjalan kearah dua orang yang digulung dengan kain emas milik Sebas.


"Sebas siapa mereka berdua?" Tanya Xio.


"Saat dibenua demi human tadi mereka berdua berniat untuk menjual pangeran,Yang Mulia." Jawab Sebas.


Jreeng!


Seketika ekspresi Xio jadi menyeramkan. ia juga terlihat mengepalkan tangannya marah dan kesal karena siapa yang sudah berani ingin menjual anaknya.


"Leon biar papah yang mengurusnya." Ujar Xio berjalan kearah dua orang didalam gulungan tersebut yang terus menggeliat seperti ulat.


"Baiklah tapi jangan sampai meninggal." Kata Leon karena sudah tahu Xio pasti akan menyiksa mereka sampai mati jika sangat marah. Dia menyuruh agar tidak membunuhnya terlebih dahulu karena jika penjual budak tersebut mati maka budak-budak yang sudah terjalin kontrak dengannya juga akan mati.


Xio mengangguk walaupun tidak tahu kenapa Leon tidak memperbolehkan membunuh orang tersebut. Leon meninggalkan budak-budak tadi di luar kawasan istana karena takutnya Xio tidak suka jika ada budak yang menginjakkan kaki di istananya. Walaupun aslinya Xio tidak apa-apa ada budak atau siapapun yang masuk ke istananya asalkan dia tidak berniat buruk dan telah mendapatkan izin.


Xio menjentikkan jarinya dan kain emas yang membungkus Keith serta Molt pun seketika langsung terbuka. Sedangkan sebas yang melihatnya hanya bisa menghela nafas karena padahal Skill segel pengunci miliknya bisa tergolong kuat dan sulit di pecahkan. Tapi dengan mudahnya Xio membuka Skill segel sebas hanya dengan satu jentikan jari saja. Itu karena sebenarnya Xio menggunakan Skill yang bernama "Ontsluit" Yaitu skill yang dapat membuka segel atau kunci apapun.


(Ontsluit \= Unlock in Africa)


Xio mendapatkan Skill tersebut bukan dari System karena systemnya masih mati, dan bukan juga dari buku Skill. Tapi suatu hari tiba-tiba saja dikepalanya mengingat kalau dia pernah mempelajari skill itu, padahal sama sekali dirinya tidak tahu ada skill tersebut. Merasa Skill tersebut sangat berguna, Xio pun mempelajarinya seharian hingga benar-benar menguasainya.


Kembali ke saat ini, Keith dan Molt merasa lega karena akhirnya bisa melihat cahaya kembali setelah merasakan gelap yang sangat pekat dalam segel Sebas. Tidak hanya gelap, tapi kain-kain tersebut juga terasa menekan mereka sangat kencang hingga mereka menjadi lemas. Tapi untungnya mereka masih bisa bernafas.


'Kenapa aku ada di surga?' Batin mereka berdua ketika melihat Xio di depan mereka yang terlihat seperti dewa. Mereka berdua berpikir akan masuk neraka karena telah melakukan banyak dosa dan hal-hal maksiat ketika hidup.


"Terimakasih ya Dewa telah memasukkan kami ke surga." Ucap mereka berdua bersujud dihadapan Xio. Belum sadar dan belum melihat ke sekitarnya.


"Pfft.." Leon dan Lena menahan tawa karena lucunya kedua orang tersebut melihat Xio seperti dewa.


Selembar daun jatuh tepat diatas kepala Keith dan Molt.


Tep


Brakk!


Tanah yang mereka pakai untuk bersujud seketika retak karena daun tersebut sangat berat hingga menekan kepala mereka berdua ketanah sebab terlalu besarnya daya tekanan yang dibuat dengan hanya selembar daun saja.


Xio mengangkat Keduanya dengan cara dicekik keatas dan menatap mereka Sinis.


'Kukira surga, ternyata neraka.' Batin Keith dan Molt melihat wajah Xio seakan melihat malaikat maut.


"Jadi kalian berdua yang ingin menjual anakku?" Ucap Xio.


'Anakku?' Bingung Keith dan Molt Sampai akhirnya mereka melihat ada seorang anak laki-laki berdiri di dekat Xio yang sangat mirip dengan anak kecil yang mereka kira Fenrir waktu itu.


Mereka berdua bersusah payah ingin mengucapkan sesuatu, tapi saat ini untuk bernafas saja sangat sulit lantaran cekikan Xio sangatlah terasa di tenggorokan.


"Heuukk!!" Keith dan Molt benar-benar sudah tidak bisa bernafas bahkan meta mereka terbelalak seperti kapan saja bisa bisa meloncat keluar ditambah wajah yang sudah tidak dapat dikenali karena darah yang berlumuran.


"Papah sudah, jangan sampai mereka mati." Ucap Leon.


"Cih." Xio langsung melepaskan cekikan nya, dan mereka berdua pun langsung terbaring lemas di tanah.


"Sebas, kalau urusan Leon dengan mereka selesai, langsung bunuh saja." Perintah Xio mengeluarkan sebatang Rokok dan sebuah korek di tangannya yang kemudian ia nyalakan lalu dihisapnya rokok tersebut.


"Baik Yang Mulia." Jawab Sebas.


"Sebaiknya kalian berdua bersyukur masih punya kesempatan hidup berkat anakku, walaupun hanya beberapa saat." Ucap Xio. "Azco ikut denganku!" Seru Xio melirik kearah Falma sebentar lalu memalingkan kembali wajahnya.


Falma yang dari tadi berada di belakang Azco pun seketika terkejut karena Xio baru saja menatapnya dengan wajah garang. Walaupun sebenarnya Xio berwajah seperti itu karena kesal tidak jadi membunuh Keith dan Molt dengan tangannya sendiri.


"Tidak apa-apa, ayo ikut ayah." Kata Azco Menggenggam tangan tangan Falma lalu berjalan mengikuti Xio dari belakang.


"Kakek sebas, Falma dan zio mau kemana?" Tanya Lena.


"Saya juga tidak tahu Tuan putri." Jawab sebas berbohong karena sebenarnya ia sudah tahu tapi tidak mungkin mengatakannya pada Lena.


Melirik kearah Leon, terlihat ia sedang mengikat kaki Keith dan Molt menggunakan tambang. Selesai mengikat mereka, Leon langsung menggusur keduanya seperti membawa kereta pasir mainan dengan posisi wajah keduanya berada dibawah. Sehingga wajah mereka terus mencium tanah dengan kasar.


"Pangeran biarkan saya saja yang membawanya." Ucap seorang prajurit bernama Gram.


"Oh baiklah." Jawab Leon menyerahkan Tambangraya pada Gram.


"Jangan ubah posisi mereka Gram." Tambah Leon.


"BAIK! PANGERAN!" Jawab Gram menghormat.


Gram pun langsung menggusur Keith dan juga Molt mengikuti Leon yang berjalan di depannya.


...----------------...


...BERSAMBUNG...