
...----------------...
Brenda tersentak ketika melihat Xio. Dia tidak tahu sebenarnya Xio muncul dari mana, tapi dia yakin Xio pasti sudah melihat sifat aslinya yang tadi. Dia langsung berpikir kalau pria tersebut tidak akan menyukainya karena melihatnya barusan, tapi yang dua tidak tahu bahwa Xio sudah mengetahui keburukannya lebih dulu bahkan meski baru kali ini mereka bertemu secara langsung.
"A-apa kamu Xio?" Ucap Brenda merubah sifatnya 180 derajat seperti orang lugu. Dua berharap Xio tidak melihat Sifatnya tadi.
Xio tidak menjawab, tapi dengan cepat hawa di dalam ruangan tersebut menjadi mencekam dan terdapat aura membunuh berwarna hitam yang sangat besar datang dari tubuh Xio.
Tidak hanya Brenda yang merasakan sesak di dadanya, tapi Heldir serta 6 orang yang berdiri di dekat dinding itu pun merasakan saluran nafas mereka seperti ada yang menyumbat, dan tubuhnya terasa seperti berada di tengah badai salju yang dinginnya menusuk.
Xio melangkahkan kakinya mendekat kearah Brenda, dengan tatapannya yang tajam seperti seorang predator yang menemukan mangsanya.
Langkah demi langkah kaki Xio berjalan maju, membuat tubuh Brenda semakin gemetar seperti kematian sedang berjalan ke arahnya. Ia mundur perlahan hingga tidak sadar sudah sampai ujung dengan jendela kaca di belakang punggungnya.
Brenda berpikir kalau melawannya saat ini tidak mungkin bisa menang, jadi dia mendapatkan ide sementara kabur saja darinya.
"Xio dia mau kabur!" Teriak Heldir menyadari pergerakan Brenda.
Brenda segera melebarkan sayapnya dan menabrak jendela kaca tersebut hingga pecah untuk kabur dari ruangan itu dengan mengepakkan sayapnya cepat.
Setelah lumayan jauh berada dilangit, Brenda menoleh kebelakang dan ia merasa lega melihat Xio masih berada ruangan tersebut terlihat berdiri dari jendela yang sudah bolong tadi menatap ke arahnya.
Tapi tiba-tiba saja sosok Xio menghilang dari pandangan Brenda. Dan ketika ia kembali menoleh ke depan….
Bamm!!
Xio sudah berdiri di hadapannya dan Sebuah kepalan tangan darinya mendarat di wajah Brenda dengan sangat keras, bahkan Brenda terpental sangat jauh menghancurkan beberapa rumah.
BOOMM!
Pukulan Xio membuat sebuah lubang besar di tanah dengan Brenda yang berada di tengah lubang tersebut. Debu-debu berterbangan menutupi pandangan. Terdengar juga suara warga yang berteriak dan mereka terlihat berlarian menjauh.
Setelah kepulan debu menghilang, dapat terlihat Brenda yang sudah terkapar di tanah dengan wajah penuh darah dan hidungnya yang hancur berkat pukulan Xio tadi. Padahal Xio belum mengeluarkan seluruh tenaganya.
"Uhuukk!!" Brenda tersadar dan memuntahkan seteguh darah dari mulutnya. Kepalanya terasa sangat sakit, seperti berton-ton besi masih berada di atas kepalanya.
Ia melihat setitik hitam dilangit yang biru, siapa lagi kalau bukan Xio yang berdiri jauh diatas langit. Tiba-tiba dia kembali menghilang dari pandangan Brenda. Dan Brenda yang tahu apa yang akan terjadi segera ingin menggerakkan tubuhnya agar pergi dari sana, tapi seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali.
Zepp!
Xio muncul di atasnya dengan kakinya yang mengarah ke perut Brenda.
BOOMMM!
Ledakan yang besar kembali terjadi ketika kaki Xio tepat mendarat di perut Brenda. Bersamaan dengan suara teriakkan dari Brenda dan darah yang menyembur keluar dari mulutnya.
HA L0"Ohookk!"
WHOOSH!!!
Ledakan area barusan menciptakan hempasan gelombang energi yang sangat besar di sekelilingnya. Bahkan Heldir yang mendekat kearah Xio pun harus berusaha menahan keseimbangan tubuh agar tidak terhempas gelombang itu.
Heldir menekankan kakinya ditanah agar tidak terbawa. Rambutnya yang panjang juga terlihat terbang, ia menutup wajahnya dengan kedua lengan sebab banyak benda yang ikut terbawa.
