Cross The World With System

Cross The World With System
Apakah dendamnya berakhir?



...----------------...


Rintik hujan mulai mereda, pepohonan yang terbakar sudah padam. Yang tersisa hanya aroma tanah basah dan pertarungan atau peperangan yang belum berhenti.


Sebas saat ini sedang dihadapkan dengan seorang malaikat perempuan berambut pirang keemasan dan bersenjata jarum-jarum emas. Sudah beberapa waktu yang lalu ia bertarung dengan perempuan bernama Kia yang mengaku merupakan salah satu anggota dari guardian angel.


Guardian angel adalah 10 orang malaikat dengan kekuatan diatas rata-rata malaikat lainnya dan dibawah Klause.


Sebas menghentikan pertarungannya sebentar karena sadar kalau tuannya yang tadi bertarung dilangit tiba-tiba menghilang. Sedikit mencemaskan nya, tapi ia percaya kalau Xio tidak mungkin kalah. Sebab ia telah melihat sendiri perjuangan Xio berlatih dari waktu itu untuk bisa mengalahkan Klause.


"Lawan mu di depan sini tua bangka!" Kia yang melihat Sebas lengah segera meneranginya dengan ribuan jarum yang diarahkan padanya dengan cepat.


Sebas kembali menoleh ke arah lawannya dan ketika melihat ribuan jarum datang ke arahnya, ia segera membuat barrier.


"Golden:Threads!" Teriak Sebas tubuhnya langsung ditutupi dengan benang-benang emas hingga menjadi seperti kepompong. Sehingga ketika ribuan jarum itu tiba langsung terpental meskipun masih ada beberapa yang menancap dan menembus pertahanan Sebas.


"Khh!!" Sebas memegang lengan sebelah kanannya yang tertancap jarum, "Sial aku lengah." Ia pun segera mencabut jarum tersebut dari tangannya dengan sedikit kesakitan karena ukuran satu jarumnya saja sekitar 7 cm.


Ketika memegang jarum itu, Sebas sadar itu bukan jarum biasa dan sudah di lapisi racun. Jika terkena area vital atau pembuluh darah mungkin akan langsung mati. Untung saja hanya mengenai lengannya dan hanya membuat lemas serta kulit yang membiru di area yang terkena jarum tersebut.


Dari dalam lapisan benang emas itu Sebas bisa melihat langsung keluar sedangkan dari luar tidak akan melihat di dalamnya. Ia melihat perempuan tersebut sedang melesat cepat ke arahnya dengan sela-sela jarinya diisi oleh jarum-jarum yang lebih besar.


Ketika Kia sudah berada tepat di depan barriernya, Sebas dengan sangat cepat membuka barrier tersebut.


Kia yang tidak bisa melihat pergerakan Sebas barusan harus terkena tinjuan perut dari Sebas yang membuatnya sesak sekaligus kesakitan.


"Guhh!!" Kia terpukul mundur beberapa langkah sambil memegang perutnya lemas. Tidak cukup sampai disitu, Kia tidak menyadari kalau tinjuan Sebas barusan menyisakan sehelai benang emas di perutnya.


Sebas tersenyum, ""Golden:Supplicium!" Ucapnya.


Seketika sebuah benang emas di perut kia itu menembus masuk ke dalam perutnya membuat Kita berteriak kesakitan. Belum selesai, benang di dalam perutnya seketika berubah menjadi emas padat dan tebal seperti belati dan berputar di dalamnya memotong tubuh Kia seperti memotong mentega.


Tubuh Kia terpotong menjadi dua dengan bagian pinggang hingga kakinya terpisah dengan bagian tubuh atasnya. Tubuhnya tersebut lalu jatuh dari langit ke tanah dengan darah yang bercucuran serta kedua matanya yang membelalak meskipun sudah mati.


Sebas tidak mempedulikan mayatnya dan lebih memilih untuk membantu yang lainnya. Tapi sebelum pergi ia terlebih dahulu mengguyur lengannya yang terkena racun dengan sebotol cairan penawar racun. Setelah itu ia pun pergi.


Tidak hanya Sebas yang melawan guardian angel ternyata. Azco dan beberapa dosa serta kebajikan pun harus menghadapi 8 guardian Angel lagi lainnya. Sedangkan Heldir nampak sedang melawan puluhan malaikat sekaligus. Tidak seperti di mimpi Xio sebelumnya, kali ini para bawahannya mampu menyaingi kekuatan para malaikat tersebut, dan dalam keadaan menang.


