
...----------------...
Ditengah Colloseum ada sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu nampak melayang ke ke langit, semakin tinggi kotak tersebut melayang sampai akhirnya tutup dari kotak tersebut terbuka dan ada sebuah benda lagi seperti cincin yang melayang keluar dari dalam kotak.
Awan-awan yang tadinya diam dengan tenang dipangit, dengan seketika Awan-awan tersebut berputar diatas langit membentuk spiral atau biasa di sebut dengan awan Vortex dengan titik yemgahnya berpusat pada cincin tadi.
Tentu saja semua orang tercengang melihat fenomena tersebut lantaran terlihat sangat indah. Berbeda dengan Xio yang dengan para bawahannya yang bisa merasakan keberadaan yang sangat kuat sedang mendekat.
Karena berasa ada sesuatu yang buruk akan keluar dari cincin tadi, Xio pun melemparkan pedangnya dengan sekuat tenaga kearah cincin tersebut.
Ketika ujung pedangnya sudah bertemu dengan cincin tersebut, terdengar suara dentingan yang sangat keras tapi juga terlihat pedang Xio malah jatuh kebawah sementara cincin itu hanya bergetar sedikit saja.
Tak lama kemudian keluarlah beberapa cahaya dari dalam bulatan cincin tersebut yang melayang kelangit hingga menutupi Seluruh bagian atas Colloseum. Tidak berselang lama, cahaya-cahaya itu mulai berubah membentuk sosok makhluk-makhluk bersayap dan diantara semua sosok tersebut, Xio dapat merasakan ada salah satu dari sosok-sosok tersebut yang sangat kuat lebih dari yang lainnya.
Sosok tersebut memiliki penampilan seperti laki-laki yang sudah tua dengan 4 sayap di di punggungnya berbeda dengan yang lain, yang hanya memiliki 2 sayap saja di punggung mereka dan sudah tidak diragukan lagi kalau makhluk-makhluk bersayap tersebut adalah para ras malaikat.
"Sayang jangan jauh-jauh dariku dan pegang anak-anak juga." Ucap Xio diangguki oleh Ellisa yang langsung menggenggam tangan Leon dan Lena.
Xio lalu mengirimkan telepati pada para bawahannya untuk menjaga Jhonatan dan Rose serta berjaga-jaga kalau misalnya para malaikat tiba-tiba melakukan penyerangan.
Dari kerumunan malaikat-malaikat itu keluarlah seorang wanita yang mirip sekali dengan wanita yang saat itu terlihat dibalik cermin, tapi Xio belum tahu siapa wanita dengan pakaian terbuka tersebut.
"Halo suamiku..!" Ucap wanita tersebut melambaikan tangannya sambil tersenyum genit kearah Xio.
Xio mengerutkan Alisnya marah sekaligus kesal karena di sebut "Suamiku" oleh orang lain selain Ellisa.
"Beraninya ******* sepertimu memanggilku seperti itu!!" Gertak Xio.
"Pasti j*lang itu sudah membutakanmu!" Ucap wanita tersebut menunjuk dan menatap Ellisa dengan sinis. "Adiku mati Gara-gara wanita murahan sepertimu, dan gara-gara kamu juga Xi-" Belum juga menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja ada sebuah energi berwarna hitam yang melesat secepat cahaya dan berhasil membuat tangan dan sayap kanan wanita tersebut terpisah.
Sudah dapat diketahui kalau yang membuat energi tersebut adalah Xio karena dilihat dari wajahnya saja Xio terlihat sedang tidak senang. Itu semua karena wanita tersebut yang Mengkata-Katai Istrinya sehingga membuat Xio sudah kehabisan kesabarannya.
Tapi dengan cepat tangan dan sayap wanita tersebut tumbuh
kembali seperti sedia kala.
"Xio Archon.." Pria bersayap empat membuka mulutnya. "Kamu hanya memiliki dua pilihan, Ikut bersama kami untuk menjadi Suami Brenda dengan tenang, atau kami harus menggunakan cara kasar agar kamu ikut." Ucapnya menyebut Wanita tadi yang ternyata bernama Brenda.
"Terimakasih ayahanda.." Ucap Brenda pada pria tersebut yang ternyata adalah ayahnya dan namanya yaitu Klause Vouch. Klause Vouch juga adalah ayah dari Erden yang saat itu pernah meracuni Ellisa.
Klause Vouch adalah Seorang malaikat btingkat tinggi yang saat ini menjadi pemimpin atau raja di alam para malaikat. Ia juga memiliki 2 orang anak yaitu Brenda Vouch dan Erden Vouch, tapi sayangnya Erden sudah mati terbunuh Oleh Xio ketika berada di benua iblis saat itu.