"Sial, sebenarnya apa yang sudah dilakukan wanita itu sampai membuatnya marah seperti ini? Kuharap tidak ada korban dari warga yang tidak tahu apa-apa." Gumam Heldir.
Kembali ke sisi Xio. Saat ini ia terlihat melayang diatas permukaan tanah dengan Brenda dihadapannya yang masih terkapar, tapi kali ini terlihat perutnya sudah berlubang. Memperlihatkan organ dalamnya yang sudah hancur serta darah yang tak henti-hentinya bercucuran.
Apa dengan begitu saja sudah membuat Xio puas?
Tentu saja tidak. Pembalasan sebegitu belum membayarkan rasa takut yang pernah Xio rasakan saat itu. Sebuah luka harus dibalas dengan seribu penderitaan.
Meski tubuh Brenda sudah berlubang seperti itu, tapi matanya masih terbelalak, dan jarinya terlihat masih bergerak. Yang menandakan dua belum benar-benar mati.
Brenda saat ini benar-benar sedang merasakan sekarat, tapi belum sampai pada ajalnya. Dimana tubuhnya sudah benar-benar tidak bisa digerakkan, dan suara tidak mau keluar dari mulutnya. Hanya mata yang masih dapat melihat pencabut nyawa di hadapannya itu yang sangat menyeramkan.
Saat ini rasanya mati adalah pilihan terbaik daripada harus merasakan sekarat.
Brenda sebenarnya akan langsung mati jika Xio membiarkannya langsung mati, tapi Xio menahan jiwanya masih berada di tubuh yang hancur itu agar ia masih bisa memberikan penyiksaan.
Dari tubuh Xio terlihat keluar aura berwarna biru. Dan kerikil-kerikil kecil di sekitarnya tiba-tiba melayang di sekitarnya.
Tsattt!
Salah satu kerikil tersebut melesat ke arah Brenda, tepat ke arah pupil matanya sampai menembusnya.
Brenda benar-benar ingin berteriak sekeras-kerasnya karena ketika kerusul tersebut menembus mata, rasanya sangat sakit, lebih dari rasa sakit ketika disayat.
'Hentikan...tolong hentikan…bunuh langsung saja aku…' Batin Brenda benar-benar ingin mati secepatnya.
Tapi kemudian satu persatu kerikil di sekeliling tubuh Xio mulai melesat ke setiap bagian tubuh Brenda.
Fisik saja tidak cukup. Xio kemudian memberikan ilusi untuknya. Dimana dalam pandangan Brenda saat ini dirinya tengah dikerubungi oleh serangga-serangga kecil yang menutupi tubuhnya dan menggerogoti tubuhnya. Selain itu, ia juga melihat wujud wujud raksasa yang sangat menyeramkan di langit sedang menatap dirinya seperti ingin memangsa.
.
.
.
.
.
Heldir akhirnya sampai di sisi lubang besar yang berada di tengah kota tersebut. Ketika melirik ke bawah lubang, ia pemandangan mengerikan dimana Xio terlihat tersenyum melihat mayat yang sudah tidak memiliki rupa di depan kakinya. Sepatu serta celana yang dikenakannya juga terlihat ada bercak-bercak darah yang lumayan banyak.
Heldir merinding melihat senyuman Xio yang seperti seorang psikopat. "Grr dia masih mempunyai senyum itu." Kata Heldir.
Tiba-tiba saja ia merasakan hawa dingin menyeruak ke seluruh tubuhnya, yang ternyata mata Xio sedang menatap ke arahnya.
"Ah-ha ha…sepertinya sebentar lagi waktunya makan siang." Heldir membuang muka pura-pura melihat ke langit sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Terkejutnya Heldir ketika tiba-tiba Xio sudah berdiri tepat di hadapannya. Dan refleks mulutnya mengeluarkan kata-kata kasar karena saking terkejutnya.
"Barusan kamu bilang Anj*Ng, Setan, Mony*t dan binatang lainnya." Jawab Xio.
"Maaf, maafkan aku! Barusan benar-benar keceplosan!" Ucap Heldir memegang tangan Xio dan beberapa kali mencium punggung tangannya.
Xio yang merasa jijik lantas segera menarik tangannya dari genggaman Heldir dan mengusap-usapnya dengan baju seperti ingin menghilangkan bekas bibir Heldir barusan.