Para warga sudah di evakuasi di depan portal, karena jika ke istana Heldir pasti ada pertarungan juga disana. Secara bergantian mereka dipindahkan ke kerajaan regalia untuk diberikan bantuan.


***


Sementara itu di dalam ruang dimensi Xio yang bernama "Chaos Domain" yang artinya domain kekacauan.


Seperti sedang diluar angkasa, disekitar domain tersebut terdapat planet-planet besar yang jumlahnya tak terhitung karena luas Domainnya pun tak terhingga.


Xio dan Klause mengapung di kehampaan seperti hanya sebuah titik kecil dibandingkan planet-planet yang besar tersebut. Klause merasa kalau seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan seperti ada yang mengikat tangan dan kakinya.


"Sial lepaskan aku!" Teriak Klause tapi Xio tetap pergi membelakanginya.


"Grahhh!!!" Klause sekuat tenaga berusaha untuk terlepas dari kekangan tersebut yang, tapi mau sekuat apapun tenaga yang ia keluarkan, tetap tidak ada hasilnya.


"Tidak akan ada yang bisa kamu lakukan di dalam dimensi ku. Semua yang ada disini sudah menjadi kehendak ku." Ucap Xio berdiri tepat di hadapan Klause dengan tatapan sinis dan tajam seperti ingin membunuhnya.


Buk!


Xio meninju dada Klause hingga membuatnya terpental mundur sangat jauh, dan punggungnya menabrak sebuah planet berukuran sedang yang seketika setengah permukaannya langsung retak seperti baru ditabrak meteor.


Klause merasa sangat sakit di area punggung dan dadanya. Tulang rusuk ditubuhnya rasanya hancur dan keempat sayapnya juga menjadi mati rasa. Belum puas sampai disitu, Xio tiba-tiba saja mengarahkan satu tangannya ke arah planet yang tidak jauh darinya. Lalu ia mengayunkan tangannya seraya planet tersebut bergerak sesuai arah ayunan tangannya.


Ia mengarahkan planet tersebut ke arah Klause yang masih terperangkap di planet yang ditabraknya tadi. Planet yang Xio gerakan sangat cepat melesat sehingga Kedua planet tersebut saling beradu membuat suara ledakan yang sangat besar dan membuat telinga sakit. Jika orang biasa mungkin tidak akan kuat dan mengeluarkan darah dari telinganya mendengar suara tersebut. Tapi dia adalah Xio, tidak perlu menutup telinganya dia dengan santai melihat kedua planet tersebut hancur.


"Latihan kerasku untuk membuat domain ini tidak sia-sia." Xio tersenyum puas.


***


Diluar ruang dimensinya.


Saat ini semua bawahan Xio hampir memusnahkan semua ras malaikat dan hanya tersisa beberapa saja yang masih bertahan. Semuanya benar-benar mengeluarkan potensi mereka masing-masing terutama para dosa dan kebajikan. Sebab mereka tidak mau mengecewakan Tuan mereka yang sudah memberikan sumber daya pelatihan sampai mereka bisa sekuat sekarang.


Benua elf benar-benar seperti Medan perang dengan korban satu pihak tergeletak di mana-mana membuat  mereka jadi seperti lautan sayap putih yang telah menjadi keruh dan berdarah. Tidak ada korban jiwa dari pihak Xio karena mereka bisa saling melindungi dengan jumlahnya yang melebihi jumlah para malaikat. Ditambah lagi dengan bersatunya para elf saling bekerja sama sama menjadi tangguh. Meskipun beberapa ada yang mengalami luka-luka.


Menit demi menit telah berlalu, dan semua malaikat sudah musnah di tangan pasukan Xio. Bahkan guardian angel pun sudah dikalahkan oleh para dosa serta kebajikan dan juga Azco. Tapi baru 9 guardian angel saja yang mati, satu lagi entah kemana.


Kali ini semua orang menatap langit menunggu Raja mereka muncul kembali. Meskipun semuanya tahu sekuat apa rajanya, tapi mereka tetap khawatir sebab yang dilawannya adalah pemimpin langsung malaikat. Dia sendiri yang sudah membuat seluruh hutan elf terbakar hanya dengan sekali gerakan dan membuat rumah-rumah hancur.


Semuanya menengadah ke langit karena tahu tadi Xio sedang bertarung dilangit, tapi tiba-tiba menghilang. Semuanya menunggu dan berharap raja mereka baik-baik saja sampai tiba-tiba….