"Cuihhh!!" Xio Meludah. "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikah lagi!" Ucapnya.
"Xio.." Lirih Ellisa menggenggam jubah Xio.
"Tidak apa-apa sayang, tidak usah takut aku akan melindungi kalian." Kata Xio memegang tangan Ellisa sebentar dan kemudian menciptakan barrier yang mengelilingi Ellisa serta Leon dan Lena.
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan!!" Ucap Klause mengangkat satu tangannya keatas. Saat ia menurunkan tangannya kembali, Semua malaikat di belakangnya langsung mengeluarkan senjata mereka dan melesat kearah para penonton. Xio juga melihat Brenda yang sedang menuju kearah Ellisa dengan kecepatan tinggi.
Xio juga terbang melesat kearahnya dengan aura berwarna hitam dan putih yang menyelimuti dirinya. Xio berniat untuk menghalangi Brenda, tapi tiba-tiba saja Klause muncul diantara mereka berdua dan dengan seketika Klause dengan Xio menghilang dari sana. Sebelum menghilang, Xio melihat Brenda yang tersenyum licik kearahnya.
Pegunungan, dararatan dan lautan. ketiga itulah saat ini yang dapat Xio lihat di sekitarnya tidak ada yang lain selain itu.
Xio mencoba menggunakan Skill teleportasinya tapi ternyata tidak bisa, ia terus mencoba terus menerus tapi hasilnya tetap saja tidak bisa begitupun dengan cincin mereka. Saat ini Xio sedang khawatir kalau Ellisa kenapa-napa, karena ia tahu kalau level Brenda berbeda jauh dengan Ellisa.
"Percuma saja, kamu tidak akan bisa keluar dari ruangan dimensi ku." Tiba-tiba saja terdengar suara Klause yang menggema.
"S*alan!!, cepat keluarkan aku dari sini!!" Seru Xio. Ia mencoba mengeluarkan sihirnya kesegala arah berpikir Ruang dimensi itu akan menciptakan sebuah celah untuk keluar tapi lagi dan lagi hasilnya tetap sama saja, tidak ada perubahan sama sekali.
Bughh!!!
Tiba-tiba saja ada yang memukulnya dari atas dengan sangat keras, sehingga membuat Xio Terpental dengan sangat kencang kearah pegunungan dan menabrak beberapa gunung hingga hancur.
"Hahaha!" Klause tertawa. "Sebaiknya kamu khawatirkan dirimu sendiri, karena yang diluar sana sudah pasti akan diratakan." Ucapnya.
"Pengecut?, haha ini adalah yang namanya taktik." Ucap Klause.
Xio merasakan sedikit hawa keberadaan yang muncul dari belakangnya, "Pause." Gumam Xio dan dengan seketika waktu di sana berhenti. Xio langsung saja mengeluarkan banyak sekali pedang-pedang yang terbuat dari bayangan dan mengarahkannya kebelakang karena merasa kalau Klause akan muncul dari belakang.
Ketika Skill pause Xio sudah selesai, dugaan Xio benar kalau Klause muncul dibelakangnya dan semua pedang bayangan Xio berhasil mengenai tubuh Klause semuanya.
Xio tersenyum, tapi ia melihat Klause tersenyum juga yang kemudian menghilang kembali. Dari ujung bibir Xio terlihat ada darah yang keluar bedamaan dengan rasa sakit yang muncul di sekitar tubuhnya.
"Hahahaha...!" Klause tertawa. "Aku akui kamu memang hebat, tapi sayangnya di dalam ruang dimensiku sebua serangan yang aku terima akan kembali kepada yang menyerang sebesar sembilan puluh persen nya." Ucap Klause.
Xio melihat ternyata benar kalau saat ini sudah ada beberapa pedang bayangan yang menancap di tubuhnya. "Heukk!" Xio memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
'Sial bagaimana cara aku bisa keluar dari sini?' Batin Xio. Ia terus memikirkan cara untuk keluar dari ruang dimensi milik Klause itu.
"Oh lihatlah itu, sepertinya Brenda sudah berhasil menghancurkan Barriernya." Ucap Klause bersamaan dengan munculnya layar besar dipangit yang menunjukan kalau Brenda berhasil menghancurkan barrier yang Xio buat untuk melindungi Ellisa serta Anak-anaknya.
"Rupanya item yang kuberikan pada Brenda berguna." kata Klause. Sedangkan Xio saat Ini belum menyerah dan mengeluarkan semua skill-nya satu persatu menyerang kesegala arah berharap mengenai Klaus karena Xio pikir jalan satu-satunya untuk keluar dari sana yaitu dengan cara mengalahkan menglahkan pemiliknya.
