
...----------------...
"APA YANG KAU KATAKAN?!" Bentak Fellis. "Beraninya kau menghina Tuanku. Kalian bisa bertahan hidup disini karena dibiayai oleh nyonya Rose, dan sekarang kamu sudah berani mengatai cucu dan juga penerusnya? Apa kamu ingin menjadi gelandangan lagi?" Lanjutnya.
Semua orang yang ada di situ tersentak karena baru tahu kalau pria itu merupakan cucunya Rose sekaligus penerus organisasi besar yang mendunia. Bahkan Morron pun baru tahu kalau Xio cucunya Rose.
"Apa yang kamu tunggu? Cepat minta maaf!" Morron menggertak laki-laki yang mengatai Xio tadi.
"Tapi tetap saja, dilihat dari penampilannya saja dia tidak cocok ikut pertempuran." Jawab laki-laki tersebut.
"Terlalu membuang-buang waktu. Cepat katakan saja dimana lokasi David." Kata Xio berjalan ke dekat meja yang terdapat denah peta negara diatasnya. Dia berjalan sambil melepaskan mantelnya mengabaikan laki-laki yang barusan mengkatainya.
Sekarang terlihatlah badannya yang atletis karena Xio mengenakan sweater rajut yang menunjukkan otot-otot tubuhnya.
"Kenapa kalian malah bengong? Cepat tunjukkan lokasinya, aku tidak mau menyia-nyiakan waktuku." Kata Xio menyadarkan mereka yang tercengang dengan tubuh atletis Xio. Karena mereka pikir wajah Xio yang seperti model tidak akan memiliki badan yang sempurna seperti itu.
"Ah! Baik Tuan!" Seru Morron segera berjalan ke dekat meja itu juga.
Xio menyerahkan mantelnya barusan ke Fellis dan kemudian mendengarkan arahan dari Morron.
Dari yang dia dengarkan, ternyata lokasi David sekarang berada di dalam hutan. Selain itu jalan menuju kesana juga dipenuhi dengan ranjau yang mematikan.
"Apa pemerintah tidak mencurigainya?" Tanya Xio.
Morron menggelengkan kepala. "Mereka pasti sudah mencurigainya dari dulu, tapi negara ini sudah seperti mainan di atas telapak tangannya. Dia bisa melakukan apapun semaunya." Jawabnya.
"Lalu bagaimana dengan tempat ini? Apa masuk ke dalam kekuasaannya juga?" Tanya Xio lagi.
"Tempat ini tidak termasuk daerah kekuasaannya, karena mendapatkan perlindungan dari Nyonya Rose. Entah kenapa dia belum pernah menyentuh wilayah ini, padahal kekuasaannya sekarang sudah sampai negara-negara terdekat."
"Hmm... baiklah, persiapkan semuanya sekarang. Kita berangkat dalam 30 menit." Tegas Xio.
"Baik Tuan." Jawab Morron.
"AYO SEMUANYA BERSIAP-SIAP!"
"KITA AKAN MEREBUT KEMBALI KEBEBASAN NEGARA KITA!" Tegas Morron dijawab seruan juga oleh para rekannya.
"Persiapkan pasukan nenek juga. Dan kalau sudah siap langsung pergi saja dengan pasukan Morron." Kata Xio pada Fellis.
"Baik Tuan...tapi...memangnya tuan mau kemana?" Tanya Fellis.
"Kamu tidak perlu tahu." Jawab Xio langsung berjalan ke arah pintu keluar meninggalkan Fellis.
Cklek! Suara pintu tertutup bersamaan dengan lenyapnya Xio dari sana seketika, dan tidak ada yang melihat atau menyadarinya sama sekali.
.
.
.
.
.
Sementara itu di dalam rumah Xio, atau lebih tepatnya di kamar Jhonatan. Terlihat hari disana sudah cerah, karena perbedaan waktu Indonesia dengan negara yang Xio datangi lumayan cukup banyak.
Diatas ranjang, Jhonatan terlihat sudah sadarkan diri dan sedang duduk bersandar di sandaran ranjangnya. Dengan Leon dan Lena yang tertidur di samping kiri dan kanannya.
Karena saat Xio pergi tadi sudah malam sekali, jadi Rose menyuruh anak-anak untuk tidur duluan karena dia tidak apa-apa menunggu Jhonatan bangun sendirian dengan begadang. Tapi Leon dan Lena tatap mau menemani Jhonatan, jadi Rose pun membiarkan mereka tidur dengan Jhonatan.
Sekarang sudah pagi dini hari, terlihat Rose datang kembali ke kamar Jhonatan dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat bubur, serta air putih.
"Ma'am istirahatlah...tidak usah repot-repot…" Kata Jhonatan.
