
...----------------...
Saat Ellisa masih di perjalanan menuju Colloseum, Xio tiba-tiba saja muncul di dalam kereta dengan badan yang basah kuyup serta terlihat Ekspresi wajah Xio yang suram dan juga sedang cemas.
"Xio Kamu sudah pulang. Kenapa kamu basah seperti ini?, Apakah ayah juga sudah pulang?" Tanya Ellisa bertubi-tubi.
"Ellisa Ayah..." Xio menunduk dan tidak melanjutkan perkataannya.
"Ayah?, Kenapa dengan ayah?" Tanya Ellisa menjadi cemas begitupun dengan Rose dan Jhonatan karena melihat Xio yang seperti itu
"Sebaiknya kita kembali ke istana dulu." Kata Xio dan semua orang berada didalam kereta pun seketika sudah berada di Istana, mereka juga dapat melihat para bawahan Xio beserta prajurit yang basah kuyup dengan ekspresi sedih.
"Nenek, tolong jaga anak-anak dulu disini, Ellisa dan ayah ayo ikut aku." Kata Xio diangguki oleh Rose dan Jhonatan, tapi tidak dengan Ellisa.
"Xio kenapa kamu tidak menjawabku?, katakan dulu apa yang sebenarnya terjadi pada ayah?!, kenapa aku tidak melihatnya disini, bukankan ayah ikut bersamamu?" Lagi-lagi Ellisa menjatuhkan pertanyaan yang bertubi pada Xio dan tidak ada yang dijawabnya samasekali sehingga membuat Ellisa kesal dan langsung pergi untuk mencari Arthur sendiri katanya.
Ellisa bertanya pada para bawahan Xio satu-persatu, namun mereka pun sama saja tidak menjawab. Xio sebenarnya ingin langsung memberitahu kondisi Arthur tapi ia takut kalau Ellisa tidak tahan melihat kondisi ayahnya saat ini jadi ia pun sedikit ragu.
Xio menarik tangan Ellisa dan merangkul pinggangnya, "Apa?, Jangan menyentuhku kalau kamu tidak bisa bicara." Kata Ellisa Langsung di peluk oleh Xio.
"Bukannya aku tidak mau bicara sayang, tapi apakah kamu yakin ingin melihat ayah?" Ucap Xio.
"Yah cepatlah!, Apakah kamu tidak tahu saat ini aku sedang khawatir." Jawab Ellisa.
"Baiklah." Kata Xio dan mereka pun menghilang dari sana, Kemudian muncul kembali didalam sebuah ruangan yang disana terlihat ada sebuah kasur dengan sesosok orang yang mereka kenali diatas kasur tersebut. Tapi saat ini sosok tersebut terlihat sangat mengenaskan dengan sebagian tubuh yang terlihat habis terbakar dan juga Kedua tangan yang sudah tidak ada di tempatnya.
Ellisa langsung berlari kearah sosok tersebut yang tidak lain dan tidak bukan yaitu Arthur. Ellisa mencecek kondisi tubuh Arthur sambil memanggil manggil nama ayah dan tentu saja saat ini ia juga sedang menangis. Ketika mengecek detak jantung Arthur, Ellisa tiba-tiba saja langsung terduduk lemas.
"Tidak, tidak, ayah tidak mungkin!" Ellisa menangis tersedu-sedu dilantai. Xio berjalan kedekatnya kemudian memeluknya dari belakang.
"Maafkan aku Ellisa, Aku tidak bisa melindungi ayah. "Ucap Xio lirih. "Kamu boleh marah kepadaku!, dan lampiaskan lah saja semuanya padaku." Lanjutnya, tapi tidak mendapatkan respon apapun dari Ellisa. Ketika Xio mengeceknya, ternyata Ellisa sudah pingsan.
Xio pun langsung memangku Ellisa dan membawa kekamarnya kemudian membaringkannya di kasur. Xio kemudian mencium tangan Ellisa yang sedang tak sadarkan diri.
"Bagaimana aku bisa melindungi keluargaku, sedangkan melindungi satu orang saja tidak bisa." Gumam Xio dengan lirih dan menatap wajah Ellisa sendu.
Xio pun memberikan telepati kepada para bawahannya untuk segera menyiapkan pemakaman untuk Arthur nanti sore, dan Xio juga menyuruh salah satu bawahnnya pergi ke Colloseum untuk mengumumkan kalau kompetisi akan di undur menjadi beberapa hari lagi.
Beberapa jam kemudian, Ellisa pun mulai nampak membuka matanya dengan perlahan dan yang pertama ia lihat adalah Xio yang sedang tertidur sambil duduk dilantai dengan tangannya yang menggenggam tangan Ellisa erat.