Sosok pria muda tampan dan gagah itu muncul di langit sambil menenteng tubuh Klause yang sudah hancur dan sayapnya yang berjumlah empat kini tinggal tersisa satu saja. Sebelum keluar dimensinya, Xio menyiksa Klause terlebih dahulu dengan mencabut, membakar, dan mematahkan sayap-sayap malaikatnya sampai akhirnya ia menancapkan pedang tepat di jantung Klause yang membuatnya mati seketika.


 Xio sebenarnya membawa mayat Klause untuk menunjukkan pada para malaikat lainnya kalau pemimpin mereka telah dikalahkan, tapi ternyata semua malaikatnya saja sudah musnah.


"HIDUP YANG MULIA!!!" 


"HIDUP YANG MULIA!!!" 


Semuanya bersorak dan berteriak menyerukan ungkapan kagum dan hormat mereka pada Xio. 


Xio yang melihat senyuman serta raut gembira diwajah mereka entah kenapa ikut merasa senang dan lega. Seperti salah satu yang mengganjal di hatinya telah lolos dan bisa membuatnya tenang.


Dibawah sana Sebas, Heldir dan Azco tersenyum bangga bocah tersebut ternyata sudah tumbuh sangat kuat dan sudah melewati rintangannya.


***


Azril yang masih menonton dengan anak-anak pun ikut tersenyum melihat keberhasilan cucunya menggunakan hasil latihannya yang ia tahu dari Leon dan Lena kalau papanya sudah lama berlatih keras untuk dapat menciptakan ruangan dimensinya sendiri.


"Opa ayo kesana!" Seru Lena menunjuk Xio di cermin.


Azril tersenyum lalu berdiri, "Ayo!" Ajaknya.


Leon dan Lena bersemangat langsung ikut berdiri dan memegang tangan Azril. Lalu mereka pun menghilang seketika di tempat itu.


***


"Sepertinya dendamu dengan malaikat sudah usai." Kata Heldir berdiri tepat di depan Xio.


"Hm meskipun aku tidak terlalu puas dengan pertarungan barusan." Xio mengangguk lalu menatap Heldir dengan senyuman sok polosnya itu.


"Tidak, sampai kapanpun aku tidak mau bertarung denganmu lagi!" Heldir yang mengerti maksud tatapan Xio langsung menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.


"Haha Heldir kau penakut ternyata." Terdengar suara Azril dibelakang Xio. Dan Xio pun segera membalikkan badannya ke belakang kearah datangnya suara.


"Papa!!" Leon dan Lena berlari ke arahnya lalu melompat seperti ingin menerkam Xio. Tapi Xio tangkap mereka kedalam pelukannya dan mengecup puncak kepalanya mereka bergantian sambil tersenyum.


"Papa tidak terluka kan?" Tanya Lena.


"Papa baik-baik saja sayang." Jawab Xio.


"Bagaimana tadi papa mengalahkannya?" Leon yang kini bertanya.


"Nanti malam papa ceritakan. Terlalu panjang kalau papa ceritakan sekarang."


Keduanya terus menerus menjatuhkan pertanyaan. Wajar saja karena anak-anak penuh rasa penasaran dan Xio dengan sabar menjawab pertanyaan mereka satu persatu. Sementara semua orang telah bubar untuk diberikan pengobatan.


Tapi tiba-tiba saja dilangit turun sesosok malaikat yang membuat semuanya terkejut. Xio segera menyerahkan Leon dan Lena ke Azril dan menatap malaikat tersebut tajam. Tapi ketika sampai tanah, malaikat tersebut malah berlutut satu kaki dihadapan Xio. Semua orang disekitar matanya tertuju pada mereka berdua.


"Saya Caesar siap melayani anda." Ucap malaikat berkulit gelap dan berambut pirang tersebut yang bernama Caesar.


"Dengan apa aku harus mempercayaimu?"


"Saya siap melaksanakan semua perintah anda dan membuat kontrak dengan anda." Ia masih menundukkan kepala kedua mata hanya menatap tanah seperti belum berani menatap langsung ke arah mata Xio.


Xio ingat dan tahu kalau malaikat bernama Caesar itu tidak terlihat di mimpi pembantaian saat itu, dan barusan juga ia tidak terlihat dimanapun.


"Kenapa kamu mengkhianati kaummu sendiri?" Tanya Xio dan Caesar pun langsung berani mengangkat dagunya.


"Saya bosan diperlakukan seperti alat, ditambah lagi tidak ada yang menghargai saya hanya karena saya berbeda." Jawab Caesar.


'Ya ini juga pertama kali melihat malaikat berelemen kegelapan.' Batin Xio. Ia kemudian maju selangkah dan menggigit telunjuknya hingga mengeluarkan darah. Lalu telunjuknya yang berdarah tersebut ia usapkan di kening Caesar yang sudah memejamkan mata siap menerima apapun yang Xio berikan.