"Tidak apa-apa...memangnya siapa lagi yang akan mengurusmu disaat begini? Ellisa harus mengasuh bayi-bayinya, Xio sedang mengurus sesuatu." Ucap sambil berjalan lalu duduk di kursi yang terdapat di samping ranjang dan meletakan nampan tadi di atas rak.
"Memangnya apa yang sedang Xio urus pagi buta begini?" Tanya Jhonatan.
"Adalah itu, kamu makan dulu saja buburnya."
"Tapi aku tidak suka bubur."
"Mau dimakan, atau mau dipaksa?!" Tegas Rose.
"Emm...tanganku lemas...aku mau di suapin." Kata Jhonatan seperti anak kecil, membuat Rose geli melihatnya. Om-om seperti dia bertingkah seperti anak kecil.
"Huhh! Baiklah-baiklah, kamu ini selalu saja menyusahkan." Jawab Rose mengambil mangkuk bubur diatas nampan tadi dan mulai menyuapi Jhonatan dengan terpaksa.
"Hehe..aku jadi ingat Mam dan Pops dulu." Jhonatan terkekeh. Melihat Rose menyuapinya, mengingatkan dia ketika masih tinggal bersama dengan Azril dan Rose di LA. Setiap makan bersama, Sering sekali Azril meminta Rose untuk disuapi. Dan rose pun harus menurutinya dengan terpaksa.
"Mam...apa boleh aku menceritakan masalahku? Kurasa jika menceritakannya pada mam, bebanku akan sedikit berkurang." Kata Jhonatan seperti anak sekolah yang ingin mengatakan masalahnya di sekolah pada ibunya.
"Tidak perlu kamu kamu mengatakannya pun, aku sudah tahu semuanya." Jawab Rose.
"Haha...aku lupa kalau Mam seorang pemimpin organisasi besar di dunia." Jhonatan tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apa Mam sudah mengatakannya pada Xio juga?" Tanyanya.
"Sayangnya Xio juga sudah mengetahuinya sebelum aku mengatakannya…………." Jawab Rose kemudian mengatakan semua kebenarannya juga yang membuat Wajah Jhonatan terlihat emosi.
"TUA BANGKA SIAL*N!" Jhonatan memukul sandaran kasurnya lupa kalau ada Leon dan Lena yang sedang tertidur, sehingga membuat mereka pun terbangun.
"Kakek membangunkan kalian yah…?" Kata Jhonatan mengelus kepala Leon dan Lena.
"Kakek! Kakek sudah bangun?!" Seru Leon dan Lena. Jhonatan mengangguk dan langsung dipeluk oleh mereka berdua.
"Haha iya sayangku…kakek sudah bangun." Jhonatan membalas pelukannya.
"Apa kepala kakek masih sakit?" Tanya Lena.
"Tidak, kepala kakek sudah baikan berkat perban dan plester merah muda ini." Jawab Jhonatan menunjuk perban di dahinya. Jhonatan tahu kalau yang memberikannya plester berwarna merah muda itu adalah Lena.
.
.
.
.
.
Sedangkan di kamar bayi, saat ini Ellisa terlihat sedang berdiri di sisi kedua ranjang bayi sambil memperhatikan bayi-bayinya yang sedang asik bermain sendiri-sendiri.
"Xio sedang apa ya sekarang?" Gumam Ellisa.
"Kurasa dia sedang merindukan istrinya." Tiba-tiba saja ada yang memeluk Ellisa dari belakang.
"Untuk apa merindukanku? Kan...disana juga ada wanita."
"Tapi yang dia mau cuma istri cantiknya saja." Pelukannya semakin erat, dan hembusan nafasnya terasa jelas di telinga Ellisa.
Ellisa membalikkan badannya dan membalas pelukannya. Dia sudah kenal betul dengan suara dan sensasi pelukan tadi yang tidak lain dan tidak bukan yaitu Xio.
"Kenapa kamu cepat kembali nya? Apa disana sudah dibereskan semua?" Tanya Ellisa masih dalam pelukan Xio.
"Kan aku tadi sudah bilang, aku rindu istriku yang cantik ini." Jawab Xio sambil mencium kening Ellisa.
"Huff...menggodaku lagi…" Dengus Ellisa memalingkan wajahnya sambil cemberut.
"Haha...kamu lucu sekali kalau sedang cemberut." Kata Xio mencubit gemas pipi Ellisa.
"Aku kembali kesini sebentar ingin mengajakmu dan anak-anak ikut denganku. Kita sekalian liburan saja disana, bagaimana?" Lanjutnya.
"Emm baiklah. Kalau begitu aku akan mengemas pakaian dulu."
"Tidak perlu, disana sudah tersedia semua, sekarang kamu tinggal ganti pakaian saja, gunakan pakaian yang tebal karena disana musim dingin." Ujar Xio.