Karena merasakan pergerakan, Xio pun juga ikut terbangu dan ia Melihat Ellisa yang sedang menatap dirinya tapi seperti tatapan kosong.
"Sayang apakah kamu marah padaku?" Tanya Xio dan dijawab gelengan kepala Oleh Ellisa walaupun dengan tatapan nya yang masih terlihat hampa. Xio Berdiri kemudian duduk disamping Ellisa dan memeluknya erat. "Kamu ganti baju dulu, karena kita harus menghadiri pemakaman ayah." Kata Xio beranjak dari kasur dan langsung mengambil pakaian gantinya. Selesai ganti pakaian, Xio melihat Ellisa yang masih duduk di kasur dari tadi dan tidak bergerak sama sekali.
Xio memutuskan untuk menggantikan pakaian Ellisa oleh dirinya sendiri. Selama menggantikan pakaian Ellisa, Ellisa sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Xio pun langsung menuntun Ellisa berjalan keluar kamar untuk bertemu dengan yang lainnya. Merekapun Akhirnya sampai dan terlihat Leon dan Lena yang sedang menangis disamping Jhonatan karena mereka sudah diberitahu kabar kematian Arthur tapi tidak di perbolehkan melihat keadaan Arthur karena Xio yang melarangnya. Ketika melihat Xio dan Ellisa, mereka langsung berlari kearahnya dan memeluk Xio serta Ellisa.
"Papah apakah benar kakek Arthur sudah tidak bersama kita lagi?" Tanya Leon diangguk-angguki oleh Lena. Xio langsung memangku keduanya dan mengelap air mata mereka berdua.
"Kakek Arthur akan selalu bersama dengan kita, tapi kali ini kakek Arthur hanya akan memperhatikan kita dari atas." Ucap Xio.
Xio kemudian melirik kearah Jhonatan yang juga terlihat sedang sedih karena ia pasti merasa kehilangan saudara dekatnya. Rose berjalan kedekat Ellisa dan ia pun juga membantu menenangkan Ellisa.
Sore hari tersebutpun dilakukan acara pemakaman Arthur dengan suasa duka snagat terasa ketika pemakamannya berlangsung, begitupun dengan para warga iblis yang ikut berduka karena mereka mengenal Arthur sebagai raja mereka ketika masih berada di benua iblis.
Selesai Acara pemakaman, Xio menuntun Ellisa untuk kembali kekamarnya, di sepanjang perjalanan Xio terus mencoba mengajak bicara Ellisa tapi hanya dijawabnya dengan anggukan dan juga gelengan kepala saja.
Sesampainya di kamar, Xio langsung mendudukan Ellisa diatas kasur. Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar dan ketika Xio melihatnya ternyata seorang pelayan yang mengantarkan makanan karena tadi Xio yang menyuruhnya. Xio menyuruh pelayan itu untuk kembali dan ia pun langsung membawa makanannya kedalam kamar, dan kemudian duduk di kursi disamping kasur.
"Sayang ayo makan dulu ahhh." Kata Xio menyendok makanannya berniat untuk menyuapi Ellisa, tapi Ellisa sama sekali tidak mau membuka mulutnya.
Xio menyimpan kembali sendoknya. "Kamu jangan banyak pikiran sayang, apakah kamu tidak kasihan dengan anak-anak kita?" Kata Xio mengelus perut Ellisa.
"Ehhmm baiklah." Jawab Ellisa akhirnya membuka mulutnya sehingga membuat Xio tersenyum.
"Ayo ahhh." Xio kembali menyendok makanannya dan kali ini Ellisa pun mau memakan makanannya. Dengan semangat Xio pun menyuapi Ellisa sampai makanannya habis dan Menyimpan bekas makannya di atas meja.
Xio kemudian naik keatas kasur dan berbaring di samping Ellisa.
"Sayang jangan merasa ditinggalkan karena ayah pasti bahagia diatas sana dapat bertemu kembali dengan ibu dan mereka sekarang pasti sedang memperhatikan kita diatas sana." Ucap Xio.
"Kamu benar, ayah mungkin sekarang bahagia karena bertemu dengan ibu kembali." Kata Ellisa memeluk Xio d Ngan membenamkan wajahnya di dada bidang Xio.
Xio mengecup kening Ellisa. "Hmm terlalu banyak pikiran tidak baik untuk kesehatanmu dan anak-anak." Ucapnya.
Xio pun pada hari itu bertekad dalam hatinya untuk memperkuat kekuatannya lagi agar tidak kehilangan orang-orang terdekatnya.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG