
...****************...
"Ayah aku berhasil membuat istri xio meminum minumannya, aku yakin bayi di dalam kandungannya pasti mati."
"Haha kerja bagus, sekarang tugasmu hanya tinggal bagaimana agar Xio tertarik padamu."
"Aku akan terus mendekatinya, dan jika berhasil maka aku akan menjadi kaya raya, hahahaha"
mereka berbicara tanpa tahu kalau dari tadi sudah ada 3 orang yang mendengarnya dari luar dan sudah siap mendobrak pintunya.
Brakk!
Sekali dorongan pintu tersebut langsung terbuka oleh adam.
Mereka dapat melihat Bella dan Billy yang langsung terkejut ketika pintu didobrak.
Dorr!
Dorr!
Adam menembak kaki Bella dan Billy agar mereka tidak bisa lari.
Arthur berjalan menghampiri Bella dan Billy dengan tatapan yang mengerikan.
"Apa yang kamu lakukan jangan mendekat!" Teriak Billy.
Arthur tidak mendengarkan perkataannya dan langsung mencekik Billy dan Bella dan mengangkatnya keatas dengan mudah.
"Jika kamu ingin xio lalu kenapa harus ellisa yang kamu berikan obat, HAH?!!!!" teriak Arthur dengan cengkramannya yang semakin kuat hingga membuat Bella dan Billy kesulitan bernafas.
"Heukkk, lepaskan aku, aku tidak ada kaitannya ini semuanya ulah Bella sendiri" Billy berbicara dengan susah payah karena saat ini dia tidak bisa bernafas.
"Cursed blood." Gumam Arthur dan langsung melepaskan cekikannya pada Bella dan Billy. mereka berdua langsung tersungkur dilantai dan batuk-batuk sembari berusaha mengatur nafanya.
Saat Bella menggerakkan jarinya tiba-tiba jari tersbut langsung mengeluarkan darah berwarna hitam. Tidak hanya sampai disitu, jari tersebut langsung kering dan terlihat hanya ada tulang yang dilapiskan kulit saja. tentu saja bella merasakan sangat sakit dan perih ketika darah keluar dari jarinya.
"Jika kamu menggerakan bagian tubuhmu yang manapun sedikit saja maka akan seperti itu." Ucap Arthur menunjuk jari bella.
seakan tidak percaya dengan perkataan arthur, Billy menggerakan kakinya untuk berdiri tapi ternyata benar saja apa yang dikatakan arthur kaki Billy langsung mengalami kejadian yang seperti bella serta darahnya berceceran kemana-mana.
Bella yang melihat hal tersebut wajahnya langsung pucat dan keringat bercucuran, dia tidak berani menggerakan tubuhnya sedikitpun karena takut seperti Billy.
"HAHAHA, ini saja belum cukup setelah apa yang kamu lakukan pada anakku." Arthur melemparkan salah satu cincinnya ke lantai dan cincin tersebut langsung berubah menjadi ular yang terlihat sangat berbisa dan ular tersebut tidak hanya satu tapi sangat banyak.
Ular-ular tersebut langsung mengerubuni tubuh bella dan Billy, ada yang masuk kedalam pakain mereka dan ada juga yang masuk kedalam mulut mereka.
Adam dan chris yang melihat hal tersebut bergidik ngeri sambil berkeringat dingin, mereka berdua juga sudah diberitahu kalau arthur serta ellisa bukan berasal dari bumi.
"Nikmatilah waktu terakhir kalian bersama ular-ular kesayanganku." Ucap Arthur dan langsung berjalan keluar ruangan tersebut diikuti oleh adam dan Chris.
Arthur berjalan menuju tempat leon dan lena yang sudah dititipkan pada Juli.
Arthur melihat leon dan lena sedang menangis tersedu-sedu dan Juli berusaha menenangkannya tapi tidak berhasil.
"Leon, Lena sudah jangan menangis lagi ya, kan ada kakek disini." Ucap Arthur mengelus kepala keduanya.