Tubuh Caesar langsung bercahaya setelah darah Xio mengenai dahinya, dan tak lama kemudian terbentuk sebuah tato lambang kekacauan di kening Caesar. Yang berarti tanda tuan milik Xio atau kontraknya telah berhasil. Jika Caesar membantah atau berniat mengkhianati Xio, tubuhnya akan hancur seketika dengan rasa sakit berkali-kali lipat daripada hanya dihancurkan badannya.


Caesar membuka matanya, "Terimakasih Yang Mulia, Saya seterusnya akan mengikuti Yang Mulia."  Ucapnya tanpa keraguan.


***


Semua orang baik itu para elf, maupun orang-orang di kerajaan regalia, tadi siang telah menyadari kalau Iblis tidak selamanya di lambangkan sebagai kejahatan, karena malaikat yang dilambangkan sebagai kebaikan pun sifatnya bisa lebih buruk daripada iblis.


Kegelapan tidak selamanya buruk, dan cahaya tidak selamanya menerangi menuju jalan yang benar.


Setelah kejadian siang tadi, terpaksa para elf harus diungsikan sementara ke kerajaan regalia, karena bangunan-bangunan serta rumah-rumah di benua elf sudah hancur dan harus di renovasi. Untung saja di kerajaan regalia masih banyak bangunan yang tidak penuh, dan para rakyatnya pun mau menerima para bangsa elf untuk bermalam di beberapa tempat mereka.


Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dan Xio baru saja ke kamarnya setelah pertemuan barusan yang memutuskan kalau yang akan tinggal untuk menjaga kerajaannya adalah Caesar. Meskipun ia masih baru, tapi dapat dipercaya karena sudah memiliki kontrak dengan Xio. Selain itu, Xio juga menjelaskan kalau di bumi mereka jangan memanggil dirinya Yang Mulia, tapi panggil sebutan Tuan saja.


Semua orang keluar dari ruangan pertemuan tersebut dengan gembira dan tidak sabar menunggu hari esok begitupun dengan Xio. Setelah masuk ke kamarnya ia langsung masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi karena dari kecil ibunya mengajarkan hal tersebut sebelum tidur hingga sekarang menurun pada Leon dan Lena.


Keluar dari kamar mandi hanya mengenakan ****** *****, Xio segera naik ke atas ranjangnya yang empuk dan membaringkan kepalanya di bantal yang tak kalah empuknya serta menutupi kaki hingga perutnya dengan selimut.


Sebelum tidur ia terbayang-bayang besok Ellisa mengenakan gaun seperti apa, dan gaya rambut apa yang akan ia kenakan. Sampai tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar.


"Masuk!" Sahut Xio.


Ketika pintu terbuka, terlihat Leon dan Lena berdiri di depan pintu sudah mengenakan piyama dan membawa bantal mereka masing-masing dipelukan.


Xio tersenyum, "kemarilah!!" Ucapnya menepuk-nepuk kasur di sampingnya.


Leon dan Lena langsung berlari ke atas ranjang Xio dan meletakkan bantal yang mereka bawa di samping Xio.


"Ga bisa tidur yah?" Tanya Xio mengusap-usap kepala mereka berdua. Leon dan Lena mengangguk.


"Baiklah papa akan ceritakan pertarungan papa tadi siang, tapi kalian berjanji harus tidur supaya besok tidak kesiangan ok?"


"Emm!" Keduanya menganggukkan kepala lagi dengan wajah semangat.


Xio tersenyum lagi lalu mulai menceritakan pertarungannya tadi siang seperti menceritakan dongeng, dan benar saja bahkan sebelum Xio selesai ceritanya kedua anaknya itu pun sudah langsung tertidur.


Xio mengecup kening mereka bergantian lalu ikut menutupkan matanya menyusul ke dalam mimpi.


.


.


.


.


.


Whoos!!


Xio dapat merasakan hembusan angin dingin meniup wajahnya. Ketika membuka matanya ia langsung dapat melihat pintu balkon kamarnya yang terbuka sehingga angin malam lolos masuk kedalam kamarnya.


"Perasaan tadi terkunci." Xio turun dari ranjangnya dan berjalan ke arah pintu balkon tersebut untuk menutup nya kembali karena angin malam tersebut bisa saja membangunkan anak-anaknya yang sedang tertidur.


Tapi betapa terkejutnya ia ketika melihat ada seseorang yang sedang berdiri di balkon kamarnya menatap ke arah langit.


...****************...


...BERSAMBUNG...