"Heldir! Sekali lagi kamu berani bercanda seperti itu padaku, maka aku akan menyembelih milikmu dan mengirimkanmu ke tempat prostitusi." Kata Xio.
"Tidak, tidak jangan memotong punyaku!" Seru Heldir memegang miliknya takut. "Baiklah aku tidak akan melakukannya lagi. Tapi boleh kamu hilangkan dulu aura yang keluar dari tubuhmu itu?" Tambahnya menunjuk aura berwarna hitam pekat di seluruh tubuh Xio. Dan Xio pun menghilangkan aura tersebut.
"Sekarang bagaimana?" Tanya Heldir.
"Bagaimana apanya? Kamu urusi saja sendiri rakyatmu. Aku sih ingin secepatnya pulang membersihkan darah menjijikkan ini dan bertemu anak-anakku." Jawab Xio.
*Tidak, tunggu! Jangan pergi dulu! Kamu harus ikut aku terlebih dulu." Kata Heldir. "Aku butuh bantuanmu untuk meyakinkan rakyatku." Lanjutnya.
"Baiklah cepat."
Heldir pun tersenyum dan pergi terlebih dahulu diikuti Xio dibelakangnya.
.
.
.
.
.
Ketika hari sudah siang, dan matahari terlihat sudah berada diatas kepala, Xio diajak Heldir untuk ikut kembali ke istananya Amir tadi.
Ketika masuk kembali keruangan yang tadi, Amir, Katarina dan Duncan membelalakkan mata tercengo ketika melihat Heldir nenek moyang mereka yang selalu disebut dalam buku sejarah, saat ini sudah ada tepat di hadapan mereka.
"Hai para keturunanku!" Heldir menyapa mereka dengan melambaikan tangan dan tersenyum ramah.
"A-apa aku sedang bermimpi?" Kata Duncan masih tidak percaya dengan dengan pandangan matanya sendiri.
Buk!
Lucifer memukul kepala Duncan. Lucifer Mammon, dan Mikhael sudah kembali ke wujud asli mereka lagi.
"Aww itu sakit sial*n!" Gertak Duncan mengelus-elus kepalanya sendiri yang barusan dipukul Lucifer.
Duncan, Amir dan Katarina saling bertatap-tatapan terlebih dahulu, sampai akhirnya mereka pun segera bergerak ke arah Heldir dan akan segera bersujud. karena bagi mereka sosok Heldir selain sebagai moyang dan leluhur, tapi juga sudah seperti dewa. Karena Heldir sendirilah yang menciptakan umat mereka serta ilmu-ilmu yang sangat luar biasa, dan bahkan masih dipakai hingga sekarang.
"Hormat pada leluhur!" Seru mereka bertiga.
Ketika lutut mereka sudah sampai tanah dan akan menurunkan kepalanya juga, Heldir segera menahan mereka agar tidak bersujud padanya.
"Leluhur, pfft!!" Terdengar suara seseorang dibelakang Heldir yang tidak lain adalah Xio.
Mereka bertukar menoleh ke arah suara tersebut. Siapa yang sudah berani menertawakan leluhurnya?
"Ekhem! Jangan panggil aku leluhur, aku tidak ingin kedengaran Tua." Ucap Heldir. "Dan perkenalkan dia Xio rekanku. Ia seorang raja agung dari ras manusia dan juga yang sudah membangkitkan ku." Tambah Heldir.
"Rekan?" Wajah mereka bertiga seolah mengatakan 'berarti umurnya sudah tua?'
Heldir yang mengerti dengan ekspresi mereka, dan tidak ingin mendapatkan kemurkaan dari Xio, ia segera membantah mereka. "Tidak-tidak, umurnya masih 18 tahun. Tidak seumuran denganku."
Tentu saja mereka bertiga ternganga. Bagaimana di umurnya yang masih 18 tahun bisa menjadi seorang raja? Dan bagaimana ia bisa menjadi rekan leluhur mereka? Sedangkan leluhur mereka hidup berabad-abad tahun yang lalu. Tapi mereka berhenti bertanya-tanya karena sudah dapat mengira kalau Xio pasti memiliki latar belakang yang luar biasa. Melihat dari auranya yang berkarisma dan saat ia membunuh seorang malaikat dengan mudah tadi.