"Okeh sayang." Jawab Ellisa mencium pipi Xio sekilas dan segera berjalan ke lemari yang berada di sisi lain ruangan.
Xio wajahnya merona sambil menyentuh pipinya sendiri yang baru saja dicium oleh Ellisa. 'Walau sudah pernah lebih dari kecupan pipi, tapi tetap saja aku merasa bahagia kalau Ellisa yang melakukannya.' Batin Xio tersenyum.
"Oh iya...apa ayah sudah bangun?" Tanyanya.
"Baik istriku." Sahut Xio mencium Nathan dan Tassa lalu langsung berjalan keluar ruangan.
.
.
.
.
.
Kembali ke kamar Jhonatan. Jhonatan terlihat sedang menceritakan sesuatu pada Leon dan Lena sambil masih di suapi oleh Rose.
"Haha...iya dulu kakek pernah bertarung dengan 5 orang preman yang menggoda nenek kalian hanya menggunakan tangan kosong."
"Preman-preman itu bahkan sampai di bawa ke rumah sa-"
Cklek!
Cerita Jhonatan terhentikan dengan suara pintu kamar yang terbuka. Ketika melihat yang masuk adalah Xio, dia terdiam sejenak, dia menatap Xio dengan ekspresi penuh makna.
Jhonatan sudah mendengar dari Rose kalau Xio pergi ke negara X untuk membalaskan perbuatan David padanya. Tentu saja dia senang karena Xio mau membalaskan dendam untuk dirinya.
"Ayah, apa ayah sudah merasa baikan?"
Lamunan Jhonatan tersadarkan dengan Xio yang ternyata sudah duduk di pinggir ranjang.
"Yah ayah udah baik-baik saja, bahkan lebih dari itu! Ayah seperti diberikan kehidupan lagi." Jawab Jhonatan tersenyum gembira.
"Hmm?" Heran Xio. Memang benar saat ini Jhonatan terlihat lebih cerah dari biasanya.
"Berikan ayah pelukan…" Kata Jhonatan. Xio pun menurutinya dan memeluk Jhonatan sebentar kemudian melepaskannya lagi.
"Ayah senang masih diberikan kesempatan untuk menemanimu...ayah bangga kamu bisa tumbuh sampai seperti sekarang ini tanpa ada ibumu." Kata Jhonatan memeluk Xio lagi, tapi kali ini terlihat wajahnya yang haru. "Terimakasih sudah hadir dan menjadi bintang untuk ayah dan ibumu... terimakasih juga sudah jadi alasan ayah agar tetap hidup di dunia..." Ucap Jhonatan masih memeluk Xio.
Xio yang tidak tahu dalam rangka apa Jhonatan menjadi seperti itupun, hanya membalas pelukannya sambil mengelus-elus punggungnya.
Grep!
Tiba-tiba saja ada yang ikut memeluk mereka berdua, yaitu Leon dan Lena.
"Ekhemm..!" Rose berdehem.
"Eh!!" Terkejut Rose, karena tiba-tiba dia merasa ada yang mendorongnya ke depan sehingga dia pun ikut berpelukan. pelakunya tidak lain adalah Xio yang menggunakan bayangan untuk mendorong Rose.
'Walaupun aku tidak mereka tidak memiliki silsilah keturunanku, tapi semuanya terasa seperti keluarga sungguhan.' Ucap Rose dalam hati. Dia dapat merasakan keluarga sungguhan hanya dalam sebuah pelukan.
"Dalam rangka apa semuanya berpelukan?" Kata Ellisa yang baru saja tiba sambil membawa Nathan dan Tassa di atas kereta bayi.
"Ellisa kemari dan bergabunglah." Kata Rose.
Ellisa pun berlari kecil sambil mendorong kereta bayinya dan kemudian ikut memeluk mereka walaupun tidak tahu apa yang sudah terjadi.
.
.
.
.
.
Setelah acara pelukan keluarga tadi, sekarang mereka semua terlihat sudah siap mengenakan pakaian hangat untuk pergi bersama dengan Xio.
"Papah, kenapa kita mengenakan pakaian yang hangat seperti ini?" Tanya Leon yang berada di pangkuan lengan Xio sebelah kiri, sedangkan sebelah kanannya memangku Lena.
"Papah kasih clue deh, tempatnya penuh dengan warna putih." Jawab Xio.
"Kutub!" Seru Lena.
"Benar! Dikutubkan penuh dengan es berwarna putih dan ada beruang kutub juga." Tambah Leon.
Alis Xio berkedut mendengar jawaban mereka berdua. Walau memang tidak salah juga karena di kutub penuh dengan warna putih. Tapi siapa juga yang berpikir untuk pergi ke tempat sedingin itu.