"hiks...Kami hanya ingin mamah!!" Ucap Lena yang masih menangis.
"Papah kalian kan sedang mencari mamah, sebaiknya kita pulang saja ya ini sudah sangat malam tidak baik anak-anak tidur terlalu Malam." ucap Arthur lagi dan akhirnya Leon serta lena pun mengangguk dan berhenti menangis walau masih tersengar suara tersedu-sedu dari keduanya.
Arthur pun menggandeng tangan Leon dan lena untuk berjalan menuju mobil yang dikendarai oleh adam karena tidak bisa menggunakan mobil.
"Kakek apakah papah akan menemukan mamah?" Tanya Lena.
"Kita tunggu saja nanti, tapi semoga saja Xio bisa menemukan Ellisa." jawab Arthur, dia mengingat kembali ketika ellisa dulu pernah kabur dari istana karena kesalahan dirinya.
Saat sampai rumah lena berkata kembali.
"Kakek temani kita tidur yah." Kata Lena.
"Baiklah kalau begitu kakek membersihkan badan dulu." Ucap Arthur dan diangguki oleh Leon dan lena.
Setelah membersihkan tubuh, Arthur masuk kedalam kamar Leon dan Lena dan ternyata mereka berdua sedang membaca buku.
"Anak-anak cepat tidur." ucap Arthur.
"Baik kek." sahut Leon dan lena langsung menutup buku yang baru saja mereka baca dan langsung naik kekasur ditemani oleh Arthur.
tak lama kemudian Leon dan lena pun tertidur. Arthur berjalan keluar kamar dan duduk di sofa dengan tangan yang memijat kepalanya seperti sedang pusing. sampai tak lama kemudian datang Jhonatan yang menghampiri nya.
"Bagaimana?" Tanya Arthur.
"Ellisa tidak dapat ditemukan." Jawab Jhonatan dengan wajah sedih.
"Lalu dimana Xio?" tanya Arthur lagi.
"Xio masih berusaha untuk mencari Ellisa." Jawab Jhonatan.
"Baguslah!"
"Apakah kamu masih menyalahkan Xio?" ucap Jhonatan.
"Tentu saja bagaimanapun aku telah mempercayakannya untuk menjaga Ellisa, tapi lihat apa yang terjadi dia bahkan tidak bisa menjaga Ellisa." Sahut Arthur.
"kamu tidak tahu, Xio telah menyesalinya karena lalai saat menjaga Ellisa dan lihat bahkan disaat malam gelap dan hujan ini dia masih berusaha mencari Ellisa seorang diri, itu artinya Xio sangat menyayangi Ellisa bahkan saat tadi aku bertemu dengan Xio tatapannya kosong seperti tidak ada kehidupan sama sekali seakan dia tidak bisa hidup tanpa Ellisa." Jelas Jhonatan dengan sedikit menaikan suaranya.
"Lebih baik aku ke mansion untuk menyuruh mereka mencari Ellisa, sebaiknya kamu lihat dirimu sendiri apakah kamu tidak pernah berada di posisi Xio" lanjut Jhonatan dan langsung pergi meninggalkan Arthur yang tersentak dengan perkataan Jhonatan.
Arthur juga mengingat kalau dulu dia pernah lalai melindungi istrinya sehingga membuat istrinya meninggal oleh selirnya.
Setelah sampai dimansion, Jhonatan langsung menyuruh para bawahan Xio untuk melacak lokasi Ellisa saat ini.
"Maafkan kami tuan kami hanya dapat menemukan lokasi terakhir nona Ellisa disini karena setelahnya tiba-tiba saja lokasi nona Ellisa menghilang seperti ada yang menutupinya."
jelas salah satu bawahan xio menunjukan layar monitor nya pada Jhonatan.
"Kalau begitu kamu suruh semua orang untuk mencari dilokasi tersebut ataupun disekitarnya sampai ketemu." Perintah Jhonatan.
"Baik tuan!"
.
.
.
.
BERSAMBUNG