Kurang Lebih sudah setengah jam Xio berada didalam sana, dan sudah beberapa kali juga serangannya berhasil mengenai Klause tapi semuanya malah menjadi senjata makan tuan, dan hanya bisa melukai Klause sedikit saja.
Dengan keadaan penuh luka, Xio melihat keaarah layar besar dilangit yang sedang menampilkan pertarungan sengit antara Brenda yang dibantu dengan malaikat lainya melawan Ellisa yang dibantu Oleh Leon dan Lena serta beberapa bawahan Xio.
Sakit, sakit sekali melihat Ellisa yang terluka apalagi mengingat kalau dirinya yang sedang mengandung.
Ingin, ingin sekali Xio membantu dan melindunginya tapi saat ini ia tidak tahu bagaimana cara Keluar dari ruang dimensi tersebut, bahkan kondisi tubuh Xio saat ini saja sudah penuh dengan luka-luka dari Skill-nya sendiri.
Deg!
Deg! Deg!
Deg! Deg!
Jantungnya berdetak dengan sangat cepat, tubuhnya seketika lemas dengan lutut yang sudah gemetar.
"Tidak!, Tidak!, Tidak!....." Xio terus berkata tidak dari mulutnya dengan mata bergetar menatap layar besar dilangit yang menampilkan Ellisa sedang terbaring dilantai dengan mata tertutup dan perut yang sudah bersimbah berdarah, lantaran ada sebuah kayu runcing menancap di perut Ellisa yang didalamnya ada dua insan yang merupakan calon buah hati mereka.
Leon dan Lena berlutut di samping Ellisa menangis sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ellisa dan memanggil namanya tapi tiba-tiba saja ada seseorang yang ingin menusuk Lena dari belakang menggunakan sebilah pedang. Bukan Lena yang terkena pedang tersebut tapi Leon lah yang tertusuk pedang didadanya karena melindungi Lena.
Hancur, benar-benar hancur.
Perih, benar-benar perih.
Hati Xio sudah tidak bisa menampung semua kesakitan yang ia saksikan dimana orang-orang tersayangnya meninggalkannya bersamaan sementara dirinya tidak bisa berbuat apapun sama sekali untuk menolong ataupun melindungi mereka.
Xio berpikir sudah tidak ada lagi alasan dia untuk hidup karena hidupnya tidak akan berasa dan hanya akan ada kehampaan saja jika tidak di temani oleh orang tercintanya. Tapi ia sadar kalau ia harus membalas puluhan, ratusan, tidak bahkan ribuan kali pun tidak akt cukup untuk menggantikan hidup istri dan anak-anaknya ayng sudah menjadi sepruh hidupnya.
Darah didalam tubuhnya seketika seperti sedang di didihkan, pupil mata serta kulitnya berubah warna, dari dahinya tumbuh dua tanduk berwarna ungu.
Saat ini Xio sudah membangunkan iblis dalam hatinya yang bernama "TENEBRACAS" Atau sang kehampaan karena hati dan pikirannya yang hampa sebab hanya bisa mengingat dendam serta siapa saja orang yang sangat di sayanginya bahkan tidak bisa mengingat siapa namanya sendiri.
Ruang dimensi Klause seketika hancur seperti kaca yang pecah. Perubahan wujud Xio berpengaruh pada Seluruh dunia juga yang membuat kegelapan menyebar kemana-mana.
Ketika Xio sudah keluar dari dalam ruang dimensi, Ia melihat Sekitarnya seperti mencari seseorang sampai pandangannya tertuju pada seorang wanita yang terbaring tidak sadarkan diri di lantai. Ia berjalan mendekati wanita tersebut yaitu Ellisa. kemudian Xio memangkunya dengan ekspresi yang masih datar dan meletakkannya ditengah-tengah mayat-mayat yang mengelilinginya. sementara semua malaikat-malaikat tadi sudah menghilang karena sudah dimasukkan kedalam ruang dimensi miliknya sendiri.
Xio menyentuh pipi Ellisa dengan wajah yang datar tanpa ekspresi tapi terlihat ada setetes Air mata keliar dari sudut matanya.
Xio berdiri sambil kemudian menatap kearah gelapnya langit dengan kedua tangan yang acungkan keatas. kilap kilapan peting berwarna ungu terlihat bermunculan dari atas langit dibarengi suara gemuruhnya yang sangat keras.
"OMNIS MO-" Belum menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja terdengar suara seorang yang mirip dengannya dari atas langit dengan penuh aura penuh cahaya sudah seperti cahaya yang paling murni.
"Sau-
...----------------...
...BETSAMBUNG...