"Bukan kutub sayang...pokoknya nanti kalian lihat saja deh." Kata Xio menggeleng-gelengkan hidungnya gemas di pipi Leon dan Lena bergantian.
"JHONATAN! APA KAMU SUDAH SELESAI?!" Teriak Rose memanggil Jhonatan yang sedang bersiap-siap untuk ikut dengan Xio.
"YESS! MA'AM!!" Sahut Jhonatan yang tidak lama datang dengan membawa ransel kecil.
"Jhonatan kenapa kamu lama sekali? Memangnya apa yang kamu bawa?" Tanya Rose, karena semua orang tidak ada yang membawa barang kecuali dirinya.
"Ah itu barusan aku lupa menaruh kameraku...tapi untungnya sudah ketemu!" Jawab Jhonatan mengangkat tas di tangannya.
"Sudah tua pun kamu masih narsis." Kata Rose menggelengkan kepalanya.
"Mam...ini bukan narsis, tapi untuk mengabadikan momen. Benar kan anak-anak?"
"BENAR!!" Sahut Leon dan Lena mengacungkan ibu jarinya.
"Yah terserahlah." Pasrah Rose.
"Hmhm.." Xio terkekeh kecil. "Kemari mendekatlah, kita akan berangkat sekarang." Ucapnya. Rose dan Jhonatan pun berdiri di dekat Xio, begitupun dengan Ellisa yang dari tadi sudah berada disisinya.
"AYO KITA PERGI!!" Seru Xio, Leon dan Lena.
Seketika di sekeliling mereka diselimuti dengan bayangan hitam dengan sedikit cahaya. Tidak lama kemudian udaranya sedikit menjadi dingin, dan ketika bayangan yang tadi menyelimutinya sudah hilang, mereka semua sudah berdiri di depan mansion yang di sekitarnya dikelilingi salju putih bersih dengan beberapa pohon tinggi.
Walaupun disana masih malam hari, tapi karena lampu-lampu yang terpancar dari dalam dan luar rumah, membuat sekitarnya menjadi cerah juga.
"Wahh salju!!" Seru Leon dan Lena turun dari pangkuan Xio dan mencoba untuk menyentuh salju yang ada di lantai.
"Ayah, tolong temani anak-anak dulu, aku mau mengantar Ellisa dan para bayi untuk kedalam." Kata Xio karena tidak baik bagi bayi berada di luar rumah ketika turun salju.
"Oh iya... anak-anak lihat kemari!" Jawab Jhonatan sedang asik memotret Leon dan Lena.
"Ayo sayang. Biar aku saja yang membawanya" Kata Xio dijawab anggukan oleh Ellisa.
Xio langsung memangku Nathan dan Tassa. Dan kemudian berjalan memasuki mansion dengan Ellisa yang menggandeng lengannya.
Setibanya di dalam mansion, terdapat ruangan yang ada cerobong asapnya, seperti ruangan untuk berkumpul keluarga. Disana juga sudah ada dua keranjang bayi yang sepertinya memang sudah disiapkan oleh Xio.
"Sayang ini mansion siapa?" Tanya Ellisa.
"Ini mansion punyanya kakek Azril...nenek juga pasti sudah menyadarinya." Jawab Xio.
"Oh ya sebentar lagi aku akan pergi lagi, kalau kamu butuh sesuatu panggil saja maid yang ada disini." Ucap Xio menidurkan bayinya di ranjang dan langsung memangku Ellisa di depannya.
"Aku berjanji akan kembali secepat mungkin." Lanjutnya menatap mata Ellisa dan langsung mencium bibirnya. Sebenarnya Xio tidak ingin melepaskan ciumannya dan ingin terus seperti itu, tapi mengingat tidak lama lagi pasukan Morron serta Fellis akan berangkat ke markasnya David, dia pun terpaksa harus menunda waktu intimnya dengan Ellisa.
Ketika Xio melepaskan ciumannya, wajah menggoda Ellisa yang menginginkan lebih terlihat jelas dihadapannya.
"Maaf yah sayangku...kita tidak bisa melakukannya sekarang." Ucap Xio menurunkan Ellisa dari pangkuannya dan lalu menyibak rambut Ellisa kebelakang.
"Emm...tidak apa-apa. Kalau nanti kamu sudah kembali, aku mau kamu membuatku puas." Jawab Ellisa tersenyum manis sangat cantik.
"Baiklah kalau begitu aku berangkat dulu yah...minumlah pil yang ada di laci agar tetap hangat, berikan juga pada ayah, nenek dan anak-anak." Kata Xio tersenyum memperlihatkan gigi mengecup kening Ellisa, dan kemudian menghilang dari sana.
...----------------...
"Benarkan, sudah aku katakan tuan barumu itu pasti saat ini sedang………
...****************...
...BERSAMBUNG...