"Baiklah disini karena leluhur kalian adalah rekanku, maka dengan itu ras elf dan juga manusia akan menjadi rekan juga. Untuk lebih jelasnya biar nanti orangku yang menyampaikannya langsung pada kalian. Sekarang aku harus segera kembali ke kerajaan ku." Ucap Xio. Ia kemudian melirik ke ketiga bawahannya. "Kalian tetap disini dan bantu mereka." Perintahnya.
"BAIK YANG MULIA!" Sahut mereka bertiga.
"Oh ya kalian tidak perlu takut padaku kalau kalian menyukai seseorang. Aku tidak bilang kalian tidak boleh suka pada seseorang. Terutama kamu Lucifer, karena sepertinya kamu punya saingan." Ucap Xio melirik ke arah Karina kemudian ke arah Duncan. Lalu ia pun menghilang dari sana. Bahkan Heldir yang ingin berterimakasih pun belum sempat mengucapkan terimakasih.
***
Xio kembali muncul di dalam kamarnya dan Ellisa yang ada di istana. Kamar tersebut sangat Luas, disana terdapat ranjang berukuran besar dengan seprai putih dan selimut merah. Di dalam kamar tersebut memiliki 3 pintu lagi. 1 pintu menuju ruangan ganti Ellisa yang berisi penuh pakaian serta aksesoris miliknya, kemudian satu lagi ruangan ganti milik Xio, dan yang terakhir pintu menuju kamar mandi.
Xio melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi tersebut yang sama-sama luas. Didalamnya terdapat kolam berbentuk lingkaran dengan kedalaman hingga atas lutut. Kolam tersebut merupakan bak mandi yang biasa digunakan, baik itu sendiri atau berdua bersama Ellisa sambil menikmati kesegaran air. Salah satu dinding kamar mandi tersebut terbuat dari kaca, sehingga kamar yang terdapat di lantai atas itu dapat langsung melihat pemandangan kota yang ramai sambil berendam. Tidak lupa disana juga ditambahkan beberapa hiasan tanaman, agar udaranya semakin segar.
Xio berjalan ke arah bak mandi sambil melucuti pakaiannya satu persatu sampai akhirnya dia sudah telanjang bulat tanpa mengenakan sehelai pakaian pun, memperlihatkan tubuhnya yang kekar, putih mulus, dan tinggi. Dilangkahkannya kaki kanan terlebih dahulu turun kedalam bak mandi lalu disusul dengan kaki kirinya hingga permukaan air sudah menutupi ujung kakinya sampai kertas lutut.
Ia kemudian duduk bersandar pada pinggiran bak dengan sebuah guling kecil yang mengganjal belakang lehernya.
"Ahhh…akhirnya aku bisa berendam lagi. Walaupun terasa ada yang kurang." Ucapnya sambil memejamkan mata. Sesuatu yang kurang yang dimaksud Xio adalah Ellisa. Biasanya ketika selesai bergelut dengan berkas-berkas, dan ketika mau mandi, dia selalu ditemani oleh Ellisa untuk ikut berendam bersama atau hanya sekedar memijat tubuh Xio.
Xio mengeluarkan handphonenya dan melihat ada sebuah pesan lagi dari Ellisa yang dikirimkan tadi pagi. Segera ia pun membuka pesan tersebut yang ternyata sebuah beberapa pesan video yang lagi-lagi memperlihatkan Nathan dan Natassa.
Di Dalam video tersebut Ellisa ingin menunjukkan pada Xio kalau tadi pagi Nathan dan Natassa sudah mulai bisa berguling. Meski hanya seperti itu, Xio merasa bahagia dan bangga. Sebuah senyum gembira mulai terlukis di wajah tampannya yang bisa menaklukkan hati wanita manapun.
"Haha…" Xio tertawa gemas sambil terus memperhatikan layar handphonenya. 'Ternyata rasanya bisa sesenang ini melihat perkembangan anakku sendiri.' Ucapnya dalam hati.
Xio membalas pesan Ellisa dengan emoji hati yang sangat banyak sambil terkekeh. Lalu kemudian dia menelpon ayahnya.
Tutt! Tutt!
Panggilan dari Xio pun diangkatnya, dan bisa langsung terdengar suara Jhonatan diseberang panggilan.
"Halo nak, apa kamu sudah mulai merindukan ayah?" Kata Jhonatan dengan percaya dirinya.
"Ayah, apa ayah sedang bersama istriku?"
"Huhh kukira kamu rindu dengan ayah. Iya sekarang ayah sedang bersama Ellisa. Memangnya kenapa?"
...****************...
...BERSAMBUNG...