
...----------------...
2 hari terlewati, Selama 2 hari itu juga Xio selalu bolak-balik dari bumi ke dunia Flix, hanya untuk memeriksa kerajaannya saja, Orangtua dari Kerajaan Blue feather juga sudah dipindahkan semua ke Kerajaan Regalia.
Dan Saat Ini Xio membawa Jhonatan, Arthur serta Leon dan Lena untuk pergi ke dunia flix karena hari ini adalah hari libur.
"Papah Lena dan kakak ingin berkeliling kerajaan boleh?" Ucap Lena.
"tapi kalian harus ditemani sebas." Kata Xio.
"Siap!" Jawab lena langsung menarik tangan Leon dan Sebas.
"Tunggu dulu, bawa ini juga!" Ucap Xio menyerahkan satu kantong koin emas.
"Terimakasih Papah!" Jawab Lena kemudian langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut diikuti oleh Leon dan Sebas.
Xio kemudian mengajak Jhonatan dan Arthur keluar juga untuk menemui para bawahannya yang sudah menunggu diluar.
"Salam yang Mulia!" Ucap para bawahan Xio serentak.
"Bagaimana apa kalian sudah menemukan hewan kontrak yang cocok untuk Lena?" Tanya Xio.
"Sudah yang mulia." Jawab mikhael kemudian menunjukan 2 hewan kecil yang lucu.
"Baguslah karena ada dua berarti yang satunya lagi untuk Leon. Lalu Jenis hewan apa mereka ini?" Tanya Xio.
"Mereka merupakan hewan Shinwa tapi masih sejenis dengan naga. Kami menemukan mereka berdua di benua Elf dan dapat diperkirakan kalau spesies mereka hampir punah." Jelas Mikhael.
"Xio memangnya untuk apa mereka?" Tanya Jhonatan.
"Tiga hari lagi Ulang tahun Leon dan Lena jadi aku berniat memberikan mereka berdua untuk hadiahnya." Jawab Xio.
"Tiga hari Lagi!!." Terkejut Jhonatan dan Arthur.
"Kenapa kamu tidak memberitahu ayah dari dulu, padahal ayah belum menyiapkan hadiah." Ucap Jhonatan.
"Bagaimana ini?, aku juga belum menyiapkan sesuatu!" Kata Arthur.
"Tenanglah ayah kan masih ada waktu, Leon dan lena juga pasti akan suka dengan apa yang diberikan ayah." Ucap Xio.
"Huff baiklah." Ucap Arthur dan Jhonatan mengelus dada lega.
"Yang mulia maafkan saya, Saya ingin bertanya apakah yang mulia baik-baik saja?, Soalnya saya selalu melihat ekspresi yang mulia sedang sedih." Ucap Leviatan.
"Aku baik-baik saja,Kalian sembunyikan dulu hewan hewan itu jangan sampai Leon dan Lena tahu." Jawab Xio kemudian langsung pergi meninggalkan mereka.
Pletakk!
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, sudah tahu yang mulia sedang sedih" Satan menjitak kepala Leviatan.
"Aww...Habisnya aku penasaran apa yang membuat yang mulia sedih." ucap Leviatan sambil mengelus kepalanya.
"Benar juga, Tapi kenapa aku tidak melihat nona Ellisa yah?,
Ditengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga yang sangat indah serta ditengah taman Tersebut terdapat pohon yang terlihat sangat sejuk, dan dibawah pohon tersebut terlihat Xio yang sedang duduk dengan memperhatikan batu yang biasanya diduduki oleh Ellisa.
Xio sedang membayangkan ketika wanita pujaan hatinya saat ini sedang duduk dihadapanya.
"Akan terasa lebih indah dan menyenangkan taman ini jika saat ini kamu berada disini dan tersenyum padaku." Lirih Xio kemudian mengeluarkan sebongkah batu marmer dengan ukuran setinggi orang dewasa.
Xio kemudian mengeluarkan alat-alat untuk memahat, Walaupun belum pernah memahat patung sebelumnya, tapi Xio yakin dengan kemampuannya. Setelah semua alat telah siap, Xio mulai memahat batu tersebut.
"Walaupun aku tidak terlalu hebat dalam memahat, namun hanya dengan membayangkan setiap bagian tubuhmu saja aku dapat merealisasikannya walaupun tidak akan sesempurna dengan aslinya."
"Aku membuat patungmu karena aku rindu ketika aku bangun tidur dan tersenyum padamu kemudian mencium keningmu."
"Mengantarkan Anak-anak sekolah dan melambaikan tangan padamu, aku pikir kita akan tetap bersama sampai hari tua nanti."
"Tapi Kenapa!!, Kenapa kamu mengatakan selamat tinggal padaku."
"Mungkin kamu tidak merasakan sesakit apa yang aku rasakan ini, Rasa sakit ini yang kedua kalinya aku rasakan setelah yang pertama kehilangan ibuku."
"Jika Tuhan memang ada lantas kenapa engkau selalu memberikan ku cobaan yang membuatku terpisah dengan wanita yang aku sayangi, akan sampai kapan Tuhan berlaku tidak adil padaku, akan seberapa banyak lagi cobaan yang kau sediakan untukku. Aku sudah tidak sanggup lagi menangani semua cobaan ini."
Begitulah Semua batinan Xio yang sangat menusuk hatinya, Sampai akhirnya ia selesai memahat bagian kepala yang menyerupai Ellisa.
Saat Xio memandang patung tersebut serta memegang pipinya, Tanpa sadar airmata mulai turun dari kedua matanya dan membasahi pipinya.
"Kenapa Tuhan Tidak pernah membiarkanku bahagia sebentar saja, Aku juga ingin merasakan bagaimana tumbuh tua bersama orang yang aku cintai bagaimna rasanya menjalani hidup bersama, jika ada yang harus disalahkan maka Tuhan lah yang harus aku salahkan karena telah mempermainkan takdirku." Lirih Xio kemudian mengelap air matanya.
"Papah lihatlah!!" Terdengar suara Lena.
"Mamah menjadi sangat cantik!" Suara Leon.
Saat Xio membuka matanya yang pertama ia lihat adalah patung yang tadi ia buat sudah memiliki mahkota bunga, dan di samping kiri kanan patung tersebut sudah ada Leon dan Lena yang tersenyum.
"Mamah kalian memang cantik dan juga yang tercatik didunia tidak ada tandingannya." Ucap Xio Tersenyum.
Mereka tidak menyadari kalau dari tadi para bawahan Xio serta Arthur dan Jhonatan sedang menguping. Mereka merasa terharu atas apa yang Xio alami karena mereka tahu bagaimana Cintanya Xio pada Ellisa, dan mereka juga merindukan kemesraan Xio dan Ellisa yang selalu bermesraan di hadapan mereka.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG